
"Ehm." Vano berdehem memastikan tenggorokannya sedang tak bermasalah. Mereka berdua kini tengah berada di halaman rumah yang sunyi. Hanya ada daun daun yang terayun oleh semilir angin malam.
"Vanya memang wanita yang polos, dia baik hati sama siapapun, sepertinya kau berhasil memanfaatkan situasi ini. Kau mengetuk pintu hatinya, masuk dan merayap disaat hubungan kami berada di titik tak aman. Hebaaat." Vano bertepuk tangan pelan. Senyumnya m
Ken masih dalam mode tak mengerti, dia melipat tangan di dadanya, yang terlihat membusung karena menarik nafas, berusaha mencerna ucapan dokter tampan yang pernah ia lihat beberapa kali di Hospital. Sayangnya mereka tak pernah akrab sebelumnya.
"Apa ada yang membuat anda keberatan?" Ken berkata dengan tenang.
Vano tersenyum, mengamati Ken dari atas hingga bawah, penampilan memang sedikit lebih gagah daripada dirinya, dalam hati Vano dia sangat cemburu dengan fisik yang dimiliki Ken. "Aku akan mengambil Vanya kembali, karena hanya aku yang berhak untuk memiliki dia seutuhnya."
"Hei Bung, kalau nyesel, nyesel aja, tapi asal kamu tau, bumi ini berputar, waktu juga terus berganti, esok sudah pasti akan berubah lagi, jadi jangan berharap Vanya akan kembali pada anda jika luka yang kau torehkan terlalu dalam, masih banyak pria yang lebih bisa membahagiakan dia daripada Anda Tuan. Urus saja wanita yang mencintaimu dengan tulus, sebelum dia pergi seperti Vanya, dia sudah memilihku, sampai titik darah terakhir pun aku akan perjuangkan dia."
Kata kata Ken seperti sebuah senjata api yang melesat di dadanya, jantungnya tiba tiba saja terasa sakit mendengar kata kata Ken.
"Ken, kau! Rupanya kau sangat keras kepala, aku bisa lakukan apapun untuk mengambil Vanya dariku." Vano melotot, urat-urat dilehernya terlihat begitu menonjol. Pertanda dia sedang menahan emosi.
"Sayangnya ada aku yang akan menggagalkan usaha anda, Tuan." Ken tersenyum tipis. Justru senyumnya itu membuat hati Vano mencelos.
"Ken, dipanggil Papa!" Panggil Vanya yang terlihat begitu cantik, suaranya begitu merdu menyentuh gendang telinga Ken. Tapi bagi Vano itu sebuah kalimat yang membuat hatinya begitu terbakar.
'Apakah panggilan dari Papa Vanya ada hubungannya dengan kelanjutan hubungan mereka berdua,' batin Vano terus bergejolak.
"Vano, aku masuk dulu, kau sepertinya harus terima nasib. Vanya memanggil namaku saja, dan tak ada namamu." Ken kembali menebar senyumnya pada Vano.
Ken melangkahkan kaki masuk sesuai yang diinginkan Vanya. Dia abaikan detak jantungnya yang kembali berlabuh kencang.
"Sayang, benarkah Papa memanggilku? Kamu nggak salah kan?" Ken menggandeng pinggang Vanya saat berjalan masuk. Tak lupa dia menoleh kepada Vano yang melihat kemesraan mereka berdua tanpa berkedip.
"Mana mungkin salah?" Vanya mengerucutkan bibirnya. "Kamu serius nggak sih? Giliran aku serius kamu bercanda aja, Ken."
"Habis, kamu makin cantik kalau digoda, aku suka." Ken tertawa bahagia. Sebagai balasannya Vanya mencubit lengannya yang keras.
Papa dan Mama masih duduk seperti tadi, di sofa panjang. "Ken, duduklah. Vanya sudah cerita banyak tentang kamu." Papa mempersilahkan Ken.
__ADS_1
"Kamu cerita apa aja sayang ke Papa." Ken menatap Vanya dengan tatapan sayang. Sedangkan Vanya terlihat menundukkan wajahnya malu.
" Aku cerita semua yang baik tentang kamu, kalau yang buruk belum." Vanya membuat Ken semakin penasaran.
"Ken, kapan kamu mau melamar Vanya?"
"Melamar? Besok Om, Pa." Ken terlihat bingung dan gugup. Harus panggil om atau Papa.
"Kok gugup gitu sih Ken? Kamu sudah akan menjadi bagian dari keluarga kami lho " Mama Vanya ikut bicara.
"Maaf ,Ken nggak pernah menyangka Mama dan Papa setuju dengan hubungan Kami."
"Sebenarnya kami berdua sangat berat melepas putriku untuk pria seperti dirimu Ken, tapi setelah Vanya meyakinkan pada kami, dan ternyata Vanya sudah jatuh cinta dengan kamu semenjak masih di putih abu abu. Papa ambil hikmah dari semua ini aja. Mungkin kalian dipertemukan lagi karena memang sudah jodoh."
Ken terkejut mendengar penuturan Papa. Dia segera menoleh menoleh ke arah Vanya dan meraih jemari wanita pujaan hatinya. "Sayang kamu juga mencintai aku sejak dulu?"
"Jangan GR, nggak sepenuhnya benar, aku cuma bilang ke papa, supaya kita dikasih restu, itu aja." Justru Ken merasa apa yang diucapkan Vanya kali ini terlihat berbohong.
"Pasti bohong, kamu malu mengakui kebenaran kalau sudah sayang padaku lebih dulu? Kok aku bisa nggak tau."
"Papa kenapa buru buru banget, Vanya belum siap, Pa." Vanya menawar lagi.
"Belum siap gimana? Ken aja sudah siap banget Kok." Mama melirik Ken yang terlihat bahagia.
"Benar Om. Pa." Ken tersenyum
"Panggil papa aja. Biar nggak ribet, salah melulu."
Ken dan keluarga tertawa bahagia, tak terasa waktu sudah berubah menjadi hampir pagi.
Malam semakin larut, setelah Ken sudah mendapat lampu hijau dari Sang mertua, dia segera menuju apartemennya. Waktu calon mertua tidak banyak dia harus mempersiapkan semuanya secepatnya.
****
__ADS_1
Dua hari telah berlalu. Saat di jalan Ken melihat ada empat preman menghadangnya, semuanya terlihat sangar dan berotot.
"Turuuun!" Pimpinan preman mendekati Ken yang masih ada di dalam mobil.
Ken membuka kaca samping separuh, tanpa menoleh sedikitpun pada pria yang kini ada disamping dan menghadang dengan sebuah golok.
"Berapa kau dibayar!" Ken berkata tanpa takut.
"Tuan!" Mereka terlihat kaget. Terutama pimpinan preman yang ada di barisan paling depan.
"Katakan! untuk menghadang aku seperti sekarang ini berapa upah masing-masing dari kalian?"
"Kami masing masing mendapat upah dua juta." ujar preman itu sambil ketakutan.
"Katakan pada yang menyuruh kalian, kalau aku sudah berhasil kau kalahkan. Terima uang darinya. Dan ini aku beri undangan, datang ke pesta pernikahanku besok."
Ken berbicara seperlunya setelah itu dia kembali menyusuri jalanan petang menuju pusat perbelanjaan, untuk mencari semua perlengkapan pernikahan.
Tadi siang dia sudah jalan jalan dengan Vanya, hanya saja ada beberapa surprize untuk calon istrinya yang tak bisa dibeli saat bersamanya.
Ken membelikan banyak sekali hadiah pernikahan untuk calon istrinya. Dari bedak, baju, perhiasan dan masih banyak lainnya. Dia cuma butuh bantuan kasir untuk mengambilkan barang pilihannya, sesekali saja
Usai mendapatkan barang yang akan menjadi hadiah pernikahan, Ken segera memberitahukan pada Andini kalau mereka akan segera menikah.
-----
"Ars, Besok Ken akan menikah." Andini segera mengadukan pada suaminya yang tak ada respon kalau berurusan dengan mantan bodiguardnya itu.
"Lalu …."
"Ars, sampai kapan kalian akan seperti ini terus?"Andini terlihat kesal, Arsen belum juga memaafkan.
"Lalu aku harus apakan Ken? Ya syukurlah dia akan menikah dengan sahabat kamu itu." ujar Arsen tetap cuek.
__ADS_1
"Kasih selamat kek, atau hadiah."
"Iya, tapi jangan cemberut, makin jelek," goda Arsen pada istrinya yang selalu manja saat sedang hamil.