
Malam semakin larut, udara dingin malam berubah menjadi duri yang mulai menusuk kulit.
Andini bersiap untuk pulang, sepertinya jalan- jalan malam ini sudah cukup baginya, tingkah konyol pria yang mengirim bunga lumayan menghiburnya malam ini. Jadi ia keluar tak sekedar melamun sambil melihat ibu-ibu mengantarkan anaknya menikmati permainan gratis saja. Ia juga pulang dengan membawa cake di tangannya.
Andini membuka handle pintu, perasaan jengkel mulai datang lagi ketika dua orang menyebalkan itu masih diruang tamu. Bahkan terlihat mereka akan berciuman. Devan tak ada di tempat itu lagi, mungkin ia sedang pergi lebih dulu.
Andini berjalan masuk dengan langkah di hentak-hentakkan. Terlihat sekali ia sedang tak suka dengan sikap dua manusia mesum itu.
Arsena yang melihat tingkah Andini seperti anak kecil sedang tak dapat jatah jajan, ingin rasanya tertawa, ia begitu geli melihat kelakuan istrinya yang tak tau malu.
"Sayang ... Aku nginap disini aja ya!" Pinta Lili. Sepertinya wanita itu juga kesal karena Arsena tadi tak jadi menciumnya. Karena kepergok oleh Andini.
"Yang aku boleh kan nginap disini?" Kata lili lagi mengulang kata katanya.
Setelah masuk tadi Andini sengaja menguping pembicaraan mereka berdua di ruang tengah, Andini tak akan membiarkan itu terjadi, ia ingin menggagalkan semuanya. Tapi kalau ia tunjukkan bukannya itu hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Andini sengaja menjatuhkan kaleng dari ruang makan. hingga suaranya terdengar nyaring. " Prangg."
"Apa'an sih? Berisik banget sih ART kamu Yang?" Protes Lili yang mendengar suara nyaring karena ulah Andini.
"Lili, kamu pulang aja ya? Besok kita ketemu di kantor!" ucap Arsena lembut, sambil mengelus rambut kekasihnya.
"Yang, semalam saja, masa nggak boleh? Kamu kok berubah sih." Protes lili.
"Enggak ada yang berubah, selamanya aku akan cinta sama kamu." Mengelus rambut Lili yang tergerai
"Kalau gitu kapan kamu nikahi aku?" Tanya Lili dengan antusias. Berulang kali bertanya dan berulang kali pula Arsena selalu punya cara untuk berkelit.
"Besok aja ya kita bahas. Sekarang sudah malam. Kamu pulang dulu, nanti aku telepon lagi," bujuk Arsena
Akhirnya Lili menurut, malam ini ia akan pulang." Ya udah aku pulang, tapi janji ya besok ketemu."
"Iya ... "
Arsena mengantar Lili sampai halaman, gadis itu segera memutar kemudi meninggalkan halama rumah Arsena.
Tak lupa lambaian tangan dan cium jauh diberikan Lili pada Arsena sebelum bayangan tubuhnya ditelan gelapnya malam.
Selesai mengantar Lili, Arsena segera masuk menghampiri Andini. Di ruang tengah yang sedang asyik makan kue.
Raut yang tadi bahagia kini berubah kembali dingin dan angkuh. "Kamu kenapa tadi bikin ulah?!"
"Bikin ulah? Siapa ? Tikus kali," jawab Andini cuek.
"Andini, kenapa kamu berbohong?" Arsena menarik kursi dan duduk di dekat Andini.
"Aku nggak berbohong, aku juga nggak bikin ulah, kalau kamu lapar mending makan aja, itu ada makanan untukmu Ars, Bibi hari ini libur memasak, karena stok makanan dirumah habis." Andini mengambilkan gado- gado yang masih terbungkus plastik.
Andini hari ini sedang berakting habis habisan. Dia sesungguhnya ingin mendapatkan nafkah pertama dari suaminya. Karena tadi Johan yang menyuruhnya agar bersikap demikian.
"Gila, aku bukan orang miskin, tapi kenapa sampai kehabisan stok makanan,"umpatnya.
Baiklah, besok aku buatkan ATM card untukmu.
"Harusnya memang seperti itu." Kata Andini sambil menyuapi cake ke mulutnya.
__ADS_1
Arsena terpaksa membuka makanan yang di bawa Andini sore tadi. Ini pertama kalinya Arsena memakan makanan yang ada hubungannya dengan Andini. Mereka makan satu meja, walaupun sebenarnya terpaksa.
Andini hanya melirik sekilas ke arah Arsena.
Arsena juga melirik ke arah Andini. hingga pada lirikan kedua mata mereka saling bertemu.
"Kenapa? kamu mau ini?" Andini menyodorkan kue brownis miliknya.
"Nggak, dari siapa?"
" Seseorang."
Ternyata Arsena fokus pada kertas yang tergeletak di depan Andini. Arsena bahkan belum pernah bersikap romantis seperti itu pada Lili.
Dia pasti pria yang sedang dekat dengan Istrinya, tapi siapa pria yang kini sedang mengincar gadis tak pernah mengoleskan make up itu," batin Sena mulai bertanya tanya.
"Pacar kamu?" Kata Sena lagi.
"Emang kalau dikasih kue, itu harus pacar ya??" jawab Andini masih bersikap acuh.
"Dasar wanita murahan," selesai mengumpat Arsena segera pergi meninggalkan Andini sendirian di meja.
Andini tersenyum melihat Arsena yang pergi dengan wajah muram.
Arsena dengan kesal masuk ke kamarnya, membanting pintu dengan kencang. Kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.
Entah apa yang terjadi, fikirannya tiba tiba jadi gelisah. Bahkan Arsena lupa telah berjanji akan menelepon Lili jika sudah sampai di rumah.
Sebuah Cake, dan kartu ucapan sudah membuatnya gelisah hari ini.
Pagi hari.
"Andini !!" Teriak Arsena dari kamarnya.
"Iya ada apa Ars?" Andini berlari tergopoh gopoh menghampiri keberadaan Arsena.
"Siapkan bajuku cepat!" Bentak Arsena.
"Kenapa kau malah berdiri disitu!" Protesnya lagi. "Cepat!" Arsena menarik handuk setelahnya masuk ke kamar mandi.
"Bukannya kau melarang ku menyentuh apapun yang menjadi milikmu." Protes Andini.
"Sekarang boleh, kau boleh bekerja untuk ku, karena uang yang yang akan masuk ke ATM mu itu gaji mu bekerja di rumahku"
Ya Tuhan, kapan dia menganggapku istri," gerutu Andini.
"Baik kalau itu memang yang terbaik." Andini mengangguk setuju.Kini ia berjalan mendekati lemari besar yang ada di kamar itu. Mengambilkan Hem dan celana untuk dipakai Arsena pagi ini.
Arsena memicingkan sebelah matanya tak percaya Andini akan setuju dengan ide konyolnya.
Selesai menyiapkan baju, Andini bergegas turun, ia mulai menyiapkan sarapan untuk Arsena. Andini berharap dia tak akan menolak lagi masakan darinya pagi ini.
Andini menyiapkan gurami goreng dan sambal terasi untuk sarapan Arsena di pagi ini.
Saat membuat sambal aromanya begitu menyengat hingga tercium sampai ke kamar Arsena.
__ADS_1
Arsena yang berada di kamar bersin-bersin berulang kali. Membuat pria itu terpaksa turun menghampiri Andini ke dapur.
"Hei ... Apa yang kau masak? Aku benci sekali aromanya, hach ! Haching !" Arsena tak berhenti bersin akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sarapan di ruang tamu.
Andini hanya tersenyum. "Kamu nanti pasti suka." Jawab Andini dari dapur dengan ulekan yang masih melekat di tangannya. Masak pagi ini hampir selesai tinggal menyiapkan sambal saja.
Ketika semua sudah lengkap Andini segera menyiapkan semuanya di meja makan. Setelah selesai ia memanggil Arsena untuk sarapan.
Arsena pun menurut sarapan di rumah, Andini meninggalkan secentong nasi dan mendekatkan cobek yang berisi ikan penyet.
"Kamu yakin masakan kamu ini akan layak dimakan." Cibir sena sambil mencuci tangannya sebelum menyentuh makanan di depannya.
"Bisa dicoba, jika terjadi apa apa denganmu, kamu bisa menuntut ku ke pengadilan,bukan?" jawab Andini lalu pergi meninggalkan Arsena menikmati sarapannya..
Andini juga bersiap untuk ke kampus. saat ini ia sedang menghadapi ujian semester akhir.
Arsena awalnya ragu memakan masakan pertama Andini untuknya. Namun setelah mencicipinya beberapa suap, rasanya memang enak, bahkan lebih enak daripada warung lalapan yang ada di depan kantornya.
"Lumayan juga masakannya," gumam Sena sambil terus mengunyah daging gurami. "Dia memang bodoh, daripada jadi Istri bayaran, kenapa dia tak membuka warung makan saja. Kan lumayan buat membiayai hidupnya."
"uhuk, uhuk" Arsena tersedak duri ketika pikirannya sedang berkelana memikirkan Andini.
Andini sudah selesai ganti baju, kini ia mencoba berdandan dengan menempelkan foundasion di wajahnya. Begitu mendengar Arsena tersedak ia segera berlari menghampiri.
"Pelan pelan Ars, makannya. Emangnya kamu nggak tau kalau ada durinya?" celoteh Andini sambil menuang minuman kedalam gelas.
"Kamu pasti waktu masak, sambil sumpahin aku tersedak ya?" Menegak air dari tangan Andini dan kembali terbatuk batuk.
Andini diam tak menjawab, ia hanya menarik nafas dalam dalam, semoga saja diberi kesabaran serumah dengan pria berhati batu seperti Arsena ini.
Sarapannya sebenarnya nikmat sayangnya ada duri tadi yang nyangkut di kerongkongannya. Akhirnya mood Sena jadi hilang. Arsena mengakhiri sarapannya, ia kembali membersihkan kedua tangannya di wastafel.
Melihat Andini masih duduk santai memainkan gawainya ia kembali naik pitam "Hey, kenapa masih disitu? Sengaja buat Aku terlambat?"
"Siapa yang mau bareng sama kamu? Aku berangkat sendiri saja," jelas Andini. Masih tetap asik memainkan ponselnya.
"Janjian sama cowok yang semalam ya?" Tuduh Sena. Wajahnya tiba tiba berubah masam.
"Kalau iya kenapa? Bukannya kamu juga janjian sama pacar kamu yang cantik itu?" Kata Andini membalas ejekan Sena.
Tersenyum bangga sambil berjalan keluar, Andini mengekor dibelakangnya karena dia yang akan mengunci pintu rumahnya.
" Gantengan mana sama aku?" Sena bertanya balik sambil membuka pintu mobilnya sedangkan Andini berjalan menuju gerbang.
Hallo Readers tercinta
jangan lupa tekan
Like
favorit
dan hadiahnya ya.
biar lebih semangat nulisnya
__ADS_1