
Davit sudah biasa menanggapi sikap Arini yang selalu ketus dengannya. Selain dia memang manja sejak kecil, dia juga seorang anak majikan. Sikapnya yang jutek dengan bawahan sah sah saja menurut Davit.
"Nona, padahal kalau senyum, cantik juga lho."
"Bisa diam nggak, Sopir!. kalau nggak gue turun sini, Mau?" Ancam Arini.
"E,eh jangan. Oke aku akan diam."
Davit kini fokus pada jalanan, hanya sekali saja ia menoleh ke arah Arini yang mberengut kesal.
"Nanana ... nanana ... Davit menirukan lagu yang sedang mengalun di dasboard. Membuat Arini makin malas mendengar suara Davit, lumayan merdu sih sebenarnya, cuma mood Arini saja yang sedang buruk.
Sepanjang perjalanan Arini hanya menatap kearah samping, melihat aktifitas orang sepanjang jalan yang dilalui. Sesekali saja melihat ponselnya. Arini tak ingin akrab dengan Davit yang dimatanya hanya pria asing itu.
"Non kita sudah sampai, kalau, Non mau di dalam aja nggak apa? Mungkin ingin berlama sama saya di dalam mobil juga nggak apa apa."
"Ngarep banget sih." Arini membuka sabuk pengaman dengan kasar, lalu membuka pintu mobil tanpa menunggu Davit.
Arini turun dengan kurang hati-hati. Alhasil dia terpeleset oleh sepatunya sendiri.
Davit yang tadinya ingin membukakakan pintu segera menangkap tubuh sintal Arini.
"Apa'an sih, modus banget," ujar Arini sengit, sambil melepas pelukan Davit. Arini nggak nyangka sopir pribadi kakaknya itu tubuhnya sangat wangi.
Davit tertawa terkekeh. "Siapa yang modus? Jika saya biarkan Nona pasti sudah mencium aspal hitam ini, kan sayang pipinya yang mulus harus terluka," godanya lagi.
Arini dengan gegas masuk melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus.
"Hubungi aku kalau sudah waktunya pulang."
" Ogah, bilangin kakak. Gue mau nginap di rumah teman."
"Serius?! Nggak bakal dapat izin. Aku nggak mau. Bilang sendiri kalau berani."
"Kak Davit ! Kenapa nggak bisa diajak kerja sama." Arini kembali mendekati Davit. Sepertinya dia ingin sekali mukul dada bidang sopir paling menyebalkan itu.
"Apa sejak dulu kamu sangat menyebalkan seperti ini?" Sambil mengerucutkan bibirnya. " Tinggal bilang, aku akan belajar dirumah teman. Please Kak Davit bantu aku."
"Maaf nona, Anda ingin aku dipecat? Mending aku pinjamin ponsel, dan telepon pada Kakak Anda. Tuan Arsena" Davit menekankan kalimatnya terakhirnya.
Davit menyodorkan ponselnya dengan senyumnya yang manis penuh kemenangan. Justru senyum itu membuat Arini semakin kesal.
"Nggak berguna," cetus Arini. Lalu berlari pergi ke dalam setelah menyadari mata kuliah akan dimulai. Berdebat dengan Davit hanya akan membawa masalah saja.
__ADS_1
"Maaf Nona, aku nggak mau dipecat, aku sayang nenekku di kampung!" Teriak Davit sebelum masuk mobil.
Arini lagi kesal, dia suka uring uringan nggak jelas semenjak melihat Willy kekasihnya pergi ke bioskop dengan Rosa, sahabatnya. Arini juga sempat melihat dia bergandengan tangan dengan mesra.
Sudah ketahuan selingkuh, tapi Willy dan Rosa kekeuh mengatakan mereka tak sengaja bertemu. Padahal Arini sudah terlanjur percaya dan sayang pada Willy, pria itu tega berbohong. Namun cinta yang besar membuat Arini tetap percaya.
Pria blesteran Indo-Eropa itu adalah senior Arini di kampus, Arini jatuh cinta pada Willy sejak pandangan pertama. Mereka bertemu ketika Arini masih menjalani masa ospek sebagai calon maha siswa baru.
****
Davit terus memandangi Arini hingga punggung gadis itu pun raib, oleh pintu gerbang yang bergerak menutup secara otomatis. Tak lama pintu pun tertutup sempurna. Davit segera memutar kemudi mobil menuju kantor. Dan stanby disana menunggu perintah selanjutnya dari Tuannya.
Baru dipertengahan jalan, tiba-tiba mobil Davit dihadang oleh mobil sporty dan di dalamnya terdapat tiga pria muda.
"Keluar !!" Gertaknya. setelah turun dan menghadang mobil yang dikendarai Davit.
Seorang pria tinggi dan berkulit putih. Memakai jas almamater berwarna biru dongker, disakunya tertulis nama universitas yang sama dengan nama kampus Arini pun mendekat, pria itupun angkat bicara. "Hei, Bung? Berani sekali lu, peluk pacar gue? Lu belum kenal rupanya siapa gue."
Dua sahabatnya pun ikut mendekat, aura permusuhan begitu kentara diwajahnya. Davit yang tak tau apa-apa dia terheran melihat ketiga pria yang memintanya untuk keluar.
"Eh, Mas maaf saya nggak kenal anda, Mas ini mau apa? saya nggak kenal kalian semua?" Davit masih dalam mode bingung.
"Pura pura bego lagi? Elo kan yang tadi antar cewek gue? Dan elo juga kan yang berani peluk dia di depan kampus?" Kata pria paling depan paling tampan yang mengaku pacarnya Arini
"Saya sopirnya Mas."
"Jadi Lu cuma sopir? haha. Sopir aja sok sok'an mau bersaing sama Willy." Kata Willy dengan sombong. Dia memandang Davit dengan pandangan lebih buruk lagi. Menelisik dari atas hingga bawah.
Davit memang tampan. Mungkin saja Arini suka sama dia. Karena beberapa hari ini, gadis itu sangat sulit untuk didekati. Bahkan dia selalu menghindar darinya.
" Supir aja belagu, hajar aja Will. Biar dia tahu kita ini siapa?"
Hey sopir? Kalau Lu besok aku lihat masih berani nongol didekat pacar gue jangan harap lu masih tampan seperti hari ini," Ancam Willy sambil menarik kerah Davit.
"Lhoh, Anda ini siapa? Kok jadi ngatur saya. Kalau soal itu saya nggak bisa. Salah saya apa juga saya nggak tau." Davit tak terima. Dia melepas cengkeraman tangan Willy di kerahnya dengan kasar. Dan mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah.
"Dasar Lu, sopir breng*ek." Willy semakin murka. Dia melayangkan tinjunya di perut Davit dengan keras tanpa kira kira. Davit yang tak sempat memasang kuda kuda mengasuh sakit. Pukulan Willy terasa hingga ulu hati.
"Kenapa Lu diam saja hajar dia!" Willy memberi kode pada kawannya. Dua pria bertubuh sedikit lebih pendek dari Willy itu segera maju di depan Davit. Mereka sudah memasang kuda kuda siap menghajar dengan keroyokan.
"Oh jadi seperti ini mental pacar Non Arini? Melihat kelakuan kalian saya makin yakin kalau Kamu tak pantas untuk Nona Arini kami." Davit menuding telunjuknya untuk pria yang mengaku pacarnya Arini. Davit tersenyum sinis.
"Tunggu apa lagi, hajar dia!" Di tuding dengan telunjuk Davit, Willy merasa direndahkan dia tak terima sopir itu demikian berani menghina dirinya.
"Haaaaa, brak!" Kedua kawan Willy melayangkan tinjunya di kanan dan kiri tubuh Davit. Dengan gesit Davit memundurkan tubuhnya hingga tinjunya hanya melambung di udara. Davit segera melompat kedepan membalas dengan tendangan kakinya secara beruntun. Dua pemuda itu tersungkur kesakitan.
__ADS_1
Melihat kawannya jatuh Willy tak tinggal diam. Dia segera menyerang Davit kembali. Willy memukul rahang Davit dengan keras hingga menciptakan memar di pipinya.
Davit terjerembab jatuh, beruntung dia cepat berdiri dan menghindar, hingga tendangan kaki Willy yang secepat kilat tepat di atas tubuhnya bisa dia hindari kembali.
Sahabat Willy sudah mulai membaik, mereka sama sama memasang kuda kuda, jadilah sekarang adu duel satu lawan tiga. Untung Davit pernah belajar bela diri. Walaupun belum sabuk hitam tapi dia mengerti gerakan gerakan menghancurkan.
Davit segera memberi hadiah tendangan pada ketiga pria didepannya secara beruntun. Membuat mereka bertiga jatuh sempoyongan. Davit memberi kembali hadiah tambahan dengan tendangan kaki yang kedua kalinya. Ketiga pria itu kini terkapar.
Davit juga merasakan sakit luar biasa, perutnya nyeri dan pipinya membiru. Rahangnya terluka membuat darah keluar dari sudut bibirnya.
"Dengan kejadian ini semakin membuat aku yakin, nona Arini telah salah memilih pria macam kamu sebagai pacarnya." ujar Davit sebelum kembali masuk mobil mewah milik majikannya itu.
"Tunggu ! Berhenti!" Arini datang diantar oleh ojek online.
"Willy apa yang terjadi? Kak Davit kenapa menyakiti Willy, kak Davit apa salah dia pada Kakak?" Arini menatap Davit dengan kilat kemarahan.
Arini mengira Davit yang mulai, karena menurut laporan salah seorang mahasiswa terlambat tadi, dia melihat Davit tengah menghajar Willy.
"Nona Anda salah." Davit berkata dengan lembut.
"Cukup Kak Davit. Saya akan adukan pada Kakak saya, sudah pasti anda akan dipecat."
"Saya heran, kenapa kak Davit harus ikut campuuur! Jangan jangan Kak Davit suka ya sama saya."
"Non, apa yang anda katakan?"
"Halah .... Pria seperti anda sudah banyak saya temui Kak."
"Sayang, ayo kita pergi saja. Kita tinggalkan sopir breng*ek ini." Willy berdiri sambil menahan perutnya yang nyeri. Menggandeng Arini dan mengajaknya masuk ke mobil miliknya.
"Nona, anda tak bisa pergi dengan dia, anda hanya akan pergi dengan saya." Davit menahan lengan Arini. Arini semakin marah karena menilai Davit telah lancang.
"Lepaskan tangan anda, Kak Davit!" Arini makin marah.
"Lepas! Bukankah kekasihku sudah meperingatkan kamu pria rendahan." Willy ikut bicara
Willy ingin melayangkan kempali tinjunya di wajah Davit. Sekali lagi Davit berhasil menghindar. Davit membalas dengan memukul sekerasnya. Lalu menarik lengan Arini kepelukannya dan menggendong paksa tubuh kecil menuju mobil.
"Lepas ! Lepas! Kak Davit. Kakak jahat. Aku pasti akan lapor semua ini pada kak Arsena. Kakak akan dipecat," rancau Arini sambil memukul dada Davit berulang kali.
" Diam Nona. Anda tak punya pilihan selain turuti ucapan saya." Davit tak menggubris makian Arini. Dia segera menurunkan Arini di dekat pintu mobil dan memaksanya masuk lalu mengunci. Arini hendak kabur lewat pintu dekat kemudi. Dengan cepat Davit berlari memutari mobil dan menghadang lagi.
Arini pasrah, sepertinya benar kata sopir menyebalkan baginya itu. Kali ini dia harus nurut karena tak punya pilihan.
__ADS_1