
"Ma, Papa kenapa ini?" ujar Johan memegangi dadanya.
"Kenapa, Pa." Rena tanya balik.
"Papa jangan bilang kalau serangan jantung ya, Mama nggak mau ditinggal papa sendiri, mama maunya sama Papa." Rengek Rena. Sambil melingkarkan lengannya dan menempelkan kepalanya di bahu Johan.
Dia mulai mendengar degup jantung suaminya begitu kencang. Keringat mulai keluar dari pelipis dan keningnya.
"Pa, kenapa sih papa ini? tadi baik baik saja. Kenapa sekarang mendadak keringetan begini, mama saja merasa kedinginan Pa."
"Mama beneran kedinginan?"
"Benar Pa, Papa jangan sakit ya. Mama buatkan minuman biar papa lebih baik?"
" Jangan Ma." Johan menahan lengan Rena yang baru mengangkat satu kakinya, hendak pergi ke dapur.
"Mama mau kemana? Mama temani papa saja disini," pinta Johan.
Baiklah Pa, tapi papa sakit, kalau begitu papa istirahat."
"Papa kenapa, Ma?" Tanya Arsena yang kebetulan lewat ruang tengah ditangannya membawa teko berisi air. Arsena ingin tahu kenapa orang tuanya terlihat heboh.
"Nggak tau Ni, Ars, mungkin dia lagi masuk angin, kali."
"Oh, baiklah, aku panggilkan Andini kalau begitu. Biar dia periksa kondisi, Papa."
Arsena langsung berlari kekamar putranya, namun teriakan Johan seketika menghentikan langkahnya
" Jangaaaaan! papa nggak sakit Ars. papa hanya butuh tidur. Iya benar ... Setelah tidur pasti sembuh."Johan malu mengutarakan yang sedang dirasakan, padahal nafasnya sudah terasa berat. Hasrat nya sudah mulai muncul
"Papa pasti takut sama jarum suntik. Iya kan? Nanti aku bilang ke Andini kalau papa nggak perlu disuntik. Cukup kasih obat saja."
"Ars, tolonglah mengerti, papa nggak sakit. Papa cuma ingin ... Kamu nggak akan pernah mengerti."
"Papa masuk kamar dulu." Kata Johan salah tingkah.Johan meninggalkan ruang tengah dengan tergesa gesa.
Arsena melihat papanya bersikeras dan salah tingkah, membuat dia mengalah. Membiarkan apa yang dimau. Tapi papanya lucu menurut Arsena, kelihatan aneh tapi tak mau dibilang sakit.
"Mas kenapa kamu senyum senyum sendiri? Aku juga dengar papa berteriak. Kamu bikin ulah ya?" Andini menyongsong suaminya dengan pertanyaan beruntun bagaikan satpol PP di jalan.
"Enggak Sayang, mana berani bikin ulah sama, Papa."
" Hm. Iya juga sih." Andini mengangguk.
"Nggak ada yang berani bikin ulah sama Papa Singa itu, Yang." Kata Arsena sambil mengulurkan segelas air untuk Andini.
"Kamu Singanya Dong." Celetuk Andini. Sambil tersenyum. Dia menerima air dari putih dari suaminya.
"Ya, seperti itulah, tapi Aku hanya kucing sekarang," kata Arsena sambil mengamati kedua putranya yang pulas. Sedangkan Andini sibuk membuka hadiah dari kerabat dan kawan kawan Arsena yang tadi datang di acara aqiqah putranya.
Semua hadiahnya unik dan mahal, mungkin mereka semua telah bekerja keras mencarikan hadiah untuk Baby Excel dan Cello. Demi untuk membuat dirinya berharga dimata pemilik perusahaan ternama itu.
"Sayang, kamu temani Baby Twins dulu ya, aku akan lihat papa lagi. Jangan jangan telah terjadi sesuatu yang tak aku ketahui,"ujarnya dengan wajah cemas.
"Iya, kalau papa memang benar benar sakit, segera panggil aku, walau aku dokter bedah, kalau untuk sakit ringan aku juga paham."
__ADS_1
"Siap, Non." Arsena mengecup puncak kepala Andini lalu keluar kamar lagi.
Saat Arsena keluar ponsel Andini berdering. Setelah dilihat ternyata Ana yang menelepon. Baru sampai rumah sudah rindu dengan cucu cucunya yang lucu dan mulai gembul.
Andini mulai melakukan video call dengan ibu, memperlihatkan kedua cucunya yang sedang pulas di dalam bok hangatnya.
Andini juga menceritakan pertemuan dengan papa tempo hari. Dia menceritakan secara detail apa yang dilihatnya tentang keluarga itu.
"Benarkah yang kamu katakan Ndin !? Papa kamu sekarang jatuh miskin?"
" Iya, Buk, Ayah jualan es buah, dan pelanggannya sepi banget," kata Andini sambil mengingat penampilan Ratih yang sudah tak seglamour dulu, bahkan waktu ketemu kemaren dia hanya memakai kaos oblong yang lusuh dan celana selutut dengan warna hitam yang sudah memudar.
" Kasian, juga papa kamu. Tapi Nak, ibu belum memaafkan papa kamu. Dan itu sampai kapanpun. Apa yang dilakukan dimasa lampau, terlalu menyakitkan bagi ibuk. Ayah kamu selingkuh disaat ibuk sakit, masih bisa ibu maafkan. Tapi dia mengabaikan kamu dan Dara disaat kalian butuh kasih sayang. Ibu tak rela." suara Ana di seberang tiba-tiba serak, ana menangis ketika mengingat masalalunya.
_________
Arsena mulai mendatangi kamar kedua orang tuanya.Dia iseng menempelkan daun telinganya di kamar Papa.
Arsena mendengar kegaduhan di dalam kamar. Ada suara jeritan Mama dan nafas Papa yang seperti pacuan kuda.
" Ma ! Pa! "
tok! tok!
'Ngapain sih mereka? Jangan jangan mereka sedang bertengkar.'
Arsena kembali menempelkan lagi. Suara dua orang di dalam semakin keras terdengar jika daun telinga ditempelkan di pintu dengan benar.
"Pa, papa jahat banget sih. Mama, minta ampun Pa." Suara Rena terbata bata.
" Maafkan Mama, Pa," Rena terus saja mengoceh semampunya.
"Papa pukul nya jangan keras-keras, Mama sakit Pa."
Habis mama tega, ini semua pasti Mama yang melakukannya," cecar Johan sambil terus bekerja keras.
"Papa, pelan pelan Pa. Sakit Pa. Bukan mama Pa. Beneran, auhhh." Erangan dan rintihan terus saja keluar dari bibir Rena.
"Ini belum seberapa, papa bisa lebih lagi dari ini, Ma. Mama kalau ingin, tinggal bilang aja, nggak usah pake obat, Ma."
"Ampun Pa, mama minta ampun. Pa. Sungguh bukan Mama."
"Ini belum seberapa, Papa masih bisa lebih dari ini sama Mama. jangan pikir usia papa sudah tua. Papa nggak mampu lagi.
Dari balik kamar terus saja bergema, suara Johan menghajar istrinya sedangkan Rena selalu minta ampun dan kuwalahan.
Arsena murka, mendengar semuanya, dia tak terima jika mama dihajar sedemikian rupa. Dia tak akan membiarkan mamanya terluka sedikitpun.
"Brakk." Arsena membuka kunci kamar menggunakan kunci cadangan yang dia simpan secara rahasia.
"Aaaaa ...." Rena berteriak.
"Ars, Kamu nggak bisa apa ketuk pintu dulu. Dasar anak nggak tau diri. Kenapa kamu ganggu Papa." Johan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya begitu juga Rena.
"Ars, kamu ngapain kesini?" Rena terlihat malu.
__ADS_1
Arsena segera menutup pintu lagi dan menempelkan tubuhnya didaun pintu. Nggak menyangka yang tadi dia kira Mama sedang bertengkar hebat, ternyata sedang main kuda kuda'an.
Johan keluar kamar usai memakai celana kolor dan kaos oblongnya.
Dia yakin pasti Arsena masih didepan pintu.
Johan benar, Arsena mematung, bibirnya terkunci rapat saat ingin memberi penjelasan.
"Ngapain kamu kesini?Anak tak tau untung. Ganggu aja," gerutu Johan.
"Maaf, Pa, Arsena nggak bermaksud mengganggu Mama dan Papa. Cuma suaranya sangat keras. Dan saya pikir Mama dan Papa sedang bertengkar. Jadi Arsena ingin selamatkan Mama. Ars, pikir Mama sedanh ingin membunuh Mama"
"Dasar, bandel ... Pergi sana. " Johan terlihat uring uringan. puncak kenikmatan yang sedikit lagi akan dia capai harus kandas.
Arsena dengan wajah membiru segera kembali ke kamar untuk tidur. Sepertinya seisi rumah ini sedang bermain dengan pasangannya masing masing.
Apalagi diluar udara sedang dingin, hujan rintik terus saja mengguyur wilayah mansion dan sekitarnya.
"Sayang ... kok nggak tidur duluan." Arsena menyapa Andini yang masih menunggunya.
"Aku menunggu kamu, Ars."
" Bagaimana? Apa benar papa sakit?"
" Papa !" Arsena bingung dia harus jawab apa, apalagi memergoki Papa lagi main kuda kuda'an seperti tadi. Untung lampu utama tadi dimatikan hingga tinggal lampu suram berwarna kuning. "Enggak. Papa baik- baik saja."
"Sehat kan?"
"Dia bahkan sangat sehat." Arsena menjawab pendek.
Andini bingung kenapa suaminya mendadak linglung dan pendiam. Andini berinisiatif untuk tidur lebih dulu. Dia tak berani mengganggunya, apalagi menggoda. Andini takut jika junior sang suami tiba tiba bangkit. Tentu akan sangat merepotkan nantinya.
*Pagi hari
Suasana dapur dan meja makan kembali riuh. Asisten hilir mudik menyiapkan sarapan.
Arsena pagi ini sudah terlihat rapi dan gagah, dengan kemeja biru dan celana kerja oxford warna biru dongker yang dipakainya. Dasi yang senada dengan celana sungguh membuat mata takjub.
Dia keluar kamar ditemani dengan Andini. Baby Excel dan Cello sudah tidur lagi usai bangun subuh tadi.
"Woooow, amazing." Oma memuji cucunya.
"Pagi, Oma. Pagi semuanya!"
" Pagiiii ...." Jawab semua serempak.
"Pagi, Cucuku tersayang kau tampan sekali." Kata Oma sambil menaruh kembali cangkir berisi teh hangat.
"Makasi Oma." Arsena duduk disebelah Oma, Andini di sebelah Arsena. Arsena menatap semua orang di pagi ini, rambut mereka semuanya basah. Dara, Miko, Zara, Mert. Tak luput juga papa Johan dan kedua istrinya.
Arsena segera makan dengan lahap. Dia tak ingin memikirkan apapun hari ini. Apalagi tingkah konyolnya semalam membuat dia tak berani menatap kedua orang tuanya.
Saat acara sarapan selesai Andini segera mengantar Arsena ke halaman. Pria itu sudah siap ke kantor lagi. Setelah beberapa hari absen karena kelahiran dua putranya.
Tiba-tiba ada angkot berhenti di depan pintu gerbang.
__ADS_1
Arsena terkejut, ia menutup kembali pintu mobil yang sudah terbuka. Menatap lebih dalam lagi siapa yang datang.
Ternyata yang datang adalah Ayah Andini dan Ratna Adik tirinya beserta mama Ratih.