Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 117. Siapa pelakunya?


__ADS_3

"Anita bangun!"


"Anita, apa yang telah kita lakukan." Mert terlihat menyesali perbuatannya. Dia sendiri tak tau kenapa semua terjadi begitu saja, yang ia ingat dia minum segelas minuman yang tersaji diatas meja, setelah itu matanya ber kunang-kunang dan tak lama mereka berdua mulai dilanda gelisah dan ingin saling menuntaskan hasrat.


"Mert! Tidak!" Anita berteriak seolah Mert yang melakukan kesalahan ini. Sekolah Mert yang sudah merencanakan semuanya.


"Tidak mungkin."


"Mert kau telah menodai diriku."


"Maaf, aku minta maaf! Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Mert yang duduk di sofa mulai mencondongkan tubuhnya memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Meremas rambutnya frustasi. Bingung.


Menoleh ke kanan ke kiri ingin menyalahkan siapapun yang ada di sana. Namun, tak ada siapa-siapa. Hanya mereka berdua.


"Aku benar-benar tak tau, aku tak bisa mengendalikan diriku" Mert mencoba menenangkan wanita dengan menyentuh punggungnya.


"Jangan sentuh aku, Aku benci kamu Mert. Kamu sudah melakukannya kepadaku." Anita menutup tubuhnya dengan bajunya yang sudah koyak. Menepis tangan Mert dengan kasar.


Mert tak sampai hati melihatnya. Pria yang menginginkan gadis domestik untuk menjadi istrinya itu segera menelepon butik terdekat dari perusahaan.


Pria itu menginginkan baju dengan size M, yang ia kira akan pas di tubuh Anita. Mert meminta pemilik butik untuk mengirimkan seseorang untuk mengantar baju pesanannya


"Arghhh, kenapa aku tak bisa mengendalikan diriku, sebenarnya minuman apa yang telah aku minum." Mert tak mencintai Anita tentu pria itu juga tak menginginkan semua ini terjadi.


Dia adalah korban, walaupun dia menginginkan gadis Indonesia, dia juga berharap bisa memiliki gadis yang ia cintai. Bukan gadis yang belum ia kenal kehidupan pribadinya.


Pusing dikepala Mert mulai sedikit reda. Pria kelahiran Turki itu mulai bisa berfikir jernih. Dia mulai ingat kalau Anita yang mengundang dirinya.


"Anita, Apa benar kau telah mencoba menjebak diriku? Kau sengaja menaruh sesuatu ke dalam minuman itu?"


"Tidak Mert." Anita menggelengkan kepala.


"Nggak nyangka ya, Arsena punya teman seperti kamu."


"Tidak Mert itu bukan untukmu? Itu pasti keliru. Mereka pasti keliru mengirim minuman yang bukan pesananku."


" Benarkah?"


"Jadi mereka yang salah dan kamu yang benar, lalu penampilanmu yang menggoda itu? Kesalahan siapa?"


Anita terdiam sambil terisak, dia sangat malu dengan yang dilakukan baru saja. Mert tentu bukan pria bodoh yang percaya begitu saja.


"Lalu siapa pria yang coba kau jebak dengan tingkah licik mu itu? Apa dia juga bekerja di sini? Atau pria yang kau inginkan itu tidak lagi single."

__ADS_1


"Aku dan kamu adalah korban, Mert. Aku tidak tau." Anita terus berkelit. Dia berbohong. Namun, masih mampu berbicara dengan berteriak.


"Tunggu dulu, apa Arsena yang ingin kau jebak, supaya kau menjadi Nona Dirut perusahaan ini? Masih ada ya wanita yang ingin menyakiti hati sesama wanita seperti kamu."


Selesai merapikan bajunya, Mert berjalan keluar. Tadinya dia ingin bersimpati dengan keadaan Anita, namun ketika ingat wanita itu yang membuat semua ini terjadi, Mert menjadi malas berdekatan dengan Anita, bahkan dia tak ingin berbagi ruang dan udara dengan wanita ular sepertinya.


Saat kembali ke kantor, Mert bertemu dengan pegawai yang mengantar baju untuk Anita. Mert menunjukkan ruang kemana dia harus mengantar baju itu pada orang yang benar.


Mert tak habis pikir, kenapa hari ini dia begitu sial. Pertama Arsena meminta untuk makan siang dengan Anita, kedua dia harus melakukan hal buruk yang selama ini belum pernah dia lakukan dengan wanita manapun, Perjaka Mert telah berakhir di tangan Anita.


"Arggg." Mert mengepalkan tangannya lalu meninju dinding.


"Mert, apa yang telah terjadi. Kenapa kamu melukai tanganmu sendiri, pasti sakit sekali ya?" Andini menghampiri Mert, Andini tadi ingin jalan jalan keliling koridor sebentar ditemani Zara.


"Andini! Aku sedang ...." Mert tak mungkin bercerita hal yang baru saja dialami dengan Anita baru saja. Aku sedang kesal dengan seseorang.


"Mert, aku sudah tau, tapi ini menyakiti diri sendiri. Nggak guna," tutur Andini.


"Mert coba aku lihat tangannya? Tu, bener kan, dugaanku. Pasti berdarah." Andini memeriksa buku buku jari Mert. Luka Mert lumayan jika dibiarkan terbuka pasti sangat perih.


"Zara, tolong ambilkan kotak PPPK." Perintah Andini.


"Baik Nona," Zara segera pergi dan tak lama kembali lagi membawa kotak yang di minta Andini.


Andini mulai membersihkan luka Mert dengan alkohol dan memberinya salep. Mert mulai meringis merasakan perih. Andini mengajak ngobrol Mert biar pria itu tak fokus pada lukanya.


"Tak mungkin Kakak ipar, suamimu Arsena sangat pencemburu." Kata Mert di balas dengan senyum kecil dari bibir Andini.


Mert menatap kearah Zara dengan tatapan sendu, ketika Andini dengan telaten membalut lukanya, sedangkan Zara membantu memotong kain kasa.


"Jika seperti ini kamu tidak perih lagi Mert." Kata Andini sambil melepas tangan Mert.


"Terima kasih kakak ipar." Mert beranjak pergi. Beberapa hari ini dia telah memiliki rasa dengan asisten Andini.


Zara gadis berjilbab yang manis. Tetapi Mert masih menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan semua. Tiba tiba kejadian na'as hari ini telah menimpanya.


 


"Ehmm, Zara sepertinya ada yang sedang naksir kamu nie."


" Naksir saya?" Zara bingung dengan perkataan Andini.


"Kamu tidak lihat, Mert memperhatikanmu."Andini mencubit pipi Zara dengan gemas. Wajah gadis muda itu seketika merona.

__ADS_1


Zara diam-diam juga tertarik pada Mert, namun gadis biasa itu tak mungkin memiliki keberanian menunjukkan semuanya. Mert adalah cucu ketiga dari keluarga besar Atmaja. Sedangkan dia hanya seorang pelayan memiliki nasib naik bisa bekerja untuk Andini atas permintaan Arsena.


"Jika kamu suka Mert, aku akan membantumu."Kata Andini masih menggoda asistennya yang pemalu.


"Tidak Nona, saya tidak pantas untuk tuan Mert." Zara menundukkan wajahnya.


Andini menggelengkan kepala." Jika tidak pantas, Tuhan yang akan membuatnya pantas. Kita manusia cuma bisa melangkah sesuai kehendak-Nya."


"Zara takut berkhayal terlalu tinggi Nona, kalau jatuh akan lebih terasa sakitnya," ujar Zara polos. Mereka berdua kembali berjalan menuju ruangan Arsena.


Andini melihat suaminya sedang siap-siap untuk pulang, merapikan dokumen dan lain lainnya, Vina terlihat hilir mengambil dokumen yang sudah ditandatangani Arsena dan mengantar dokumen yang baru.


Andini mengamati suaminya begitu sibuk, dan bekerja dengan hati-hati membuat Andini tersenyum.


"Em, senyum-senyum. Kenapa ? Makin sayang ya lihat aku rajin bekerja." Kata Arsena yang menaruh dokumen ke dalam laci, Sempat melirik sekilas ke arah istrinya yang sedang berdiri dengan tenang.


"Tentu, suami yang rajin akan disayang istri." ujar Andini.


Setelah Arsena melihat jam di dinding tepat pukul dua sore Arsena keluar dari apartement. Para karyawan berdesakan menuju lift.


"Pak Dirut, silahkan anda duluan." Seseorang karyawan mempersilahkan Arsena dan keluarganya masuk lift lebih dulu.


" Sayang, mari kita masuk, mereka ingin kita pulang lebih dulu." Ajak Arsena dengan nada suara lembut.


Mereka sangat menghargai atasannya hingga rela mengantri lagi setelah sang Dirut masuk lift lebih dulu.


Arsena menggenggam jemari Andini dengan lembut, ia memperlakukan Andini bagai anak kecil yang harus selalu diawasi dan diberi perhatian setiap saat.


Para Karyawan menatap wanita yang dekat dengan Bos yang ia kagumi dengan mata membulat, ia tak percaya Bos dinginnya ternyata begitu memanjakan wanitanya.


Melihat romantisnya Arsena terhadap Andini membuat mereka semakin kagum dan merasa ingin diperlakukan penuh kelembutan pula oleh pasangannya.


Genggaman tangan mereka terlepas ketika arsena telah tiba di parkiran. Arsena membukakan pintu untuk Andini dan Zara membuka pintu belakang untuk dirinya sendiri. Setelah membantu memasang sabuk pengaman untuk Andini. Arsena baru menempati posisinya di kemudi.


"Tuan, buah buahan untuk dan susu khusus ibu hamil telah habis." Kata Zara yang sudah sejak pagi tak menyiapkan makanan khusus itu untuk nona mudanya.


Andini justru senang saat bebas meminum minuman yang mencium aromanya saja membuat perutnya mual dan bergejolak. Tapi tentu Arsena tak mau hal itu terjadi.


"Baiklah kita akan membelinya." Kata Arsena yang mulai menjalankan mobilnya keluar parkiran perusahaan.


Securiti menahan kendaraan lain untuk berhenti mendahului dan mengisyaratkan Mobil Arsena berjalan lebih dulu memasuki jalan hitam rapat kendaraan.


Setelah tiba di depan supermarket Arsena segera memarkirkan mobilnya. Saat hendak turun, ponsel Arsena berdering tiada henti. Andini dan Zara turun sendiri tanpa menunggu Arsena yang masih berbicara dengan rekan bisnisnya di telepon.

__ADS_1


Tiba-tiba sosok pria bertubuh besar, memakai helm teropong dan jacket hitam. Sengaja mengendarai motor dengan kecepatan tinggi mengincar tubuh Andini.


*Happy reading.


__ADS_2