
"Papa, kenapa baru datang saat kami sudah bahagia? Dimana saat Andini dan Dara masih membutuhkan kasih sayang, Papa?"
" Dimana Papa saat kami setiap hari masih membutuhkan uang saku?" Andini menangis tersedu membuat Arsena semakin geram dengan Antoni.
Pa, bahkan kedatangan Anda membuat putri Anda sendiri menangis, itu artinya anda sudah tidak dibutuhkan disini." Arsena berkata dengan tenang kedua tangannya dimasukkan di dalam saku celananya.
"Andini, ini papa, orang tua kandungmu, Nak. Kamu seharusnya senang papa disini."
Pulang, Pa. Kembalilah pada istri dan anak kandung papa yang lain, biarkan ibu tenang. Dengan kehadiran papa disini membuat ibu jadi sedih."
"Andini," Antoni kecewa dengan oeputusan Andini yang tak memihak nya.
"Tolong, Pa." Andini menangkupkan kedua tangannya. Airmata Andini terus berlinang, sungguh dia sayang sama Antoni. Tapi pria itu sudah terlalu dalam menorehkan luka di hati ibunya.
Andini menggandeng Ana, mengajaknya masuk, tak sadar mereka telah lama menjadi tontonan para pengunjung rumah makan, aneka seafood dan lalapan miliknya.
Doni juga ikut masuk, sedangkan Antoni pergi membawa kecewa dan lara.
"Ana, maafkan aku selama ini telah mencampakkanmu harusnya kau beri aku kesempatan kedua." Antoni duduk di dalam kemudi, menyaksikan Ana dan yang lainnya masuk. Antoni merasa diabaikan oleh orang yang penting di hidupnya.
Melihat Ana semakin hari semakin cantik, tubuhnya tak kurus lagi seperti saat sakit dahulu, membuat Antoni kembali mengagumi sosok wanita yang menjadi cinta pertamanya. Antoni mendambakan hidup bahagia bersama Ana lagi.
Antoni memukul kemudi yang bertengger tepat di depannya. Yang dilakukan tak mengubah apapun, dia hanya merasakan sakit di lengannya, juga sesak di dadanya.
"Arrrrggggh ...."
----------
"Maaf ya, sudah membawa Aa Doni dalam masalah pribadi saya." Kata Ana, sambil mempersilahkan Doni duduk di ruang tamu. Sedangkan Andini dan Arsena duduk di kursi lain, tempat yang digunakan untuk makan tadi.
Arsena tak ingin terlibat terlalu jauh urusan pribadi orang lain. Namun, entah kenapa urusan Doni dia ingin sekali ikut campur.
Sebagai majikan, Arsena juga berharap, Doni yang puluhan tahun bekerja dengannya segera menikah. Pria bujang lapuk itu segera memiliki pendamping hidup. Jika Doni bahagia Arsena pasti akan ikut senang.
"Ndin, apa kamu setuju, jika ibu menikah lagi?" Arsena bertanya dengan lirih, takut suaranya didengar orang lain.
" Menikah? Jika ibu bersedia, dan lelaki pilihan nya baik, aku setuju saja." Andini menoleh ke arah Ana. Ia sedang berbicara dengan Doni. Sepertinya ibu dua anak itu minta maaf tentang kejadian tadi.
Setelah Doni tak masalah dengan kejadian tadi, wajah Ana terpancar aura bahagia.
Benarkah Ana dan Doni diam-diam saling mencintai? Mungkin usia yang sudah tak muda membuat dia enggan untuk saling mengungkapkan, atau mereka memilih untuk mengabaikan perasaan masing-masing dan memilih untuk memendam perasaannya saja.
"Terserah ibu saja, jika ibu setuju dan semuanya bisa membuatnya bahagia , aku akan ikut bahagia ?"
__ADS_1
" Bagaimana jika calon ayah baru adalah, Pak Doni, sopir kita?"
"Bukan masalah, Pak Doni juga orang baik, selama ini dia bekerja denganmu tak ada catatan buruk. Itu sudah cukup mencerminkan kalau dia orang baik dan bertanggung jawab," jelas Andini.
" Tapi Ars, itu urusan mereka, sehari ini kau sudah ingin menjodohkan banyak orang, setelah Zara, sekarang ibu, apa ini sebuah pembalasan dendam karena kau dulu juga dijodohkan oleh papa." Andini berbicara dengan nada suara lebih tinggi, sambil sambil bersungut cemberut.
Arsena menempelkan bibirnya di pipi Andini. Sambil berbisik. "Dijodohkan denganmu, tidak terlalu buruk. Aku senang."
" Apa maksudnya tak terlalu buruk?" Andini melotot.
" Sudah jangan marah, nggak baik mengajari anak kita dengan sikap pemarah seperti itu, lebih baik kita memikirkan kebahagiaan ibu."
Arsena dan Andini akhirnya bergabung ke ruang tamu dimana ada Ana dan Doni. Zara beserta nenek ikut bergabung pula.
"Pak Doni, jika ada itikad baik sebaiknya disegerakan saja, toh aku tau kalau Bapak naksir Bu Ana semenjak pertama kali bertemu."
"Apa Aden dan Nona Andini setuju, saya jadi bapak Aden. Soalnya saya ini cuma pekerja rendahan di rumah Aden." Jelas Doni tak mengurangi rasa hormatnya kepada majikan.
"Bapak ini bicara apa? Justru karena saya tahu bapak orang baik, saya jadi setuju. Tapi semuanya kan terserah ibu. Hanya ibu yang bisa putuskan."
"Kalau saya ... jika anak-anak setuju, saya juga setuju saja." jawab Ana malu malu setelah diam sejenak.
"Sayang, gimana?" Arsena menyenggol lengan Andini, membuat Andini tersadar dari lamunannya.
"Dara gimana?" Arsena mengingatkan Andini.
" Ini, baru mau aku telepon," Andini menunjukkan gawainya yang sedang berada di mode memanggil ke Dara.
Dara yang sedang memasak di dapur mendengar ponselnya berdering, tau yang menelepon adalah kakaknya, gara segera menggeser krusor hijau tanpa menunggu lagi.
Mendengar penjelasan dari Andini, Istri Miko itu langsung setuju. Apalagi selama ini dia adalah saksi penderitaan ibunya.
"Aku setuju Kak, aku bahkan sangat senang, ibu membuka hati untuk pria selain Papa." Dara tak menunjukkan keberatan sedikitpun. Dia juga sudah mengenal Doni. Sopir kakaknya yang jago beladiri itu.
Setelah semua setuju, Doni resmi melamar ana hari ini, dan pernikahan akan dilangsungkan besok pagi pukul sembilan.
Esok hari.
Arsena sangat bersemangat, akhirnya sopir pribadinya mau menikah juga, walaupun sekarang statusnya akan lebih tinggi darinya, justru sekarang Arsena harus menghormati ayah mertuanya.
" Pak, awas ya jangan bikin sedih mertua saya, jika itu terjadi, saya tidak akan memaafkan bapak, karena istri saya pasti juga akan terluka." Ancam Arsena saat mereka sedang berdua saja di mobil, menunggu Ana keluar rumah. Rencananya acara ijab hari ini akan dilaksanakan di KUA saja. Selain malu sama umur, di KUA lebih praktis.
"Nggak Den, Hati saya sudah mantap dengan yang sekarang ini." Doni berkata dengan sungguh sungguh, pria itu sudah lama naksir Ana sejak mereka pergi berobat ke luar negeri.
__ADS_1
Awalnya Doni menduga rasa itu sebatas kasihan, tapi nyatanya semakin hari dia semakin susah tidur memikirkan Ana. Wanita cantik yang sudah berhasil menjerat hatinya setelah sekian lama dia tak bermimpi untuk membina rumah tangga karena luka lama.
Andini dan Dara menggandeng ibunya keluar, Ana nampak memakai kebaya brokat sederhana berwarna putih dan jarik batik berwarna coklat serta hijab. Untuk make'up cukup Andini dan Dara saja yang mendandani, karena permintaan ibu yang tak mau dipanggilkan perias.
"Ibu, cantik sekali," puji Andini.
"Anak ibu lebih cantik ." Ana merangkul kedua putrinya.
"Semoga ibu nanti akan bahagia dengan Pak Doni, hingga maut memisahkan kalian berdua." Andini menitikkan air matanya.
" Iya selamat berbahagia ibu, semoga ini akhir dari penderitaan ibu." Dara ikut menitikkan air matanya.
Dara dan Andini menggandeng Ana keluar kamar. Doni yang turun dari mobil, menyusul hingga ruang tamu.
Ana yang cantik semakin cantik walau dengan balutan baju kebaya sederhana.
Doni dibuat takjub oleh calon istrinya, ia menatap Ana tanpa berkedip.
"Pak, mari !" Ajakan Andini mengagetkan Doni yang sedang terpana.
"Oh i-iya. Kita berangkat sekarang." Doni tergagap, ketahuan sedang bengong.
Arsena kini menjadi sopir, Doni duduk disebelahnya. Sedangkan Andini dan Dara mengapit ibunya di kursi penumpang.
Perjalanan ke KUA hanya memakan waktu 10 menit kini mereka sudah sampai. Doni membuka pintu belakang. Ana terlihat malu diperlakukan oleh Doni dengan lembut penuh cinta Membuat Dara dan Andini tak henti menggoda ibunya dengan senyum di bibir putri-putrinya.
Acara ijab segera dimulai begitu mereka datang, karena penghulu dan wali hakim serta saksi sudah menunggu.
Doni segera mengucap ijab dengan lantang dalam satu tarikan nafas. Membuat seluruh keluarga yang hadir berkata SAH dengan serempak.
Bagaimana saksi SAH?
"Sah!!"
"Alhamdulilah." Andini memeluk Arsena. Sedangkan Dara menghambur dan memeluk Miko yang baru terlihat di ambang pintu.
"Kak!" Dara menempelkan kepalanya di dada bidang Miko.
"Maaf little, aku sedikit terlambat. Tadi di jalan lagi macet." Jelas Miko mencium rambut Dara.
"Tidak apa- apa Kak, Ibu sudah resmi menjadi istri Pak Doni sekarang."
"Iya, mari kita beri selamat pada ibu." Miko menggandeng Dara mendekati ibu Dan Doni. Sedangkan, di dekat Ibu ada Arsena dan Andini yang bergandengan.
__ADS_1