Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 92. Cemburu.


__ADS_3

"Tuan, sepertinya Nona itu gadis yang kuat, hanya saja dia lebih sensitif ketika anda menghina yang menyangkut fisiknya."


"Iya, mungkin dia lagi dapet, jadi mudah marah." Miko bersandar pada mobil sebentar mengamati Dara dari kejauhan, tak lama masuk kembali. Miko tersenyum melihat bagaimana istrinya berani membalas ejekan temannya


"Tuan tau juga, kalau wanita dapet itu lebih sensitif."


"Hei, gini gini aku juga suka baca artikel. Kamu pikir aku bodoh apa."


Dua pria seperti kucing dan ikan itu akhirnya kembali masuk ke mobil menuju perusahaan. Mobil melaju pelan menyusuri jalanan padat kendaraan di pagi ini.


Tak lama Miko segera menempati kursi barunya, Miko sekarang menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan cabang. Sedangkan Arsena langsung memimpin kantor pusat.


"Selamat pagi pak !"


Sapa karyawan yang sudah berbaris rapi di depan ruang Dirut.


"Pagi." Miko melambaikan tangan acuh, sebelum masuk keruangannya.


"Gila, Dirut baru kita coll banget." Obrolan yang terdengar dari bibir para karyawan wanita.


"Ya gue suka tipe dingin-dingin seperti itu." Teman yang satu menimpali.


Sampai di ruang kebesarannya, Miko segera duduk di kursi empuk yang bisa berputar ke segala arah itu.


Miko segera sibuk mengoperasikan benda yang ada di depannya, benda berbentuk persegi itu telah membuatnya sangat sibuk hari ini.


Tiba tiba ia menghentikan aktifitasnya, bibirnya tersenyum simpul setelah sekian lama ia lupa bagaimana caranya tersenyum. Miko teringat ketika Dara menangis saat dia memanggilnya si kerdil.


Sepertinya aku telah membuatnya bersedih hari ini. Dia terlihat lucu saat menangis seperti itu, little maafin aku.


"Tuan Muda? Anda lagi senyum-senyum sendiri. Bahagia sekali."


"Kamu Vid rupanya, ganggu orang kerja aja."


"Iya, cuma mau ngantarin ponsel Tuan Muda, tadi ketinggalan di Mobil." Pria itu masuk dan menyerahkan ponselnya langsung ke tangan Miko.


"Ya, terima kasih."


"Terima kasih, tumben."


"Sepertinya aku tadi telah membuat Dara sedih, kira-kira apa ya benda yang bisa mewakili permintaan maaf ku?" Tanya Miko pada David. Terlihat dia juga sedang berfikir keras.


"Apa ya? Boneka, bunga, coklat. Semua itu sangat romantis Tuan."


"Oke cari'in aku bunga dan coklat sekarang."


Miko menyerahkan sebuah card pada Davit. Cari yang paling bagus, jangan pertimbangkan harga, aku tak mau kau belikan dia barang murah."


"Baik tuan."


Miko kembali melanjutkan aktifitasnya, sedangkan David segera menuju toko yang berjualan aneka coklat.


Saat di halaman tadi, tanpa sengaja seorang wanita cantik sedang menabrak dirinya dengan keras. Membuat wanita itu marah dan mengeluarkan kata kata kasar.


"Hey, punya mata itu dipake."


"Elo yang nggak liat-liat. Wanita aneh."


"Apa Lo bilang? Dengar ya gue ini teman pemilik perusahaan ini. Lo jangan macam macam sama gue. kalau masih sayang sama pekerjaan Lo yang sekarang."


"Sinting Lo, istri Dirut saja tak sombong kayak, Lo."


David mengacuhkan wanita tengil itu, dia sudah tau sikapnya demikian pasti karena sedang terlambat kerja.


Sampai di toko David segera memilih coklat paling mahal sesuai keinginan Miko. Ia juga memilih bunga mawar merah dicampur dengan Lili.

__ADS_1


Setelah mendapat yang diinginkan Miko, David segera datang menuju ruangan Dirut, menunjukkan bunga pilihannya.


Miko terlihat puas dengan pilihan David.


"Seleramu lumayan bagus,"


Miko melirik sekilas bunga di tangan David. Dia hari ini sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, supaya bisa pulang lebih awal bersama David Dara.


"David jam berapa nanti Dara keluar kampus? Jam satu, Tuan."


"Oke, nanti aku ikut menjemput Dara jam satu."


"Siap tuan, saya melanjutkan pekerjaan dulu."


"Ya, silahkan."


 


Miko duduk sendiri di ruangannya. Berulang kali ia melihat ke arah jam yang ada di dinding. Miko sudah tak sabar ingin minta maaf pada gadis cengengnya.


Jam terasa berjalan sangat lambat, selain menyiapkan hadiah, Miko juga menahan lapar di perutnya, ia berencana ingin mengajak Dara makan siang di restauran yang ada di depan kampus.


Sebelum jam 12 Miko sudah siap-siap bertemu Dara, Miko menyemprotkan parfum mahal ke tubuhnya yang masih wangi, dan segera turun mencari keberadaan David.


Sampai di lantai bawah Miko sudah mendapati David sedang mengelap mobilnya.


"Vid, kita jemput Dara sekarang."


"Baiklah, Tuan."


"Vid, apakah penampilanku hari ini ada yang kurang?"


"Tidak Tuan Muda, anda sudah sangat tampan. Anda akan berkencan?"


"Apa? Berkencan dengan gadis kecil itu, kau sedang menghinaku ya? Tidak aku sedang merasa bersalah saja, tadi pagi sudah membuat dia menangis." Kata Miko sambil menyerahkan bunga dan coklat yang sudah dibungkus cantik pada David lagi.


"Kau selalu bilang tidak, tapi sikapmu itu mengatakan iya."


Sampai di depan kampus Miko sudah menunggu munculnya Dara dari pintu gedung dengan antusias, ia menelisik wajah setiap mahasiswa yang lewat, ia tak menemukan sosok wanitanya dari sekian ribu orang yang lewat.


Kampus kini mulai sepi, Bahkan sekarang sudah pukul dua.


"Vid dimana, Dara?"


"Entahlah."


"Kamu punya nomor ponselnya."


"Emang boleh saya menyimpan nomor, Nona?"


"Jangan aku saja belum menyimpannya, kau tak boleh memiliki nomor dia sampai kapanpun. Ya udah pulang aja, mungkin dia sudah sampai apartement."


"Baiklah." David membuka pintu penumpang untuk Miko.


Saat Miko membalikkan badan, hendak masuk, tiba tiba netranya menangkap sosok yang ia cari.


"Tunggu Vid, itukan Dara, sejak kapan dia ada disitu?"


Mata Miko memanas ketika melihat Dara sedang duduk di sebuah kursi berhadapan dengan teman laki lakinya di sebuah restaurant.


Dara terlihat sedang makan sepotong roti dan sesekali minum juice, dan Adit diam-diam memperhatikan Dara lekat.


"Tuan, Nona sepertinya sedang makan. Apa kita menunggunya sampai selesai."


"Tidak, kita pulang saja sekarang."

__ADS_1


Miko terlihat kecewa, dia sudah menahan lapar sejak tadi, yang ditunggu malah sedang makan dengan pria lain.


"Mungkin Nona sudah pulang lebih dulu, dan dia menunggu kita."


"Iya aku tau tapi tak seharusnya dia makan dengan pria tengil itu, jangan-jangan dia pacaran lagi."


"Apa? Tuan seperti ini pasti karena sedang cemburu, kau tak suka melihat pria itu sedang makan bersama dengan Nona kan."


Sampai di apartement, David segera memarkirkan mobilnya, Miko sudah lebih dulu pergi tanpa sepatah kata. Aura kecewa masih belum hilang menyelimuti wajahnya.


"Tuan Bunganya."


"Buang saja." Jawab Miko singkat. Namun melihat barang mahal itu David merasa kasian. David tetap membawa bunga dan coklat itu masuk ke dalam apartement.


Sampai di apartement, Miko langsung menuju halaman belakang, tempat yang tenang untuk bersantai menikmati pemandangan disekitar.


Miko menyalakan sebatang rokok, ia mengharapkan benda kecil itu bisa menjadi penenang untuk jiwanya.


Sentuhan angin sepoi-sepoi membelai rambutnya, tak mempengaruhi cemburu yang sedang menggelora di dadanya.


 


"Kak."


Suara Dara dari arah belakang. Gadis itu berkata setelah memupuk keberaniannya. Sekian lama tadi memandangi Miko dari dalam apartement, lalu menyusul ke halaman.


"Maaf, aku pulang telat, tadi menunggu David, ternyata David tak menjemputku seperti biasa."


Miko hanya menarik nafasnya dalam. Mengetuk rokok ke dalam astbak. Lalu menghirupnya lagi.


"Kakak marah? pasti karena Dara telat mengambilkan makan untuk kakak, kak ini ... Sekarang makanlah, dan minum obatnya."


"Kenapa kau pedulikan aku? Siapa aku? Dan apa artinya aku untukmu? Bukankah kamu menikahi diriku tanpa dasar apa-apa. Kamu hanya bekerja sama dengan mereka agar aku melupakan Andini, jawab Dara!?"


"Praaang." Miko membuang piring berisi nasi dan lauk dari tangan Dara.


"Buat apa pulang? Sana pergi, puaskan bersenang senang! Bukankah kau suka dengan lelaki yang sebaya denganmu."


"Kakak." Mata Dara memerah, bulir kristal lolos dari kedua pelupuknya.


Melihat Dara menangis membuat Miko tak lagi membentaknya, ia menurunkan beberapa oktaf nada suaranya.


"Maaf, jika aku terlalu kasar, pergilah, aku sedang ingin sendiri."


Dara pergi dengan Isak tangis, dia tak tau dimana salahnya. Sedangkan sejak jam dua belas tadi dia sudah menunggu David yang tak kunjung datang.


Karena haus akhirnya ia membeli minum dan sepotong roti di rumah makan, Dara yang sedang duduk menikmati minumnya, tiba-tiba sosok Adit datang, dia meminta duduk di kursi kosong yang ada di depannya.


 


"Dara kenapa kau disini?"


" David, kenapa kak Miko marah? Dan kenapa kau hari ini tak menjemputku seperti biasa." Dara bertanya pada David. Gadis itu ingin sekali menyalahkan David.


Aku tadi menjemputmu Nona Dara, Tuan muda juga membelikan hadiah untuk Nona. hadiah spesial."


"hadiah?"


"Lalu kenapa dia sekarang marah?"


"Cemburu Dara, dia cemburu kamu sedang bersama pria." jelas David membuat dara sadar akan sesuatu.


"Cemburu? Kamu tau aku tak melakukan apapun dengan Adit, Vid. Harusnya kamu bisa jelaskan ke Kak Miko."


"Jelaskan? Sama kepala batu itu? Kamu mau aku mati. Pasti dia akan bilang aku mencintaimu karena telah membelamu."

__ADS_1


"Nona, Tuan muda sepertinya mulai jatuh cinta. Dan dia belum menyadarinya. Sebaiknya Nona yang sabar menghadapi sikapnya." David menepuk pundak Dara. Lalu pergi.


"Daviiid, tolong bantu aku." Dara memanggil David yang sudah pergi entah akan kemana.


__ADS_2