
Setelah kenyang dan beberapa kali bersendawa Arsena pergi meninggalkan Miko dan Mita. Ia menuju ruang yang diperuntukkan olehnya.
Miko masih terus memperhatikan gerak gerik Arsena yang semakin mencurigakan.
"Dia, jangan terlalu dikasih hati, ngelunjak nanti." Miko masih saja menggerutu. Miko takut Arsena akan jadi ancaman hubungannya dengan Andini dimasa yang akan datang.
"Miko, daripada marah tak jelas mending buruan makan." Mita mendekati Miko mengelus rambutnya layaknya menenangkan putra kecilnya ketika sedang merajuk.
Arsena sedang sendiri di ruangannya, mendapati ponselnya berdering berulang kali. Arsena segera membenarkan handset ditelinganya. Agar obrolan orang di seberang sana tak didengar oleh siapapun, menggeser krusor hijau dan mulai berbicara.
"Ada perkembangan?"
"Cepat katakan? Aku tak sabar mendengar kabar selanjutnya."
"Kabar bagus, Tuan." Jawaban dari seberang.
"Kami sudah berhasil menemukan kamar wanita yang bernama asli Liliana itu, Tuan dia mengganti namanya dengan Dewi. Sekarang aku sudah membawanya ke mobil dan dia sudah sangat ketakutan seperti kucing disiram air. ha ha ha."
"Bagus, kalau begitu bawa ke penjara bawah tanah. Jangan pertemukan dengan Kakaknya."
"Baik tuan, hukuman apa yang bisa kita berikan untuknya, Tuan?"
"Hukuman akan aku katakan setelah kalian sampai."
"Arsss !Maafkan aku. Aku khilaf." Teriak Lili saat tau yang ditelepon Ken adalah Arsena.
"Aku akan pergi ! Aku akan menjauh darimu dan hidupmu selamanya."
" Apa aku percaya? Maaf, sayang sekali tidak!"
"Ars, apakah selama dua tahun tak ada sisa sedikitpun cinta dihatimu?"
"Sisa Cinta? Ha ha ... Cinta seperti apa yang kamu maksud? Menipuku dengan cinta kotormu itu, memberiku obat X demi berhasil tidur denganku?"
"Kamu tau bahkan setiap hari, setiap detik, aku mengutuk kebodohanku dengan pertemuan kita."
"Ken, cepat tutup teleponnya, aku tak mau telingaku sakit mendengar rengekan wanita ular itu lagi!"
"Ars, aku lakukan itu semata karena cinta."
"Baik, Tuan"
Clek ... Panggilan berakhir, Ken menutup telepon sebelum Lili menyelesaikan kalimatnya.
Andini yang kebetulan mencari Arsena sejak tadi, ia segera masuk ke ruang Arsena berada, usai suaminya berbicara dengan Ken.
"Serius sekali, bicara sama siapa?" Tanya Andini yang langsung masuk begitu melihat kekanan dan kiri dirasa sudah aman dari Miko.
"Ken. Dia telah berhasil menangkap Lili," jelas Arsena.
"Bagus, Dong."
"Sini mendekatlan, aku sudah sangat merindukanmu."
"Ini aku bawakan potongan buah pencuci mulut untukmu, aku kasihan sama suamiku, selama actingnya jadi body guard, pasti berat sekali baginya." Kata Andini dengan senyum simpul dari bibir merah mudanya.
"Yah, ini berat, ingin dekat seperti ini saja harus sembunyi seperti maling."
__ADS_1
Andini duduk di sofa yang sama dengan yang diduduki Arsena. Arsena segera memanfaatkan moment ini dengan tidur di pangkuannya.
Andini memilih buah mangga manis untuk suapan pertama.
"Emm, manisnya!"
Setelah itu ia bangkit dan mencium kening istrinya.
"Aku mau lagi"
"Andini memberikan anggur merah."
"Emm, anggurnya juga manis, Arsena mengulangi hal seperti tadi." Ia bangkit dan memberikan kecupan di pipinya. Ia bahkan melakukan hal serupa hingga berulang kali, setiap Andini menyuapkan potongan buah.
"Sayang kamu disini dulu ya. Aku masih ingin berdua, saja."
Arsena nyaman sekali berada di pangkuan istrinya. Ia bisa menatap dengan jarak dekat, bahkan bisa dengan puas mengelus pipinya. Didekat Andini seakan semua masalah yang ia hadapi didunia ini sirna. Yang ada hanya ingin mencari pahala surga saja.
"Ntar Miko curiga" kata Andini.
"Biarin," jawab Arsena asal.
Andini menaruh piring berisi aneka potongan buah di meja. Setelah itu ia kembali pada posisi semula dan memijat pelipis suaminya pelan-pelan.
Iya, itu enak sekali, jika kau memijit dibagian itu, aku sangat senang.
Arsena yang jahil ia membuka dua kancing hem Andini. Saat istrinya sibuk memberi pijatan di kepalanya.
"Ars, kamu lelah kan, tidurlah." Kata Andini yang tau akhirnya akan dibawa kemana tangan usil dan detak jantung yang mulai tak beraturan itu.
"Aku hanya ingin melihatnya. Masa nggak boleh." Kata Arsena layaknya bayi minta asi.
"Yakin cuma melihat?" Tanya Andini
Arsena kini membuka satu kancing lagi dan menyentuh dua buah kembar itu dengan hati-hati, awalnya hanya mengelus saja. Lama lama dia ingin meremasnya. Arsena mulai memberi remasan pelan pelan.
"Katanya cuma lihat!" Pekik Andini yang memasang wajah menolak, namun tidak dengan reaksi yang diberikan oleh dua buah kembarnya.
"Sepertinya sayangku nggak pernah baca ya? Banyak sekali manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dengan aktifitas menyenangkan ini.
Salah satunya bisa bikin awet muda, bisa bikin lebih kencang, bisa makin besar, dan yang lebih penting bisa mencegah tumbuhnya kangker.
Arsena terus saja berbicara panjang lebar tanpa memperhatikan kegelisahan Andini. Sepertinya ada yang mulai terasa basah dibawah sana.
Arsena yang sudah tau dari raut wajah Andini, ia segera memanfaatkan momen ini untuk bercinta di ruang kecil yang menjadi ruang pribadinya. Kebetulan didalamnya ada sebuah ranjang yang muat untuk tidur berdua.
Arsena dan Andini melakukan sangat hati-hati, setelah memastikan pintu terkunci dengan benar. Ia tak ingin ada suara yang terdengar hingga luar ruangan, karena sudah bisa dipastikan kalau kamar yang ia tempati sekarang bukan kamar yang dilengkapi peredam suara. Ini hanya kamar seorang asisten.
Malam semakin larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Andini yang kelelahan segera tertidur dibawah Kungkungan Arsena. Sedangkan Miko yang mencari keberadaan Andini berhasil di bujuk oleh Mita kalau Andini sudah tidur sejak usai makan malam tadi.
****
Depot Ana.
Sejak sore Dara dan Ana sangat sibuk, pelanggan semakin hari semakin bertambah.
Tenaga mereka berdua semakin kuwalahan, ada yang membungkus sayur dan ikan, ada yang meminta makan di tempat. Menu yang disediakan memang banyak, jadi pelanggan bisa datang kembali dengan menikmati menu yang berbeda setiap harinya.
Nek Sumi yang sudah semakin tua dia hanya bisa melihat-lihat saja dari dalam.
__ADS_1
Ia sangat senang, setidaknya Ana, putri yang ikut bersamanya sejak ditinggal selingkuh oleh Antoni, ayah Andini dan akhirnya menikahi selingkuhannya. Dia masih sanggup melawan penyakit sekaligus sakitnya sebuah pengkhianatan.
Bagi Ana tak ada air mata yang harus terbuang sia-sia untuk seorang pengkhianat.
"Bu, dagangan kita makin hari makin rame ya?"
"Iya, Alhamdulilah, Nduk. Kita jadi nggak repotin suami kakak kamu terus, ibu sampe malu, tiap bulan dia kasih uang cuma-cuma yang nggak sedikit lho jumlahnya. Sampai bisa buat beli motor. Buat usaha serta kontrak rumah."
"Beruntung kakak ya, punya suami baik."
"Iya, ibu do'akan jodoh kamu nanti juga baik, seperti kakak kamu."
"Amin, semoga ya, Bu."
Ana sekarang usianya sekitar empat puluh lima. Namun ia terlihat lebih muda dari banyaknya angka usia yang dimiliki. Dia memiliki kecantikan yang natural di balik jilbabnya. Ana mulai memakai jilbab ketika dia mulai sehat kembali dan bekerja.
Selesai berbincang dengan ibunya, sambil menghitung perolehan jualan hari ini, Dara kembali ke dalam hendak membereskan semua yang perlu di bereskan di dapur.
Tiba-tiba ada seseorang datang, yang dikira ana pembeli.
"Ana." Panggil seseorang dari tempat antrian pembeli. Kebetulan dagangan sudah habis Ana mulai menurunkan wadah-wadah sayuran.
"Maaf Mas, masakan sudah pada habis."
"Ana, ini aku."
Deg, Ana menghentikan aktifitasnya, jantungnya mendadak terpacu dengan cepat, begitu yang ada di depannya adalah sosok yang ia kenal.
"Ana, kamu masih ingat aku?" Suara Antoni masih sama seperti dulu bagi telinga ana.
"Antoni?"
"Iya ana, ini aku ...!"
"Ada perlu apa malam-malam datang kemari?" ujar Ana tegas pada sosok Antoni pria yang dulu sangat ia sayangi.
"A-Aku mampir mau makan tadi, ternyata sudah habis. Mungkin lain kali masih, aku harus datang lebih awal," basa basi Antoni.
"Ana, apa kita bisa ngobrol sebentar," imbuhnya lagi.
"Maaf, Sebaiknya pulang saja, aku sedang sibuk, harus beres beres." Ketus Ana.
"Nanti aku bantu beres beresnya. Kita ngobrol sebentar saja."
Ana tak menghiraukan Antoni yang masih sibuk terus membujuknya dan mengekor dibelakangnya., ia masih sibuk mengelap dari meja satu ke meja yang lainnya. Hingga Antoni lelah terus diabaikan.
"An." Antoni menahan pergelangan tangan Ana.
"Lepaskan Mas, jangan sentuh aku, diantara kita sudah tak ada hubungan apa-apa, hubungan kita sudah berakhir puluhan tahun yang lalu. Kita bukan lagi muhrim."
"Ana tapi aku tau kau hanya mencintaiku."
Ana kini duduk pada satu kursi dan Antoni memilih duduk di depannya.
"Iya aku hanya mencintaimu, tapi itu puluhan tahun yang lalu. Tapi semenjak kau selingkuhi aku, disaat aku berjuang melawan maut, disaat itu cinta ku padamu telah mati, bayanganmu sudah kubuang jauh jauh, kuhempaskan ke laut."
"Apalagi kau dan istrimu telah berani menjual Anakku. pada seorang mucikari, ayah macam apa kamu? Berapa uang yang sudah kamu peroleh.
"Kau percaya aku menjualnya? Aku tak pernah tau soal itu. Aku tak menjual Andini.
__ADS_1
"Kamu dan Istrimu sama saja, berapa keuntungan yang kalian dapatkan? Oh, iya gimana kabar istrimu yang sangat sehat itu? Dan sebaiknya pulanglah sekarang sebelum menemukanmu disini."
"Ana, dia sangat berbeda dengan kamu. Aku suka Ana. Istriku yang pertama. Dia sangat lembut dan menerima berapapun uang belanja yang aku berikan. Aku sadar cintaku hanya untukmu, An."