
Davit tersenyum saat melihat Tuan dan Nona sudah datang. Yang membuat senyumnya semakin lebar karena Arini ada di belakang mereka berdua. Gadisnya nampak sekali khawatir dengan keadaan dirinya.
"Pak, saya ingin bertemu dengan saudara Davit." ujar Arsena sopan. Penjaga tak kalah santun menjawab pertanyaan Arsena. Penampilan dan kharisma pembawaan sejak lahir itu sudah menunjukkan kalau dia bukan orang sembarangan.
"Oh tentu bisa, dia sedang menunggu anda di dalam Tuan." ujar penjaga mempersilahkan masuk. Arini dan Andini ikut mengekori dibelakang Arsena mencari keberadaan Davit.
"Terima kasih," ujar Arsena.
Rupanya Davit duduk di sebuah ruang interogasi ditemani dua polisi, satu polisi muda dan satunya lebih tua dan gendut.
Arsena mendekati polisi ditemani Andini. Mereka berdua berbicara serius. Sedangkan Arini segera menghampiri Davit dengan wajahnya yang tak seceria biasanya.
"Kak Davit apa yang polisi katakan? Apa Kakak akan bebas? Aku mau lihat wajah Kak Davit apa polisi itu memukul kakak" Arini segera membombardir Davit dengan pertanyaan. memeriksa pipi dan dadanya yang banyak biru karena pukulan Jack tadi.
"Polisi bilang aku akan baik baik saja, alasannya sangat kuat, senjata itu murni milik pemuda itu, dan dia merencanakan penembakan untuk Nona, dan aku melindungi kalian berdua. Tidak salah jika harus melindungi orang orang yang ku sayangi. Dan saat kondisi terdesak aku harus melindungi diriku, aku belum menikah, aku masih ingin hidup, aku tak mau kau bersedih karena aku mati," ujar Davit sambil mengusap wajah Arini, terukir senyum di bibir manisnya.
Arini menempelkan kepalanya di dada bidang Davit.
"Syukurlah Kak. Apa kakak tetap akan di hukum? Berapa lama akan tinggal disini," Arini kembali bertanya, kepalanya mendongak menatap Davit dalam.
"Iya, kakak akan dipenjara hingga batas yang ditetapkan."
" Hiks." Arini ingin menangis.
Arini menghampiri Arsena " Kak Arsen apa kakak bisa bantu supaya Kak Davit tidak di penjara, kita akan pulang kerumah bersama dan semua akan baik baik saja." Arini mendekati Arsena dan memohon.
"Maaf, aku tak bisa Arini." Arsena berkata dengan wajah serius.
"Kak. Bercanda kan? kenapa tidak bisa?" Arini mencoba mencari kebenaran di mata Arsena. memegang lengan kakaknya kuat kuat.
"Tenang Arini, Davit akan pulang bersama kita, dia akan bebas dengan sebuah jaminan." Andini membocorkan informasi.
"Benarkah?" Netra Arini kembali berbinar.
Arini kembali berlari mendekati Davit. Arsena hanya geleng kepala, melihat adiknya sudah kecintaan banget dengan sopir itu. "Kak Davit aku senang kakak tidak dipenjarakan. Selain itu keluarga sudah mengetahui hubungan kita, Kata Papa kita akan segera menikah. Pernikahan kita tak bisa terelakkan lagi Kak." ujar Arini berbicara dengan semangat.
"Menikah!" Lirih Davit yang melirik kepada Andini dan Arsena yang sedang berbicara dengan petugas kepolisian.
" Iya menikah. Kenapa kak Davit terlihat tidak senang. " Arini menelisik wajah Davit yang terlihat terkejut.
"Bu-bukan tidak senang, tapi kak Davit harus siapkan biaya pernikahan kita, aku harus beli cincin pertunangan, cincin nikah, mas kawin yang bagus dan biaya untuk sewa gedung."
__ADS_1
" Kapan kak Davit bisa beli itu semua. Kalau kak Davit masih jadi sopir. Bisa bisa lebaran monyet uangnya baru terkumpul." Arini mengerucutkan sambil memutar tubuhnya membelakangi Davit.
Davit serba salah, dia tak bermaksud keberatan, tapi Arini yang sudah buru buru ngambek. "Sayang, please dengarkan Kakak, jangan ngambek dulu.
"Arini nggak masalah walau tanpa itu semua, Kak Davit cukup beli mas kawin dan ucapkan ijab di depan penghulu, soal barang mahal Arini bisa beli sendiri," rajuk Arini.
"Arini, Sayang. Kakak takut suatu hari kamu akan menyesal. Di hari bahagia, kakak ingin membuat kamu special dan paling berharga dari apapun."
"Kalau gitu Kak Davit harus keluar jadi sopir dan kerja di kantor. Tapi ijasah kakak?" Arini nampak berfikir keras."
"Tenang, biar sopir tapi kakak sudah mau sarjana S2 kakak ikut kuliah malam."
"Benarkah? Kakak hebat banget." Arini memeluk Davit yang kedua kalinya.
"Kalau gitu kakak bisa melamar di kantor kak Arsen dong. Tenang saja nanti Arini akan rekomendasikan jabatan tinggi."
"Jangan nanti dikira aku manfaatkan kamu, lagi." Davit mengacak rambut Arini dengan gemas.
_
Andini melangkah mendekati Davit dan Arini yang sedang keasyikan ngobrol.
"Vit, selamat untuk kamu, lampu hijau dari camer sudah ada tu, dan selamat juga sudah diizinkan pulang."
"Jangan bilang begitu calon adik ipar, aku yang harusnya berterima kasih, karena kau sudah menyelamatkan dua wanita yang sangat aku cintai ini," ujar Arsena menyahuti.
"Baiklah, mari kita kembali ke hotel kita siapkan kepulangan kita besok." ujar Arsena sambil melangkah ke luar kantor kepolisian. "Em karena kita berempat, tak mungkin kita akan naik dengan satu taxi."
Arsena menghentikan sebuah taxi dia mengizinkan Davit untuk naik lebih dulu.
" Silahkan pulang lebih dulu, kau pasti capek."
"Tidak Tuan, Anda yang harus lebih dulu. Orang tua, harus kita dulukan,"
"Apa? Kau tadi bilang aku tua?" Arsena melotot.
Bukan itu maksudku, anda adalah orang yang saya hormati jadi anda pulang dulu." Davit menjelaskan dengan lemah lembut. Padahal dia yakin Arsena mengerti maksut ucapannya. Entahlah mungkin calon kakak ipar itu sengaja menguji kesabarannya.
"Baiklah istriku kau kembalilah ke hotel lebih dulu bersama Arini. Aku dan Davit menunggu taxi berikutnya. " Titah Arsena
"Iya Ars," Andini mengangguk. Arsena sudah membukakan pintu taxi untuk istrinya dan Davit juga segera membukakan untuk Arini.
__ADS_1
Arini menatap Davit terus menerus saat di dalam mobil. " Tenanglah Arin, Davit aman bersamaku!" Teriak Arsena. Membuat Davit harus menundukkan wajahnya malu.
" Jangan apa apakan Kak Davit, Kak," ujar Arini saat sudah di dalam.
" jangan khawatir. Dia jago beladiri."
Usai mereka berdua kembali ke hotel, Arsena segera menghampiri Davit.
"Hei, aku ingin bicara sesuatu padamu." Arsena melangkahkan kaki menyeberang jalan menuju restaurant. Davit mengikuti di belakangnya. Hati Davit sudah Dag Dig Dug. Pasti ini menyangkut suatu hal yang Arini bicarakan tadi.
Davit dan Arsena akhirnya duduk di sebuah kedai sederhana di depan kantor polisi. Ia abaikan beberapa taxi yang sudah lewat.
"Davit!" Sentak Arsena. Pria beranak dua itu mendadak lebih menakutkan dari biasanya.
"Kau berani sekali berpacaran dengan Arini dibelakang ku, sudah berapa lama kau memacari dia? Dan sudah kau apakan saja dia?" Tanya Arsen mengintimidasi.
"Maaf Tuan, aku ingin mengatakan pada Anda, tapi aku lihat masih ada banyak gejolak tentang masalalu rumit yang anda hadapi. Aku benar benar ingin mengatakan jika waktunya sudah pas," ujar Davit dengan jantung ingin mencelos dari sarangnya. Tangan dan kakinya sudah gemetar hebat.
Brak!
Arsena menggebrak meja. " Dan apa menurutmu kau pantas menjadi adikku?"
Gemetar di kaki Davit semakin terlihat, namun sebisa mungkin dia menenangkan dirinya sendiri.
"Aku percaya pada jodoh mati dan rezeki, jika nona Arini jodohku maka Tuhan yang akan memantaskan."
Arsena puas dengan jawaban Davit yang bijaksana dan tak bertele-tele. Namun sikap Arsena masih saja tetap berlagak angkuh.
" Saya dan Nona Arini berpacaran baru beberapa Minggu dan saya baru mencium bibirnya beberapa kali." Davit berusaha jujur.
"Apa!" Arsena memajukan tubuhnya hingga dadanya menempel meja sedangkan Davit yang terkejut dia memundurkan tubuhnya dan punggungnya bersandar pada kursi. " Kau benar benar sudah melampui batasan mu Davit. Berani sekali kau mencuri harta berharga di keluarga kami. Kau pasti merayu dia yang masih polos.
"Maafkan kekhilafan saya, Tuan." Davit menundukkan wajahnya. Tak mungkin dia akan terus terang kalau Arini yang menciumnya lebih dulu.
Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan godaan waktu itu. Tapi tetap saja dia tergoda dengan Arini yang sangat cantik. " Saya akan segera menikahi adik anda, Tuan."
Arsena mulai menyeruput kopi yang sudah menghangat." Sudah tak ada pilihan lagi, memang itu yang harus kamu lakukan. Dan ingat satu hal jangan buat dia menangis, dia kesayangan keluarga kami, kau harus membuatnya selalu bahagia, seperti selama ini kami menjaga dan menyayangi dia."
" Siap Tuan," ujar Davit, pria itu mengangguk mantap. Di bibirnya terukir sebuah senyum kecil, sebuah rasa yang selama ini mengganjal kini sudah terasa blong.
Akhirnya tuan Arsena merestui hubungan kami, Arini bersabarlah sebentar Kakak akan segera melamar kamu. Kita akan menjadi pasangan yang halal.
__ADS_1
*****