
Arsena dan Andini sudah tiba di halaman mansion Mewah miliknya, Mobil Arsena bergerak masuk memutari jalan berpaving di sekitar air mancur dan berhenti tepat di tengah-tengahnya.
Pemandangan yang sungguh menakjubkan ketika dilihat dari arah pintu masuk.
"Nona, Tuan." ujar Mang Karman dan Bi Um, hampir serempak.
Asisten rumah tangga segera menghampiri Andini dan Arsena, mereka ingin membantu tuannya, agar tak kerepotan membawa banyak barang usai bepergian ber hari-hari.
"Ada satu koper baju kotor di bagasi," ucap Arsena sambil menutup pintu dan melepas kacamatanya.
Arsena membuka pintu bagasi dengan remote di tangannya, dan Mang Karman segera mengeluarkan koper dan membawanya ke ruang cuci.
Sedangkan Bi' Um membawa banyak oleh-oleh yang sudah Andini beli saat di jalan tadi. Diantaranya ada buah apel, jeruk, kiwi dan mangga kesukaannya.
"Non, buahnya ini di taruh dimana?"
"Di kupas aja Bi, lalu taruh di kulkas. Kalau bibi mau, bibi bisa ambil sebanyak yang bibi mau, soalnya Andini tadi beli banyak banget."
"Makasi Non,"
Arsena tak banyak bicara, ia sudah rindu dengan istana keduanya. Yaitu kamar dengan segala kemewahan. Ia sudah ingin berenang dan tidur siang melepaskan semua lelah yang sudah menggunung.
"Ndin, ke kamar yuk!"
"Tapi, kita belum ketemu mama, Ars."
"Mungkin, Mama lagi tidur siang. Atau sedang keluar sama temen-temennya."
"Ya udah kalau gitu, aku ikut."Andini mengejar langkah suaminya. Arsena memberikan lengannya agar Andini leluasa menggandeng lengan dengan otot menonjol itu, Mereka berdua segera naik tangga menuju kamar.
Tiba-tiba suara Rena dari ruang tengah terdengar begitu bahagia. Rena sedang telepon dengan kawan kuliahnya sambil tertawa dan sesekali memasukkan camilan ke dalam mulut.
"Ars, sini! Temen mama ada yang tanya kabar kamu, kamu ingat tante Sinta kan?" Rena memanggil Arsena dengan lambaian tangannya.
Andini dan Arsena sontak menghentikan langkahnya yang sudah sampai pada separuh tangga.
"Ars, Mama memanggil," ucap Andini, khawatir.
"Ya, aku sudah dengar, ayo kita kesana dulu."
Andini dan Arsena terpaksa turun, saat di rumah Andini mendadak menjadi sangat nyaman di dekat suaminya, Andini takut kejadian malam itu terulang, ia juga berharap jika ada suatu masalah, bisa segera diketahui dan di atasi bersama sama.
Andini mulai merasakan kalau Mama Rena mulai ikut campur dalam hubungan mereka. Kecurigaan Andini berawal saat ia tiba-tiba mengantuk saat minum air yang ditawarkan pada malam itu.
Malam itu Andini haus, sehabis membuat roti bakar untuk Mama, tiba-tiba semua air di teko dan di dalam dispenser habis. Dan Mita memberinya segelas air putih di saat yang tepat. Tak menyangka air itu sudah di beri obat tidur.
"Ars, ini Tante Sinta pengen bicara, kamu inget kan sama dia? Tetangga sebelah waktu kita masih tinggal di Malang."
"Oh, iya, Ars inget Ma." Dulu Arsena suka nangis kalau diajak pulang dari rumah Tante Sinta." Kenang Arsena.
"Tuh kamu inget, kan." Rena kini menghadapkan ponselnya ke arah Arsena.
"Hallo Tante?" Arsena melambaikan tangannya.
"Hallo, Arsena apa kabar? Oh my God. You are very very handsome. Perveck."
"Thanks Tante."
"Arsena, Tante jadi semakin rindu sama mama dan kamu. Kapan kita bisa ketemu."
"Kapan pun Tante mau maen ke Surabaya, pintu rumah Arsena akan selalu terbuka lebar untuk Tante."
"Oke Ars, tunggu Tante maen ke Surabaya ya, Anita pasti terkejut lihat kamu."
__ADS_1
"Akan Arsena tunggu, Tante."
Arsena memang akrab sekali dengan Sinta, Anita putri semata wayang Sinta adalah sahabat masa kecil Arsena sekaligus teman satu sekolah. Arsena dan Anita saling mengagumi di masa kecilnya.
Kasian dengan istri yang menunggu Arsena segera mengembalikan ponsel pada Mama.
"Ndin, maaf ya, udah bikin kamu menunggu,"
"Nggak, apa-apa cuma bentar aja kok." Andini menjawab dengan pelan.
Tiba di depan tangga Andini terkejut dengan yang dilakukan Arsena. Pria itu jongkok di depan Andini, memamerkan punggung lebarnya nya yang tercetak oleh kaos.
"Ars, mau ngapain?"
"Pengen gendong istriku."
"Tapi ini naik tangga, nggak'ah takut jatuh."
"Apa aku memberi pilihan?" ucapan Arsena skakmat bagi Andini.
"Malu dilihat, Mama." Andini ingin naik tangga, tapi Arsena menghalangi jalannya.
"Kenapa malu? Aku sedang gendong istriku, bukan wanita lain."
Arsena menarik lengan Andini agar lengannya segera mengalung di lehernya dan menjatuhkan bobot tubuhnya di punggung Arsena.
Setelah Andini mengikuti instruksi yang diberikan suaminya, Arsena menaikkan punggungnya dan menahan pinggang Andini agar tak jatuh.
"Ars, apa bobot tubuhku bertambah."
"Sepertinya bertambah sedikit. makanmu banyak ya ?" Canda Arsena.
Bibi yang melihat dua majikan mudanya sedang main gendong gendongan, dia ikut senang. Hingga dia menoleh sesaat menghentikan aktifitasnya.
"Akhirnya sampai juga, Tuan putri." Nafas Arsena kini ngos ngosan. Ia susah payah membuka pintu karena ada Andini di gendongannya.
"Benar tuanku. Aku ingin segera masuk dan istirahat di dalamnya."
Arsena segera mendudukkan Andini di pinggir ranjang. Andini langsung saja merebahkan dirinya dan disusul Arsena di sebelahnya.
Arsena dan Andini saling pandang dan melempar senyum indah dari bibir masing-masing. Arsena mengulurkan tangannya membelai rambut Andini penuh kelembutan, Menatap iris mata coklat yang sudah membuatnya jatuh hati beberapa Minggu ini.
"Kamu, makin sering dilihat, makin cantik."
"Gombal banget."
Hening.
"Ars menurutmu, apakah Miko bisa mencintai Dara?"
"Kenapa tidak, dia cantik dan baik tidak ada alasan Miko untuk tidak jatuh cinta."
"Syukurlah. Aku lega dengarnya."
"Oh, iya kamu tadi beli mangga banyak kenapa?" Tanya Arsena dengan wajah tiba-tiba senang. Arsena berharap istrinya menjawab sesuai apa yang ada dipikirannya.
"Emang kenapa? Apa nggak boleh, kan cuma mangga."
"Bukan itu maksudku, apa kamu juga merasakan gejala lainnya seperti ingin muntah, pusing atau mual?"
"Nggak Ars, aku cuma ingin beli saja, digunakan untuk pencuci mulut usai makan, buah itu juga berperan penting untuk kesehatan"
__ADS_1
"Jadi kamu belum merasakan gejala itu?" Arsena kecewa.
Andini menggelengkan kepala dengan kuat. " Belum Ars, sabar lagi ya."
Ah kenapa dalam hal satu ini aku lebih hebat dari Galang. Padahal usia pernikahanku dan pernikahan Galang lebih lama pernikahanku.
"Ars, kenapa melamun?"
" Nggak, aku sedang membayangkan kamu hamil, perutmu membuncit dan kau memakai daster"
"Apa! Kamu pasti sedang menertawakan aku dalam hatimu. Karena saat aku hamil perutku akan sangat besar dan saat berjalan aku akan mirip badut? Iya kan Ars?" Andini kini memiringkan tubuhnya membelakangi Arsena
"Enggak, mana mungkin aku menertawakan calon ibu dari anakku seperti itu."
Andini aku membayangkan, bagaimana kalau kau hamil dua sekaligus."
"Pasti aku akan menggendong kedua putraku bersama, yang satu di kanan dan yang satu dikiri." Arsena tertawa, ia sudah tak sabar mimpi baik itu segera terwujud.
"Lucu juga ya..." Andini tersenyum diam-diam dia juga ikut menghayal.
"Bagaimana kalau kedua putramu itu semua mirip denganku? Memiliki mata bulat berwarna coklat dan bibir yang merah."
"Tidak, putraku harus mirip denganku, dia calon penerus perusahaan, dia harus memiliki sifat yang tegas dan tatapan yang tajam sepertiku, papahnya."
Andini merasa kesal dengan tingkah Arsena mau menang sendiri, ia akhirnya memukul Arsena dengan guling. "Aku mau yang imut dan lucu karena ada diperutku, jika kamu mau yang seperti wajahmu, arogant, pemarah, dingin, hamil saja sendiri."
Tring tring tring!
Pertengkaran Andini dan Arsena berhenti ketika salah satu dari ponsel mereka berdering.
"Halo Andini, ini Ibu, ada kabar gembira, Nak"
"Iya Ibu, katakan kabar gembira apa?"
"Besok akan diadakan acara pernikahan Dara dengan Miko di gedung, kamu dan suamimu harus datang, kalian harus datang lebih awal sebelum tamu-tamu yang lain berkumpul."
wajah Andini langsung berubah, kini ekspresinya menjadi tak menentu. "Kenapa harus diputuskan buru-buru? Setidaknya kasih kesempatan untuk Dara agar bisa berfikir untuk masa depan dirinya sendiri, Bu."
"Andini, PakJohan Atmaja orang baik, sudah terlalu banyak membantu keluarga kita, aku yakin putranya juga baik sama seperti orang tuanya, Dara tak keberatan sama sekali, dia langsung setuju begitu Johan dan keluarga sore ini melamarnya
"Baiklah jika itu keinginan ibu dan Dara Andini hanya bisa mendo'akan agar Dara bahagia."
" Harusnya memang itu yang kamu lakukan Andini, Kamu sudah punya Arsena, kamu harus merelakan Miko."
"Ibu ...." Andini terkejut.
" Ibu mohon Andini." imbuh Ana di akhir kalimatnya.
Panggilan Andini dan Ana telah berakhir, Diam diam Arsena mendengarkan percakapan anak dan ibu itu.
"Syukurlah, ya Tuhan." Arsena terlihat bahagia ia bahkan mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Ars, Miko yang menikah, kenapa kamu yang berlebihan seperti itu."
"Tentu, setelah ini tidak akan ada lagi pria yang mencintai istriku, diam-diam selalu memberi kejutan untuk istriku." Kata Arsena girang, sambil berjalan mondar mandir di kamar." Aku akan memberi hadiah istimewa untuk Miko, hingga dia tak akan melupakan hadiah dari kakaknya paling tampan ini."
Andini melengos. Namun begitu mendengar kata Arsena, dia langsung tersentak kaget. "Hadiah? Oh iya, kita harus beli hadiah untuk mempelai besok."
Andini segera beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Andini tak sabar ingin segera membersihkan diri lalu berangkat mencarikan hadiah untuk Miko dan Dara.
* Happy reading.
__ADS_1