
"Andini, nggak suka bajunya nggak usah dipake. Dibelain murung begitu." Arsena mendekati Andini dan memeriksa isi paperbag yang ada di pangkuan istri.
"Gila, ini baju bagus banget."
"Arss!" Andini kaget. "Kamu pikir aku wanita apa'an? Apalagi nanti yang menyambut kedatangan Oma bukan cuma wanita semua. ada banyak pria disana.
"Andini, aku belum selesai bicara. Ini baju bagus buat kita bermain di kamar. Pasti aku akan minta jatah berkali kali dalam semalam." Mengerlingkan mata genit.
" Stop! Aku sudah tau apa yang ingin kamu katakan. Tapi Ars, bagaimana kalau mama nanti mikir yang aneh-aneh. Dia pasti akan mikir aku tak menghargai pemberiannya."
"Kamu nggak akan pake baju ini, keluar kamar, Titik !" Terlihat pria itu merogoh ponselnya disaku, menelepon seorang pemilik butik. Dia segera mengirim foto warna baju yang di inginkan lewat ponselnya.
"Ada Tuan, baju yang anda inginkan hari ini, kebetulan saya hanya membuat satu dan zize nya cocok dengan ukuran tubuh istri anda."
Oke segera kemas bajunya. Asistenku akan mengambil kesana.
"Siap Tuan."
Arsena segera menutup panggilan pada pemilik butik.
"Ndin, aku lihat kondisi di depan dulu, kamu sementara tunggu disini."
"Iya, Ars."
Pria pemilik badan tegap bak model pria, itu segera melenggangkan kakinya turun, sambil menunggu pesanan datang, Arsena memeriksa kondisi penyambutan kedatangan Nenek. Hanya acara kecil yang didatangi semua keluarga Johan Atmaja saja.
Nenek, sebenarnya asli Indonesia, berhubung beberapa anaknya tinggal di negara asing , maka nenek lebih memilih tinggal di negara asing bersama anak yang lainnya. Usaha yang besar disana kini sudah di kelola oleh cucu cucunya yang lain. Anak dari saudara kandung Johan.
--------
Doni sudah kembali, ada paperbag ditangannya. Arsena lega. " Tuan ini baju yang anda minta."
"Hm, makasi."
Tanpa buang waktu lagi, pria yang sudah menjadi budak cinta itu segera mengambil baju dari tangan asistennya.
Ia segera mengantarkan ke kamar istrinya dengan raut bahagia, untung saja semua belum terlambat, jika tidak Andini pasti memakai baju kurang bahan itu.
Menurut mama mungkin baju seperti itu sudah sangat bagus. Namun bagi Andini mempertontonkan tubuh mulusnya terlalu berlebihan, akan sangat merugikan kaum suami.
"Ndin lihatlah gaun seperti inikah yang kau inginkan."
Arsena mengeluarkan isi paperbag dan menunjukkan gaun dengan warna yang sama namun bentuk berbeda pada Andini.
Andini yang sempat murung, di bibir mungil itu segera terukir senyum. Sifat manja dan kekanakannya sering kali muncul dan hilang, ia selalu haus perhatian suaminya. "Ars ini lebih dari bagus, cepat sekali kau mendapatkan baju dengan warna sama."
Kata kata Andini disambut tawa suami, rupanya dia suka lupa kalau suaminya bisa mendapatkan yang diinginkan tanpa harus keluar rumah.
"Ayolah pakai, aku sudah tak sabar ingin melihat baju ini melekat di tubuhnya."
Andini berdiri ia mendekatkan punggungnya kepada suami. Insting Arsena segera cepat tanggap. Dia segera membantu sang istri membuka resleting panjang di punggungnya. Sifat jahilnya kembali muncul. Dia mengecup tengkuk dan punggungnya.
"Ars!"
" Jangan berteriak. Aku hanya menyentuh yang sudah menjadi milikku."
"Ars, sekarang keluarlah, aku akan ganti bajunya."
"Kenapa harus keluar? Bukannya aku juga boleh melihat wanitaku ganti baju."
"Ayolah, jika ingin cepat selesai, harus keluar," ancam Andini, saat sadar seperti ini Andini masih suka malu jika Arsena menatapnya berlebihan.
Arsena keluar pintu, ia menuruti Andini sudah seperti asistent. Zara dan dia tak jauh berbeda sekarang. Cinta sudah merubah hidupnya.
Saat menunggu Andini di depan pintu. Ponselnya berdering, dia melihat Anita menelepon.
"Ada apa?"tanyanya jutek. Terlalu memikirkan Andini bahkan dia lupa ingin memberikan keadilan untuk sahabat masa kecilnya itu.
Arsena khawatir Anita akan menjadi ancaman untuk Andini di masa yang akan datang, Arsena merasa Anita bukan lagi sahabat, namun dia adalah wanita yang ambisius ingin memiliki dirinya.
__ADS_1
"Nenek sebentar lagi datang aku dan Tante Rena sudah di depan."
"Ya aku sudah tau. Lalu apa kamu pikir kabar itu hebat? Hingga kamu menghubungiku seperti ini." Arsena segera mematikan ponselnya. Membuat Anita makin geram.
Anita sudah tak sabar ingin melihat Andini memakai baju yang dipilihnya di mall tadi. Dia tersenyum membayangkan Nona, wanita pemilik kekuasaan tertinggi itu akan malu memakai baju tak sopan di depan Nenek layaknya wanita malam.
"Andini, Andini. Aku jadi ingin sering-sering memberi kejutan seperti ini." Hati Anita tertawa bahagia. " Karena kamu, Arsena bahkan kini menganggapku seperti musuh." batin Anita yang sedang mematut dirinya di cermin.
Mobil hasil ciptaan negara sakura sudah tiba. Bergerak lamban memutari sekeliling air mancur dan berhenti langsung di depan mansion utama.
Dengan cekatan Doni membukakan pintu untuk Oma
Sosok tua dengan usia sekitar tujuh puluh tahun menapakkan kakinya pertama kali di rumah cucunya. Rumah yang tak kalah besar dengan milik orang tua Arsena.
Oma sangat rindu dengan cucu kesayangannya. Apabila setelah mendengar kedua cucu kesayangan itu sudah menikah. Oma tak puas kalau tak memarahinya langsung. Bahkan Oma sudah mempersiapkan hukuman buat mereka.
Mereka semua memakai baju sesuai pasangannya masing masing. Sang pembuat rencana adalah Mita. Hal itu dilakukan agar Oma yang sudah tua mudah mengenali pasangan suami istri masing masing.
Miko dan Dara memakai couple berwarna biru laut dengan rambut Dara dibiarkan terurai, rambut hitam legam dan panjang hanya memakai sedikit aksesoris di puncak kepalanya.
Mita, Johan dan Rena juga memakai baju couple berwarna light brown. Sedangkan sosok yang di nanti belum menampakkan diri.
Tatapan Anita dan Rena sesekali bertemu, senyum terukir dari bibir mereka berdua. Anita hari ini terlihat begitu senang.
Anita sudah menduga, Andini akan malu memakai baju pembelian Rena, karena Anita sudah berhasil menukar baju Andini dengan miliknya waktu di mall.
"Andini dan Arsena mana ya?" Johan melihat ke arah tangga, menantikan sosok pasangan benci jadi cinta itu belum juga keluar.
Oma turun lebih dulu, Mark segera mengekor dibelakang Oma, Mark pria kelahiran Turki dengan wajah mirip dengan saudara tertua Johan, walaupun dia tinggal lama di Turki namun berbahasa Indonesia tetap hebat. Karena Mama juga orang Indonesia. Usia Mark hampir sama dengan Arsena hanya beda bulan saja.
"Oma, Miko kangen" Miko memeluk Oma dengan erat.
" Kamu nakal sekali cucu, kamu bahkan sudah melupakan Oma di hari bahagia. Apakah karena wanita cantik disebelahmu ini? Hah." Oma segera memeluk Dara. Ia melihat Dara dari atas hingga bawah.
Dibilang imut oleh Oma, Dara tersipu malu. Melihat cucu menantunya tersipu Oma segera memeluk erat.
"Delapan belas, Oma."
"Miko, kamu sungguh pandai mencari istri, kau memang mantan Casanova yang hebat. Kau dan kakek mu itu sama."
"Mana yang lainnya? Arsena mana?" Oma celingukan mencari keberadaan cucu tertuanya.
"Lihatlah dia Oma, cucu kesayanganmu sudah keluar." Johan sudah mendengar derap langkah sepatu Arsena dari atas tangga. Lengannya menggamit tangan Andini.
Mereka berdua turun layaknya pangeran sedang menggandeng permaisuri.. Andini memakai gaun panjang mengembang bagian bawah dan belahan dada tak terlalu lebar. Hingga baju yang dipakai Andini terkesan elegan. Rambut diikat sedikit keatas dan anak rambutnya dibiarkan curli.
"Apakah dia juga cucu dan cucu menantuku?" Oma terbelalak melihat pasangan Andini dan Arsena yang begitu serasi.
Keterkejutan Oma membuat seluruh anggota keluarga menoleh ke arah tangga.
Di hati mereka semua sama-sama menyimpan kekaguman, Andini malam ini memang sangat cantik, bahkan dia paling cantik diantara semuanya dengan gaun cerah yang membalut lekuk tubuh indahnya.
"Arsena !"
"Oma !"
" Apa kabar Oma."
" Baik, aku bahkan sangat baik setelah melihatmu."
"Oma dia Andini, my wife."
"Aku sudah tau, tak perlu lagi kau memberi tahuku. Dasar cucu durhaka. Kau bahkan menikahi bidadari secantik ini tanpa memberitahu, Oma."
"Andini, apakah suamimu sangat menyebalkan?"
"Iya Oma, apalagi saat tidur dia suka mendengkur, dan itu sangat mengganggu kan, Oma?
__ADS_1
"Ya jika dia mendengkur, kau tinggal cubit hidungnya yang keras seperti ini." Oma mencubit hidung Arsena dengan keras membuat sang empu kesakitan.
Anggota keluarga tertawa melihat Oma yang selalu bisa membuat suasana menjadi lebih hidup.
"Oke, sekarang Miko dan Arsena mendapat hukuman, malam ini mereka tak boleh tidur bersama istrinya masing masing, karena harus temani nonton film kesukaan Oma, dan pijit kaki Oma bergantian. mengerti!"
"Oma! Itu sangat berat buat mereka, jangan kan semalam, satu jam saja mereka tak sanggup." Rena menimpali ucapan Oma. Membuat semua telinga yang mendengarnya langsung tertawa keras.
"Apa? Benarkah? Sungguh cucuku sudah pandai selingkuh dari Omanya, padahal sejak kecil aku sudah marawat dan mencintai setulus hati."
Andini tak henti tertawa, ternyata Oma yang dibayangkan sangat menakutkan dari seorang mertua ternyata kocak dan membuat perutnya kaku.
"Baiklah hidangan apa yang kau siapkan untuk menyambutku? Apa ada oseng kangkung. Dan semur jengkol juga." tanya Oma.
Oma, malam ini tak ada oseng kangkung, karena malam ini kita hanya masak menu yang special, kita tak mau jadi menantu durhaka, menyambut mertua dengan masakan mudah dibuat seperti itu," ujar Mita.
"Hei para menantu, Justru sekarang kau terlihat durhaka karena kau tak menyediakan makanan kesukaanku. "kata Oma sambil berjalan menuju lokasi makan malam. Yang sudah disiapkan disebelah kolam renang.
Mert yang tak kalah tampan dengan para lelaki lokal ini masih melajang. Begitu datang dia langsung temu kangen dengan Miko dan Arsena. Memperkenalkan pasangan masing masing. Setelah acara berkenalan selesai Andini dan Dara membantu bibi menuang minuman ke dalam gelas dan menaruhnya di nampan.
"Gue kalah sama kalian berdua rupanya, kalau gadis lokal ternyata lebih cantik, gue mau cari bini disini saja, sepertinya." Ungkapan polos Mert pada Miko dan Arsena saat mengamati kedua istri saudaranya pergi.
Acara makan malam segera dimulai, Arsena duduk di sebelah kiri Oma, sedangkan Miko berada di sebelah kanan, para istri tetap nempel disisi suami yang lainnya. Sedangkan anggota keluarga tua di depannya seperti Mita Rena dan Johan.
Anita hari ini sangat kesal selain tak dianggap, rencananya mempermalukan Andini juga gagal. Anita hanya mondar mandir layaknya pelayan membantu Bi Um dan yang lainnya menyiapkan minuman hangat dan hidangan penutup.
Disaat anggota keluarga sedang asyik menikmati makan, tiba-tiba perut Andini merasakan mual, perutnya sangat bergejolak saat mencium aroma sedap dari masakan.
Andini tak bisa menahan lagi hingga dia harus mengeluarkan suara menjijikkan yang bikin anggota lain segera menghentikan makannya.
"Huek ... "
"Andini!" Arsena langsung mendongakkan kepala menatap sang istri."
"Maaf Oma, maaf semuanya, sepertinya saya tak bisa menemani kalian makan. Aku tiba-tiba kurang enak badan."
Andini sangat malu, ia segera menuju kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru beberapa sendok masuk ke dalam perutnya.
Oma dan anggota yang lain terlihat memaklumi Andini. Bahkan wajah Oma terlihat kasian.
"Istrimu sakit Ars."
" Eggak Oma." Arsena menggeleng, bingung.
"Oma, aku susul Andini dulu." Arsena hendak beranjak.
Oma melarang. "Selesaikan makanmu, biar Oma yang melihat keadaannya."
Oma beranjak dari duduknya. Segera menyusul Andini ke kamar mandi.
"Andini." Panggil Oma.
Iya Oma!" Andini menoleh setelah mencuci wajahnya.
"Apa kau sakit?" Tanya Oma lagi.
"Entahlah Oma, aku mungkin masuk angin, tapi aku janji aku tak akan melakukan hal memalukan seperti itu lagi."
"Kamu bicara apa, Sayang. Justru aku berharap kau akan sering mual seperti itu. Kau ini sedang hamil."
"Hamil, Oma?"
"Iya, kamu hamil?"
"Maaf Oma, Andini tak mungkin hamil, Andini pasti hanya masuk angin saja."
"Andini, kamu ini Dokter, harusnya tau bagaimana orang itu telah mengalami masa kehamilan."Andini hanya tersenyum, Andini takut mematahkan harapan Omanya. ketika tau dia tak akan mudah hamil. Bahkan Namira juga bilang kalau dirinya telah mandul karena obat yang diberikan Rena waktu itu.
__ADS_1