Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 208. Sebuah syarat.


__ADS_3

"Ken apakah kamu tak ingin membuat aku bahagia?" Tanya Lili ketika malam berikutnya Ken kembali berkunjung secara diam-diam. Rupanya Lili sudah tau kalau Ken akan datang, Lili malam ini, dia sudah berdandan sangat cantik dan menunggu Ken di dekat pintu jeruji.


" Tentu katakan padaku, apa yang kau butuhkan lagi selain baju-baju baru, dan makanan enak ini?" ujar Ken terdengar konyol ditelinga Lili.


Dasar pria miskin, kamu kira semua barang rongsokan ini mampu membuatku bahagia.


"Em aku butuh kebebasan, bukankah setelah yang kita lakukan semalam, kemungkinan kecil aku akan mengandung anakmu, dan apa kamu tega membiarkan aku terjebak dalam penjara ini." Lili berkata sambil menatap Ken dengan tatapan penuh cinta. Membuat naluri melindungi Ken mulai tumbuh.


Ken kini benar benar kembali dilanda bingung, menentukan siapa yang harus dia pilih. Kebingungan Ken sudah terbaca oleh Lili.


" Aku tahu kau tak sungguh sungguh mencintai diriku Ken! Kau hanya jadikan aku pelampiasan saja. Jika kau mencintaiku, kau pasti akan mendukungku." Lili merajuk, dia memutar tubuhnya memunggungi Ken.


"Tidak, itu tidak benar, aku pasti akan membantu wanita yang aku sayangi keluar dari sini, tapi tolong beri aku waktu. Aku harus menata rencana ini serapi mungkin supaya kamu tak mudah terperangkap lagi." Ken duduk di sisi ranjang. Meremas rambutnya kuat-kuat. Berfikir keras supaya menemukan jalan yang aman.


"Bisa keluar dari sini, asal kamu dan Dev harus oplas dan mengganti identitas asli dengan identitas palsu. Sepertinya cara yang satu ini lebih aman, kamu akan hidup menjadi Vanes dengan wajah yang baru, Lili sudah mati dan tak ada lagi Lili yang lama."


"Kamu gila Ken, aku tidak mau. Ini wajah asliku, dan aku sangat menyukai wajah ini, bagaimana bisa aku harus menjadi orang lain."


"Ini bukan pilihan, ini solusi, Arsena tentu akan menangkap kalian berdua dengan mudah, dan percuma saja aku mengeluarkan kalian dari sini. Jika kau menolak, aku tak bisa mengabulkan, aku tak mau mati konyol karena ketahuan berkhianat."


"Baiklah aku setuju." Lili berkata dengan nada keberatan, namun benar kata Ken, ini bukan pilihan. Tapi suatu yang harus dilakukan jika ingin terbebas.


Lili setuju dengan rencana Ken, dia percaya kalau Ken pasti lebih tahu tentang Arsena daripada dirinya. Ken tak pernah menyadari kalau sebenarnya dirinya berada dalam sebuah tipu muslihat sebuah keluarga licik.


Pagi buta Ken membebaskan Lili, dan Dev. Mengantarkan ke sebuah tempat yang menurutnya aman dan melakukan oplas, setelah Lili benar benar aman Ken kembali ke kastil dan bergabung pada teman teman seolah tak pernah terjadi apa apa.


Ken kembali dengan membawa banyak makanan ditangan, gondrong dan botak segera menyambut makanan dari tangan Ken dengan kehangatan.


" Beneran ini Ken lagi bahagia, Gon,"ujar botak senang melihat aneka makanan enak.


"Giliran gue banyak makanan aja Lo baik banget. Pake sambut gue segala," ujar Ken menggerutu."


" Emang kurang baik apa gue selama ini sama Lo?" Ken menjitak kepala botak yang usianya sedikit lebih muda darinya.


Usai membawa masuk barang bawaan Ken, mereka segera tidur berselonjoran diatas tikar. Mereka setiap hari bekerja dengan santai tapi mendapat gaji besar. Hingga mereka bisa mengirimkan separuh gajinya di kampung dan menghabiskan separuh lagi dengan bersenang senang.

__ADS_1


Tiba tiba ponsel Ken berdering. Rupanya panggilan dari Bos mereka, membuat Botak Ken dan gondrong langsung berkumpul di depan layar ponsel milik Ken.


"Apa yang terjadi, kenapa tak ada rekaman dari CCTV dalam seminggu ini?" Arsena yang berada di kantor terlihat sedang menelepon sambil duduk di kursi goyangnya.


"Siap melaksanakan perintah, Bos, semua masih aman terkendali." Gondrong berkata dengan yakin tanpa memiliki firasat apapun, CCTV yang rusak dia anggap sebagai hal wajar saja.


Mereka bertiga tak jadi bersantai, dengan langkah seribu Ken, Gondrong serta Botak segera melewati lorong yang berkelok menuju tempat Lili dan Ken dikurung.


Mereka sangat terkejut ketika melihat tawanan mereka kabur, gembok yang menjadi mengunci jeruji tiba-tiba telah hancur dan tergeletak dilantai. Bom berskala kecil sudah menghancurkannya.


Ken sungguh hebat dia bisa memanipulasi kawan kawannya dengan menghancurkan gembok penjara tanpa meninggalkan jejak.


"Siapa pelakunya!? Bisa mampus kita sama Bos," ujar Ken pura-pura panik.


"Apa kamu mencurigai seseorang?" Botak balik bertanya.


Mereka hanya saling pandang dan menggelengkan kepala. Sedangkan botak bergerak cepat menyusuri setiap lorong bawah tanah yang menjadi jalan mereka melarikan diri.


Mereka tak saling mencurigai, atau saling menuduh, mereka mencoba untuk selalu setia kawan dan saling mendukung. Tanpa curiga Ken pelakunya.


Mau tidak mau kabar buruk ini harus ia sampaikan kepada Arsena.


"Tidak tidak, gue nggak sanggup." Gondrong menolak mentah-mentah. "Kalau begitu kamu Ken."


"Huh, dasar kalian berdua," Gerutu Ken. Ken berusaha setenang mungkin menghadapi situasi, dia yang memberi kabar pertama kali pada Arsena tentang kaburnya dua orang tawanan itu.


Reaksi Arsena tentu saja sangat kecewa, awalnya Ken merasa bersalah. Namun, lagi lagi cinta butanya pada Lili mengalahkan semua.


Yang ia pikir Lili tak akan lagi mengganggu rumah tangga Arsena dan Andini, Lili akan menjadi istrinya dalam wujud Vanes dan akan hidup bahagia dengan anak anaknya. Ken rupanya salah besar. Lili mengatakan pada Ken dia tak akan pernah menikah dengannya sebelum melihat Arsena bertekuk lutut didepannya dan menyingkirkan Andini dari sisinya. Entah pernikahan seperti apa yang dijanjikan Lili. Namun Ken semakin buta dan tuli hanya untuk mendengarkan kata hatinya sendiri dia sudah tak mampu.


Ken akhirnya selalu mendukung Lili disetiap langkahnya, walau semakin jauh melangkah hati Ken makin ragu dengan sikap Lili padanya.


Suatu hari, Ken melihat lili yang sudah berubah menjadi Vanes dia terlihat lebih cantik namun sangat pucat, Ken belum tau kalau Lili sedang hamil. Hingga Ken memergoki Lili yang hendak minum pil penggugur kandungan. Ken berhasil mencegahnya, Ken kembali membuat kesepakatan pada Lili jika wanita licik itu bersedia menjaga janinnya hingga lahir, maka dia akan terus melindungi dan membantu rencananya.


Hingga Akhirnya Lili kembali muncul dari persembunyiannya dengan wujud yang berbeda hanya untuk menuntut keadilan pada Arsena yang sudah mematahkan hatinya disaat sayang sayangnya.

__ADS_1


*****


Ken masih berada di kamar hotel milik Lili, dia masih berharap Lili akan berubah pikiran dan membiarkan memeluk putrinya itu, Namun Lili tetap bersikeras, mengancam akan membunuhnya jika Ken berani melanggar aturan yang dibuat oleh wanita iblis itu.


"Ken pergilah, aku harap kamu tak lupa dengan janji yang telah kau ucapkan. Kau bisa memiliki putrimu sendirian. Setelah kau membawa majikanmu yang sombong itu padaku."


"Kau telah menjebakku, Kau ingin aku mati tanpa menyentuh putriku sama sekali," ujar Ken dengan nada suara rendah.


Lili tersenyum sinis. " Keputusan ada padamu Ken, kau pilih, putrimu atau majikan kesayanganmu itu."


Seperti biasa, jika Lili sudah berkata demikian Ken hanya mendesah frustasi. Hanya jalan buntu yang ia dapatkan.


Tring! tring!


Ponsel Ken yang ada di sakunya berdering.


"Iya Bos?" ucap Ken setelah menempelkan ditelinga ya.


"Ken apakah kau sudah berhasil menemukan bukti kalau Vanes adalah Lili," suara Arsena dari seberang.


"Maaf tuan. Nona Vanes dan Nona Lili mereka adalah orang yang berbeda. Dan bukti kalau Nona Vanes yang telah memberikan racun itu sama sekali tak benar. Racun murni diberikan oleh orang lain yang sudah merencanakan semuanya dengan matang."


"Lelucon apa ini Ken? Jelas jelas istriku hanya berdua dengan Vanes, dan pelayan itu sudah bersumpah tak melakukan apapun," ujar Arsena yang kecewa dengan Ken yang lebih membela wanita ular itu daripada dirinya.


Arsena membanting ponselnya di sofa empuk. Lalu disusul oleh tubuh kekarnya. Kepala Arsena mendadak pusing. Ia mencoba mengurut urut dengan jari jempolnya, Khawatir ketakutannya memang nyata, Ken adalah pemberontak.


"Ars!" Panggil seseorang dari arah kamar.


"Eh kamu sayang. Nggak jadi tidur." Arsena menghentikan aktifitasnya. Merentangkan satu tangannya, mengijinkan Andini duduk di sampingnya. Arsena memeluknya.


"Ars, kamu sakit kepala? Biarkan aku membantu memijitnya."


"Terima kasih sayang, tapi aku lebih senang kau istirahat saja."


"Apa kamu pikir aku bisa tidur jika melihat suamiku sedang gelisah seperti ini, Ars." Menatap suaminya dengan iba.

__ADS_1


Arsena tersenyum." Andini maafkan aku belum bisa memberikan kebahagiaan, kau berulang kali harus dalam bahaya hanya karena kesalahn masalalu ku." Arsena mengecup kening Andini, mengeratkan pelukannya. Seolah Andini adalah penenang untuk segala kegundahan yang ia alami.


*happy reading.


__ADS_2