Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 268. Perpisahan


__ADS_3

Meysa, kamu cantik sekali, mulai hari ini kamu adalah saudara kembar Furqon, dia akan menjadi kakak yang baik buat kamu. Kamu nggak akan kesepian, kalian akan tumbuh dan dewasa bersama.


"Asyik banget, berdua aja nie nggak ajak, Abi." Amert memeluk istrinya dari belakang.


"Mas, kok sudah bangun? Furqon ditinggal sendiri. Mas ini gimana."


" Furqon masih bobok sayang dia kelihatannya nyenyak banget."jawab Mert enteng sambil menancapkan dagunya di pundak Zara.


Kini mereka bertiga menikmati pemandangan yang sangat disukai Zara selama tinggal di mansion ini.


"Lautnya sangat indah, kelihatannya dekat padahal jauh ya?" Amert terpesona dengan yang Zara lihat.


" Iya, indah sekali, aku pengen naik kapal yang tak terlalu besar dan hanya ada kita di dalamnya."


"Nanti kita akan naik kapal kecil disana, kita bisa honey moon lagi, tapi tunggu puasaku batal dulu."


"Iya, yang sabar ya, Mas." Zara meengelis pundak suaminya. Suami yang sudah membuatnya jatuh hati seusai pernikahan.


Tiba-tiba Zara ingin menanyakan sesuatu pada Amert.


"Bagaimana jika Anita datang untuk mengambil putrinya lagi saat aku sudah menyayangi Meysa? Aku pasti akan kembali kehilangan Amert?"


"Tidak bisa, Meysa akan masuk dalam catatan negara menjadi anak kandung kamu, saudara kembar Furqon. Anita sudah setuju, dan dia sudah menandatangani hitam diatas putih."


"Bagaimana jika Anita berubah fikiran ingin menjadi istrimu demi Meysa, kau tahu dia cantik, pria manapun pasti tak akan menolak mendapat istri secantik dia."


"Ingat satu hal Zara, hubungan ini terjadi karena sebuah kesalahan, bukan saling cinta dan terhalang restu, jadi apapun yang terjadi aku dan Anita tak akan menikah. Dia cinta sama Arsena atmaja. Bukan aku."


Zara memeluk suaminya, ada Meysa di tengahnya, lalu Zara menempelkan kepalanya di pundak suami. Amert sesekali mengecup keningnya. Sampai di detik ini, cinta Amert pada Zara tak kurang sedikitpun, masih sama. "Hidup ini memang tak bisa berjalan sesuai keinginan kita, pasti mintanya lurus seperti jalan tol tanpa ada batu sandungan atau lubang yang mengganggu kenyamanan. Cuma bagaimana kita menyikapinya, Sayang. Kita ambil sisi positifnya." Kata Amert menguatkan hati Zara.


"Iya, aku akan menjadikan kehadiran Meysa untuk tetap bersyukur, Ku anggap bonus dari Tuhan, melahirkan satu dapat bonus satu."


"Kaya beli bakwan aja dapat bonus." Mert berkata sambil tertawa tangannya masih memeluk erat pinggang istrinya.


Satu bulan kemudian.

__ADS_1


"Sayang apa yakin sudah nggak ada yang ketinggalan, baju Furqon baju Meysa." Amert mengabsen keperluan anak anaknya.


"Nggak ada Mas, bajunya sudah Zara masukin di koper semuanya. Punya Mas juga." Zara masih duduk di ranjang wajahnya terlihat sendu.


" Hey sayang, ayo buruan siap siap, anak anak sudah menunggu di depan, kenapa kok masih malas-malasan begini? ibuk dan bapak juga sudah datang, dia akan antar kita sampai bandara.


"Mas, aku pasti akan merindukan, orang orang yang ada disini, janji sering kesini ya?"


"Iya, Mas janji kok akan sering ajak kesini, biar kamu senang, kita ajak bapak dan ibuk sekalian gimana?"


"Bapak dan ibuk pasti nggak akan setuju, pekerjaan mereka di kebun sudah menyatu dengan dirinya, dia pasti akan berat meninggalkan aktifitasnya semua, aku percaya suamiku mampu memberinya banyak uang, tapi gimana lagi, senangnya mereka seperti itu."


"Bisa nggak kita bikin rumah di Surabaya saja, Mas. Kerjanya juga dipindah kesini saja."


Amert tertawa, dia duduk di sebelah Zara sambil mencari jemari Zara, Amert suka sekali menggenggam jemari istrinya setiap kali berdekatan.


"Kalau suka tinggal disini, gimana perusahaan yang ada disana? yang disana sudah berjalan, tinggal di kelola aja sebaik mungkin, supaya bisa menghasilkan banyak rezeki. Umi dan Abi sudah makin tua. Sudah waktunya aku menggantikan posisinya."


"Kesini dulu tujuanku ingin melihat bagaimana Arsena menjalankan perusahaan hingga sebesar sekarang ini, setidaknya sedikit banyak aku sudah mendapat banyak pelajaran berharga, dan juga keberuntungan yang tak bisa aku pungkiri, yaitu menjadi suami dari wanita cantik dan istri soleha seperti kamu sayang.


" Insha Allah, siap, Mas."


Amert membantu Zara memeriksa barang barangnya yang dianggap penting termasuk ponsel dan lain lain. Setelah yakin tak ada yang ketinggalan Amert dan Zara keluar, koper sudah tersusun rapi di bagasi mobil.


Tiga mobil berjajar rapi akan mengantarkan mereka ke bandara. Satu ditumpangi Amert dan keluarganya, satu ditumpangi Arini Davit dan keluarga Miko. Serta satu lagi untuk Andini Arsena dan ansk anak.


"Andini merasa sangat kehilangan, dia banjir air mata saat memeluk Oma di ruang tamu, begitu juga Oma."


"Jangan menangis, Nanti ajak Arsen dan anak anak kesana bukankah kamu ingin lihat Galata Bridge, sambil makan kebab."


"Iya Oma," Andini mengangguk sambil terus memeluk Oma, sudah beberapa tisu dia habiskan untuk menyeka air matanya. Sedangkan Arsena hanya bisa kesal dengan tingkah Andini yang selalu seperti anak kecil, selalu menangis saat tamu yang dicintai pulang. Padahal jika dia mau ke negara itu seminggu sekali untuk liburan pun, pasti akan dituruti.


Amert dan Zara berpamitan dengan anggota keluarga satu persatu. Yang lebih mengejutkan Miko dan Dara ikut berpamitan juga. Setelah kembali mengantar Amert dari bandara Miko juga akan kembali menata keluarga kecilnya di tempat tinggal yang baru.


Kepergian dua keluarga kecil sekaligus membuat dada Andini makin sesak, Andini semakin tak bisa mengontrol emosi jiwanya.

__ADS_1


"Aaaaa mommy kenapa menangis." Excello yang tahu mommynya menangis dia ikut menangis sekencang kencangnya.


Arsena segera menggendong putranya di dada kanan dan kiri. Berusaha menenangkan.


"Daddy jahat pada Mommy, Daddy sudah bikin mommy menangis." Arsena kuwalahan dengan putranya yang meronta dan memukulinya.


"Andini sudah menangisinya, seperti mau berpisah selamanya saja, kita akan sering ketemu Zara Amert ataupun Dara dan Miko," ujar Arsena yang bukannya bersimpati malah jadi kesal. Emosi Andini terlalu mudah diaduk aduk jika sudah menyangkut keluarga.


" Zara baik baik disana, temukan kebahagiaanmu bersama Amert dan anak-anak."


" Iya Mbak, setelah kami semua pergi mbak jangan bersedih, kita masih bisa ketemu setiap hari walau hanya lewat benda pipih ini. Terimakasih Mbak bersama Mbak Andini Zara sudah seperti bertemu kakak sendiri, kakak yang dewasa dan mengayomi adik adiknya."


Zara memeluk Andini erat, dan keluarga lainnya bergantian, Arini meminta maaf pada Zara yang tempo hari telah cemburu buta, Arini sangat menyesal telah melakukannya pada Zara yang jelas jelas tak bersalah, hingga hubungan yang terjalin tidak begitu baik. "Maafin gue yang tak tau apa apa ini, gue menyesal Zara."


Davit pun menangkuplan tangannya, Zara menolak bersentuhan tangan dengan Davit dia cukup berbicara sebentar lalu masing masing mengukir senyum tipis di wajahnya, Davit mengangguk lalu Zara di gandeng Amert keluar menempati mobil paling depan.


Yang paling mengharukan bagi semua orang adalah saat menatap dua bocah kecil yang sudah bisa tersenyum saat dicium itu. Furqon dan Meysa akan menjadi puncak kerinduan Andini pada keluarga Zara. Andini tak mau melepas pelukannya pada dua bayi lucu lucu itu.


Anita juga datang untuk menemui putrinya, Anita terlihat berusaha sekuat hati untuk tak menangis, dia yakin putrinya akan bahagia bersama ayah kandungnya dan wanita seperti Zara. Anita sudah mendapatkan pelajaran sangat berharga dari pengalaman hidupnya, dia berjanji pada dirinya sendiri dan juga Amert, akan menjadi pribadi yang lebih baik. Akan menata hidupnya yang berantakan.


"Amert aku kembalikan uang yang kau berikan padaku, aku tak seharusnya meminta uang sebanyak ini, aku akan mulai karierku dari nol, bagaimanapun hasilnya pasti akan lebih memuaskan. Aku tak pantas menjual putriku seperti ini." Anita mengembalikan tas berisi uang pada Amert.


"Baiklah uangnya aku terima, jual beli diantara kita batal, tapi uang ini aku kembalikan padamu, anggap saja sebagai rasa terimakasihmu telah memberiku putri yang cantik seperti dia." Amert menerima sebentar lalu mengembalikan tas hitam itu kepada Anita lagi. Aku yakin kamu akan butuh ini saat memulai usahamu, sebagai kakak yang baik aku akan membantumu tapi ingat syarat dariku, carilah pria yang mencintaimu dan menerima dirimu apa adanya, jangan pernah mengharapkan suami orang ya." Amert mengacak rambut Anita. Membuat Anita tersenyum dan menghapus air matanya yang akhirnya lolos juga.


Dalam pencarian tentang siapa sosok ayah dari anaknya selama satu bulan terakhir ini, Anita sudah menemukan jawaban siapa sosok Amert di negaranya, kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh pria itu membuat Anita yakin Amert akan membahagiakan putrinya. Dia sangat beruntung dianggap sebagai adik oleh putra tunggal sehebat dia.


Satu jam kemudian dengan laju kendaraan lambat akhirnya sampai juga di bandara Juanda.


Oma, Arini, Amert, Hana dan Ahmed, serta terus melambaikan tangannya sepanjang dia masuk lokasi Apron, dimana pesawat mereka sudah stanby dan akan terbang beberapa menit lagi. Dua bayi mungil itu membuat Andini terus terbayang dan sulit untuk berhenti menangis, Wanita pemilik gelar sebagai Dokter bedah saraf itu bahkan mengintip lewat kaca dimana dia bisa melihat Oma, Zara dan Amert mulai menaiki tangga di sebuah pesawat besar dengan tujuan Penerbangan Internasional Istanbul.


"Be careful on the way, Granma, Aunty, Sister, Little" lirih Andini sambil menghapus air matanya yang berderai di pipinya.


"Aku rupanya tak ada artinya dibandingkan mereka." Tiba tiba Arsena ada di sampingnya.


"Kau menangis seakan tak ada siapa siapa lagi disisi kamu, Sayang." Arsena cemburu melihat Andini yang mengabaikan dia disisinya.

__ADS_1


"Sorry, Hubby." Andini memeluk erat suaminya. Arsena menempelkan bibirnya lama sekali di puncak kepala istrinya. Arsena sebenarnya juga sedih dengan kejadian hari ini terutama harus berpisah dengan Oma. Tapi pantang baginya untuk terlihat sedih.


__ADS_2