
Usai ijab sepasang pengantin baru duduk di pelaminan, Arini terlihat menunduk hanya sesekali tersenyum, ketika sahabatnya datang memberi selamat dan kado pernikahan.
Gadis memutuskan menikah di usianya yang menginjak dewasa itu merasakan bahagia yang tiada Tara, hanya saja dia nervous membayangkan malam pertama yang mau tidak mau harus dia lalui.
'Apa benar sakit sekali hingga berdarah darah, ah bagaimana ini, padahal selalu ditemani Kak Davit, didekat kak Davit dan mencium aroma tubuhnya aku sudah senang sekali.'
Gadis itu bingung, apa yang harus dilakukan saat Davit datang di ranjang pengantinnya nanti, sudah siapkah menyerahkan semuanya.
"Gelisah banget sih? Takut ya?"
"Takut apa?" Menoleh kearah Davit sesaat lalu kembali menatap para tamu. "Enggak." Arini segera menatap ke depan lagi.
Pria disebelahnya menahan tawa. "Enggak tapi kok mukanya seperti itu, apa setelah jadi suami aku terlihat lebih menakutkan."
'Sangat menakutkan, aku bahkan ingin cepat tidur hingga waktu berlalu dan tau taunya esok sudah tiba. Aneh gini ya he he."
" Semoga siang di hari ini, akan sangat panjang, supaya aku terus bahagia bersama dengan mereka semua."
Davit di sebelahnya tak terima mendengar do,a Arini baru saja, itu sangat tak adil baginya. Dia pun sengaja berkata di telinga Arini "Aku berharap semoga hari ini, malam datang lebih cepat."
Arini hanya bisa mendengkus, sambil sesekali menggigiti bibir bawahnya untuk menghilangkan segala kegundahan yang tengah ia rasa.
Arini dan Davit terlihat lelah, usai acara foto foto bersama keluarga dan semua kerabat serta sahabat dengan segala keribetannya harus ganti baju hingga berulang kali, kini dilanjutkan dengan acara salam salaman hingga tamu yang hadir habis tak tersisa.
Kak! Arini menoleh kearah Davit. Wajahnya memelas, kakinya gemetar ingin pingsan.
"Sabar, barisan tinggal beberapa orang lagi. cepek ya? Entar aku pijitin."
"Benaran ya," tersenyum bahagia.
Arini merasakan kakinya pegal, rasanya dia ingin bersandar saja di pundak Davit. Davit yang mengerti kondisi istrinya dia memeluk pinggang nya. Berharap dengan melakukannya, Arini akan lebih bisa tenang.
Arini belum sempat bertanya soal Salsa pada Davit. Arini mengira Salsa sudah pulang, wanita sedang hamil pasti akan mudah lelah belum lagi kalau mual datang tanpa permisi.
Akhirnya, setelah pukul sepuluh malam tamu undangan sudah berangsur pulang. Arini dan Davit yang terlihat amat lelah, ia berjalan dengan langkah kaki yang di kuatkan. Rasanya yang selama ini cenat cenut dikepalanya juga blong, acara resepsi berjalan dengan lancar meski tadi sempat ada drama sedikit, masalah konsumsi dan dekorasi sudah mencocoki hatinya, semoga para tamu juga.
"Vit ini hadiah untuk pernihakan dirimu dan Arini. Semoga kalian akan menjadi keluarga yang bahagia."
"Terima kasih Do'anya Kak Arsen. Hadiahnya juga." Davit memeluk Tuan muda yang selama ini ia jaga keselamatannya, tak menyangka sekarang sudah menjadi kakaknya.
"Ya hanya satu pintaku, bahagiakan adikku. Dia sangat menyayangi dirimu, belum pernah dia cinta dengan seorang pria sebesar ini."
Davit mengangguk. Arini sedang asyik ngobrol dengan temannya yang terlambat datang.
__ADS_1
Arsena menggendong kedua putranya pergi, Andini memantau para asisten ibunya yang sedang bekerja, karena ibu Ana juga berhalangan hadir, perutnya sudah sangat besar, entah mana yang melahirkan lebih dulu nantinya Antara Dara dan ibu Ana.
Pak Doni Datang, dia memberi cucunya hadiah banyak tadi, tapi Andini langsung menyimpannya di mobil, pas datang tadi Excel dan Cello sudah tidur, dia rewel. Ingin ditinggal di rumah saja, Arsena tak mengizinkan. Ratna dan Ratih masih dalam pengawasan, hanya saja waktu akhir-akhir ini Arsena masih belum ada waktu untuk mengeksekusi mereka berdua.
Andini buru buru menghampiri Arsena yang sedang bicara sama Davit. "Sudah diberikan hadiahnya?" Andini bertanya.
Arsena mengangguk, sengaja tak menjawab, malu kalau Davit sampai melihatnya.
"Siip." Andini membuat lingkaran dengan ibu kari dan jari telunjuknya.
"Pulang, Yang. Berdiri sambil gendong anak anak, capek juga pundak ini."
"Nanti aku pijitin." Andini menghibur Arsena.
"Janji ya, tapi kalau bisa yang plus, aku lagi ingin banget, aku nggak mau anak kedua keduluan Davit."
"Emang anak aku yang buat sendiri gitu, seperti adonan kue. Banyakin do'a, Hubby. Jangan cuma banyak bikin doang." Gerutu Andini sambil membenarkan bantal guling untuk anak-anak di mobil.
Hari yang melelahkan telah berakhir, Arsena langsung pulang usai menyerahkan hadiah kepada Davit.
Papa Johan dan Mama Mita sepertinya juga sudah pulang lebih dulu. Davit dan Arini butuh waktu untuk berpesta sesama kaum muda beberapa menit lagi ke belakang.
Mereka ada yang berdansa, ngedance, atau menikmati minuman memabukkan.
" Sorry, asam lambung gue lagi kambuh," ujar Davit bohong
"Payah Lo, harusnya Lo minum dikit dikit, biar entar malam, malam pertama Lo makin asyik dan berkesan, Men."
" Sorry, bener gue nggak bohong lain kali aja." Davit beralasan.
"Ya udah gue cabut ya," teman sekantor Davit yang baru ia kenal kemaren juga pulang.
Miko akhirnya mengajak Arini dan Davit pulang ke rumah Atmaja, Sang nenek diantar oleh seorang sopir yang sudah terpercaya, beserta seorang asisten sekalian yang akan menjaga nenek nantinya.
Saat perjalanan pulang jalanan sudah mulai sepi, Miko mengemudi sangat hati-hati. Apalagi sang istri tercinta dan calon anaknya ada bersamanya.
"Vit elo rencananya langsung tancep apa gimana?" Goda Miko.
"Kayak cangkul aja Bang, langsung tancap." Davit yang duduk di belakang menyahut, sambil membawa Arini ke dalam dekapannya.
Gadisnya terlihat lemas sekali, Davit tak tega meminta haknya pada Arini sekarang, dia ingin biarkan istrinya istirahat dulu saja.
"Aku suaminya, aku yang menjaganya, aku bertanggung jawab membuat dia nyaman bersamaku. Aku akan menunggu sampai dia siap."
__ADS_1
"Kamu bener Vit, Kak Miko apaan sih." Dara memukul paha suaminya dengan keras.
" Ya barang kali aja, ini kan malam pertama, malam yang ditunggu tunggu loh tentunya sama kalian berdua." Miko menimpali.
" Nggak ada salahnya menunggu satu hari lagi, Entahlah bagaimana nanti aja, aku akan serahkan pada Arini saja."
" Sumpah Vit, salut gue sama Elo. Dewasa banget, Aku yakin rumah tangga kalian berdua bakal bikin kita-kita ini ngiri, Elo bisa kendalikan apapun karena cinta. Coba aja kak Miko ...."
"Ehem, kurang apa lagi aku ke kamu Sayang, jangan bikin malu aku ke Davit dong."
" Gue nggak jadi cerita Vit, Kak Miko memang sudah berubah, masa lalu dia biar jadi kenangan dia aja. Sebenarnya kasian juga, menjadi pebinor dia."
" Little jangan mulai bawa bawa bawa masa lalu, kalau tak ada masalalu itu, kita juga tak akan pernah bertemu. Cepet juga ya, jalan pelan sekarang dah nyampe aja." Miko sengaja mengalihkan obrolan.
Miko memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Arsena, sedangkan mobil Papa ada diurutan paling depan disebelah mobil Amert.
Davit dan Arini memutuskan akan tinggal di rumah besar beberapa hari, sekedar untuk menyenangkan Arini dan tak mau terkesan buru buru memisahkan sang istri dari keluarganya.
Miko turun lebih dulu membantu Dara. " Kak kayaknya perutku udah makin kenceng, tendangan debaynya makin kuat aja, jadi pengen buang air," Celoteh Dara sambil turun dan memegangi perutnya.
"Sabar, kalau debaynya keluar kan, nanti nggak kayak gini lagi, semilan bulan sudah dilalui masa beberapa hari lagi mengeluh."
"Vit gue masuk duluan." Pamit Miko. Dibalas Anggukan oleh Davit.
Sekarang Davit membantu Arini turun. Menggandengnya masuk ke kamar. Namun di depan kamar sudah ada Mama dan papa. Sepertinya dia memang sengaja menunggu.
"Vit, kelihatan loyo banget, apalagi Arini." celetuk Mama.
"Pa, Arini ngantuk banget, tadi malam sebelum subuh udah disuruh datang, pake hena pake ini dan itu."
"Pengantin kan memang harus begitu, dan mereka nggak mengeluh seperti kamu, mereka semua fine-fine aja."
Mama terlihat menyiapkan sesuatu, sepertinya sedang menuang dua minuman hangat. Ia melihat Davit dan Arini masuk kamar, mama melongokkan kepalanya. "Vit diambil ya, sudah mama buatkan yang hangat, biar pegelnya cepet pergi."
"Iya Mam," Davit menurut dia ambil minuman buatan Mama dan mengantarkan pada Arini.
"Mau istirahat apa mau yang lainnya?" tanya Davit sambil mengunci pintu. senyum dibibir kasual terlihat begitu menawan.
"Mau dipijitin sama Kak Davit, tadi kan sudah berjanji," ujar Arini sambil menghapus makeup-nya pelan pelan dengan tisu basah.
"Iya, tapi Kakak mandi dulu ya, atau mau mandi bareng? kan sekarang sudah halal." Davit kembali menggoda
"Malu Kak," Arini tertawa kecil.
__ADS_1
"Sudah halal kok makin pemalu, kayak putri malu, kemaren aja nggak ada masalah." Davit memeluk istrinya dari belakang. Arini terkejut jantungnya ingin mecelos dari sarangnya.