
"Oeeek."
"Rara sayang apa yang terjadi?" Vanya bangun dari tidur dengan malas. Segera memeriksa bayinya di box. Mengangkat tubuh mungil Rara dan menimangnya. " Cup cup cup. Rara kenapa nangis, Sayang?"
"Bi tolong buatkan susu yang hangat untuk Qiara."
"Baik, Nona." Bibi yang ikut bangun karena mendengar tangis bayi berusia sepuluh bulan itu segera melenggangkan kakinya menuju dapur.
"Ra, apa kamu baik baik saja sayang?" Vanya mulai panik, terus memeriksa sekujur tubuh Rara. Menempelkan telapaknya di kening Rara yang dingin. Mencoba mengganti baju bayi barang kali ada yang kurang nyaman.
"Nona ini susu yang Anda minta."
"Makasi ya. Bibi, kenapa anak ini terus menangis ya padahal dia baik baik saja. Suhu tubuhnya juga nggak panas." Tanya Vanya sambil terus menenangkan Rara yang mulai meneguk susu dalam DOT.
"Mungkin dia rindu sama ayahnya kali Non." ujar Bibi yang ada di sampingnya.
" Sayang Kamu kangen ayah ya? Kan kita tadi sudah ketemu sama ayah kamu?" Vanya terus mengajak Rara berbicara, bayi itu menatap Vanya terus menerus. Dan sesekali menyentuhkan jemari mungilnya ke bibir Vanya ketika tangisnya mulai reda.
" Nona udah pantes banget gendong bayi, kalo ada yang mau setia dan pas dihati, bisa disegerakan aja tu," goda bibi sambil senyum senyum.
Vanya hanya tersenyum. " Masa sih aku udah pantas punya Baby? Kalau aku adopsi Rara aja gimana."
"Kayaknya sih kalau adopsi Rara harus sekalian ayahnya Non." Bibi menutup bibirnya rapat.
" Sembarangan bibi ini. Ayah Rara sudah punya wanita lain kok. Mama Rara."
" Tapi mereka sudah nggak bersama lagi, ayah Rara sendiri yang bilang hubungan mereka itu suatu kesalahan," terang bibi.
"Udah jangan ngaco, mending bibi rapikan tu kasur Rara."
Vanya menunjuk dengan kepalanya pada box bayi yang berantakan. melihat bayi itu sudah pulas Vanya segera menidurkan kembali tapi kali ini di ranjang. Vanya ingin tidur dengan Rara.
Tring! Tring! Sebuah panggilan masuk ke ponsel Vanya.
"Hallo" Suara dari seberang terdengar parau.
"Hallo ini siapa?"
"Beneran lupa dengan suaraku?"
"Iya, aku enggak ingat, siapa ya."
"Aku, baru ketemu masa lupa sih?
" Ken ya?"
__ADS_1
" Iya, aku pengen tahu kabar Rara."
"Oh, Rara. Dia baik-baik saja, cuma semalam sempat nangis. Tapi setelah aku pindah dari tidurnya ke sebelah aku dia udah tidur lagi"
"Oh, bagus."
"Bagus apanya yang bagus."
" Ya tadi Rara mau tidur di dekat kamu. Mungkin bagi Rara, Kamu menyenangkan. Calon ibu yang baik." Suara Ken terdengar bahagia.
" ... ?" Vanya terdiam.
" Hallo, Hallo !!"
"Iya halo aku masih di sini kok."
"Kirain udah nggak di situ."
"Aku masih dengerin suara kamu. Pengen bicara sama Rara? Dia baru bangun tidur ." Hanya mengarahkan kameranya menghadap Rara.
" Ayo Rara panggil ayah, a-yah."
"Ay ...ay ..." Rara dengan susah payah berusaha menirukan kata-kata Vanya, dengan terus melihat bibirnya yang bergerak-gerak.
"A-yah." Vanya mengajarinya sekali lagi.
"Wah bagus, anak ayah sudah bisa panggil ayah sekarang." Ken di seberang terdengar tersenyum bahagia.
"Vanya, terima kasih udah bersedia merawat Rara dengan baik. Terimakasih sepertinya sebuah kata yang amat memalukan untuk aku katakan padamu, dalam ketidakberdayaan ini." ujar Ken sambil terus menatap mata Vanya.
Tatapan mereka bertemu. Vanya menghindari tatapan mata Ken. Dia menunduk.
Vanya memberanikan mendongakkan kepala menghadap kamera, Ia ingin memberi penjelasan pada Ken. "Aku sebenarnya tidak membantumu tapi aku membantu sahabatku Andini, aku kasihan dia memiliki dua bayi. Jadi tak usah merasa berhutang budi begitu."
"Iya Vanya, aku tahu, jangan berpikir aku mengejar dirimu lagi, aku memang tak pernah tergapai olehmu. Apalagi kamu sekarang sudah menjadi seorang dokter bedah hebat, kau berhak mendapatkan pria yang hebat juga. Bukan pria yang sudah kotor seperti aku."
"Oh iya, Maaf ya Ken aku tutup dulu teleponnya. Aku harus berangkat ke rumah sakit. Apalagi hari ini pemilik rumah sakit akan kembali aktif bekerja."
" Andini sudah kembali bekerja?"
" Ya, sahabatku itu mulai bekerja hari ini." ujar Vanya senang.
" Ya, selamat berkumpul dengan Nona Arsena lagi."
Vanya tak menjawab hanya senyum di bibirnya yang mengembang.
__ADS_1
Ken mengembalikan ponsel pada polisi yang sedang berjaga. Dia berterima kasih lalu kembali duduk di sebuah tikar yang digelar di dalam sel. Membaur dengan teman teman yang lain. Ken mulai bisa tersenyum dia hari ini seolah dia mendapatkan nyawanya kembali. Apa karena bertemu kembali dengan wanita yang dipujanya?
"Hai bro, apa yang kemaren menemui dirimu itu istrimu."
" Bukan, dia wanita yang kucintai." Pria bertubuh gempal dan mahal senyum itu bisa tersenyum tipis.
"Kau suka dia Bro. Aku bisa melihat sorot matamu ke si gadis waktu itu." Pria itu memukul pelan punggung Ken. Ken hanya diam sambil melamun menerawang kejadian yang sudah terjadi dua belas tahun yang lalu.
"Aku memang menyukai wanita itu, tapi kisah yang ku tulis sangat berbeda, aku perjaka beranak satu, mana bisa dia mencintai aku yang sudah menulis kisah kotor ini."
"Ya, hidup ini tidak akan menoleh ke masa lalu Bro, tapi hidup ini akan melihat ke masa yang akan datang."
Sedangkan Liliana yang kini tengah berada di Rumah Sakit Jiwa Menur, dia sedang duduk di pojok ruangan dengan rambut yang berantakan. Baju daster warna putih tulang dengan panjang selutut terlihat sangat lusuh. Kecantikan yang dulu ia banggakan telah memudar dari pandangan. Jika dulu para pria baik hingga hidung belang terpesona oleh kecantikannya yang memukau. Tidak untuk sekarang. Menatap saja ogah. Apalagi menyentuh.
"Aaaaaa, tidaaaak, keluarkan gue dari sini, aku ingin pulang," Lili bangkit dari tidurnya lalu menggedor-nggedor pintu dengan keras.
Dua perawat wanita yang berjaga di luar sana, segera datang menghampiri. " Nona Lili diam! Lebih baik anda makan yang banyak dan berfikir positif biar cepat sembuh, Jika anda terus seperti ini aku tak segan akan memborgol anda kembali." Ancamnya pada Lili.
Lili segera menghampiri dua perawat yang berdiri diambang pintu dengan di tangannya membawa buah anggur merah segar, apel dan pir.
"Hahaha Arsena datang lagi, aku punya banyak buah. Dari Arsena. Dia datang kesini?!" Lili sambil senyum tak jelas merebut keresek hitam berisi buah buahan dan minuman segar.
Lili segera membuka kresek hitam dengan kasar, mengeluarkan isinya lalu memakan dengan rakus. Ia buang kulit dan bekas gigitan ke lantai hingga berantakan. " Arsena tidak menemui ku dia tidak ingin bertemu lagi denganku."
"Nona, sebaiknya kau tidur, aku akan membantu anda mencuci tangan dan kakinya biar bersih.
Tidak ! aku tidak mau ! aku akan menunggu Arsena datang. Dia akan datang menemaniku, aku ingin dia yang datang." Sekarang Lili sudah berubah merengek seperti anak kecil.
Tenang Nona, Tuan Arsena pasti akan datang anda sekarang tidur ya."
"Benar dia akan datang?" Lili mulai menurut.
" Iya Nona dia akan datang besok pagi." Bujuk perawat.
"Sekarang tidurlah," Perawat yang satu mulai menyuntikkan obat penenang di lengan Lili dengan pelan. Lili menjerit sesaat. suster berhasil menenangkan kembali.
"Suster nggak bohong kan?"
" Enggak, Nona." Perawat bersikap lembut.
Berlahan Lili mengantuk dan ia langsung tidur nyenyak.
Suster yang berjaga segera keluar menemui Arsena. Pria yang telah mengirimkan makanan untuk Lili itupun masih menunggu di luar.
"Apa sudah ada perubahan, Sus?"
__ADS_1
" Sabar Tuan. Nona sepertinya masih harus mendapat perawatan yang cukup lama dan intensif."
"Kenapa Lili harus gangguan jiwa, seharusnya dia sekarang sudah mendekam di sel seperti Ken, mempertanggung jawabkan perbuatannya," Geram Arsena.