
Pagi sekali Vanya berkunjung ke rumah Andini, wanita itu datang untuk melihat perkembangan Arsena. Vanya ikut senang begitu mendengar kabar gembira ini dari Andini.
"Vanya!" Andini langsung memeluk sahabatnya.
"Sendiri aja?" Andini celingukan mencari sosok suami Vanya.
"Iya, Ken lagi ada urusan." Andini menggandeng Vanya.
" Tumben Bu Dokter kok nggak masuk kerja?" Tanya Andini pada Vanya. Wanita itu seharusnya ada di RS.
"Aku sudah periksa pasien lebih awal, setelah itu aku izin sebentar, aku pengen lihat kondisi Arsena, Ndin."
"Boleh, dia sudah bisa berjalan tanpa bantuan apapun, Vanya. Aku bersyukur banget." Andini menggenggam jemari Vanya karena saking senangnya.
"Oh iya sekarang dia kemana?" Vanya celingukan mencari Arsena.
"Dia hari ini udah masuk kantor Van."
"Oh kukira belum ngantor. Mengemudi sendirian?"
"Nggak, tadi bareng sama Davit dan Arini."
"Tante Vanya!!
"Exel Cello, Ayo kalian cium tangan Tante Vanya dulu"
" Hai, Tante!"
" Hai, anak manis."
"Tante boleh cium satu kali lagi nggak?" tanya Vanya.
"boyeh, Tante yang cantik." Cello dan Excel membiarkan Vanya mencium pipi kanan dan kiri bergantian.
Exel dan Cello terlihat sangat senang dengan Vanya, bocah itu tau kalau Vanya juga sahabat Mommy, apalagi dia melihat di atas meja ada dua boba rasa coklat kesukaannya.
Pipi gembilnya terlihat mirip bakpau ditambah lagi tingkah menggemaskan yang tak mau berhenti berlarian kesana kemari. Tak jarang dalam sekejab rumah Andini sudah seperti kapal pecah.
"Senang sekali ya Ndin, punya buah hati cakep-cakep kayak mereka."
"Iya, Van. Kamu sama Ken semoga segera diberi buah hati sama Allah juga ya."
"Iya Ndin." Vanya mengangguk.
"Oh iya Van, ngobrol sambil berendam di kolam kayaknya asyik banget ya. Tubuh lebih fresh, kita juga tetep bisa ngobrol."
"Ide yang bagus tu." Vanya tak menolak. Ide Andini, kedengarannya menarik berendam sambil berbagi cerita, akan terasa lebih santai.
Andini segera mengambil dua sarung pantai satu untuk Vanya, satu lagi untuk dirinya.
Vanya dan Andini segera menuju kolam pribadinya yang harus melintasi kamar Andini dan Arsena.
"Ndin, ini kamar kamu sama Arsen?" Vanya begitu mengagumi setiap interior di kamar yang dilihatnya.
"Iyah, kenapa?" Tanya Andini sambil menarik lengan Vanya.
"Keren banget, kamu yang menata sendiri?" Vanya tak menyerah terus bertanya.
"Ada sedikit, tapi kamar Arsen dari dulu memang sudah rapi dan dia paling cerewet kalau ada yang berantakan, walau sedikit saja."
"Tapi kalau ranjang yang berantakan nggak masalah Kan." Vanya mengedipkan mata.
"Ih Vanya. Udah gedhe ya sekarang. Ngerti aja kalau ranjang pasti berantakan." Andini menyenggol lengan Vanya. Menggodanya.
"Mau tau nggak kamar aku pertama kali tinggal di rumah ini?"
"Boleh, emang kamu tidur suka pindah-pindah?"
__ADS_1
"Enggak, ini menurutku sebuah kenangan sih Van, dulu aku pernah tidur di kamar ini." Andini membukakan kamar yang dulu usang, tapi sekarang dijadikan tempat untuk sembahyang.
"Pertama kali Arsena nyuruh aku tidur disini, dan kamu tau nggak, ini dulu bekas kamar asisten juga."
"Tega tu Arsen, ya. Masa kamar sempit gini buat istrinya. Kayaknya ingat gimana dia perlakukan kamu dulu, pantas dapat hukuman dia, Ndin." Vanya terlihat dongkol.
"Sudah lupa pasti dia Van." Andini mengulum senyumnya.
"Tapi bangga pastinya, dapat hati pria tercinta, iya kan? Sebenarnya kamu cinta Arsena atau Miko sih untuk pertama kali?"
"Emang penting ya?"
"Iya lah, aku juga pengen tau." Vanya mendesak.
"Nggak usah Van, kamu nggak perlu tahu." Andini menolak memberi tahu.
Mereka berdua kini menceburkan diri dan berendam. Andini bisa menemukan teman curhat yang tepat hanya dengan Vanya. Sama halnya dengan dokter muda itu, Andini adalah sahabat terbaiknya.
"Ayo Ndin, cerita. Siapa cowok yang pertama kali kamu suka?"
"Suamiku lah, Van." kata Andini sambil memainkan air.
"Nggak percaya? Kalau menurutku sih, pengendara sepeda besar itu."
"Van jangan mulai deh itu masalalu."
"Miko Atmaja, cinta pertama Andini, benar kan tebakanku!"
"Vanya, jangan bicara macam-macam, rumah ini banyak CCTV, kasian kalau Arsena tau kita masih bahas soal mantan."
"Iyaya maaf, tapi aku cuma pengen tahu, siapa pria pertama yang kamu sukai. Kita nggak ngomongin yang lain kok."
"Sama aja, Vanya. Bandel." Andini melempar air ke wajah Vanya. Vanya menangkis dengan tangannya sambil memejamkan matanya.
Lama berendam di air tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua sore. Arsena sudah pulang, kali ini dia sendiri tanpa ditemani Davit.
"Bi, Dimana, Nona?" tanya Arsena pada Bibi.
"Ada di kolam, Tuan." Kata Bibi yang sibuk membuat jus untuk Vanya dan Andini.
Arsena segera nyelonong ke arah kolam, dia tak sabar ingin menemui istri yang sangat dirindukan sejak masih di kantor.
Bibi membuntuti Arsena dari belakang sambil membawa jus buatannya.
"Bi tau aja aku mau pulang, pasti yang satu ini untukku ya?"
"Arsena segera meraih gelas bertangkai dari atas nampan dan mengambil beberapa buah potong."
"Yah Tuan, itu minumnya Dokter Vanya sama Nona Andini."
"Ya, gimana udah terlanjur, ya udah bilang aja sama Andini kalau yang tinggal setengah itu miliknya, karena habis diminum sama suaminya."
"Gitu ya Tuan." bibi menurut saja.
"Iya." Arsena masa bodoh lalu pergi lagi.
Arsena terlihat kesal, baru saja ingin menghampiri sang istri, memeluknya, memanjakannya, malah ada Dokter Vanya.
Arsena akhirnya melepas dasi dan jas sendiri tanpa bantuan Andini. Lalu mandi, setelah itu turun ke bawah menuju Gazebo. Tubuh sudah segar, menikmati udara yang segar sambil membuka laptopnya. Kembali berselancar di dunia seputar pekerjaan yang mulai ia kerjakan sepenuh hati lagi.
Arsena memberi waktu pada Andini untuk menikmati kebersamaannya dengan Vanya. Tapi lama lama Arsena jadi bete. Vanya tak juga pulang setelah dua jam dia asyik sendiri.
'Ngapain aja sih mereka berdua, nggak tau apa aku sudah kangen sama kamu, Ndin.'
Arsena mendesah kesal, ingin rasanya dia bilang langsung ke Vanya kalau dia sedang butuh waktu berdua dengan istrinya. Tapi rasanya hal itu pasti akan memancing kemarahan Andini. Kalau sudah marah, bukan sikapnya yang manis yang dia dapatkan, malah sebaliknya.
****
__ADS_1
Tak lama sebuah mobil hitam legam masuk halaman mansion.
Arsena tau siapa yang datang. Penjaga gerbang segera membuka setelah Arsena mengangguk. Anggukan kepala Arsena adalah sebuah izin.
"Ken, untung kau segera datang."
"Iya, aku ingin menjemput istriku, dia bilang tadi mau datang kesini."
"Ya, syukurlah kamu datang cepat." ujar Arsena.
"Maaf, dia pasti sangat mengganggu hari bahagia Anda."
"Ya, itu kamu lebih cerdas, rupanya dua kali masuk sel membuat kamu lebih pintar." ledek Arsena.
"Ya, Mungkin memang benar. Maaf jika aku pernah bodoh." Ken beberapa kali menghindari tatapan mata Arsena.
"Ken, kamu sudah kerja?"
"Belum Tuan, jadi mantan napi dan pembunuh, aku susah cari kerjaan." ungkap Ken jujur.
"Gimana kalau kerja lagi denganku, istri kerja masa suami nganggur, apa kata dunia." Arsena meledek Ken sambil tertawa.
"Tidak Tuan, aku tak pantas menerima kepercayaan lagi."
"Tapi kau harus bekerja, aku nggak mau ada pria yang tergantung dengan wanita, itu akan sangat memalukan untuk kaum pria." Arsena memajukan tubuhnya hingga menempel di meja, berharap Ken akan tertusuk hatinya dengan ucapannya. Sedangkan Ken nampak menundukkan wajahnya.
"Ken, kamu kok jadi pemalu gini di depanku. Mana Ken yang kuat dan kekar seperti dulu." Arsena menelisik tampilan Ken.
"Maaf, didepan Anda aku tetap Ken yang tak tau malu, Ken yang pengkhianat, Tuan Johan pasti tak akan memaafkan kesalahanku lagi."
"Papa sudah memaafkan kamu, aku yang belum, tapi jika kamu menerima tawaranku hari ini, aku akan mempertimbangkan."
"Tuan." Ken beranikan diri menatap anak majikannya.
"Iya, jika kamu bersedia menjadi Ken yang selalu bersamaku, aku akan maafkan kamu. Sepertinya kerja sama ini tak terlalu membuatmu susah."
Ken terlihat mengangguk berulang kali. "Baiklah,Tuan. Aku akan kerja menjadi Bodiguard anda lagi, tapi terlalu lama di Sel, tubuhku jadi tak menakutkan lagi sepwrti dulu." Ken tertawa.
"Siapa bilang, kau tetap gagah," puji Arsena.
"Terimakasih. Ken menganggukkan kepala. "Oh iya aku sedang ingin menjemput istriku." Ken teringat tujuan utamanya.
"Dia masih berendam di kolam bersama istriku."
"Biar aku hubungi dia." Ken meraih ponselnya.
"Jangan, aku ada rencana." Arsena mencegah Ken lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Ide bagus, Tuan," Ken langsung setuju.
Arsena dan Ken sama-sama berjalan menuju kolam. Arsena memanggil Andini tanpa membuka pintu lebih dulu. Suara Arsena bisa sudah bisa di dengar oleh Andini.
Andini segera memakai bathrobe dan memenuhi panggilan suaminya.
"Sayang kita pindah ke kolam sebelah ya?"
"Kenapa? Masa aku tinggalin Vanya. Jarang lho Ars, aku sama Vanya bisa ketemu pas santai begini." Andini awalnya menolak.
"Ada Ken, biarkan Vanya di kolam yang sama dengan Ken, aku sama kamu di kolam yang satunya" Arsena tersenyum nakal.
Andini mengangguk setuju. Rencana Arsena kali ini walau konyol tapi ada benarnya juga. Kalau mandi sama pasangan masing masing pasti akan lebih romantis.
"Setuju." Andini membalas senyum suaminya. Memberi izin Ken untuk masuk ke kolam yang sama dengan Vanya.
*Happy reading.
__ADS_1