
****
"Andini kamu kemana?"
Arsena mulai mencoba menelepon ponsel Andini lagi, siapa tahu si empu sudah menemukan ponselnya.
Namun masih nihil, ingin melaporkan ke pihak kepolisian, belum 24 jam. Arsena meremas rambutnya frustasi. "Andini kemana kamu pergi."
Arsena akhirnya memutuskan untuk mencari di rumah Vanya. Gadis itu hanya menggeleng tak tahu, dia hanya mengetahui kalau Andini pulang dengan seorang pria, pasti Devan yang dimaksud oleh Vanya.
Walaupun sudah mendapat penjelasan dari Vanya Arsena tak menyerah, ia masih ingin mencari kerumah Jesika. Jawaban gadis itu juga tak jauh beda dengan Vanya tadi.
Arsena sangat geram dengan kawan Andini yang tak bertanggung jawab, Arsena sudah mengeluarkan ancaman yang mengerikan kalau sampai menyembunyikan Andini, namun jawabannya masih sama, Andini sudah pulang lebih dahulu.
Arsena makin bingung kemana lagi ia mencari Andini, Emosi, lelah, bercampur aduk, kalau Arsena menemukan Andini bersama pria lain, ia akan menceraikan Andini diwaktu itu juga, tapi ia juga khawatir kalau gadis itu sedang diculik dan terjadi apa-apa dengannya.
Arsena kembali ke mobil dengan langkah lesu, entah kemana lagi dia harus mencari. Arsena memilih pulang. Ia berharap kalau Andini sudah pulang saat ia sedang melakukan pencarian tadi.
"Bibi, apa Andini sudah pulang?"
Tanya Arsena pada Bibi yang sedang membersihkan ruang tamu.
"Belum, Tuan."
"Kemana Nona Andini, Tuan?"
Tolong temukan dia, Tuan. Aku tak mau Nona Andini kenapa napa."
Bibi menangis di depan Arsena, air matanya menetes tak mau berhenti dari sudut mata tuanya."
Arsena semakin pusing melihat Bibi yang menyuguhi dengan tangisnya, saat baru saja pulang.
"Cukup Bi, aku juga pusing mencarinya, jangan membuat kepalaku semakin pusing." Bentak Arsena pada Bibi. Pria itu seharian terlihat kusut karena tak memperhatikan penampilannya, jiwa CEO yang ada dirinya seketika hilang ketika memikirkan istri pergi semalaman tak pulang.
"Andini kemana lagi aku harus mencarimu." Arsena menyandarkan kepalanya di sandaran sofa ruang tamu.
Tiba tiba ponselnya kembali berdering.
Tring ...
"Hallo Pak Doni?"
"Hallo Den"
"Apakah sudah ada kabar selanjutnya?"
"Belum Den?"
"Kenapa menelepon? Bisa kerja apa nggak? Kerahkan anak buah sebanyak banyaknya."
"Tapi saya mencurigai Den Miko yang kini tengah bersama, Nona"
"Miko? Pria itu lagi?"
"Iya, Den."
Mendengar kata Miko Arsena segera melayangkan tinjunya ke meja,
Braaak !!
Doni yang berada di seberang sana pun ikut kaget.
"Den! Apakah Anda baik saja."
"Tidak aku sedang tak baik saja. Berikan alamat apartementnya, aku akan segera kesana."
"Bukan apartement, Tuan. Tapi di Mansion."
"Mansion?"
Arsena tak menyangka ternyata Miko memiliki mansion, tanpa ia ketahui. Arsena mengira mansion itu pemberian Papa Johan.
Doni segera mengirimkan alamat mansion rahasia Milik Miko, warisan dari kakeknya( keluarga Mita) itu.
Tanpa berpikir panjang, Arsena segera mengambil jacket hitam dan kacamata hitam yang ada di kamarnya.
Pak Karman sudah memutar mobil menghadap ke jalanan, untuk memudahkan Arsena berangkat, supaya tinggal tancap gas saja.
Arsena segera melajukan mobil ke alamat yang diberikan oleh Doni. Dengan bantuan aplikasi di handpone nya membuat ia menemukan persembunyian Andini dengan cepat.
"Pintar juga dia menyembunyikan Andini, pria itu benar benar ingin menjadikanku musuh terbesarnya, dia tak pernah tahu apa yang akan kulakukan karena berani bermain main denganku."
*****
Doni Dan Arsena mulai melakukan pengintaian, ia menelusupkan mobilnya ke jalan setapak kecil yang menuju ke lereng kebun. Lumayan jauh dengan jarak mansion.
Arsena sudah tak sabar ingin segera masuk, namun Doni mencekal lengannya.
Jangan Tuan, kita pastikan dulu kebenarannya, sebelum ada bukti yang lebih jelas.
"Jadi kamu belum melihat sendiri, kalau Andini berada di dalam mansion itu." Arsena terlihat tak sabar.
Doni menggeleng membuat Arsena menatapnya sebal. Bisa-bisanya Doni memberi informasi yang sama sekali tak akurat.
__ADS_1
"Tapi saya yakin, karena Den Miko tadi membeli bucket bunga, dan salep untuk luka, untuk siapa coba bunga itu."
Arsena mengangguk, ada benarnya ucapan Doni. Tapi kenapa membeli salep, apakah Andini terluka?
Mobil Miko telah tiba, nampak dua pengawal membukakan pintu, pria itu dengan tergesa gesa membuka pintu, rona bahagia begitu kentara di wajahnya.
Ada satu bucket bunga ditangan kanan dan entah apa lagi yang ia bawa di tangan yang kiri.
Setelah itu tak terlihat lagi aktivitas mereka selanjutnya, karena pengawal segera menutup lagi gerbang utama.
"Jangan biarkan siapapun masuk tanpa seizin ku."
"Dan jika ada yang bertanya, katakan mansion ini kosong,"kata Miko kata-kata itu menggema hingga di Arsena dan Doni bisa mendengar dengan jelas dari persembunyiannya.
________________
*******
*30 menit sebelum kepulangan Miko*
Andini mulai bosan di dalam kamar saja ia mulai jalan-jalan ke dapur, melihat lihat halaman belakang mansion.
Andini mengamati sekeliling mansion, ia sangat terkejut, ternyata sejauh mata memandang semuanya hamparan hijau yang luas. Tak ada tetangga ataupun bangunan lain yang ada disekelilingnya.
Andini sesaat merasa terpesona dengan keindahannya, namun sejenak ia teringat Arsena, suaminya. Pria itu apakah sedang mencarinya, atau ia malah bahagia karena tak ada lagi yang akan mengganggu hidupnya.
Jika tak ada lagi dia di hidupnya, dengan mudah dia akan menikahi Lili. Wanita yang akan dinikahi dan dicintai sudah sejak lama.
Andini akhirnya memutuskan untuk mendekati Bibi Ambar di dapur.
"Oh, Nona, anda kenapa ke dapur?"
"Pengen lihat bibi memasak." Andini melongokkan kepalanya melihat masakan Bibi dari atas panci yang aromanya sejak tadi memanggil manggil cacing di perut. "Kenapa Bi, seperti bibi kaget lihat saya datang ke dapur."
Bibi hanya memberi seulas senyum untuk nona barunya.
"Tidak Nona, saya takut Tuan Miko akan memarahi saya jika melihat Nona ikut serta repot memasak, Tuan Miko berpesan sebelum pergi supaya melayani nona dengan benar."
"Tuan Miko, sepertinya sayang banget sama Nona."
"Tapi Miko sudah kerja Bi, saya juga nggak mungkin kalau nggak ngapa ngapain seharian. Di kamar sendiri juga bosan, kan."
" Baiknya Nona lakukan pekerjaan layaknya seorang Nona, dan aku akan melayani anda disini layaknya seorang Asisten. karena semua ruangan ini dipasang cctv. Kata Ambar sedikit mengecilkan suaranya. Takut terekam oleh benda pintar itu.
Kini Ambar dan Andini memilih duduk di kursi kecil yang ada di dapur, dan Andini mengikuti, Andini juga duduk di kursi yang lainnya.
Kenapa Miko melakukan semua itu, apakah dia mengkhawatirkan aku. Apa dia takut pria berandalan itu mencariku.
"Nona apakah sudah baikan?"
"Seperti yang Bibi lihat, bekas luka ini masih perih."
"Baiklah Nona, Den Miko tadi bilang dia akan kesini lagi, membawakan salep yang bisa membuat luka Nona cepat kering dan tak meninggalkan bekas."
"Dia bilang begitu kepada Bibi." Andini kaget, ternyata Miko sangat dekat dengan pembantunya.
Ambar mengangguk sambil tersenyum. "Beruntung sekali Nona Andini memiliki pria seperti dia, idola wanita banget. Kalau bibi masih muda pasti sudah bibi kejar pria seperti Den Miko, sampai ke ujung dunia," kata Bibi sambil mengenang masa mudanya.
Kini giliran Andini yang tersenyum. "Memang suami Bi Ambar bukan idola Bibi.
Enggak sama sekali, Suami bibi itu galak, angkuh, tapi entah kenapa bibi tetap sayang Non, dan dia semakin galak tapi bibi tetap tak bisa pergi darinya, kita tetap bersama sampai saat ini.
Bi, aku juga berharap, walaupun Arsena Angkuh, dan galak, semoga kita akan bersama hingga tua nanti. Aku berharap hanya menikah satu kali seumur hidupku.
"Mari Non kita keluar, masak sudah selesai. Tinggal Nona sarapan menu yang nona sukai." Kata Bibi sambil menyongsong ke meja makan meninggalkan dapur, menghidangkan beraneka ragam menu special kesukaan Miko dan reques Miko untuk Andini.
Andini membantu membawa mangkuk berisi rendang beraroma harum, menuju ruang makan, sedangkan ditangan bibi membawa nampan berisi aneka minuman segar.
"Apa Non Andini ingin makan sekarang?"
"Tidak, aku akan menunggu Miko pulang."
Andini melihat jam di dinding, sudah pukul satu siang. Terik matahari sedang panas panasnya. Andini melihat hamparan kolam di sebelah ruang makan dengan airnya kebiruan.
Membayangkan berenang di kolam itu pasti akan menyenangkan, rumah sepi hanya ada Bi Ambar. Miko pulang masih lama.
******
Andini segera ke kamar ia melepas gaun malam yang ia pakai sejak semalam, mengganti dengan baju bikini, tak lupa handuk kimono ia pakai saat belum mencebur di air.
Andini melepaskan handuk kimono dan menaruhnya di tepi kolam. Kini ia tinggal mengenakan bikini, lalu menceburkan diri di kolam
Byurrr !!
"Segar sekali air di kolam itu."
Andini mahir dalam berenang. Ia mengepakkan kedua tangannya layaknya elang terbang di udara. Sesekali menenggelamkan kepalanya lalu menyembulkan. Hari yang benar benar menyenangkan. Andini bisa kembali menikmati hari seperti saat kecil yang terbiasa mandi di sungai, berenang bersama kawan kawan melawan arus kecil.
________________
Miko yang baru saja datang melepas sepatu dan jasnya mendengar ada riak kecil di kolam, ia penasaran.
Miko melihat seseorang sedang begitu bahagia bermain dengan air jernih dari kaca jendela ruang makan.
Tubuh mungil, mulus bak biola Spanyol masih terus menari nari di atas air. Sesekali ia melempar air ke udara dan jatuh mengenai tubuhnya, layaknya sebuah hujan. Andini tertawa, menenggelamkan diri lagi.lalu menyembul.
__ADS_1
Andini, kau sangat cantik bagaikan bidadari. Hanya orang buta yang tidak jatuh cinta dengan keelokan ciptaan Tuhan yang satu ini.
Miko pergi ke kamar setelah mengintai Andini sesaat dari ruang makan tadi. Ia segera mengganti baju kerjanya dengan baju renang. Ia ingin bermain air di kolam bersama Andini.
Membayangkan berenang bersama Andini pasti akan sangat menyenangkan.
Miko menceburkan diri dikolam memakai celana pendek khusus renang. Bulu halus di dada dan tubuh kotak warisan dari Johan itu terpampang begitu memikat mata wanita. Tapi entahlah jika wanitanya di depannya itu Andini.
Byuuur ....!!
Miko menceburkan diri, Andini dan Miko berada dalam satu kolam luas nan biru.
Andini kaget Miko telah pulang.
"Hai Girl, apa kau sungguh sudah baikan?"
Seperti yang kau lihat, aku sudah lebih baik.
"Kalau begitu aku ingin kita berlomba." Kata Miko memberi sebuah tawaran.
"Apa ...?"
"Kau yakin bisa mengalahkan aku?" Tanya Andini penuh percaya diri, bukan meremehkan, tapi Andini memang juara renang se kabupaten sejak SMA. " Jika aku menang, antarkan aku pulang hari ini juga."
"Baiklah, jika aku yang menang, izinkan aku menciummu." Kata Miko masih terlihat bercanda.
Andini yakin dia pasti akan memenangkan taruhan kali ini, ia ingin pulang segera menemui Arsena dan menjelaskan malam kelam itu.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Byur .... Byur .... Byur ....
Andini memimpin renang kali ini, Miko tertinggal jauh dibelakang.
Andini menoleh ke belakang, ia bahagia sekali, harapan untuk keluar dari mansion akan segera terkabul.
Andini hampir saja menyentuh tepi kolam yang dianggap sebagai garis finis, namun Miko menarik kaki Andini hingga terseret ke belakang. Secepat kilat Miko menyentuh tepian kolam dan Miko adalah pemenangnya.
"Miko curang."
"Miko curang."
Andini meledek Miko dengan wajah jeleknya dan lidah dijulurkan.
Mendapati sikap tak terima Andini, Miko tak menghiraukan, ia hanya tertawa bahagia.
"Girl, kau sudah kalah, kau harus terima kekalahan itu."
Miko terima dibilang curang, ia tetap menagih janjinya.
Ayo, wanita yang baik, dia akan memenuhi janjinya.
"Tidak ...!"
"Kau curang." Andini lalu naik ke atas. Sambil duduk di tepian kolam.
"Curang untuk menang itu bukan masalah Girl, tapi ingkar janji itu tak boleh." Kata Miko, mendekat.
Miko menarik lengan Andini, membuat ia terjatuh kembali.
Tetapi kali ini Miko melindungi tubuh Andini, agar tak sampai meneguk air kolam. Andini berada di dekapan Miko, menatap lekat wanita di hadapannya. Namun Andini menghindari tatapan Miko yang menuntut perlakuan lebih.
"Girl"
"Miko ...Aku tak bisa."
"Sekali saja, Girl"
"Maaf, aku tak bisa."
"Andini katakan, siapa yang kau pilih diantara kami berdua?"
"Aku tak bisa memilih, kalian bukan pilihan."
"Jika kau tak bisa memilih, itu artinya kau masih memberiku harapan untuk memilikimu."
Andini melepas tangan Miko, yang sejak tadi memegangi jari-jarinya, menjauhkan diri dari
pria itu akan lebih baik.
Andini naik ke atas, mengakhiri renang hari ini. Segera memakai handuk kimono dan hendak pergi ke kamar.
Miko menyusul Andini yang pergi meninggalkannya. ia memeluk Andini dari belakang. Menempelkan dagunya di pundak Andini.
"Girl jawab, kau lebih nyaman bersama pria itu, atau berada disampingku?"
"Lepaskan Miko ... Ku mohon jangan mendesakku, aku butuh waktu."
*********
*happy reading.
__ADS_1
* jangan lupa Like, Komen, Vote. biar lebih semangat lagi nulisnya.