
Arsena naik taxi menuju cave XX. Cave yang akan menjadi pertemuan dengan Lili.
Arsena ingin mempertegas hubungan mereka pada mantan kekasihnya, kalau diantaranya sudah tak ada hubungan lagi, semua sudah berakhir.
Lili lebih dulu sudah sampai di cave XX. Ia sangat cantik dan anggun, bisa dibilang hari ini adalah penampilannya yang paling di memesona. Aroma tubuhnya begitu wangi, hingga siapapun yang dilewati, spontan menoleh kearahnya dengan sejuta kekaguman
.
Taksi yang ditumpangi Arsena sudah tiba, pria itu segera turun, setelah memberikan uang selembar warna merah pada sopir taxi.
Arsena memutuskan untuk naik taxi karena jarak kontrakan Andini dengan cave XX tak begitu jauh. Doni juga sudah terlanjur pulang ke rumah.
Arsena segera masuk, para pelayan cave XX sudah tau kalau Arsena akan segera menuju ruang VVIP. Karena sebelumnya Arsena dan Lili sudah sering datang ke cave itu.
Selain makanannya yang diolah oleh koki handal. Tempatnya juga berkelas. Kaum pejabat dan pengusaha sering kali mengadakan pertemuan penting di cave ini.
Begitu handle pintu kaca itu terbuka. Lili dengan penuh percaya diri, menyambut kedatangan Arsena dengan senyuman hangat. Ia memakai baju mini dengan warna merah terang, senada dengan warna bibirnya.
Arsena menatap wanita itu dengan tatapan jijik, Arsena sangat membenci Lili setelah kebohongannya selama ini, ia tidak jujur kalau sudah pernah berpacaran dengan Miko. Jika tau semua sejak awal Arsena tentu tak sudi menjalin hubungan dengan Lili. Arsena pantang mengambil mantan adiknya. Apalagi alasan Lili selama ini mendekatinya hanya demi tahta semata.
"Katakan, apa lagi yang kau inginkan, setelah kebohongan yang kau simpan selama ini?" Arsena berbicara tanpa memandang Lili sedikitpun. Ia lebih memilih menatap ke arah lain, dimana ada akuarium dengan ikan hias di sudut ruangan.
"Yang kuinginkan? Kau sudah tahu sayang. Aku tak mau hubungan kita berakhir. Only you I love."
Lili mendekati tubuh Arsena, menarik wajahnya yang sejak tadi berpaling. Tangan lili menyentuh lembut pipi Arsena. Sentuhannya turun ke leher dan dada. Tangan Lili menggelitik tubuh Arsena bagian depan.
Arsena benci sentuhan menggoda dari Lili. dulu ia sangat menyukainya, tapi tidak untuk sekarang.
"Sayang, aku mau kita kembali seperti dulu. Aku tak ingin hubungan yang sudah lama kita jalin ini akan berakhir tak tersisa. Aku ingin kamu, aku hanya ingin aku yang menjadi istrimu, Liliana. Bukan gadis kampung itu.
Katakan sayang, kau tak mencintai dia. Kau hanya main main dengan dia kan? Kau pasti hanya mencintai aku." Arsena menepis tangan nakal Lili. Namun Lili tak patah Arang. Ia kini melingkarkan lengannya di pinggang Arsena dengan kuat-kuat.
"Minggir." Arsena mendorong tubuh Lili hingga gadis itu kehilangan keseimbangan, ia terpelanting hingga terduduk diatas meja. "Kau tau bahkan kau sekarang tak berhak menyentuhku walau seujung kuku!" Suara Arsena meninggi.
"Sayang, apa yang kau katakan? Jangan bilang kau percaya rekaman bohong itu. Kau tau? Siapapun mereka yang telah menjatuhkan aku pasti tak ingin kita bersatu." Lili belum jera ia kembali memeluk Arsena. Pelukannya kali ini lebih erat.
Arsena memberi kesempatan Lili berbicara.
"Sayang ...? Apapun yang terjadi kita harus bersama." lili mendongakkan kepalanya tatapannya memelas, mengiba, ia menunjukkan sisi rapuhnya yang selama ini tak pernah Arsena lihat. Lili menggunakan kesempatan ini untuk mendorong tubuh Arsena hingga ia duduk di kursi.
Lili segera duduk di pangkuan Arsena, menggapai tengkuk Arsena. Menariknya kebawah hingga Arsena sedikit membungkuk. Lili mencium bibir Arsena dengan agresif.
Arsena dulu sangat suka Lili agresif, tapi sekarang? Arsena jijik. walaupun hanya sekedar berbagi udara di ruang yang sama dengan Lili arsena tak bersedia.
"Apa yang kau lakukan, tingkahku mirip sekali dengan jal*ng." Umpat Arsena yang mulai geram. Mendorong tubuh Lili yang nyaman dipangkuannya.
Ia mengambil tisu kering yang ada di meja, segera membersihkan bekas kecupan Lili di bibirnya. Lalu membuang sebarang.
Lili yang melihat sikap Arsena mendadak kasar dengannya, tak mau disentuh olehnya, ia mulai frustasi. Lili mulai kehabisan akal cara apalagi yang bisa meluluhkan hati lelaki di depannya.
Lili mencoba memohon pada Arsena mengeluarkan air mata palsu. Namun bukan simpati yang didapatkan. Justru amarah yang meledak yang ia dapatkan.
__ADS_1
"Cukup Lili, jangan membual lagi, kamu tau setiap kata yang keluar dari bibir merahmu ini. Aku muak mendengarnya." Kalau bukan seorang wanita mungkin Arsena sudah memukulnya. Arsena mendorong lagi tubuh Lili yang masih mencoba mendekat, ia kehilangan keseimbangan membuatnya terjatuh ke lantai.
Arsena mengejar Lili yang duduk di lantai dengan frustasi. Mencekik lehernya. "Dengarkan aku. Mulai sekarang kau tak berarti apa-apa dimataku. kau dan aku,kita putus. Tak ada yang tersisa diantara kita."
"Lepaskan Ars." Lili terbatuk karena cengkeraman Arsena terlalu kuat di lehernya.
"Kau bi-bi-sa membunuhku Ars. Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan menyerah. Aku akan mengalah.
Aku akan mengalah untuk menang Ars, kamu hanya milikku. jika aku tak bisa memilikimu, dia juga tak akan bisa memilikimu.
Setidaknya kita bisa makan malam. Untuk kenangan terakhir diantara kita." Mohon Lili dengan derai air mata di pipinya.
"Aku ingin kita duduk di kursi itu sebentar. Kumohon jangan menolaknya Ars."
Arsena sama sekali tak ingin makan atau yang lainnya. Ia sudah berjanji dengan Andini, akan kembali satu jam lagi. Arsena melihat jam yang melingkar di lengannya. Masih ada waktu 30 menit lagi.
"Baiklah, kau sudah janji ini yang terakhir. Arsena bangkit dari duduknya menuju kursi kecil. Lili sangat senang Arsena mau menuruti keinginannya.
Tak lama seorang waiters datang, membawakan dua mangkuk menu termahal di tempat itu, dan dua gelas minuman sari buah alami.
Lili mulai menikmati makanannya. Arsena hanya duduk tanpa menyentuh apapun.
"Sayang, ayolah dimakan."
"Aku tak lapar."
"Sayang, ayolah, sedikit saja."
Lili menahan tangan Arsena. "Baiklah temani aku saja."
Arsena membuang nafasnya kasar, kalau bukan yang terakhir kalinya, pria itu takkan sudi menurut seperti ini.
Lili masih saja berusaha bersikap tenang, walaupun hatinya sedang tak karuan. ia meneguk minuman segar pesanannya demi mengurangi kegugupannya.
Arsena yang sejak tadi menahan amarah kerongkongannya menjadi kering. Ia mencecap minuman di depannya sedikit.
Satu teguk saja sudah cukup untuk membasahi tenggorokan. Tiba-tiba mata Arsena berkunang- kunang, arsena bingung dengan keadaannya sekarang. Tubuhnya terasa panas.
Arsena merasakan perubahan di tubuhnya yang mendadak, ia segera mengirim pesan pada Doni agar segera datang menjemputnya.
Semakin lama reaksi obat dalam minuman semakin kuat mempengaruhi tubuh Arsena. Tubuhnya semakin panas, ada semacam hasrat yang tak bisa di bendung lagi.
Lili yang mengetahui obat itu sudah bereaksi di tubuhnya. Bibirnya tersenyum lebar. Kemenangan sudah menari-nari di otaknya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Tubuhku tiba-tiba sangat panas," kata Arsena yang mulai tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Baiklah, kita akan pulang sekarang." Lili memapah tubuh Arsena yang sempoyongan menuju mobil.
"Lepaskan aku, aku bisa sendiri."
__ADS_1
"Tidak Ars, aku akan membantumu." Lili pura pura tak tau apa-apa.
"Kepalaku pusing sekali." Arsena mengerjabkan matanya, dan menggelengkan kepala, guna mengusir pening di kepalanya.
Lili sudah berhasil membawa Arsena sampai di mobil.
Lili menutup kaca tembus pandang. Ia sudah tak sabar akan menjalankan rencana selanjutnya.
Arsena yang sudah merasakan obat peran*sang itu mulai bekerja di tubuhnya ia merasakan panas yang luar biasa.
Lili menurunkan lengannya dan membuka dua kancing bajunya. Separuh dari dadanya sudah terekspose menantang. Ia tak ingin setengah dalam menjalankan misinya.
"Andaikan kamu tak menolakku mungkin aku tak akan melakukan ini sayang, setelah ini kamu tak akan pernah lagi kembali pada Andini mu lagi, yang kau bilang istri itu. Wanita kampung!" Lili berbicara dalam hati, hatinya tertawa penuh kemenangan.
Penglihatan Arsena mulai tak normal, ia terkadang melikat Lili sebagai Andini, dan berubah menjadi Lili lagi. Arsena meremas rambutnya frustasi.
"Sayang, kita ke apartemenku sekarang. Kita habiskan hari ini hanya untuk bersenang-senang dan kau akan jadi milikku"
"Lili mulai menjalankan mobilnya menuju apartement tempat tinggalnya.
Lili kembali menggandeng tubuh Arsena keluar mobil, tubuh Arsena yang lebih besar membuat dia sempoyongan.
Arsena hanya merasakan panas ditubuhnya, tak ada keinginan lain, hanya segera ingin menuntaskan hasratnya saja."
Arsena yang mengenali tempat itu, akalnya menolak masuk, tapi dorongan yang lainnya begitu kuat.
"Tunggu Nona." Seseorang dari belakang menghentikan langkah Lili yang baru menginjakkan kakinya di lift.
"Kau lagi, pergi kau." Lili kesal melihat asisten itu datang. Orang yang bisa merusak rencananya.
"Saya akan pergi, tapi serahkan Tuan Arsena dulu." Kata Doni lagi berjalan mendekati mereka berdua.
"Apa? Tidakkah kau lihat dia hanya ingin bersamaku saat ini." Kata Lili mempertahankan Arsena.
"Tidak mungkin Nona, Tuanku baru saja bilang Kalau dia ingin di jemput. Jika saya tak membawanya. Saya akan terkena murka nanti."
"Dasar, pelayan sialan. Apa kau tak bisa pergi saja dari sini."
"Nona, saya akan melaporkan anda pada polisi, karena sudah menggunakan obat berbahaya pada tuan saya."
Doni segera mengambil alih tubuh Arsena. "Tuan ayo kita pulang."
Doni kini menggandeng tubuh Arsena menuju mobil.
Lili yang melihat Doni membawa Arsena, setelah sejak tadi kekeuh mempertahankan kini ia marah tak jelas. Lili melempar highellnya ke punggung Doni. Namun pria yang memiliki kekuatan fisik lebih kuat dari tuannya sama sejati tak mengaduh kesakitan. Ia hanya tersenyum mengejek. "Nona jika anda menginginkan kepuasan, saya akan datang jika anda bersedia dengan saya. Anda salah jika menginginkan tuan saya, karena dia sudah beristri."
"Doni, antar aku kepada Andini, tubuhku sangat panas, aku tak tahan lagi." Kata Arsena yang merasakan pusing dan panas luar biasa di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Baik, aku akan mengantarkan anda kembali ke kontrakan." Doni segera membawa Arsena ke kontrakan Andini. Doni sudah bisa menebak setelah ini apa yang akan terjadi. Tubuh tuannya begitu panas dan diselimuti gairah yang menggebu.