Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 280. Cinta Ken terbalas.


__ADS_3

Usai pembacaan do'a untuk Lili, Ken tetap duduk disebelah Arsena. Meski saling diam, wajah Arsen tak sedingin dulu. 


"Tuan aku berterima kasih pada Anda karena sudah membebaskan aku tanpa syarat apapun."


"Bukan aku, terus terang aku tak memiliki angan-angan untuk membebaskan dirimu sedikitpun. Aku hanya ingin membuat istriku yang sedang mengandung anakku bahagia." Arsena berkata terus terang. 


Ken mendengarkan dengan hati dan pikiran tenang. Menganggukkan kepalanya tanda mengerti. 


"Terima kasih," ucap Ken dengan bibir tersenyum. "Penghianat seperti saya memang harusnya tak akan pernah mendapat maaf."


"Berhenti membicarakan masalah itu, kekasihmu baru saja meninggal doakan dia."


'bukankah dia dulu juga kekasih anda.'


"Andini aku ingin berbicara sesuatu, bisakah kita duduk di gazebo sebentar." Mohon Vanya pada Andini.


Andini mengangguk setuju. Pembacaan do'a juga sudah selesai. Tamu dan anggota jamaah tahlil sudah pulang satu jam yang lalu.sore sudah berganti dengan malam. 


Andini dan Vanya duduk di gazebo, saat Arsena akan menyusul Andini memberi kode dengan tangannya supaya menunggu di dalam saja bersama Miko dan Ken.


"Ndin selama ini kamu pasti lebih mengenal Ken, karena dia bekerja pada keluarga ini."


"Nggak terlalu juga, tau sendiri kan, gimana pencemburunya Arsena jika aku berbicara pada pria lain." Andini menatap wajah sahabatnya yang terlihat ragu ragu dalam mengambil keputusan. 


Andini menggenggam jemari Vanya. Senyum mengembang di bibirnya. Berharap Vanya akan bisa mengambil keputusan terbaik.


"Setahuku dia pria yang setia, aku bisa melihat itu di mata Ken. Dia akan menjaga wanita yang dicintainya, dan berani mengambil apapun resiko yang akan dia hadapi."


"Tapi itu pada mendiang Lili, bukan pada aku."


"Van, kau cemburu pada orang yang sudah berpulang?" Andini kali bertanya pada Vanya. 


"Bukan begitu Ndin, aku hanya nggak mau Ken mencintaiku karena demi Rara, semata mata karena Rara butuh ibu." Ujar Vanya sambil mengaduk aduk teh hangat di depannya. 


"Entahlah, kamu yang menjalankan, kamu yang merasakan, gimana perhatiannya kepada dirimu, kau sendiri yang tahu, Van. Tapi yang jelas Ken bukan tukang selingkuh seperti Vano."


"Vano, kau menyebut pria itu lagi Ndin."


"Ya, supaya kamu ingat kelakuan Vano yang selingkuh dengan Namira, dan bisa melihat Ken yang berusaha berubah demi kamu. Asal kau tahu Ken adalah Bodiguard Arsen yang tangguh, dia tidak pernah melakukan kesalahan dan hanya sekali itu dan sangat fatal, artinya jika Ken sudah jatuh cinta dia akan menjadi pelindung untuk wanitanya."


"Berarti kamu setuju aku dinikahi oleh Ken." 


"Sejak awal aku sudah setuju."


Vanya memegang jemari Andini dan menggenggamnya, kini dia semakin yakin kalau Ken adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuknya. "Ken kemaren melamarku."


"Serius?" Andini terkejut.


"Iya." Pipi Vanya merona dia terlihat malu malu.


"Lalu kamu jawab apa?" Andini mendesak Vanya karena penasaran. 


"Belum, aku bilang aku butuh mempertimbangkan semuanya. Dan aku bertanya pada dirimu. Sebagai sahabat aku membutuhkan saran dan pendapatnya. Dan nyatanya sahabatku ternyata berada di pihak Ken." ujar Vanya panjang lebar. 


"Itu kau sudah tau. Heeei Ken!" Andini melambaikan tangan pada Ken yang baru berjalan menghampiri dirinya. 


"Nona, anda sedang membicarakan aku?"


"Jangan GR, kami sedang membicarakan pekerjaan." Vanya berbohong. 

__ADS_1


"Oh, seserius ini. Tapi kenapa aku tak percaya?" 


"Sudah katakan saja apa yang kau inginkan hingga kemari, kenapa mengganggu kami berdua?"


Ken menggaruk tengkuknya yang mulai terasa gatal, bingung dengan tujuannya menghampiri wanita yang membuat hatinya beberapa hari tak tenang itu.


"Em Van, apa mau pulang sekarang atau menginap? Soalnya sebentar lagi sudah tengah malam?" Ken mulai melihat Arloji yang ada di pergelangan tangannya.


"Sweeet, ada yang khawatir nie." Andini menggoda. 


"Iya soalnya besok pagi sekali harus kerja, ia kan Van."


"Nggak usah perhatiin aku seperti anak kecil gitu. Aku sudah sepuluh tahun sendiri bersama bibi, dan aku masih sehat," kata Vanya sombong. 


"Sehat? Mag sering kambuh dibilang sehat?" 


"Itu Ken aja tahu. Kalau Vanya punya penyakit mag. Kalian sudah sedekat itu rupanya."


"Andini dia bercanda, pasti cuma nebak aja, cuma kebetulan aja tebakannya bener."


"Iya iya, tapi sayangnya aku nggak percaya, udah pulang sana, kasian Ken, nanti kemalaman pulang ke apartemennya. Masih Antarin kamu juga kan."


"Iya iya bawel." Vanya berdiri hendak meninggalkan Andini. Andini tiba tiba berteriak lagi.


"Tunggu!! Kalian sudah saling suka kan? Nikah aja secepatnya." Andini tertawa. 


Vanya mengerucutkan bibirnya sambil membenarkan tas slempang yang setia melingkar di pundaknya. 


"Nona, makasi dukungannya."


"Tenang aja Ken, tanpa dukungan dariku, dia juga sudah sayang kok sama kamu, cuma perlu pendekatan yang lebih intens aja."


"Semangat Ken." Andini ikut menunjukkan jempolnya, ikut bahagia. 


Ken dan Vanya kembali masuk ke ruang tamu untuk pamit dengan Arsen, Miko dan Dara. 


"Tuan, aku pulang dulu, kalau nggak ada halangan besok aku akan kesini lagi." Kata Ken sambil mengulurkan tangan. Arsena menjabat tangan Ken yang menggantung lama di depannya. 


"Ya!" Jawab Arsen singkat setelah tangan yang bertautan terlepas. 


"Buru buru aja, Bro?" Miko disebelah Arsena mencoba mencairkan ketegangan antara Ken dan Arsena. Miko memeluk Ken sangat erat.


"Maklumlah Kak, calon pengantin baru, dia buru buru mau pulang, jaga kesehatan. Apalagi calon istri seorang Dokter. Kok pas banget ya, sang Bodiguard dan Bu Dokter."


Dara menggoda Ken dan Vanya. Lagi lagi Vanya hanya bisa menunduk malu. Sedangkan Ken nampak bahagia. 


"Tuan Miko, istri anda sangat cerdas," ujar Ken memuji Dara. 


"Ya istriku mang suka bercanda."


____


Ken dan Vanya keluar dari mansion sekitar pukul sebelas malam, setelah keluar dari mansion sepertinya hati Vanya lebih blong. 


Dia mendapatkan restu dari sahabatnya juga. Walau Andini mengatakan dengan bahasa yang klise, tapi Vanya yakin Andini seratus persen mendukung hubungan mereka. 


Ken dan Vanya sudah dalam perjalanan pulang. Sesaat mereka saling diam, Ken akhirnya membuka percakapan.


"Gimana?"

__ADS_1


"Apanya?"


" Kata Nona Andini? Tadi dia bilang sesuatu pastinya."


"Nggak bahas soal Anda kok." 


"Yang bener? Tapi wajahmu merah."


Vanya memalingkan wajahnya menahan malu. "Andini bilang kalau dia mendukung hubungan kita."


"Lalu? Kamu sendiri gimana?" Ken terlihat tak sabar. 


"Aku terima pinanganmu Tuan, asal kau berjanji akan setia." 


" Cuma itu? Yakin?  itu syarat yang terlalu mudah, tidak menghabiskan banyak uang Nona."


"Jangan meremehkan Ken, mudah diucapkan belum tentu akan semudah itu menjalankannya." Vanya terlihat bicara serius. 


Namun Ken justru menahan senyumnya. Vanya kesal dengan kelakuan Ken yang tak serius.


"Bodohnya aku kenapa aku harus memikirkan sebuah kata dari orang yang tak bertanggung jawab." Vanya terlihat ingin menangis.


Melihat wanitanya merajuk, Ken segera menepikan mobilnya. 


"Vanya I Love you. I-Lo-ve Yo-u. Alhamdulilah Aku diterima, Cintaku diterima!"


Ken keluar dari mobil, dia berlari ke tengah jalanan yang sepi, hanya sesekali saja motor dan mobil melintas. 


"Hey … ! Kalian tau aku hari ini sangat bahagia, kenapa aku hari ini bahagia? Aku bahagia karena gadis impianku telah menerima cintaku. Heeeei! berhenti !" Ken saking bahagianya dia ingin membagi bahagianya pada setiap pengendara motor dan mobil lewat. 


Vanya segera ikut turun dia menarik Ken untuk menepi. " Ken, apa yang kamu lakukan? Kamu akan dikira orang gila." Vanya berkata dengan Lirih. 


"Vanya aku tidak gila, aku hanya ingin mereka tahu betapa bahagia hati ini, aku bahagia Van, aku nggak menyangka wanita yang selama ini hanya hadir di mimpiku akan menjadi milikku, aku akan memilikimu." 


"Sudah Ken, kita pulang. Ayo masuk."


"Apa aku boleh mencium bibirmu? Aku bahagia Vanya." Ken masih terus membeo.


"Tidak!"


"Kenapa?"


Tak menjawab kata kata Ken, kini Vanya malah duduk di depan kemudi. Mengambil alih pekerjaan Ken.


"Aku tunggu lima menit, kalau nggak masuk aku tinggal, Ken?"


Ken buru buru masuk, dia membiarkan Vanya mengemudikan mobilnya. Ken terus saja membeo saking bahagianya cinta disambut oleh wanita impiannya. 


Ken tenanglah, kalau kau tak bisa tenang aku akan menurunkan dirimu disini.


"Wooow, yakin bisa Nona? Tubuhmu lebih kecil dariku, sebelum kau turunkan aku, aku yang akan menggendongmu." Ken menempelkan kepalanya di lengan Vanya.


" Mentang mentang yang punya tubuh gedhe." gerutu Vanya.


"Jangan mengganggu Ken, aku sedang mengemudi." ujar Vanya, kesal dengan Ken yang tak bisa mengendalikan dirinya. pria itu terlampau bahagia dapat meraih impiannya untuk membina mahligai bersama Vanya.


********


Happy reading teman teman, maaf Emak updatenya lama. barang kali ada yang mau berteman dengan emak. Add akun Facebook emak dengan Nama Isti Arisandi, atau akun IG dengan nama Isti Arisandi juga. Semangat!!

__ADS_1


 


__ADS_2