Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 182. Masih saja tidak peka.


__ADS_3

"Kak Davit bisa buka mulutnya agak lebar nggak?" Kata Arini sambil mengulurkan satu suap bubur yang masih suam kuku.


"Ya nggak bisa Nona, rahang saya kan lagi sakit, Nona lupa ya? Luka ini ditonjok anak buah pacar Nona. Semua anak buahnya ada lima. Nona bisa bayangkan, saya dikeroyok lima preman."


"Bukan! Willy bukan pacar aku lagi." Arini menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Kemaren sayang banget, dibilangin kekeuh, kenapa sekarang nggak mau dia ku sebut pacar Anda."


"Aku nggak ingin bahas hal itu lagi, kak Davit pasti sengaja buat Arini ingat kejadian itu terus? Biar Arini sedih, iya?" Arini membanting sendok kedalam wadah lalu menaruh kembali diatas nakas.


"Benar kan ngambek lagi? Kalau ngambek bibirnya tambah panjang, jelek mirip marmut. Kalau senyum kan cantik, kelihatan lesung pipinya," rayu Davit. Entah kenapa Davit merasa gadis didekatnya semakin hari semakin unik, jutek tapi tetep cantik. Pemarah tapi malah bikin kangen.


Ya, makluk imut satu ini semakin hari semakin memiliki magnet yang kuat saja, hingga mampu menarik hati Davit kedalam lingkaran medannya. Apapun yang dilakukan Arini pada dirinya mampu membuat jantung Davit ingin mencelos dari sarangnya.


Usai makan, Davit malah ingin kebelakang. Dia tak mungkin menahan panggilan alam itu lebih lama lagi. Keringat dingin mulai membanjiri keningnya.


"Kak Davit kenapa?"


"Kak Davit merasakan sakit lagi? mana yang sakit?"


" Enggak ada Nona beneran." Davit berbohong.


"Kak Davit ingin kebelakang Arini. Nggak mungkin kan kamu yang bantu? Aku butuh bantuan seorang suster."


Arini bisa bantu kakak, kalau cuma bantu jalan sampe kamar mandi situ," ucap Arini meremehkan bobot Davit yang hampir separuh tubuhnya. Davit tidak gemuk, untuk ukuran lelaki tubuhnya sangat ideal. Hanya saja Arini yang terlalu mungil jika berada di dekat Davit.


"Jangan Nona, panggilkan suster saja, aku tak mau nona kerepotan mengurus saya." Davit keberatan. Perbedaan kasta membuat Davit makin tak enak merepotkan Arini. Walau di lubuk hati yang paling dalam perasaanya amat senang mendapat perhatian dari Nona yang dikagumi.


Arini kembali memencet tombol, kali ini ia tujukan untuk dokter Vanya yang baru lima menit masuk ke ruang pribadinya.


Vanya langsung tergopoh menuju ruang Davit. Pasien pasca operasi memang mampu membuat dokter selalu was-was.


"Dokter Vanya, saya sudah sembuh, lihatlah kondisi saya sudah sehat dan bugar, tolong infus ini lepas saja," ujar Arini begitu melihat bayangan wanita ber jas warna putih masuk ruangan.


"Arini Arini, kamu ini, kenapa panggilannya dari ruangan milik Davit. Membuat aku khawatir saja." Eluh Vanya yang sudah dag dig dug.


"Maaf Dokter, aku lupa, soalnya aku pikir cuma melepas ini saja dimanapun pasti bisa."


" Ya kamu benar, tapi aku cek dulu ya suhu tubuh dan tekanan darahnya.


Arini memutar kursi membelakangi Davit. Dokter Vanya memeriksa tensi dan suhu tubuh dulu. Kondisi arini memang sudah stabil tak ada yang perlu di khawatirkan.


"Baiklah, karena semua baik baik saja sudah, saya lepas saja infusnya. Lagian juga sudah hampir habis."


Vanya mencabut selang infusnya dari tangan Arini, Arini memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Arini takut akan sakit. Sejak kecil dia memang pobia sama jarum. Sekarang sudah sedikit mendingan.

__ADS_1


"Sudah selesai," ucap Vanya.


"Terima kasih Dr. Vanya." Senyum mengembang dari bibir Arini.


" Siip, sehat selalu, jangan sakit lagi." Vanya mengusap kepala Arini layaknya seorang adik. Lalu dia pamit untuk makan siang. Rupanya Dr.Vano sudah menunggunya di ruang pribadi Vanya untuk makan siang berdua.


"Aku sekarang yang akan membantumu, Kak Davit," ucap Arini saat Vanya sudah pergi.


"Apa?"


"Jangan salah paham, Aku hanya akan mengantar sampai pintu depan dan aku akan menunggumu di luar saja."


"Iya, tapi tak perlu nona melakukannya sendiri. Nona bisa istirahat saja. Dan ... Dan akan ada perawat yang sudah dibayar untuk melayaniku." Davitasih kekeuh ingin seorang perawat saja yang menjaganya.


"Perawat itu aku Kak, Kak Arsena yang menyuruhku sendiri untuk membalas budi baik Kak Davit. Jadi aku harus merawat sampai kakak sembuh. Ini pasti juga sebuah hukuman. Kak Arsena ingin membuat aku jera."Arini memandang Davit yang terlihat terkejut dengan pernyataannya, lalu menundukkan wajahnya.


Davit tentu sangat senang. Itu artinya dirinya dan Arini akan lebih sering bertemu. Tapi ini juga sebuah siksaan, apa dia bisa selalu menyembunyikan perasaan cintanya pada Arini.


"Ayo kak Davit taruh lenganmu di tengkukku, aku akan membantumu,walaupun aku lebih kecil dari Kakak, tapi aku cukup kuat."


Arini mendekatkan tubuhnya kepada Davit. Membimbing tangan Davit melingkar di tengkuknya. Dengan jarak sedekat ini, Davit semakin terbius oleh pesona Arini. Aroma rambutnya yang selalu wangi. Pakaian dan badannya juga tentunya. Entah farfum apa yang dipakai Arini hingga mampu membuat Davit terpaku, ia hanya menatap leher seputih susu dan senyum Arini yang dihiasi dengan cekungan dipipinya.


"Maaf ... Nona aku tak bisa." Davit menurunkan lengannya kembali dari tengkuk Arini. "Aku pasti bisa sendiri. Akan aku coba."


Arini hanya mendesah frustasi menghadapi sikap Davit yang sok bisa sendiri, padahal tubuhnya jelas jelas masih penuh dengan luka. Davit juga terlihat makin canggung didekatnya.


'Dibantu nggak mau. Apa sih maunya? kenapa sekarang aku yang kesannya sangat mengharapkan dia akan membutuhkan aku.'


Davit menurunkan kakinya berlahan. Mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya, tangan yang kanan memegang tongkat infus dan yang satunya ia jaga dengan hati hati karena terdapat jarum infus.


"Yakin bisa sendiri?" Tanya Arini yang mencoba tenang saat jadi penonton.


"Tenang saja, pasti bisa Nona," Davit berjalan pelan pelan. Terlihat sekali sedang dipaksakan. Perut bekas tusukan itu masih terasa amat perih. Belum lagi lebam di dada dan wajahnya.


Arini menyerah, dia membiarkan Davit sendirian, toh dia sendiri yang nggak mau dibantu.


Benar kata Davit, dia bisa sendiri, sekarang dia sudah sampai di kamar mandi. Selang beberapa menit dia sudah keluar lagi dengan wajah lega.


Davit terkejut Arini ternyata menunggunya di dekat pintu. " Nona kenapa ada disini?"


"Kak Davit jangan salah paham, aku nggak mengintip, aku cuma memastikan kalau kakak tak terpeleset di dalam."


"Makasi Nona sudah perhatian sama saya. Pasti karena anda ingin menepati janji pada Tuan Arsena Kan?"


'Ishh! kenapa jadi kak Davit berprasangka semua karena Kak Arsena yang minta sih apa dia pikir aku nggak punya belas kasihan sedikitpun apa?' eluh Arini dalam hati.

__ADS_1


Arini kesal dia terlalu terbawa suasana, berharap mimpinya kemaren akan jadi nyata, Davit mengutarakan isi hatinya secara terang terang sambil menggenggam tangannya. Boro boro hal itu terjadi. Saat bertemu pandang saja dia terlihat segera memalingkan wajah.


"Kalau Kak Davit bisa melakukan semuanya sendiri, baiklah mending aku akan keluar sekarang," ucap Arini yang segera disetujui oleh Davit dengan anggukan. Arini segera melangkahkan kaki menjauh dari Davit. Arini kesal dengan Davit yang tak peka.


"Auhhhh ...." Davit memegang perutnya yang terasa nyeri dan perih.


"Kakak bercanda, kan?" Arini menoleh sesaat.


Davit kini merasakan matanya juga berkunang-kunang dan makin lama makin pusing. " Nona." Lirih Davit yang merasa genggaman tangannya pada tongkat mulai melemah.


"Kakak!" Arini memutar tubuhnya dan berlari menghampiri Davit. Reflek Arini langsung memeluk tubuh besar berotot itu dengan kuat kuat.


Tubuh mereka berdua terhuyung dan roboh. Arini berada di pososi tertindih tubuh Davit. Davit yang diatas juga kesulitan bergerak. Tak ada yang bisa dilakukan, alhasil mereka hanya saling memandang.


Davit menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam. Arini merasa makin nervous ketika wajah mereka teramat dekat. Bahkan Arini bisa merasakan embusan hangat nafas Davit.


"Auh sakit," pekik Arini, membuat Davit sadar posisinya sekarang sangatlah tidak benar. Bagaimana jika ada yang memergoki, pasti orang itu akan mengira sedang mesum.


Arini mengaduh kesakitan, pantatnya terbentur oleh lantai keramik. Davit yang berada diatasnya juga kesulitan bergerak.


"Kak Davit cepat berdiri, berat tau, badan kakak gede banget." keluh Arini.


"Nona, tidak akan bisa, aku sakit Nona. sebaiknya peluk saya kuat kuat, lalu kita berguling, baru setelah itu kita bisa berdiri sama sama."


Baiklah Arini menuruti ide konyol Davit. Dia akhirnya memeluk pinggang Davit dengan erat, Davit mencoba menggeser tubuhnya hingga tubuhnya berguling kesamping. Davit mendadak tak jadi pingsan. Justru dia terlihat bisa tersenyum di tengah menahan sakitnya.


Ceklek!


Sebuah pemandangan mengejutkan Zara dan Dara yang baru saja datang.


"Arini!"


"Davit!"


Zara yang notabene mantan kekasih Davit membuka mulutnya lebar hingga mbentuk O besar. Dia tak percaya melihat mantan kekasihnya itu dalam posisi sedemikian intim dengan anak majikannya..


"Arini, apa yang kau lakukan? Maaf jika kedatangan kami telah mengganggu." Dara kembali keluar dan menutup pintu. Diluar pintu dia saling pandang dengan Zara. Sama-sama terlihat tak percaya.


"Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Dara pada Zara.


"Menurutku mereka terlihat seperti tak sengaja. Kak Davit tak mungkin berani bermain main dengan Arini, aku kenal siapa dia. Dia sangat menghargai wanita." Zara membela.


"Bagaimana kalau ternyata mereka saling jatuh cinta." Dara berpendapat lain.


" Entahlah, Bagaimana kalau Kakak ipar tau." Zara terlihat khawatir.

__ADS_1


__ADS_2