Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 90. Dara yang lugu.


__ADS_3

Selesai masak, Dara memilih mandi, mengambil handuk yang terlipat rapi usai dicuci oleh Asisten Mama.


Bibi hanya datang seminggu dua kali untuk membersihkan apartement dan mencuci, selebihnya Dara bisa melakukan sendiri.


Mita sengaja mengatur scenario seperti itu, ia berharap semakin sering Miko dan Dara berinteraksi, lambat laun kelopak cinta diantara berdua pasti akan tumbuh dan menghasilkan bunga.


Miko pria yang baik, hanya saja dia pernah salah jalan bersama Lili, sesungguhnya kalau dia sudah jatuh cinta pada wanita, bahkan ia rela melakukan apapun untuk wanitanya.


Dara segera ke kamar mandi, tubuhnya serasa aroma bawang. Ia segera mandi di bathup tanpa air hangat. Air dingin sungguh menyegarkan tubuhnya membuat ia ingin berlama lama di kamar mandi.


Dara memberi banyak sekali sabun pada air mandinya membuat ia seperti mandi busa. Sambil menggosok tubuhnya sesekali ia bernyanyi menyanyikan lagu pop kesukaannya.


 


"Dara!" Panggil Miko dari luar.


"Dara belum selesai Kak!."


"Nggak mau tau, pokoknya cepetan!"


Dara dengan tergesa gesa segera turun dari bathup dan menyalakan shower, gadis itu membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air shower. Sungguh teriakan Miko dari meja makan membuatnya hilang kenyamanan saat mandi.


Setelah dirasa tubuhnya bersih, Dara segera memakai handuk kimono asal saja, ia segera keluar karena gugup oleh teriakan Miko.


"Ada apa, Kak?" Dara keluar dengan rambut yang basah, kulitnya terlihat semakin putih bersih, dan hanya handuk kimono yang melekat ditubuhnya membuat Miko lupa tujuan memanggil Dara.


"Kakak butuh sesuatu?" Dara mengulang pertanyaannya karena Miko hanya menatap dirinya tanpa berkedip.


"Dara kau masak apa hari ini? Masakanmu hari ini hambar sekali, nggak ada rasa!"


"Benarkah, tadi aku cicipi enak kok Kak, semuanya pas."


"Masakan seperti ini kamu bilang pas!" Miko menyodorkan mangkuk yang berisi sayur ke arah Dara.


Miko lupa kalau dirinya tak boleh makan terlalu pedas dahulu.


"Aaaaarg" Miko pergi dengan luapan emosi. Miko berubah pemarah dan ia kehilangan senyumnya yang menawan semenjak ingat pulih.


Sesungguhnya Miko tak marah dengan masakan Dara, dia hanya kecewa saja, kenapa harus Dara yang menjadi istrinya, gadis kecil itu masih pantas untuk bersenang senang di luar sana, dia masih berhak untuk menikmati masa remajanya, bukan melayani kebutuhannya seperti sekarang ini.


Tadinya ia berfikir kalau Dara memang kekasihnya, tak taunya Dara hanyalah wanita yang dijodohkan oleh papanya. Kenapa bukan Andini? Selama Koma, suara Andinilah yang sering ia dengar dalam alam bawah sadarnya.


Dan karena Andini, Miko berjuang untuk hidup kembali, setelah moncong peluru itu menembus tulang kepalanya.


Miko hingga kini masih berharap mendapat sebuah kesempatan untuk memiliki Andini. Wanita yang dipujanya siang dan malam.


Miko segera masuk ke kamar, ia menutup pintu dengan keras, Dara yang tak jauh darinya ia terjengkit kaget. Melihat Miko yang tak pernah menganggapnya ada membuat Dara bersedih, gadis itu duduk di kursi yang ada di ruang makan dengan air mata berderai membasahi pipi.


 


Isakan tangis Dara di dengar oleh David yang sedang santai di ruangannya. David segera mencari keberadaan Dara.


"Hai, Nona, kenapa menangis?" Tanya David setengah berbisik, sambil melihat sekeliling ruangan yang sepi.


"Nona tau nggak, kalau cewek nangis itu sebenarnya dia mirip?" Pura pura berfikir. " Mm ... jadi mirip itik, tau itik, kan?"


Dara mengangguk. "Di kampung banyak."


"Benarkah? David kamu kenapa suka berbohong." Dara mengusap air matanya.


"Benar, aku sering melihat wanita menangis, dan rata rata dia jadi jelek, pria tak suka melihat cewek menangis."


Dara tersenyum mendengar bualan David. "Bisa aja sih. Harusnya pria akan luluh hatinya saat melihat wanita menangis."

__ADS_1


"Emang kenapa sih, Pasti tuan muda yang bikin nangis."


"Enggak, cuma pengen nangis aja, biasanya kaum cewek kalau lagi sedih, setelah menangis akan lebih lega." ucap Dara.


David yang memang memiliki karakter lucu, selalu berhasil membuat Dara terhibur, mereka sesaat bisa tertawa.


 


Krucuk krucuk!


"Vid lapar ya?"


"I- iya," kata David malu.


"Kalau gitu, ini makan saja sekarang."


"Mau diambilkan?"


"Makasi-Nggak perlu Nona, aku ambil sendiri saja."


"Oke, ambil yang banyak, kalau perlu habisin aja, Vid." Dara membiarkan David makan dengan lahap. Dara senang ada seseorang yang suka dengan masakannya.


"Emm, enak sekali masakan, Nona. Jadi inget emak yang dikampung. Emak masakannya juga enak banget, karena sayurnya langsung metik di kebun.


"Beneran, enak?" Dara sangat senang.


David mengangguk. "Aku nggak pernah bohong."


"Kan bener masakanmu itu enak, David aja bilang enak, pasti lidah Kak Miko minta di servis."


"Dara!"


Suara Miko dari arah kamar.


"Enggak kak, tadi Dara ..."


"Kenapa, kamu curhat sama dia? Nyaman sama dia?"


"Nggak Kak."


"David maaf ya, aku tinggal dulu."


David mengangguk tersenyum pada Dara. Dara segera meninggalkan David.


"Pria itu menyelesaikan makannya seolah Miko hanya sedang bercanda.


David tak pernah ambil pusing sikap Miko yang berubah ubah, dia seperti itu karena sedang patah hati, David yakin Miko suatu saat akan kembali seperti dulu, ketika telah menemukan cinta sejatinya.


"Nggak pake minta maaf, pake pamit David segala."


"Kak Miko mau apa cari Dara?"


" GR, siapa yang cari." Miko terlihat kesal.


Sampai di kamar Miko masih tetap mengomel panjang lebar. Dara yang mulai kebal dia hanya berdiri lumayan jauh, layaknya ART.


"Kenapa jauh banget, takut sama gue? kenapa kalo sama David dekat banget."


"Nggak kak, Dara cuma lagi pengen berdiri disini." Dara beralasan.


"Gue pengen mandi." Miko beranjak mengmbil Bajau ganti.


"Baiklah mau air dingin apa air hangat, biar dara siapin?"

__ADS_1


"Apapun boleh, buruan isi bathup nya."


Tanpa menunggu perintah kedua, Dara segera mengisi bathup dengan memilih suhu air hangat, menurut Dara air hangat akan baik untuk kondisi suaminya yang sedang masa pemulihan.


Saat Dara ada di dalam kamar mandi, Miko segera menyusul, dan mengunci pintunya.


Dara yang ada di dalam, ia kaget bukan kepalang, Dara takut Miko akan menodai dirinya di kamar mandi.


"Kakak mau apa!?" Dara bergerak menjauh.


Dara sudah ketakutan, Dara membayangkan tangan Miko akan membekap mulutnya, dan tubuh Miko yang tinggi berotot itu akan menindih tubuh mungilnya. Dara sudah paranoid, ia takut kejadian di film horor yang pernah ia tonton akan terjadi pada dirinya.


"Dara! Kamu ini kenapa?! Aku mau mandi dan sekarang pijit pundak ku pelan-pelan dan Balur tubuhku dengan sabun." Miko melempar handuk pada Dara, supaya menaruhnya dengan benar.


Miko mulai melepas bajunya satu persatu dan melempar ke arah Dara. Dara yang masih nervous ia menerima baju Miko dan menaruh di gantungan. Kini Miko tinggal mengenakan CD.


Melihat dara yang sudah ketakutan Miko segera menceburkan diri di bathup. Dia masih ingin bermain main dengan gadis kecil itu lebih lama lagi.


Dasar Bocil, belum diapa-apain sudah parno duluan, gimana kalau gue ajak ML beneran. Bisa pingsan dia.


"Tunggu apa lagi Dara? Ayo buruan pijitin tubuhku."


"I-iya kak, tapi kakak harus janji nggak ngapain Dara kan?"


"Apa? Ngapa-ngapain kamu? Nggak selera gue." Miko tersenyum sinis.


Dara tersenyum mendengar penuturan Miko. Ternyata Miko tak menginginkan dirinya, dia akhirnya lega. Kejadian mengerikan di film itu tak akan terjadi pada dirinya.


Dara mulai memijat kepala Miko dengan pelan- pelan. Tangannya yang lembut membuat Miko sangat menikmati pijatan Dara. Dengan jarak sedekat ini Miko bisa mencium aroma wangi tubuh Dara.


Tanpa sadar Miko memperhatikan gerakan dua bukit kembar dara dari balik bathdrope. Terlihat masih kencang dan Miko membayangkan ujungnya pasti masih belum tumbuh kuncup, Dara tak menyadari kalau Miko telah menatapnya dengan tatapan mesum.


"Lagi Dara, pijatan tanganmu enak sekali."


"Tumben kak Miko memujiku."


Dara yang mendapat sedikit saja sanjungan Dari Miko membuat ia lebih semangat memijat pundak Miko dengan sabun. walaupun Miko menarik tangannya sedikit ke bawah, Dara berhasil menolak.


"Dara, apa sebelumnya kamu sudah berpacaran? Apa saja yang sudah dilakukan pacar kamu?" tanya Miko sambil merasakan lembutnya tangan Dara.


"Kakak tanya apa'an sih? Dara kan malu."


"Jawab aja Dara, kamu sudah pernah ngapain saja sama pacar kamu?"


"Dara nggak mau cerita, Dara malu, Kak." Dara kekeuh.


"Nggak usah malu, kakak juga nggak marah kok. Pernah dicium?" Tanya Miko sambil menikmati pijatan Dara.


Dara geleng kepala. "Nggak pernah."


"Di peluk?"


Dara geleng kepala lagi. "Nggak pernah, Kak." Dara mulai kesal.


Lalu Miko menggeser duduknya. Agar bisa melihat lebih jelas yang akan Dara ucapkan.


"Apa kamu pernah melakukan lebih dari itu, Dara?"


"Dara pernah di bonceng pake motor, Kak. Dara pegangan pada jok belakang. Pacar Dara nyuruh berpegangan di pinggangnya, Dara menolak. Lalu dia marah, dan Dara minta putus."


" Hua ha ha ... Pantesan kamu nggak ada pengalaman sama sekali." Miko tertawa keras. bahkan Dara melihat ini pertama kalinya suaminya bisa tertawa lepas seperti itu.


*Happy reading.

__ADS_1


* Readers tercinta, jangan lupa kasih Vote, Like dan Komen.


__ADS_2