
"Sayang sekarang apa yang kamu rasain?" tanya Miko yang duduk di sebelah Dara, yang melihat sang istri makin pucat.
"Sakit Kak, kadang hilang, kadang datang lagi. Makin lama sakitnya makin terasa, Kak?" eluh Dara sambil menggeser tubuhnya pelan, kadang miring kadang terlentang.
Miko dengan telaten membenarkan selimutnya.
"Kak Bagaimana jika aku_"
Miko segera menutup bibir Dara dengan jari telunjuknya. "Sttttt kamu akan baik-baik saja begitu juga anak kita nanti. Enggak boleh ngomong macam-macam. Cukup berdoa aja, yah!"
"Iya, emang kalau Dara pergi Kak Miko sedih banget ya?" Dara berusaha tersenyum.
"Ngomong apa sih? Mungkin aku bakal gila, tau orang gila?" Miko menitikkan airmatanya. mengacak rambut Dara dengan gemas.
Sedangkan Miko melihat airmata Dara lebih deras dari dirinya. Dia terharu dengan ungkapan cinta yang baru saja Miko katakan.
"Aku sangat mencintaimu. Sangat! Aku tau kamu masih tidak percaya dengan ketulusanku, karena kau masih menyangka ada Andini di hati ini? Tidak ada Dara, sekarang hanya ada kamu dan calon anak kita, berdosa jika aku menyiakan orang yang mencintai aku dengan tulus seperti istriku ini."
"Kak Miko, aku percaya Kok. Kak Miko selalu ada disamping aku saja, sudah sangat bahagia. Kalaupun sayang kakak masih ada buat mbak Andini. Dara juga nggak apa, mbak Andini memang pantas, dia baik dan tulus. Tapi kak Miko harus berhadapan dengan Kak Arsen. Dan itu nggak mungkin." Dara bercerita sambil tersenyum.
Miko mengusap air mata Dara yang menetes karena menahan sakit, dengan banyak bicara rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Haha, kamu bisa aja, ngomongin apa sih kita ini, Mimi nakal ya sayang, bikin Daddy sedih." Miko mengelus perut Dara dan mengecupnya. Bayi diperutnya terasa bergerak gerak sangat kuat.
"Dara!" Mita tak sabar memangil nama menantunya, dan segera berlari mendekati Dara yang sedang berbaring di ranjang.
"Makasi ya Sayang, dah mau lahirin cucu buat Mama." Mita mengecup rindu pipi Dara.
"Mama." Dara senang Mama Mita telah datang. Mertua yang baik terkadang bisa seperti seorang sahabat.
"Kok bisa kamu nggak hubungin Mama sih sayang, tau gitu kan Mama akan cepet pulang, mama jadi seperti calon nenek yang gila uang saja, cucu mau lahir masih aja kerja." ujar Mita sambil duduk di sebuah kursi yang ada di dekat Dara, sedangkan Miko ada disisi yang satunya.
Mama bawain sushy kesukaan kamu Dara, kamu pasti belum sarapan.
"Udah Ma tadi, segelas susu, dibuatin Kak Miko."
"Cuma susu, kamu harus makan banyak harbohidrat dan protein, kalau cuma susu itu masih kurang. Pantas saja kamu lemas begini, Miko kamu ini gimana sih jaga istri nggak becus." Mama Mita mulai cerewet.
" Ma Kak Miko nggak salah, dia cuma turutin keinginan Dara. Tadi Dara yang gak mau makan." Dara membela suaminya dari omelan mama.
"Sudah Dara, nggak usah dibela suami macam Miko. Tetep aja Dara, perbuatan suami kamu itu tidak bisa dibenarkan, dia sudah melakukan kesalahan, harusnya pagi-pagi sekali dia sudah suapin istrinya."
Dara, menoleh ke arah suaminya yang hanya terdiam mendapat omelan dari Mama.
"Maaf Kak gara-gara Dara Kakak jadi kena marah oleh Mama." Dara kasihan pada suaminya.
"Nggak apa apa sayang, aku memang salah." Miko kini berdiri, dia mengambil sushy dari Mama. "Sekarang makan ya, biar Mama nggak marah lagi."
__ADS_1
Dara mengangguk, demi suaminya dia mau makan. Mama Mita sangat sayang pada Dara, jika Miko teledor sedikit saja saat menjaga istrinya sudah pasti dia akan marah seharian. Dan Miko sudah biasa mendapat omelan seperti hari ini.
"Gimana Mik istri kamu? Kata dokter tadi sudah buka'an berapa?" tanya Mama pada putra semata wayangnya, ketika Miko sudah selesai menyuapi istrinya.
Miko tidak langsung menjawab, dia keluar ruangan diikuti oleh Mama. menutup pintu rapat-rapat, memastikan Dara tak bisa mendengarnya.
"Dokter bilang baru buka'an empat, dan tensi darahnya agak tinggi. Ma, aku khawatir terjadi apa apa dengan dia, Mama tahu sendiri kan aku sayang banget sama dia, aku cinta banget sama Dara. Ketika aku malas untuk melanjutkan hidupku ini, ketika aku terpuruk dia telah menawarkan padaku sebuah ketulusan cinta, apa mungkin aku masih sanggup untuk kehilangan lagi, aku nggak sanggup, Ma."
"Kalau tensinya tinggi, lebih baik operasi caesar aja Mik, sangat berisiko kalau dia melahirkan secara normal."
"Tapi Dara nggak mau Ma, tau sendiri kan gimana keras kepalanya dia."
"Baiklah Mama aja yang bujuk, pasti dia mau."
"Semoga aja, Ma." ujar Miko dengan wajahnya yang terlihat kusut.
Mama kini masuk lagi, Miko menunggu diluar dengan gelisah. Dan saat itu ada Namira sedang menghampirinya.
"Dokter Mira, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya, mama sedang membujuknya agar mau lahiran dengan Caesar saja."
"Betul sekali Tuan Miko, Nona Dara hanya bisa melahirkan dengan cara caesar, jika ingin normal, resikonya terlalu besar, jika anda sudah setuju, bisa langsung ke ruangan saya untuk tanda tangan.
Miko mengangguk, walaupun Namira sahabat Arsena, Miko sama sekali tak pernah akrab dengannya.
Miko berada di ruangan Namira, dia duduk di sebuah kursi tunggal yang ada si ruangan itu, di depannya terdapat meja kecil dan beberapa berkas, Miko yakin itu berkas yang harus ditandatangani. Miko mengambil berkas itu dan membacanya, ternyata berkas itu bukan miliknya, Miko terkejut dia tak percaya dengan peristiwa kebetulan ini.
Miko yang tak tahu apa yang terjadi, dia hanya menduga-duga saja.
Apalagi dalam berkas tersebut, ayah biologis sang bayi sengaja dirahasiakan.
Miko panik, dia berharap bukan Arsena bapak dari bayi Anita, jika itu terjadi dia tak bisa membayangkan bagaimana Andini akan terluka.
Sambil menunggu Namira memeriksa istrinya Miko mencari ruangan tempat Anita dirawat. Miko segera menemukan ruangan wanita setelah membaca ulang berkas yang ada di tangannya.
Tanpa basa-basi Miko segera menuju ruangan Anita, yang ternyata berada di sebelah kiri ruangan Dara.
Miko sangat terkejut begitu tau dia tak salah orang. " "Anita, Kau?" Sapa Miko.
"Miko! Anita tak kalah terkejut, namun dia berusaha untuk tenang. "Apa kabar?"
"Baik, Nit. Jadi ini alasan kamu keluar dari perusahaan. Katakan padaku apa karena kehamilanku ini?"
Anita diam, dia terlihat sedang kembali pada bayangan sembilan bulan yang lalu.
"Arsena bukan ayah biologis bayi ini, kamu jangan khawatir, Andini tak akan terluka karena anak ini lahir ke dunia.
"Lalu, siapa lagi ayah bayi itu kalau bukan dia, bukankah waktu itu kau tergila-gila dengan kakakku yang sudah beristri itu."
__ADS_1
"Kamu tenang Mik, anak ini bukan anak siapa siapa, lagian ayah dari anak ini bukan pria yang aku cintai, aku juga tak menginginkan dia, andaikan saja ayah anak yang aku kandung ini kakak kamu, aku pasti sudah meminta pertanggung jawaban darinya."
"Lalu siapa ayah anak itu Anita?"
"Kamu?"
"Bercanda, mana mungkin. menyentuh aja nggak pernah." Miko nyengir kuda.
"Makanya kamu nggak usah ikut campur urusanku." Anita risih Miko bertanya tanya masalah pribadinya.
"Jika menyangkut tentang keluargaku, maka aku akan ikut campur, jangan harap aku akan melepas dirimu, karena suatu saat kau pasti akan membuat keonaran dengan fitnahan baru."
Anita tersenyum tipis, dia terlihat baik baik saja, dia melakukan operasi caesar karena bayi yang ada di kandungannya sudah melewati tanggal lahir yang seharusnya, dan menurut dokter bayinya lemah dan air ketubannya keruh,
"Aku tidak akan melakukannya, jika kamu mau menikah denganku." Anita ingin mengajak Miko berkompromi dengan kepentingannya. Andaikan tahu dia Amert yang kaya raya di negara Turki, pasti Anita tak akan berpendirian seperti sekarang ini.
Miko juga tersenyum. "Gila, aku nggak sudi. Aku tak pernah ingin berpoligami, lagian apa untungnya buatku, aku sudah punya istri cantik yang sangat aku cintai dan mencintaiku.
"Ya udah, kalau begitu pergi!" Anita terlihat emosi.
" Anita jangan main main, aku sudah cukup berbaik hati sejak tadi, tapi kenapa kau mempermainkan aku? Katakan siapa ayah bayi yang ada di kandungan kamu itu atau aku akan membuat dirimu viral di sosmed, dengan hamil tanpa seorang ayah." Miko mengancam Anita supaya cepat mengaku, dia mengambil fotonya lalu segera menghapusnya lagi. tentu Miko tak mau menyimpan foto wanita lain selain istri dan keluarganya.
"Gila kamu Miko, jangan lakukan itu, aku bersembunyi dari duniaku yang seharusnya, sekarang kau ingin menghancurkan aku. Jangan main main kamu, aku tak ingin ada yang tahu tentang bayiku dan menjadi masalah nantinya, karena dia akan diadopsi oleh keluarga konglomerat."
"Apa? Sekarang kau malah bilang ingin menjual anakmu?"
"Itu bukan urusanmu, sekarang pergi dari sini, pergi. Nasib buruk gue ketemu sama loe."
"Ya, benar sekali yang kamu ucapkan." Miko berjalan mendekati Anita sambil menautkan jarinya dengan saku celananya. "Aku akan menjadi nasib burukmu jika kamu tak mau mengaku. Keputusan ada di tanganmu dan waktunya hanya sampai aku keluar melewati pintu kamar ini." Miko melangkah pergi setelah tersenyum smirk kepada Anita. Dia senang bisa membuat wanita itu ketakutan. Bagaimana bisa dia akan menjual anak yang dikandungnya, kasian nasib anak itu jika dia nantinya ternyata berada di tangan yang salah.
Anita terlihat berfikir keras, keputusan akhirnya dia ambil dengan cepat. "Tunggu, aku akan katakan siapa ayah biologis bayi ini."
Miko menghentikan langkahnya pandangannya tetap lurus ke arah pintu keluar. Ia pasang pendengarannya baik-baik supaya tak salah mendengar saat Anita menyebut nama siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
"Amert," ucap Anita dan seketika ruangan jadi hening.
"Amert?" Miko langsung menoleh, tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh sepupunya.
"Kamu yakin Amert yang menghamili dirimu? Miko masih tak percaya. "Kok bisa? Bukannya dia sangat mencintai Zara?"
"Kalau nggak percaya, lakukan test DNA, ini adalah anak dari Amert, pria itu tak bertanggung jawab setelah melampiaskan aksi bejatnya padaku." Anita menangis terisak mengharap belas kasihan dari Miko.
"Kau bohong Anita, pasti kau akan menjebak sepupuku itu ke dalam perangkap mu, kau tahu apa hukuman orang yang berani mencemarkan nama baik orang? Jika dia terbukti tak bersalah." Miko terlihat semakin menakutkan.
Miko lalu pergi meninggalkan Anita sendirian setelah ponselnya berdering. Miko harus kembali kepada Dara, mama telah meneleponnya, Miko khawatir terjadi apa apa dengan istrinya.
"Urusan kita belum selesai, jangan coba coba untuk lari dariku," ancam Miko sebelum dia pergi.
__ADS_1
'Apa dia gila, bagaimana aku bisa pergi jika aku kesini saja karena ingin segera mengeluarkan bayi ini dari perutku. Aku sudah bosan dia mengganggu hidupku. Kenapa saat usahaku akan menuai hasil dia malah datang mengganggu.'