Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 32. Smile every time.


__ADS_3

Mereka berdua memejamkan mata, Tinggal beberapa mili saja, bibir Arsena sudah menyentuh bibir Andini.


"Maaf Ars, aku harus ke kamarku ...." Andini mendorong tubuh Arsena hingga mundur beberapa langkah, pria itu kehilangan tenaganya karena sudah dipenuhi hasrat.


"Bruk." pinggang Arsena terbentur oleh pegangan tangga. Terlihat aura kecewa memenuhi wajah Arsena.


"Gadis naif."


Andini kali ini benar-benar jual mahal, cuma Andini wanita yang bisa menolak pesonanya. Padahal tak sedikit gadis yang ia kenal, bahkan dengan senang hati memberikan yang ia inginkan, bahkan bisa lebih sekedar sentuhan bibir saja.


"Awas kamu Andini." Arsena menghembuskan nafas kesal. Dan tangannya mengepal memukul dinding.


Melihat sikap Andini yang berulang kali mulai menjauhinya, justru membuat Arsena tertarik ingin tahu seberapa bisa dia jauh dari dirinya.


Arsena tersenyum smirk, "Andini, Andini. Tak ada yang bisa menolakku. Aku yang harusnya menolak. Tak ada satupun gadis yang bisa menolakku seperti ini."


Sampai dikamar Andini segera mencuci muka dan tidur, tak lupa ia mengunci pintu, bagaimanapun ia harus tetap bisa menjaga diri dari pria yang tinggal bersamanya.


Sedangkan Arsena beberapa kali melihat dirinya di cermin, tak percaya kalau dirinya baru saja mengalami penolakan, ia merasa apa ada yang telah berubah pada dirinya? Mungkin tak menarik lagi di mata cewek.


"Ha ... ha ... ha ... Dia cewek bodoh yang menolak pria sepertiku." Arsena merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya, ingin segera memejamkan mata tanpa membawa sedikitpun Andini ke dalam mimpinya.


*******


Pagi hari.


Andini segera mandi dan menunaikan kewajibannya. Setelah selesai ia bergegas ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk Arsena. Pagi ini ingin berangkat pagi-pagi sekali, selain untuk menghindari Arsena ia juga ada banyak tugas di kampus.


"Andini ....!! Motor baru ya?" Vanya yang baru turun dari mobil segera meneriaki Andini dari belakang


Andini yang sedang menuntun motornya berhenti sejenak,menoleh ke belakang mencari datangnya arah suara.


"Vanya, bikin kaget aja." Andini memelankan jalannya, karena sahabat karibnya sedang berjalan cepat, agar bisa mesejajarinya. Di dalam area kampus para pembawa motor memang wajib turun dan menuntun motornya hingga tempat parkir.


"Traktiran Donk." ujar Vanya.


"Aku belum ulang tahun" jawab Andini santai.


"Nie motor baru?" Vanya menunjuk motor matic merah Andini.


"Oh, tenang aja nanti aku traktir di kantin ya, nasi pecel?" Kata Andini sambil tertawa keras.


"Apaaan? Kalau di kantin cuma sepuluh ribu gue udah kenyang. Aku mau di MD aja, sekalian makan ice cream dan kentang goreng."


"Kalau disana, ya bisanya pulang dari kampus, kalau jam istirahat mana bisa bawa motor keluar?"


"Oke, nggak apa-apa, entar aku telfon pak sopir biar gak usah jemput.


"Siip deh Nona Vanya, aku ikut apa kata dikau aja. hehehe." Mereka sudah sampai di parkir dan segera masuk ke kampus.


Dosen Arnold tak akan memaafkan siapapun yang telat di jam kelasnya. Masih jadi momok menakutkan bagi mahasiswi kampus Unesa.


***Ketika pulang dari kampus***


Andini dan Vanya sudah sampai di MD, dua gadis belia itu segera mengambil duduk di salah satu meja yang kosong.


"Mbak saya mau pesan Kentucky dua, Es Mega mendung dua, potato dua dan ice cream dua."


Terlihat pelayan restoran itu sedang mencatat pesanan Vanya lalu beralih ke meja yang lainnya.


Setelah waiters itu pergi Vanya mulai ingin menanyakan banyak hal pada Andini


"Andini, kamu menikah dengan Arsena, kanapa aku nggak pernah liat kalian jalan bareng, bener nggak sih cerita itu?" Vanya mulai membuka percakapa


"Stttt jangan keras keras, .... Ini rahasia. Nanti ada yang dengar "


"Emang kenapa kok pake rahasia?"


Entar di dengar oleh wartawan, bisa jadi bahan gosip mereka, lagian ini pernikahan tak selamanya, hanya sementara saja.


"What? Andini maksut kamu apa? Setelah menikah akan cerai lagi dan kamu jadi janda"

__ADS_1


"Ceritanya panjang, nggak akan habis aku ceritakan sore ini. Mending beri dukungan mental saja buat aku biar kalau udah waktunya tiba, aku siap ninggalin semua.


"Andini kamu serius?" Kini Vanya mulai bersimpati. Menggenggam tangan Andini dan mencoba tersenyum. "Apapun keputusanmu nanti, aku akan slalu mendukungmu.


Andini merasakan ketenangan mendengar penuturan Vanya. Yah mulai saat ini dan selamanya Andini akan mencoba move on dari Arsena. Tak mau mencintai tapi tak dicintai, rasanya akan sakit.


Saat mereka berdua sedang asyik bercengkrama tiba tiba sosok pria rupawan bertubuh tinggi menghampiri.


"Hai Girl. Boleh aku duduk disini." Kata si pria.


Andini mendongakkan kepalanya keatas, memastikan si pemilik suara tak asing yang selalu memanggilnya 'girl' itu.


Andini membulatkan bola matanya, selain terkejut ia juga heran kenapa Miko yang bilang ada di Paris itu tiba-tiba sudah ada didepannya. Dan anehnya bisa selalu tau keberadaannya.


"Boleh ikut nggak?"


"Oh iya, boleh boleh, silakan, Kak." Vanya menganggukkan kepala semangat dan tangannya menarik satu kursi untuk Miko. Kini Miko duduk diantara Vanya dan Andini.


"Miko! Kapan pulang?" Andini masih belum percaya itu Miko. Emang Paris Indonesia dekat hingga ia bisa pulang pergi setiap saat. Andini segera menyadari emang apa yang tidak bisa dilakukan oleh keluarga beruang itu.


"Andini gimana kamu suka?" Tanya Miko sambil menatap lekat mata lentik yang selalu membuatnya terbayang-bayang di hari terakhir ini.


"Miko ... Harusnya itu semua tak perlu. Kamu tau kan aku sudah biasa naik angkot, dan semua itu ada kebahagiaan tersendiri bagiku. Miko ini aku kembalikan kunci dan STNKnya." Andini meraih tangan Miko membuka telapaknya dan menaruh kunci diatasnya.


"Andini, kalau kamu menolak pemberian dariku berarti kamu juga menolak pertemanan kita." Kata Miko tegas, ia sedikit kecewa dengan penolakan Andini.


"Andini, kenapa kamu menolak, Kak Miko kelihatannya tulus." Kata Vanya mencoba menjadi penengah.


"Baiklah Miko, aku menerima pemberian kamu hari ini, tapi please ... Lain kali jangan bikin aku berhutang budi seperti ini."


"Girl, tidak ada hutang budi diantara kita. Aku senang bisa kenal kamu dan dekat seperti ini."


"Ehm ... Aku kok jadi kayak ganggu kalian berdua nie. Apa aku pulang aja nie ...." Vanya bercanda.


"Mau kemana, katanya mau ditraktir, nie orangnya ada disini?" Vanya yang melihat tatapan Miko menjadi malu berada diantaranya, walaupun andini sendiri tak menyadarinya tapi orang lain bisa melihat jelas.


Gadis itu lalu mengulurkan tangan ke arah Miko. "Kak, gue Vanya."


"Miko." Miko menjabat uluran Vanya.


"Emang mirip banget ya, sini aku lihat?" Andini menarik pipi Miko hingga wajahnya menoleh ke arahnya?"


"Apa'an sih gantengan gue lah," jawab Miko percaya diri sambil tersenyum.


"Sumpah, kamu itu jelek Miko."Andini tertawa.


Miko begitu menikmati tawa gadis didepannya. Andini terlihat bahagia tanpa beban. "Kata dia aku jelek, tapi biar, asalkan Andiniku bisa tertawa seperti sekarang ini."


Deg


Andini segera menghentikan tawanya. Kata 'Andiniku' membuatnya terkejut.


"Kenapa berhenti?"


"Aku suka lihat kamu tertawa." Miko menatap Andini dengan tatapan teduh.


Tak lama menu pesanan mereka datang. Sayangnya hanya dua porsi.


Andini mengisyaratkan pada pelayan agar menaruh di depan Vanya dan Miko saja.


"Lhoh kamu nggak makan Ndin?" Vanya melihat di depan Andini terlihat kosong.


"Aku masih kenyang, kamu makan duluan saja."


"Tunggu sebentar." Miko berdiri menghampiri waiters yang sedang berkumpul di ruang tengah melayani pesanan dari luar.


"Mbak aku ambil satu lagi boleh?"


"Mas, tapi kalau mau ambil lagi diharap menunggu giliran, ya?" Kata waiters yang sudah membawa nampan tinggal membawa keluar.


Miko menoleh ke belakang, melihat banyak sekali meja yang masih kosong, sedang menunggu giliran.

__ADS_1


"Mbak, mohon kerja samanya, atau saya akan ...." Miko mencengkeram lengan karyawati wanita itu ditambah dengan tatapan sedikit menusuk sudah membuatnya tangannya gemetar.


"Oke, baik Mas ambil saja berapa yang mas butuhkan biar saya antar ke meja." Kata waiters dengan suara ketakutan.


Miko melepas cengkraman tangannya, sesungguhnya ia belum pernah melakukan ancaman kampungan seperti pada wanita tadi, Namun membuat Andini menunggu lama rasanya ia juga tak tega.


"Satu saja." Kata Miko lalu pergi dan pramusaji itu mengekor di belakangnya.


Pramusaji masih terlihat kaku saat menyajikan ke depan Andini. Sesekali ia menatap wajahnya. Ada rasa penasaran seperti apa gadis yang sangat di cintai pria tampan itu, hingga ia tak membiarkan gadisnya menunggu walau sebentar saja.


"Miko, kamu hebat, bisa bisanya kamu dapat duluan tanpa antri." Andini memujinya dengan penuh kebanggaan.


Perut Miko mulai berbunyi. Apalagi di depannya ini adalah menu favorit nya. "Makan yuk, jadi laper kuadrat nie."


*****


Arsena House.


"Andini mana, Pak? ...."


"Nona, belum pulang, Den."


"Kemana sih, emang kalau pakai motor bisa makin lama ya? Harusnya kan makin cepat."


"Maaf Den, harusnya memang lebih cepat. Mungkin Nona ada urusan lain."


Arsena segera masuk rumah, ia kesal karena tak ada yang menyambutnya saat pulang. Biasanya Andini yang membawakan tas sepatu dan jasnya kedalam. Gara-gara bawa motor baru itu hari ini ia sudah berani telat.


Arsena ingin menelepon Andini ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


"Arggg ..." Aku sampai lupa tak menyimpan nomornya." Arsena telah salah yang pernah menganggap nomer telepon Andini tak penting buktinya hari ini ia butuh juga. kemaren menghubungi juga memakai handpone Doni.


Arsena akhirnya kembali keluar menemui pak Karman.


"Pak punya nomor telepon Andini."


"Maaf tuan, saya nggak punya. Mana berani saya minta nomor Nona, kalau bukan beliau yang kasih pada saya." Jawab Pak Karman dengan jujur.


"Saya punya Tuan, Nona Andini kasih nomor telepon ke saya." Kata Bibi yang tak sengaja mendengar obrolan Arsena dengan pak Karman Waktu menyiram bunga ditaman.


"Boleh saya minta Bi, aku lupa tak menyimpan nomornya."


"Boleh tuan, bentar aku ambil dulu hpnya."


Bibi mengambil handponenya yang ada di kamar, secepat kilat segera keluar lagi dan menyerahkan hp jadulnya ke Arsena.


Arsena tak mau buang waktu. Ia segera memindahkan nomor telepon Andini ke ponselnya. Setelah tersimpan ia segera memencet tombol panggil.


"Hallo Andini pulang sekarang."


.................


"Aku tak mau tau, tak ada alasan apapun, aku butuh kamu sekarang."


............


"Kubilang sekarang ya, sekarang!!!"


.................


Andini belum sempat berbicara lagi, Arsena sudah menutup teleponnya, membuat Andini panik dan buru buru pamit pada Miko dan Vanya.


"Maaf ya, Mik, Van, aku harus cabut duluan. Soalnya banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan." Andini segera keluar dari restaurant dengan langkah seribu menghampiri motornya.


Miko segera menaruh uang tiga ratus ribu di meja, dan meninggalkan Vanya tanpa sepatah kata, mengejar Andini yang lebih dulu sampai di parkiran. "Ndin, kamu jangan terlalu menurut sama dia, kamu hanya dimanfaatin, aku nggak rela, Ndin." Miko meraih pergelangan Andini.


"Miko apa yang bisa aku lakukan? Aku istrinya sekarang. Bukannya seorang istri memang harus mematuhi suaminya." kata Andini sambil membalikkan tubuhnya menghadap Miko.


Miko melepaskan cekalan tangannya, kini beralih meremas kedua pundak Andini."Tapi dia bukan suami yang baik, Ndin. Dia tak menganggapmu istri"


"Aku tau Mik, kamu tak usah ingatkan aku soal itu lagi, aku akan pergi darinya ketika saatnya tiba nanti." Andini bersedih. Miko memeluknya sesaat lalu melepaskan dengan berat hati.

__ADS_1


Miko melihat kepergian Andini dengan rasa kasihan. Miko tak ingin Andini akan kecewa suatu hari nanti. Ia hanya ingin melihat Andini tersenyum bahagia.


"Andini, smile every time."


__ADS_2