
Davit dan Arini terlihat menikmati gaya bercintanya hari ini. Arini yang tadinya malas kini mulai tersulut api gairah. Arini tak mampu menolak pesona Davit apalagi saat bertelanjang dada seperti hari ini.
"Kak Davit!" Arini merasakan sentuhan Davit yang tak memberi kesempatan untuk melepaskan diri.
Davit makin semangat mendengar namanya dipanggil panggil Arini dengan lembut. Nafas Arini makin memburu tubuhnya terlonjak maju mundur tak dapat terkendali lagi. "Panggil aku terus Sayang, aku suka sekali suara indahmu, Karena tak mampu menolak semua yang aku berikan?"
"Kau memanfaatkan kelemahan ku Kak." Rintih Arini yang pegangannya mulai melemah. Entah sudah berapa kali mereka menuntaskan hasratnya yang terbendung.
"Ya, karena setiap kali kita bermain kau selalu suka jual mahal, ujungnya kau yang menang banyak."
Arini mencengkram tengkuk Davit saat ada sesuatu yang ingin meledak. Begitu juga Davit, dia terus mengecup dan memberi tanda merah pada setiap jalur yang dilewati oleh bibir casualnya.
Davit menghabiskan hari minggunya dengan melelahkan diri, seharian mereka hanya berdua saja dan bermanja.
Usai bermain di kolam mereka masih melanjutkannya di kamar mandi dan di kamar pribadinya, Arini mengeluh kalau hari ini dia begitu kelelahan.
Canda dan tawa dari dalam kamar pengantin baru terus menggema, mereka lupa kalau bukan hanya dirinya saja di dalam mansion ini.
Arsena yang melihat kemesraan Davit dan Arini dia merasa kali ini hidupnya begitu menyedihkan, Arsena kasihan sama Andini yang tak mendapatkan kehangatan darinya sejak lama.
"Hubby, melamun lagi?" Suara Andini dari arah belakang sambil membawa susu berkalsium tinggi.
"Enggak kok, cuma kepikiran sesuatu saja." Arsena menerima susu buatan Andini dan meneguknya hingga tandas
"Gimana nikmat?"
"Enggak, masih nikmat yang itu." Arsena menunjuk dada Andini. Wanita itu otomatis langsung menutupi dadanya dengan telapak tangan.
"Ishhh, mesum."Andini mencebikkan bibirnya lalu pergi.
"Bukan mesum tapi udah kangen sama yang itu."
Andini masih saja malu saat digoda suaminya. Dia selalu salah tingkah oleh pesona Arsen.
Kaki Andini tak sengaja tergelincir, Arsena menangkap ke pangkuannya.
"Hati hati sayang."
"Maaf, aku tak sengaja, apa ada yang sakit? Apa aku melukai tubuhmu Bie? Andini memeriksa kondisi Arsena. Arsena ku 7ga aneh, tertimpa tubuh Andini kenapa dia baik baik saja.
______
__ADS_1
Jam dinding menunjukkan waktu tengah malam, tidur Arsena mulai terusik karena haus, Arsena tak ingin mengganggu Andini yang tengah tidur lelap. Dia bangun untuk mengambil air putih.
Arsena bersusah payah untuk meraih kursi roda, namun keberadaannya agak jauh membuat dia tak bisa menjangkau.
Arsena mencoba menapakkan kedua kakinya pada lantai marmer yang ada di rumahnya. Dengan sangat hati hati Arsena belajar mengangkat pantatnya. Kini Arsena benar benar berdiri tegak menggunakan dua kakinya.
Perlahan Arsena mencoba mengangkat satu kakinya, dia mulai melangkah dengan hati hati mendekati nakas untuk mengambil gelas.
Arsena tidak merasakan sakit di kakinya, satu langkah, dua langkah, rasa sakit itu sudah tak terasa. "Syukurlah, kakiku sudah sembuh." Arsena bergumam pelan.
Dia berusaha berjalan lagi, bahkan entah berapa kali memutari ranjang. Rupanya tak ada keluhan yang ia rasakan. Kaki Arsena sudah sembuh.
Arsena segera menghubungi Mark. Mark yang belum tidur segera menerima panggilan Arsena.
"Hallo tuan?"
"Tuan Arsena, adakah sesuatu yang sangat penting?" Tanya Mark lagi.
"Iya, Dokter Mark, aku sudah bisa berjalan tanpa bantuan alat." Kata Arsena.
"Kabar bagus Tuan, hasil rontgen terakhir sudah dinyatakan kalau tulang anda sudah menyatu kembali. Semua terjadi lebih cepat karena kualitas obat terbaik dan makanan bergizi yang anda konsumsi."
"Oh iya, kalau anda sudah sembuh Artinya Nona Andini akan bekerja lebih cepat kan?"
"Apa maksud kamu Mark? Kau sudah membantu aku kembali sembuh dari sakit, bukan berarti kamu bisa berbuat sesukamu."
"Maaf, aku hanya suka dengan cara dia bekerja, dia dokter yang hebat, sayang sekali kalau kemampuannya disia siakan."
"Cukup Mark, jaga batasanmu, Andini mungkin seorang dokter, tapi dia juga seorang istri. Kau tak perlu memikirkan dia. Apapun yang dilakukan hanya aku satu satunya yang berhak tau."
"Maaf, kita partner kerja, Tuan."
"Jangan bermain main denganku. Berani kau memiliki secuilpun rasa pada istriku, aku akan menghabisi nyawamu" Arsena menutup panggilannya. Dia akhirnya duduk di kursi kecil di dekat nakas.
"Tidak mungkin tuan, Hallo! Hallo!" Mark tak mendapat jawaban dari Arsena lagi. Panggilannya sudah ditutup tanpa permisi.
Arsena menggerakkan kakinya pelan pelan, mencoba memutar berulang kali. Hasil yang sangat sempurna, Arsena tersenyum senang, melihat bekas yang hampir tak terlihat sama sekali.
"Mark dokter yang hebat, dia berhasil membuat jahitan nyaris tak terlihat. Semua orang tak akan pernah tahu kalau aku pernah mengalami cedera di kaki.
Arsena meneguk segelas air lalu kembali tidur, dia memeluk Andini sangat erat. "Thanks Sayang. Kau telah sabar merawat diriku. Bidadari surgaku." Suara Arsena lirih. Mendapat kecupan bertubi tubi, Andini membuka mata lalu menggeliat.
__ADS_1
Menepuk pipi suaminya yang terus menatap dirinya dengan gemas. " Kok belum tidur?"
"Tidurlah dulu, aku suka melihat wajah istriku saat tidur. Lebih terlihat inner beautynya."
"Makasi." Andini mengerjab malas.
Arsena mendorong tubuh Andini yang tengah miring menghadap dirinya. Wanita itu kini terlentang di bawah kungkungan Arsena.
"Jangan dipaksakan, aku akan siap menunggu sampai kapanpun."Andini meraba dagu Arsena lalu mengecup kilat bibirnya. Dia tak mau membuat suaminya bekerja keras.
"Oh yess, ini manis sekali istriku. Kulihat kau juga rindu. Kecupan ini rasanya berbeda" Arsena malah salah mengartikan sentuhan Andini.
"Anda salah paham tuan, Bukannya setiap hari aku selalu memberimu kecupan seperti tadi.
Malam ini Arsena kembali bisa meneguk manisnya madu dan indahnya surga dunia, rindu yang membuncah membuat dia tak mau kalah dengan Davit.
"Ars, kau yakin tak merasakan sakit lagi." Tanya Andini.
"Mana yang sakit?"Andini merabai dada suaminya yang ditumbuhi bulu halus.
"Sudah tak ada. Aku sudah siap memberi nafkah lagi. " Arsen mengecupi pipi Andini. Malam itu mereka saling menemukan kembali selimut hangat yang telah hilang hampir satu satu bulan itu.
Arsena dan Andini kembali lelap hingga pagi hari karena kelelahan.
Pagi sekali Arsena sudah tak ada di kamarnya, Andini terkejut melihat kursi roda masih bertengger di sisi ranjang tapi suaminya sudah tak ada.
"Bie! Bie! Kau dimana?" Andini berlari keluar kamar dan hendak berlari turun ke lantai satu. Andini susah khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya
Langkah Andini terhenti ketika melihat Arsena sudah merentangkan kedua tangannya di bawah undakan, pria itu siap untuk memeluk kehadirannya.
"Bie! Kau sudah bisa berjalan?" Andini tak percaya dia berlari ke bawah segera menyambut dekapan Arsena.
"Bie, kau bisa berjalan." Andini mengulagi kata katanya lagi.
"Iya sayang." Arsena mengeratkan pelukannya. Tubuh mereka berdua terayun ayun, karena saking bahagianya.
"Thanks, selama ini sudah sabar merawat aku, aku akan membalas semua yang kau lakukan dengan selalu membahagiakan dirimu istriku, katakan apa yang kau inginkan sekarang, aku akan mengabulkannya."
"Tidak ada Bie, melihatmu seperti sekarang saja, sudah membuatku bahagia." Andini terharu, dia tak mau melepaskan pelukan suaminya.
__ADS_1