
"Minggir kau!! Jangan halangi aku!" Arsena mendorong tubuh gempal security yang mencoba menghadang di depannya.
"Andini! Bangun Andini! Kamu nggak boleh pergi, aku dan bayi-bayi kita mbutuhkan kamu." Arsena terus berteriak memanggil nama istrinya.
"Tuan, mohon kerja samanya," kata security dengan sabar. "Jika anda tidak bisa diajak kerja sama, sama saja Anda menunda pekerjaan seorang Dokter untuk menangani istri anda."
"Kita mohon kerja samanya, Tuan." Security menangkupkan tangannya memohon.
Arsena ingin marah, memukul security dan tetap bersama Andini, kenapa tidak boleh didekatnya? Kenapa tidak boleh bersama saat istrinya sedang berjuang melawan maut, bukankah kita selalu berjanji untuk selalu bersama sampai maut menjemput.
" Aaaarg." Arsena akhirnya menyerah. Ia meremas rambutnya frustasi. Menyadarkan dirinya yang egois. Demi kebaikan Andini akhirnya dia melangkahkan kaki dengan sempoyongan keluar ruangan.
Saat tiba di depan ruang rawat. kaki Arsena tiba-tiba lemas dia tak mampu bergerak lagi. Johan dan Davit yang melihat Arsena terpuruk segera memapah dan membawanya ke ruangan lain, untuk istirahat. Baru kali ini orang-orang terdekatnya melihat Arsena begitu rapuh. Dia tak pernah serapuh ini sepanjang hidupnya. Arsena sosok keras kepala dan dingin begitulah dia selama ini.
Dokter membuka pintu otomatis menuju UGD, Andini segera mendapat penanganan oleh banyak dokter ahli. Sebuah nebulizer telah selesai di pasang di hidungnya. Layar EKG menunjukkan gelombang detak jantung Andini yang kian lama kian melemah.
"Andini." Seseorang yang mengintai di kaca ikut menitikkan airmata nya.
Masih ada harapan. Jika secepatnya darah golongan O itu segera didapatkan. Tapi sayangnya golongan darah dermawan itu stoknya lagi habis di malam ini.
Kepanikan Dokter membuat Miko curiga, dia segera memanggil Namira yang baru usai memasang alat pada tubuh Andini.
"Dr. Mira aku melihat para dokter begitu panik? Ada yang sangat serius" Tanya Miko.
Mira menatap Miko dengan tatapan aneh. Pria itu sejak tadi mengawasi gerak geriknya dengan intens. Apa hubungan mereka?
"Anda masih keluarga pasien?" Tanya Namira dalam ketidak tahuan.
" Oh, iya. Kenalkan saya Miko Atmaja. Adik tiri dari Arsena. Dia kakak ipar saya." ujar Miko sambil mengayunkan lengannya ke arah Andini.
Namira mengangguk, " Oh kukira. Iya kami sedang membutuhkan beberapa kantong darah golongan O. Dan kebetulan stok di rumah sakit malam ini sedang habis, pengiriman mungkin baru besok pagi.
"Golongan darah O." Miko terkejut bagaimana bisa kebetulan dia dan Andini memiliki golongan darah yang sama.
"Dr, Mira ambil darahku aku juga O. Ambillah sebanyak yang kamu butuhkan." Miko terlalu bersemangat.
__ADS_1
"Kebetulan sekali, baiklah. Biar suster memeriksa anda terlebih dahulu."
"Silahkan. Aku mengizinkan " ujar Miko. Miko berjalan mengekor dibelakang Namira. Miko siap mendonorkan darahnya untuk Andini.
Perawat mengambil sampel darah Miko untuk di tes pada sebuah alat. Ternyata Miko benar golongan darahnya termasuk golongan darah O.
Dokter segera mengambil satu kantong darah Miko, pria bertubuh tinggi gempal itu sangat senang bisa melakukan transfusi darah pada orang yang pernah ia sayangi.
Tanpa menunggu apapun lagi, dokter segera memindahkan darah Miko yang sehat ke tubuh Andini.
Sedangkan Arsena. Dia begitu putus asa. Arini mengingatkan agar kakaknya harus kuat. Ada bayi- bayi kecil yang belum ia sentuh. mereka juga ingin disapa 9lwh orang tuanya
"Kak, jangan terlalu bersedih, mari kita lihat bayimu yang lucu. Apa kau tak ingin segera memeluknya. Bayi yang kau nantikan kini sudah bisa kau gendong," ujar Arini sambil mengamati ekubator yang berisi keponakannya.
"Adik kamu benar Ars, Andini pasti bisa melewati semua ini, dia wanita yang kuat."
"Tapi Ma, Andini begitu lemah, bahkan dia sudah meninggalkan sebuah pesan pada Arsena, supaya menjaga anak-anak kita dengan baik, semoga ini bukan pertanda buruk."
Arsena kini merasa kerongkongannya begitu kering, dia meminta segelas air pada Mama. Mama memberikannya dan meneguknya hingga tak tersisa. Lalu pergi menuju ruang bayi.
Bayi Arsena mulai kehausan, rengekan manja mulai terdengar dari bibir mungilnya. "Oek ... oek ...."
Bayi yang lahir pertama mulai tak bisa menahan haus, bibirnya mulai kering hingga dia menangis semakin keras. Mendengar saudaranya menangis. Bayi kedua pun turut menangis
Air mata Arsena tak bisa di bendung lagi. Dia menghampiri putranya dan berusaha menyapa dengan sebuah senyum walau hatinya begitu terasa getir.
"Sayang, kamu pasti haus sekali, Sayang sabar ya, mama masih tidur, sebentar lagi pasti akan bangun," ujar Arsena pada bayinya.
Kata kata Arsena begitu menusuk jantung Mama Rena dan yang lainnya. Ana bahkan berulang kali pingsan. Kondisinya yang hamil muda membuat dirinya semakin lemah, hingga dengan terpaksa Doni mengajaknya ke tempat yang lebih tenang.
"Sabar Ars, andini pasti akan segera siuman, dia cuma kelelahan saja. Sekarang kamu adzani dulu putramu satu persatu." Kata Johan berusaha tegar.
Johan mengangkat cucu pertamanya, lalu menyerahkan pada Arsena dengan hati hati.
__ADS_1
Arsena sedikit rikuh menggendong putranya. Selain baru pertama kali, dia juga takut karena bayi mungilnya masih begitu merah.
Arsena segera melantunkan adzan di telinga putranya satu persatu. Suara Arsena terdengar lirih, bahkan saat ia mengazani putra keduanya dia terlihat kembali menangis.
Bayi merah yang sudah selesai di adzani kini di gendong oleh Johan dan satunya berada di gendongan Rena. Mereka berdua membawanya keluar ruangan mencari udara segar. Tentu sebuah halaman khusus yang tak sembarang orang bisa beristirahat disana.
Usai mencium satu persatu bayinya, Arsena pamit kembali menuju ruang rawat Andini.
Andini sudah dipindahkan di ruang rawat setelah melewati masa kritisnya. Dokter berharap setelah transfusi darah, Andini segera membuka matanya.
Melahirkan dua bayi kembar memang tantangan yang berat untuk ibu, jika kondisinya tak benar benar fit, bisa berakibat fatal untuk ibu dan juga bayi. Apalagi jika sang ibu mengidap penyakit hipertensi, tentu melahirkan Normal sangat tak dianjurkan.
Pemandangan di depan mata kembali menyayat hati Arsena, Andini masih tergolek lemah. Kini infus yang tadinya jernih sudah berubah menjadi merah, tandanya sudah diganti darah Miko yang segar.
Arsena segera menarik kursi yang ada dekat ranjang pasien. Arsena menatap Andini dengan raut sedih, bercampur nelangsa. Melihat kedua bayinya yang belum meneguk asi dari wanita yang melahirkannya.
"Sayang, apa kamu tahu bayi kita dua duanya sehat? kamu pasti akan bahagia setelah melihatnya. Sayang kamu harus beri dia asi sekarang, dia haus, dia harus meneguk asi yang keluar dari tubuhmu, untuk pertama kalinya."
"Sayang, kamu ini mama macam apa? Kenapa setelah melahirkan kau tinggal begitu saja, tentu aku tak mau merawat dia sendiri. Aku tak mau merawat sendiri, Andini! Kamu dengar kan?"
Air mata keluar dari sudut mata Andini, selang beberapa menit netranya mampu mengerjapkan klopaknya. . Pelan.
"Aku bukan pria bodoh yang rela menghabiskan waktuku hanya untuk merawat dua bayimu sendirian." Kata Arsena lagi sambil menangis tergugu
Seorang perawat yang menjaga Andini terharu melihat Arsena begitu mencintai istrinya, demi ingin istrinya siuman, dia rela mengucap sebuah kata yang tentunya juga sangat menyakitkan bagi dirinya. Perawat yang tidak memiliki hubungan darah apapun itu keluar, dia menyeka air matanya saat di depan pintu.
"Ars ... Ma-na ba-yi-ku?" Bibir Andini bergetar begitu pelan suaranya pun sangat lemah.
Arsena yang mendengar suara samar itu segera berdiri ia memastikan kalau itu nyata, itu bukan mimpi, kalau Andini, kekasihnya hanya tidur.
"Sayang, bicara lagi. Aku ingin mendengarnya." Arsena menatap wajah Andini tanpa berkedip, dia berharap Andini akan mengulangi kata-kata yang baru ia ucapkan barusan.
"Ba-yi-ku, ba-wa ke-si-ni, Ars." Andini mulai membuka matanya, ia sudah benar-benar siuman.
"Sayang, kau ...." Arsena segera memeluk istrinya melepas nebulizer di hidungnya dan segera mencium wajahnya berulang kali, air mata ia biarkan meleleh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ars, kamu menangis? Sejak kapan kamu cengeng seperti itu, aku hanya tidur." Andini tersenyum memandang suaminya yang dulu sangat Arogant, bahkan sekarang menangis.
"Tidur kamu bilang? Aku nggak mau kamu tidur seperti tadi. Aku hampir gila, Sayang." Arsena memeluk Andini lalu membantu menggeser tidurnya. Kini posisi Andini sedikit duduk dengan banyak bantal mengganjal di punggungnya.