Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 222. Lili dan Ken.


__ADS_3

Sampai di kamar, Arsena segera membaringkan Andini dengan lembut. Pria itu sesungguhnya kasihan pada perempuannya yang terlihat lemas tak berdaya itu. Tapi Arsena dia tak tau apa yang bisa ia lakukan ketika menghadapi wanita dalam kondisi seperti sekarang ini.


"Sayang apa mau aku pijitin atau dikerokin?"


"Emang bisa? Enggak, aku takut kamu minta upah lagi."


"Upah? nggak kok, benar kali ini aku tulus pengen pijitin kamu." Arsena mengambil minyak gosok yang ada di dalam nakas


"Janji ya nggak minta upah," tanya Andini sekali lagi, biar lebih yakin Andini menunjukkan jari kelingkingnya, Arsena menautkan jari


" Iya sayang, janji, aku masih kenyang. Kemaren kan udah upahnya, berkali kali malahan" Kata Arsena absurd.


"Laki laki itu ya, mikirnya begituan terus. Andini membuka gaunnya, dibantu oleh Arsena hanya meninggalkan kacamata, Lalu ia tengkurap. Arsena mulai memijit tubuh seputih susu itu pelan pelan.


"Hai pisang sakti kamu awas kalau bangun, kamu nggak kasian apa sama temanmu yang lagi sakit. Kamu sih keterlaluan. Tiap malam minta jatah terus." Arsena memukul kepala pisangnya yang ikut melongok saat diajak memijat.


"Ars, kok berhenti mijitnya? Lagi dong ... Nggak nyangka tangan kamu enak juga."


"Iya ini lagi membaca mantra, biasanya kalau sebelum memulai ritual kan baca mantra dulu, biar cepet sembuh."


"Mantra apa'an?" Andini tertawa.


"Ada pokoknya." Arsena kembali memijit tubuh Andini dengan pelan


Andini merasakan pijatan jemari empuk suaminya, tiba tiba jadi ngantuk, dia beberapa kali menguap. "Aku ngantuk Hubby."


" Ya tidurlah." Arsena makin memperhalus pijatannya.


"Gerrr gerrr" Andini rupanya sudah ngorok.


"Kau sudah tidur sayang?" Arsena memiringkan tubuhnya demi bisa melihat wajah Andini yang sedang tengkurap. Alhasil pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Sukma Andini sudah berpindah ke alam mimpi


" Dia benar benar lelah, rupanya." Arsena menghentikan pijatannya, menyelimuti tubuh Andini yang terekpose hampir separuh dengan penuh cinta. Tiba tiba ingatannya kembali pada Lili yang menurut pengakuan Dokter dia melakukan rujukan ke rumah sakit yang ada di Surabaya, itu artinya dia sekarang berada di salah satu rumah sakit di kota ini.


Arsena segera menghubungi tangan kanannya. Kali ini dia memilih memencet nomor gondrong. Arsena bergerak sedikit menjauh dari Andini yang pulas. Sekarang ia berdiri di dekat jendela sambil mengamati pantai laut selatan dengan ombaknya yang terlihat mengerikan ketika hujan badai seperti sore ini.


"Gon, cari Ken dan Lili ke seluruh rumah sakit besar ataupun kecil yang ada di kota ini."


"Baik Tuan, jika kami menemukan mereka apa yang harus kami lakukan?" Tanya gondrong.


Kamu bisa awasi dia, dan jika kondisi Lili membaik segera bawa dia ke hadapanku bersama Ken. Aku mau dua penjahat itu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan kepada keluarga dan istriku.


" Baik Tuan kami berdua siap melaksanakan perintah." Ucap Ken semangat.


Arsena segera mematikan ponselnya kembali, setelah panggilan kepada gondrong dirasa cukup. Dia menghampiri Andini yang kini sedang kurang enak badan.


"Ars, apa Lili belum ditemukan?" Tanya Andini sambil menggeser tubuhnya yang mulai sedikit lebih baik daripada tadi..


" Tenang Sayang, Lili akan segera ditemukan. Aku yakin Gondrong dan Botak tidak akan membuat aku kecewa." ujar Arsena kembali duduk di depan Andini.


Botak dan gondrong segera keluar markas dengn naik sepeda besarnya yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, hingga tampilannya menjadi berubah dengan aslinya, dan suaranya melengking memekakkan telinga.


Botak dan gondrong segera menuju salah satu rumah sakit, yang menurutnya sangat mungkin sekali Lili dibawa oleh Ken ke rumah sakit besar itu.


Gondrong dan Botak segera memarkirkan motornya di parkiran rumah sakit. Mereka berdua segera bertanya data pasien yang masuk hari ini. Tidak ada nama Lili atau Vanes di rumah sakit besar di tengah kota.


" Kita ke mana lagi Gon? Apa kamu yakin Lili dibawa kerumah sakit oleh Ken? Bagaimana kalau dia cukup istirahat di rumah."


" Apa kita ke rumah Ken?"


" Kita coba aja. Sekaligus kita sadarkan Ken sebelum makin salah jalan."

__ADS_1


" Kalo sudah berkaitan dengan urusan cinta, sepertinya agak susah sob."


"Tapi Ken telah salah memilih wanita itu Gon, kamu tahu sudah berapa laki laki yang dimanfaatkan, kalau setia sama Ken saja gue nggak masalah, nah ini. Gue nggak rela pria baik baik seperti Ken, harus jatuh di tangan wanita seperti itu."


" Gue sebenarnya sependapat sama kamu, tapi gimana lagi. Ken sudah gelap mata."


Botak dan gondrong terus menyusuri jalanan mencari rumah sakit dan memeriksa dari satu tempat ke rumah sakit yang satunya lagi.


"Gon, kira kira Lili itu sakit apa dia ? Nggak percaya gue, manusia monster seperti dia bisa sakit juga." Tanya Botak


"Gimanapun kalau makluk doyan makan, dia pasti masih bisa sakit. " Jawab gondrong.


Benar juga, gitu aja kok sok sok'an mau memusnahkan nona Andini. Nona Andini kan nggak pernah jahat sama orang. Tentu saja Tuhan selalu melindungi dia lewat orang orang terdekatnya." ujar botak lagi.


" Oh iya, Bagaimana kalau kita cari di klinik dokter langganan Ken, Kenapa aku baru ingat kalau Ken suka ke klinik yang pernah kita datangi waktu itu."


"Betul banget." Tanpa menunda waktu lagi, gondrong dan Botak segera mendatangi klinik di dekat markas mereka. Butuh waktu hampir dua puluh menit Mereka sampai di tempat itu.


Di halaman klinik, terlihat mobil Ken sudah bertengger, Botak dan Gondrong memilih menunggunya hingga Lili dan Ken selesai melakukan pemeriksaan.


Selesai mendapatkan resep obat Ken dan Lili segera keluar dan masuk ke dalam mobil. Betapa terkejut ternyata Botak dan Gondrong sudah ada di dalam mobil milik Ken. Dia segera keluar dan menghadang Ken dan Lili agar tidak lari lagi.


Ekspresi wajah Ken sungguh membuat gondrong dan Botak ingin tertawa. Ken nampak ketakutan "Kenapa kau bisa tau aku ada disini? Pergi kau!"


"Ken, Ken, kau sombong sekali. Baru saja kau memiliki kekasih wanita jal*ng saja kau sudah melupakan siapa sahabat dan orang yang banyak berjasa dengan hidup mu."


"Cukup! pergi kau dari sini sekarang juga. Beraninya kau bilang aku jal*ng." Lili tak terima.


" Diam kau jal*ng, jika sedikit saja kau memberontak aku akan membunuhmu, kau sudah tak ada harganya di mata tuan kami."


Lili kini diam dia hanya berfikir dengan ucapan Gondrong baru saja. Bisa bisanya seorang pria bermartabat rendah mengatainya seperti itu.


Benarkah aku tak berharga sama sekali, benarkah Arsena sudah tak tergapai olehku lagi. Jika aku tak bisa mendapatkan cintanya, maka orang lain juga tak akan bisa.


"Ba-baik." Ken mengangkat kedua tangannya dan menyerah diikuti oleh Lili, dengan mudah gondrong memasangkan borgol pada tangan kedua cecunguk itu. Lalu mendorong tubuh Ken masuk pada kursi penumpang.


Setelah berhasil memborgol Ken dan Lili, gondrong dan botak duduk di depan, mengambil alih mengemudikan mobil menuju markas.


 


Botak cepat telepon bos kita. Bos Arsena pasti akan bangga dengan kerja keras kita.


"Dasar kau pengkhianat, demi uang kau rela melakukan ini padaku, kau khianati sahabatmu." umpat Ken saat tenaganya tak berhasil melepas rantai borgol itu.


"Hohoho, ngaca bro. Tapi dia kan tak punya kaca. Pengkhianat teriak pengkhianat." ujar Botak mengejek sambil mengelus keningnya yang botak lewat spion.


Usai berkaca botak kembali meraih ponselnya di saku. Tak sabar lagi ingin memberitahu kabar baik ini pada Arsena."Bos Ken Dan wanita simpanannya sudah berhasil kami tangkap."


" Bagus, bawa dia ke tempat tahanan. Aku ingin bermain dengan Ken sebentar. Apa dia masih mampu mengangkat kepalanya ketika didepan ku."


"Baik bos, kami sedang berjalan menuju tahanan."


"Baik aku juga akan segera kesana." Panggilan mereka berakhir.


Arsena segera meninggalkan kamarnya. Setelah membenarkan selimut Andini, wanita itu rupanya kembali tertidur pulas setelah Arsena menina bobokkan dengan kekuatan sihir cintanya tadi..


Tubuh Arsena menjauh, Andini merasakan kalau Arsena akan meninggalkannya. Secepat kilat dia menyambar lengan kokoh itu.


"Ars, ingin kemana?"


"Botak dan gondrong sudah berhasil membawa Ken dan Lili ke tahanan. Aku ingin menemuinya sekarang."

__ADS_1


"Ars, pakai dulu jaketnya." Andini tak jadi tidur lagi. Wanita itu mengambil jaket kulit warna coklat yang menggantung di salah satu dinding.


Ars, jaga diri, aku tidak mau terjadi apa apa sama papah anak anakku." Andini menautkan resletingnya dan menariknya keatas hingga sebatas dada.


" Tenanglah sayang, jangan takut jadi janda, aku akan menjaga diriku dengan baik." Arsena mengecup kening Andini kecupan itu kemudian turun ke bibirnya.


Senyum terukir di bibir Andini yang merah. Arsena mengusap bibir Andini dengan menggunakan ibu jarinya.


"Firasatku sepertinya aku hamil lagi, semua ini gara gara kamu Ars," Andini membalikkan tubuhnya dan wajahnya mberengut kesal.


"Benarkah?" Binar bahagia kembali terlihat di wajah Arsena. Arsena memeluk dari belakang.


Andini mengangguk. " Ini gejala yang sama saat aku hamil Excel dan Cello dulu.


Baiklah kalau begitu aku panggilkan dokter sekarang juga, biar dokter Vanya menemanimu sekaligus memeriksa keadaan kamu.


"Hari hati hubby, aku mau diperiksa saat kau sudah kembali saja." Andini menampilkan senyum manis di bibirnya.


Arsena mengusap kening perempuannya. Dengan langkah berat dia segera pergi. Sebenarnya dia bimbang antara ingin segera mengetahui hasil pemeriksaan atau mengamankan Lili dan Ken secepatnya supaya tidak lagi meresahkan.


Arsena segera ke markas seperti yang di katakan tangan kanannya tadi. Rupanya Ken dan Lili sudah sampai lebih dulu disana.


Ken terlihat tak melawan sedikitpun. Dia sepertinya sudah terima nasip buruk, Hukuman apapun yang akan ia terima. Dia sudah pasrah.


Pintu tahanan terbuka, Arsena melangkah masuk dan Davit mengekori layaknya ajudan di belakangnya.


Ken melihat Davit dengan rasa cemburu. Rupanya posisinya sekarang sudah diambil alih dengan Davit.


"Tuan, hukuman apapun yang akan kau berikan padaku aku siap menerimanya!" ujar Davit yang lembek seperti singa kehilangan taringnya. Atau sekarang dia lebih mirip dengan kucing kecil yang memprihatinkan.


"Ya, kau sudah memilih jalanmu, kau berkhianat padaku demi wanita itu, dan Tuhan mengabulkan kau bersamanya sekarang. Harusnya kau bahagia, Ken."


"Maafkan aku sekali lagi tuan, aku memang pendosa. Tembak aku saja biar aku bisa tenang di alam sana."


Mengirimkan seorang pengkhianat lebih cepat ke alam penantian menurutku itu ide yang buruk. Aku lebih tertarik ingin melihatmu bahagia dengan kekasihmu itu." Arsena melirik ke arah Lili yang terlihat murka. Dengan senyum mengejeknya.


"Kau jahat Ars, dua tahun kita bersama, kenapa kau sekarang tega memperlakukan aku seperti ini." Lili ikut berbicara.


"Aku jahat? Siapa yang jahat disini? Kau atau aku, Sayang? Rupanya cintamu padaku membuatmu lebih gila, kau korbankan banyak pria demi ambisi mu. Oh, ralat bukan cintamu padaku. Mungkin cintamu pada uangku. Kau sangat suka uang bukan?" Arsena menyentuh dagu Lili membuat wajah itu mendongak tepat terarah ke wajahnya.


"Jack yang kau kirim untuk membunuh istriku dia telah mati. Racun yang kau berikan untuk istriku ternyata tidak mampu membunuhnya. Tapi apa yang terjadi? Kau justru sekarang yang sakit-sakitan.


"Jack siapa Jack? Apa laki laki asing yang waktu itu kau bilang melindungi mu dari serangan Davit?" Ken bertanya pada Lili dengan sorot mata tajam.


" Apa artinya dua hari kau bersama Jack di Pulau itu? Katakan padaku yang sebenarnya? Siapa Jack yang dimaksud Tuan Arsena." Ken mendesak Lili.


" Jadi kau juga tak tau tentang Jack? Hahaha. Sungguh malang nasibmu." Arsena tertawa, menertawakan kemalangan nasib Ken.


" Tidak Ken dia hanya temanku, sungguh aku tak bohong. Aku berteman baik dengan dia sejak kuliah."


Arsena geleng kepala sambil tertawa. Membuat Ken mengerti kalau ucapan Lili hanya bohong semata.


"Ars, aku seperti ini karena kamu, kamu yang membuat aku seperti ini!" Lili berteriak pada Arsena dengan sorot mata tajam dan memerah.


" Aku akan menghancurkan semua orang yang kamu sayangi. Aku akan membuat hidupmu sama menderitanya dengan diriku." Lili dilanda emosi yang menggebu.


"Cinta itu indah Lili. Tidak seperti cinta yang kau miliki, kau menyebut ambisi dengan mengatasnamakan cinta. Jika kau benar cinta harusnya kau senang melihat orang yang kau cintai bahagia, bukan menghancurkan hidupnya." ujar Arsena panjang lebar.


Dan bukannya kau sekarang sangat mencintai Ken? Kenapa kau tak menikah saja dengan pria yang mencintaimu setulus hati. Kau juga sudah memiliki anak dengannya.bKen telah berkorban banyak demi untuk bisa bersama kamu."


Ken mendengarkan kata kata Arsena dengan wajah tertunduk. Apa yang ada di angan Arsena sama dengan yang ada di pikirannya. Semakin membuat sadar diri kalau dia hanyalah kambing hitam Lili.

__ADS_1


Dan Jack, pria itu pasti bukan sekedar teman yang rela menukar nyawa demi untuk seorang Lili kalau tidak ada hubungan yang special di dalamnya.


__ADS_2