
Nenek dan Davit sudah tiba di hotel Java Paragon. Untuk sementara nenek akan tinggal disana dan dirinya sambil mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan.
"Vit, tinggi banget hotelnya. Nenek kalau tinggal dilantai atas bisa capek naik turunnya, nenek juga takut nenek mau tinggal di penginapan sederhana saja Vit." Baru tiba di halaman nenek sudah membayangkan macam-macam.
Nenek tenang saja, Davit akan menemani Nenek, lagian cuma beberapa hari saja, setelah pernikahan selesai nenek akan tinggal dengan Davit nanti. Sisa uang penjualan sawah nanti kita akan buat beli rumah di kota, walau perumahan sederhana.
" Baiklah, nenek setuju tinggal di sini, tapi kamu jangan lama-lama perginya."
"Davit kan juga harus kerja, Nek. Pulangnya ya sore. Nanti akan ada orang yang akan antar makan buat nenek dan ambil baju nenek yang kotor. Semuanya kebutuhan nenek bilang pada pelayan yang datang. Sementara waktu dia akan menjaga Nenek saat Davit nggak ada.
" Kamu pasti bayar dia, kan jadi boros uangnya nggak jadi buat nikah kamu nanti." Nenek mengusap rambut Davit. Sudah menjadi kebiasaan nenek suka sekali melakukan hal itu.
" Masih banyak Nek, kan tanahnya dibeli dua kali lipat." Davit tersenyum bahagia. Begitu juga nenek.
"Orang yang beli itu aneh banget, harusnya dijual seratus lima puluh juta ya ditawar, ini malah dibeli dua kali lipat."
" Mungkin dia dikirim tuhan untuk menolong Davit kali Nek. Ya sudah, Nenek baik-baik di kamar ini, jangan kemana mana, Davit jemput calon Bini dulu." ujar Davit.
" Vit, kamu akan ajak dia mampir kesini?"
" Iya, akan aku kenalin sama Nenek. Mau nggak ketemu calon cucu?" Tanya Davit pada Nenek.
"Mau donk, kamu kok aneh gitu kalau bertanya." nenek mencebikkan bibir tuanya.
Davit yang seharian berkutat dijalanan, dia melepas jaketnya lalu keluar hanya memakai hem. Dia juga menanggalkan seragam sopirnya di mobil sejak pagi tadi.
Setelah melihat nenek asyik menikmati tayangan sinetron kesukaannya sambil tiduran di sofa, Davit segera pergi, kembali mengarungi jalanan padat kendaraan. Mengemudikan mobilnya menuju kampus menjemput tambatan hati.
Sampai di kampus, Davit melihat gerbang kampus sudah tertutup rapat dan sepi, hanya ada sekurity saja, diapun sudah terlihat berkemas-kemas mengunci pintu gerbang.
"Pak, apa semua mahasiswa sudah pulang?"
"Iya, sudah sejak satu jam yang lalu, Sopirnya Arini ya? Dia sudah pulang dengan Nathan, kalau Bapak nggak salah lihat tadi." Security kampus memang hafal dengan Arini. Gadis berkulit bersih dan supel itu hampir dikenal oleh seluruh penghuni kampus.
"Oh sudang pulang ya?"Davit terlihat bingung. Tumben Arini pulang tidak memberi kabar terlebih dahulu.
David segera merogoh ponselnya di saku. Mencari nomor kontak yang bernama gadis kecilku. Lima detik kemudian Arini mengangkat ponselnya.
"Halo." Suara di seberang sana terdengar malas.
" Sayang, di mana kamu sekarang! Kok pulang enggak kasih kabar."
" Aku sudah sampai di rumah," jawab Arini ketus.
__ADS_1
" Ada apa sebenarnya? Sejak tadi pagi kamu kok berubah bilang aja kalau aku salah. Biar aku bisa memperbaikinya."
"Harusnya yang lebih tahu itu Kak Davit," ujar Arini dengan suara serak, Davit yakin kalau gadisnya sedang menagis.
"Katakan Nona! Aku salah apa? Aku terlambat jemput? Okey aku minta maaf, itu karena aku sedang jemput ...." Davit menggantung kata katanya. Soal kedatangan Nenek, dia sengaja ingin memberi kejutan.
Davit segera masuk ke mobil, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion. Panggilan pada Arini masih terus berlangsung. Arini tetap saja bungkam tak mau terus terang dan Davit makin tak mengerti.
_____
Arini masih meringkuk di kamarnya. Kata-kata Nathan pagi tadi terus berputar di kepalanya.
Bagi Arini dalam sehari saja pria kesayangaannya sudah melakukan dua kesalahan. Dia takut kehilangan Davit. Dan takut yang diucapkan Nathan memanglah benar.
"Nona, masih mendengar suaraku?" tanya Davit ketika tak ada suara yang terdengar
"Iya, aku sedang ingin sendiri, tolong jangan ganggu aku dulu, Kak."
'Ya Tuhan, kenapa ketika jalan sudah terbuka dia malah seperti ini. Apa nona baru sadar kalau aku memang tak pantas untuknya.'
Mobil memasuki Area Mansion. Mansion terlihat sedang sepi, para pria belum pulang dari kantor. Hanya ada Papa Johan yang sedang bercanda di gazebo dengan istri mudanya dan Mang Karman sedang memotong rumput di samping rumah.
"Davit kok baru pulang? Arini tadi diantar Nathan. Kamu kemana?" Mama Mita yang melihat Davit turun dari mobil segera bertanya.
"Iya, Tante. Tadi Davit ada keperluan penting, nggak tau kalau ternyata Nona pulang cepet." Jawab Davit dengan santun.
"Iya Pap." ujar Davit, dia masih sedikit nervous berbicara dengan calon mertuanya yang wajahnya galak tapi hatinya baik banget itu.
" Tapi Pah, aku lihat tadi Arini ngambek Lho." Mita mengingatkan.
" Ya jelas ngambek Mam, dia kan maunya Davit yang antarin pulang." Johan membela Davit. " Kamu mending mandi dulu, Vit. Habis itu ajak Arini jalan jalan." ujar Johan
"Iya Pap." Davit benar benar pergi menuju rumah kecil yang menjadi tempat tinggalnya.
Arini mengintip Davit dari jendela. Arini makin kesal melihat Davit yang tak langsung menghampirinya. Biasanya saat ngambek Davit pasti akan merayunya hingga hatinya luluh.
Tring !
Davit mengirim satu pesan buat Arini.
'Papa ingin kita jalan-jalan.'
'papa yang nyuruh kan? Jalan jalan saja sama papa, aku lagi malas.'
__ADS_1
Arini tak sabar mendengar jawaban dari Davit.
'Ya udah, kalau memang lagi capek istirahat aja.'
"Huh, kak Davit nyebelin. Nggak romantis banget. Harusnya kalau kekasih ngambek itu dibujuk dikit kek," gerutu Arini yang makin kesal sama sikap Davit. Arini memutuskan tak membalas pesan dari Davit.
Lama menunggu balasan, Davit kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas, dia melepas hemnya yang basah oleh keringat.
Mengusap wajahnya yang sedang resah. Duduk sebentar disisi ranjang sambil melamun sikap Arini yang mendadak berubah padanya membuat batinnya sedikit terguncang..
Davit kembali ingat nenek yang sedang sendiri di hotel. Dia tak akan meninggalkan nenek yang belum pernah menginjak bumi kota itu sendirian.
Arini yang diliputi perasaan cemburu yang tak beralasan.Ia meraung sambil memeluk boneka beruang raksasa.
Mama yang kebetulan lewat kamar Arini, mendengarkan putrinya sedang menangis. Mama tertarik ingin tahu apa penyebabnya.
Rupanya Arini sedang tidur diatas ranjang membelakangi arah pintu masuk.
"Hei ! Putri Mama yang cantik kenapa menangis." Mama berjalan menghampiri.
Arini segera bangkit dan memeluk Mama yang duduk di sisi ranjang. " Mama hiks hiks."
Mama Rena mengelus rambut wangi Arini dan menciumnya. " Kenapa Sayang, cerita sama Mama. Siapa tahu Mama bisa kasih solusinya."
" Mama, Kak Davit sekarang berubah, dia tidak jujur sama Arini lagi, Kata Nathan kalau pria yang sudah tak mau jujur, dia punya wanita lain."
"Masa sih?" Kening Mama mengkerut. Bibirnya tersenyum. Tak yakin kalau Davit melakukan perbuatan seberani itu, tentu dia masih sayang sama nyawanya, jika Arsena tahu dia sedang mempermainkan perasaan adiknya.
" Iya Ma, Nathan bilang begitu tadi pagi." Arini masih terisak di pelukan Mama.
"Emang ada buktinya?" Tanya Mama menyelidiki.
Arini menggeleng cepat. " Arini belum punya."
Mama tertawa makin keras. " Arini, Mama heran sama kamu ya, itu artinya kamu yang kecintaan sama Davit. Kamu nggak ingin jauh dari dia, kamu itu sedang cemburu buta. Sadar nggak!"
"Bisa bisanya kamu sayang sama Davit sampai segitunya, ya udah Davit bilang sama mama katanya mau keluar, kalau mau ikut cepat ganti baju, sebelum dia benar benar pergi dari kamu yang mirip bayi ini."
" Mama gitu amat sama Arini, nggak dibelain, malah dimarahin," sungut Arini sambil mengusap lelehan airmata di pipinya.
" Mama nggak bisa belain, kalo kamunya salah. Davit tadi izin Mama ingin ngajakin kamu jalan jalan, kalau setuju, buruan mandi, dandan yang cantik, tapi kalau nggak. nangis aja sampai pagi." Mama pun pergi meninggalkan Arini yang sedang merajuk.
" Mama! " Arini berteriak. sekarang bukan kesal sama Davit saja tapi sama mama juga. "Semua nyebeliiiin!"
__ADS_1
Saat kamar kembali sepi, Arini meraih ponselnya, berharap ada pesan dari Davit yang memaksa mengajak jalan-jalan atau yang lainnya. Nyatanya tidak ada.
*happy reading.