
Miko tanda tangan saja kok lama sekali? Kamu kemana? mama cari kok nggak ada di ruangan Namira"
"Maaf Ma, tadi Miko ke toilet," dusta Miko pada Mama.
"Dara sudah setuju melahirkan secara caesar aja. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang operasi, makanya mama cari kamu."
"Miko sudah ada disini sekarang, Ma." Miko segera menghampiri Dara yang sejak tadi sudah menunggunya.
"Kak Miko ada apa? Dara tau kalau kak Miko sedang tak bahagia, kakak Dara sudah mau melahirkan, harusnya bisa lebih bahagia daripada yang aku lihat. sebentar lagi bisa lihat buah hati kita.
"Aku bahagia banget sayang, bagaimana bisa aku tidak bahagia. Tadi tiba-tiba aja ada sesuatu. Yang nggak bisa aku jelasin dan itu nggak ada hubungannya dengan kamu. Ini hubungannya dengan Amert."
"Apa ada sesuatu dengan Amert? Apa bayi Amert tidak normal," tanya Dara, karena setaunya Zara juga melahirkan hari ini.
"Bukan, Amert memiliki wanita lain. Walau aku belum yakin dengan yang dikatakan wanita itu." Miko terpaksa harus mengucapkan duduk permasalahannya, karena dia tidak mau Dara kebawa beban saat melahirkan.
Obrolan mereka harus terhenti, begitu ada Andini kembali mengunjungi adiknya.
"Dara." Panggil Andini, senyum mengembang dari bibir Andini, kekhawatirannya ia sembunyikan di balik senyumnya.
"Mbak Andini, aku tidak bisa menjadi ibu yang sempurna, aku nggak bisa lahirin anak secara normal."
" Oh no! Kakak nggak suka ya kamu ngomong begitu, wanita sempurna itu bukan hanya melahirkan secara normal saja. Kamu tahu nggak melahirkan lewat operasi secara caesar itu juga sebuah perjuangan yang besar, Hanya wanita hebat yang bisa melakukan semua itu, nggak usah berkecil hati, mereka sama sama berjuang" tutur Andini.
"Dengarkan apa kata Mbak Andini. Dia bicara benar." ujar Miko.
"Iya Kak Miko, Mbak Andini." Dara kini lebih kuat di dekat orang orang yang menyayanginya .
Tak lama Namira datang bersama beberapa perawat yang mengikuti di belakangnya. Mereka sudah berseragam lengkap. Senyum ramah mengembang dari bibir dokter muda.
"Gimana Ndin?" Namira bertanya
Andini mengangguk. "Ya, karena pembukaannya nggak mau bertambah lagi, ya gimana jalan terbaiknya saja."
"Bisa Mohon maaf sebelumnya, untuk keluarga Nona Dara sebaiknya menunggu di ruang tunggu." Namira memberi peringatan pada Mama Mita dan Miko. Dia berharap akan membiarkan para tim medis bekerja dengan maksimal
"Ma, ayo kita tunggu diluar. Miko kita keluar dulu." Andini menggandeng Mama Mita berjalan keluar
Miko masih berbicara dengan Dara, pria itu mengecup kening Dara sangat lama, setelah itu dia berjalan keluar menyusul Andini dan Mama Mita.
Mama Rena terlihat baru datang ditemani oleh Mama Ana dan Pak Doni. Sedangkan Arsena masih di kantor, dia tidak bisa pulang cepat karena masih banyak kerjaan, saat di telepon Andini tadi dia sangat senang mendengar akan ada dua lagi anggota barunya, saat pulang nanti berjanji akan memberi hadiah kejutan untuk dua bayi yang akan lahir nanti.
"Ndin, aku ingin berbicara padamu sebentar saja, apa bisa?" Miko menatap Andini dengan tatapan bingung. Pada siapa lagi dia akan bercerita, selama ini hanya Andini orang yang ia percaya.
"Ngomong aja Mik, ada yang sangat penting?" Wanita masih berseragam dokter itu menatap Miko dengan serius. penasaran apa yang ingin dikatakan pria yang pernah membuatnya kagum itu.
"Tapi aku ingin kita bicara berdua." Miko mengamati sekitar, tak nyaman jika harus bicara di depan banyak keluarganya.
Mama Mita sejak tadi merasa keberatan. "Eh nggak bisa, kalau cuma berdua, aku nggak izinkan, Arsena nggak akan setuju kalau dia ada disini."
"Ma, ini nggak ada hubunganku dengan perasaan. Ini masalah lain." Miko berusaha menjelaskan.
"Tetep nggak bisa, ngomong disini aja, nggak usah pake berdua, kita semua juga keluarga, sepenting apakah masalah yang akan kalian obrolin itu?
"Ya Mik, ngomong aja disini. Kita juga ingin tahu." Mita membela madunya.
__ADS_1
"Miko mengalah, dia akhirnya berbicara pada semua orang. "Ma, Amert telah melakukan kesalahan besar, dia telah membuat wanita lain mengandung anaknya."
Rena terlihat terkejut, Mita juga tak percaya. "Kamu bercanda Miko, Amert hanya mencintai Zara," ujar Mama Rena.
"Aku mendengar pengakuan wanita itu." Miko meyakinkan semua orang.
"Miko, jangan buat ulah, Keluarga Amert sudah dalam perjalanan, mereka semua ingin menemui Zara, kenapa kamu malah membuat kekacauan, kasian Amert." Rena tak suka Miko terlalu capat mengambil keputusan.
"Ya, pemikiran kalian sama denganku, mengira ini semua salah, tapi ada baiknya kita tanyakan pada Amert sendiri." terang Miko berusaha mengambil jalan tengah.
"Ya, panggil Amert kesini." pinta Rena.
Miko berinisiatif memanggil Amert yang sedang menunggu Zara di dalam ruangan. Namun Miko menghentikan langkahnya saat dia menyaksikan Amert tengah membantu Zara berjuang melahirkan bayinya..
Miko mengintip dari kaca, dia sebenarnya ingin tertawa melihat Amert yang teraniaya. Pria itu berulang kali kesakitan karena Zara menggigit lengannya dan sesekali juga menjambak rambutnya.
Amert terlihat berlapang dada menerima penganiayaan yang sedemikian rupa.
"Aaaaaa, Sakit." Dara terus saja melakukan penganiayaan sesukanya pada Mert.
"Peganglah tanganku kuat-kuat Sayang, kamu aku izinkan menyiksaku hari ini, asalkan kamu dan bayi kita akan baik-baik saja."
"Sebentar ya Tuan, aku lihat lagi sekarang pembukaan berapa."
"Silahkan Dokter, memangnya berapa banyak pembukaannya Dok?"
"Banyak Tuan, sampai sepuluh."
"Sekarang sudah buka berapa Dok," tanya Amert lagi.
"Sudah pembukaan delapan kurang dua lagi."
"Mas aku nggak kuat, hah hah." Nafas Zara terlihat tersengal sengal.
"Kamu kuat Sayang, tinggal dua pembukaan lagi," kata Mert menjelaskan seperti yang diucapkan oleh Dokter.
"Iya Nona, sabar tahan dulu jangan mengejan dulu," Dokter memberi intruksi.
"Aaaaaa tapi aku ingin mengejan." ujar Zara sambil menarik rambut Mert dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Iya sekarang boleh bayinya sudah terlihat rambutnya, ayo Nona mengejan yang kuat. Tuan bantu istrinya, kasih semangat."
"Huff huff huff, aaaaa." Zara masih berjuang.
Sedangkan Miko dari luar terlihat senyum, membayangkan Dara pasti akan menyiksanya sama seperti yang dialami jika dia mampu melahirkan Normal.
"Miko! apa yang kamu lakukan?"
"Andini!"
"Kamu nggak ingin lihat bayimu?"
"Bayiku, sudah lahir."
"Iya, bayimu ada di ruang bayi."
__ADS_1
"Lalu Dara? Apa aku sudah diizinkan melihatnya?"
"Dara masih ditangani oleh Dokter, masih butuh waktu beberapa saat lagi untuk bisa mengunjunginya.
"Baiklah aku lihat bayiku dulu." Miko dan Andini berjalan beriringan.
"Mik, kau tebak apa jenis kelaminnya? Selama ini kamu sengaja untuk tak ingin mengetahuinya kan, dengan alasan buat surprize?"
"Oke biar aku tebak anakku pasti cewek."
"Benar sekali, kamu ingin anak cewek ya."
"Iya, aku ingin memiliki bayi cewek, bukankah anak perempuan akan menjadi kesayangan ayahnya, dan sebaliknya, putriku pasti akan sangat cantik seperti Dara."
"Ya cepat lihat, putrimu biar nggak penasaran lagi."
" Kamu curang Andini, kamu bahkan sudah melihatnya lebih dulu."
"Dia keponakanku Miko, aku pasti penasaran juga dengannya, setiap hari aku memikirkan kalau lahir nanti wajahnya mirip siapa."
"Kedua putramu mirip suamimu, Putriku pasti akan mirip denganku.
"Aku ingin sampai di ruangan bayi lebih cepat, antarkan aku kesana."
"Oke." Andini setuju dengan senang hati.
Andini segera berjalan menuju ruangan bayi, dimana banyak bayi berjajar di dalamnya dan ada beberapa perawat yang menjaganya.
Perawat tersenyum ramah melihat Andini masuk ke ruangan itu.
"Sus, aku mau lihat keponakan saya lagi."
" Itu pasti Daddynya ya? Pantas saja putrinya sangat cantik." perawat itu menatap Miko dan Si Kecil bergantian.
Mendengar pujian perawat tadi, Miko makin bersemangat untuk bisa segera melihat putrinya.
Miko menatap putri kecilnya yang terlihat masih sangat merah, bibirnya bergerak gerak berharap tetes tetes asi masuk ke bibirnya. Miko sangat bahagia dengan anugerah terindah dari Tuhan untuknya. "Haus ya sayangnya Daddy?"
" Azani dia Miko," Perintah Miko.
"Baiklah Andini." Miko menarik nafasnya bahagia.
Andini membantu mengangkat bayi mungil dari ekubator dan menyerahkan kepada Miko.
Miko segera menggendong dengan susah payah karena belum terbiasa, hingga Andini harus mengajarinya lebih dulu sampai bisa.
Miko segera Azan ditelinga kanan dan Iqamah di telinga kiri. setelah itu mengecupnya dengan hati-hati.
Kaum tua belum tahu kalau bayi Miko sudah bisa dikunjungi Andini tahu lebih dulu karena dia melihat aktifitas Namira dari ruang CCTV.
Begitu mereka tahu sang bayi mungil itu ada di ruang bayi, dia langsung dikerubuti oleh banyak orang seperti sebutir gula terjatuh di atas piring.
"Putriku sangat cantik, dia sangat mirip Dara istriku, semasa di kandungan dia menggodaku dengan tak suka aroma tubuhku, tapi aku tetap ada disisi mommynya dengan segala cara, tanpa terbersit untuk jauh jauh darinya. sekarang dia sudah terlahir, berlianku sudah lahir Andini." ujar Miko membeo.
Andini hanya mengangguk terharu.
__ADS_1
"Iya Miko, cucu pertama mama cantik sekali, Mama harus segera membawanya kepada Dara. Dara harus tau kalau putrinya terlahir selamat dan tak kurang satu apapun," kata Mama dengan wajah berbinar-binar. Dia mengambil alih bayi mungil itu dari Miko, menggendongnya senyaman mungkin.
*happy reading.