
" Bayi besar ngambek karena semalam nggak dapat jatah ya?" Seloroh Mama mertua yang sudah merindukan kedua cucunya. Hari tuanya ia lewati hanya dengan menimang cucunya.
Andini yang membuatkan susu untuk Rara seketika menoleh.
"Ndin sebaiknya kita titipkan Rara ke panti asuhan saja, Kamu nggak kasihan apa dengan Excel dan Cello, sejak lahir cinta dari kalian sudah terbagi, Kenapa harus dibagi lagi dengan anak wanita jahat itu."
"Tapi Ma, kasihan dia, anak itu nasibnya sangat mengenaskan memiliki ibu yang jahat, dan status bapaknya juga belum jelas. Walaupun Ken sudah mengakui tapi dia tidak ada bukti sebelum melakukan test DNA."
" Jangan bilang kamu ingin mengadopsi dia Andini, Mama enggak akan setuju."
" Ma, Tapi."
" Tidak ada alasan Andini. Dia anak dari orang yang sudah jahat sama kamu, tidak menutup kemungkinan anaknya juga akan jahat sama kamu nantinya. Jika anaknya baik ibu kandungnya pasti akan menghasut nantinya."
"Mama." Andini menatap Rara dengan tatapan sendu. Apa yang bisa diperbuat dirinya di sini juga hanya seorang menantu.
"Hubby, mama ingin Rara ...."
" Aku sudah dengar tadi, Mama marah sama kamu kan?" Arsena masih tetap sibuk membaca majalah sambil menikmati secangkir kopi.
Andini mendekat dengan wajahnya yang gelisah.
" Rara, dia anak yang malang, kalau bukan kita siapa lagi? ... Lalu apa keputusan yang Hubby ambil?" Arsena duduk disebelah Andini berharap keputusan Arsena akan bertolak belakang dengan Mama. Merayunya sedikit dengan memijit mijit pundaknya.
Arsena diam, pasti dia juga sedang berfikir keras. Memutuskan semuanya tidaklah mudah.
" Aku sependapat dengan, Mama. Kita tidak tahu bagaimana masa yang akan datang. Aku akan menitipkan Rara pada orang lain yang tak ada hubungannya dengan keluarga kita."
"Tapi Ars, aku sudah terlanjur suka dengan anak itu."
"Maafkan aku Andini, aku yakin kamu tidak punya banyak cinta yang bisa kau bagi bagi, anak kita juga butuh kasih sayang, apa kamu mampu menyayangi tiga anak sekaligus. Jika Ken belum mendapat kebebasannya biarkan dia tinggal di panti asuhan. Kita akan membantu panti asuhan itu. Otomatis bukan hanya satu anak yang kita bantu tapi banyak. Apa kamu setuju?"
Tanpa sepatah kata Andini langsung berlari, kesal dengan Arsena yang tak mengerti dengan pola pikirnya. Andini tengkurap di atas ranjang ingin menangis sekeras kerasnya. Pola pikirnya yang bodoh itu sulit ia kendalikan, Andini selalu saja mengutamakan perasaan daripada nalar. Andini kesal dengan Arsena yang dengan mudahnya terpengaruh dengan Mama.
Tring tring ! Sebuah panggilan masuk dari Vanya.
"Iya Van ada apa?" Andini berbicara dengan malas.
" Andini keluar yuk, aku lagi gabut nie."
"Maaf Van, aku nggak bisa." Tolak Andini.
" Kenapa? Kok suaramu jadi sembreng gitu? Kayak nangis aku dengarnya Ndin." Vanya menanyakan Andini yang tak seperti biasanya. Biasanya dia selalu ceria saat mendapatkan telepon darinya, tapi kali ini suaranya kecil persis orang yang hidungnya kejepit pintu.
" Enggak kok Van, aku baik-baik aja." Andini berbohong.
" Andini kamu pikir aku percaya? Kita berteman udah hampir 5 tahun, nggak mungkin aku nggak ngerti kalau kamu saat ini sedang nangis," cecar Vanya.
" Kamu benar Van Aku lagi sedih, Arsena hari ini nggak asik banget, dia yang udah bikin aku nangis." Curhat Andini.
" Masa sih? Bukannya kalian itu pasangan yang romantisnya ngalahin Romeo dan Juliet. Aku sampe ngiri Lo sama keromantisan Arsena. Mudah mudahan jodoh yang dikirim tuhan untukku nanti seperti dia." Vanya berbicara panjang lebar.
" Apaan sih bawa bawa Romeo dan Juliet." Andini tertawa disaat masih menangis. Sambil mengusap ingusnya.
"Udah jangan nangis ceritain aja Apa masalahnya? Ntar lama-lama itu ingus meluber kemana-mana," canda Vanya.
"Aku sedang merawat bayi Lili, tapi Mama nggak setuju didukung sama Arsen lagi, sedangkan Lili sekarang berada di rumah sakit. Gue kasian sama anak itu Van." curhat Andini.
Vanya yang mendengarnya pun heran kok bisa bisanya Andini berhubungan dengan Lili yang tak tahu diri, plus tak tahu terima kasih itu. Kalau bukan Andini siapa lagi orangnya.
__ADS_1
" Andini Andini, gue tau lo baik. Tapi ya nggak segitunya dong. Mama dari anak itu ingin lo mati, nah sekarang kamu malah rawat anaknya."
" Masalahnya itu anak ditipin ke gue sama bapaknya, dan gue udah bilang iya. Masa harus ditaruh di panti asuhan gitu saja. Aku yang merasa berdosa."
" Ya udah biar gue rawat aja, gue kan ada asisten di rumah, nanti biar dia yang jagain. Dan kalau lo kangen sama tu anak kan bisa sering berkunjung ke rumah gue."
" Serius lu Van mau ngerawat itu anak?" Saking girangnya Andini segera duduk sambil mengulangi pertanyaannya." Elo bener kan nggak bohong?"
" Iya, gue nggak tega lihat lu nangis bombay kayak gitu." Vanya serius dengan keputusannya. Selain Dia juga memiliki banyak harta, dia juga seorang dokter. Kebaikan hanya bisa dibilang sebelas dia belas dan Andini
" Baiklah kalau begitu Van, gue setuju. Biar aku antar saja anaknya kerumah sore nanti."
" Nggak usah, aku ambil aja kesana. Sekarang biar aku siapin kamarnua dulu untuk tu anak. Tapi kapan bapaknya keluar tahanan? Biar segera ambil tuh anak. Jangan-jangan nanti bapaknya di penjara seumur hidup lagi," ujar Vanya sambil bercanda
Andini terdengar sedang tertawa, Vanya pun ikut tersenyum setidaknya Andini sudah tak sedih lagi. Vanya memang solusi terbaik untuk Andini. Entah kenapa gak di situ itu mau berteman dengan Andini ya dulunya hanya orang biasa.
" Kalau menurutku sih eggak sampai seumur hidup Van. Mungkin paling lama satu tahun. Kalau Arsena berbaik hati bisa jadi nggak sampai satu tahun"
Okelah kalau begitu, ya udah aku tutup dulu. Mau cari peralatan untuk kamar bayi. Aku tutup dulu ya Daaaaa."
" Daaaa Vanya."
" Rara sayang, akhirnya sahabat Tante yang akan rawat kamu, semoga kamu akan betah disana. Tante Vanya itu baik orangnya. Dia nggak pernah marah sama Tante dia juga dulunya suka nolongin tante, kamu pasti akan betah dengan dia nanti."
Sekarang kita rayakan perpisahan kita yang menyedihkan ini ya Ra. Bersama Excel dan Cello juga. Tapi Excel dan Cello sedang diajak jalan jalan taman sebentar sama Oma.
Arsena rupanya mengintip dari balik pintu. Arsena senang akhirnya Andini menuruti perkataannya. Arsena sebenarnya juga kasihan sama Rara. Tapi setelah dia berfikir panjang. Dia takut Andini akan mencintai anak itu seperti anaknya sendiri, dan saat diambil kan nanti dia akan sedih. Mumpung sayang Andini belum terlalu besar pada anak itu Arsena segera mengambil keputusan yang didukung oleh Mama.
Andini mengeluarkan baju Rara dari salah satu lemari kecil yang berjajar tiga, lalu memasukkan ke dalam koper. Andini sudah tau ada Arsena yang sedang mengintip. Tapi Andini sedang tak ingin menjahili bayi besarnya itu. Hatinya kesal sama Arsen yang tak membiarkan saja merawat Rara.
Arsena akhirnya keluar dari persembunyiannya. Mencoba Melayu Andini dengan segala cara. " Hai Mam kenapa lehernya kok terlihat besar, sedang kena penyakit gondok ya?" Canda Arsena. Saat ngambek leher seseorang memang bisa terlihat lebih besar dari biasanya.
"Rara kita pergi ke taman yuk, susul Excel dan Cello." Andini memilih pergi meninggalkan Arsena di kamar sendirian.
"Huhhhh." Arsena mendesah.
" Dasar perempuan, maunya aja ingin diturutin. Tapi kalau aku yang mau sesuatu. Nggak pernah di perhatiin. Nasib kamu apes banget sih." Arsena menundukkan kepalanya. Melihat keris sakti yang tak mau tidur sejak semalam minta diasah.
Andini di taman bertemu dengan Mama dan Papa. Mereka terlihat sedang menyuapi bubur Excel dan Cello yang sudah tampan dan wangi. Bedaknya juga masih tebal.
"Gimana Andini? Apa kamu setuju dengan keputusan Mama?" Belum juga duduk Mama sudah membombardir dengan pertanyaan yang sama seperti pagi tadi.
" Ma, mbok biarin Andini duduk dulu. Bicara sambil duduk kan makin enak."
Maaf Pa, habis mama itu kesal sama tingkah ibu anak itu. Papa tahu kan kalau Mama nggak suka ya nggak suka."
" Iya tapi ya bicaranya sambil duduk." Papa masih mbules.
" Sudah ada teman Andini yang mau rawat kok, Ma. Nanti sore anaknya akan ambil Rara ke sini." ujar Andini.
" Baguslah kalau begitu, biar kamu juga fokus buatkan adik untuk anak anak. Kasian tu Arsena sejak pagi ngambek, cemberut aja. Kamu kuwalahan kan, jaga tiga bayi sekaligus.
" Bener sih Ma." Andini mengangguk.
*****
Andini kembali ke kamar untuk menidurkan bayi kecil itu setelah melihatnya tidur pulas.
__ADS_1
Vanya ternyata datang lebih cepat daripada perkiraan Andini dengan membawa asistennya.
"Andini mana bayinya?"
" Dia masih tidur, apa langsung kamu bawa hari ini?"
" Lha katanya suruh aku yang ngerawat, aku juga suka banget sama anak kecil dia pasti akan betah ikut aku nanti."
" Oh baguslah, baju bajunya sudah aku siapkan di koper. Janji ya Van kamu akan sayangi dia seperti adikmu." Pesan Andini.
" Iya iya, emang kamu pernah lihat aku sadis sama anak kecil nggak kan?"
Vanya mendekati Rara yang sedang tidur. Bayi kecil itu nampak pulas. " Ndin dia manis seperti aku ya?"
" Dia mirip ayahnya, Kendra namanya. Siapa tahu gara gara ngerawat anaknya nanti. Kamu bisa jadian sama ayahnya." Canda Andini.
" Ngaco kamu ini, kenal aja nggak, kenapa kamu bisa berfikir bisa jadian. Gue nggak mau pacaran dulu. Kalau di tikung kayak kemaren nyeseknya itu dalem banget.
" Kalau kamu trauma sama satu pengalaman kapan nikahnya Van. Usia sudah hampir dua puluh delapan tahun. Bentar lagi udah kepala tiga.
" Entahlah aku yakin suatu saat Tuhan akan kirimkan jodoh terbaiknya untukku."
Ndin aku bawa Rara sekarang ya, soalnya aku juga baru dari RS ini tadi. Sekalian mampir gitu pikirku daripada kita nanti bolak balik.
Andini segera menciumi bayi kecil cantik, dan menggemaskan itu, Ken pasti akan setuju jika tau anaknya bersama Vanya. Selain dia Dokter Vanya juga memiliki segalanya. Kehidupan Rara pasti akan terjamin"
Andini menitikkan air matanya saat ia menggendong bayi itu dan menyerahkan pada Vanya.
" Nggak usah nangis, dia ada bersamaku. Kamu bisa tengokin sering sering dengan Arsena. Kapan kalian main ke rumahku kalau tidak ada keperluan penting."
Rara rupanya bangun saat berada di gendongan Vanya. Dia terlihat menatap Andini dengan senyum lebarnya. Andini makin berat jauh darinya.
"Rara baik baik ya sama Tante Vanya. Nanti Tante Andini akan sering sering tengokin Rara, dan do'akan semoga ayah Rara segera menyadari kesalahannya biar Om Arsena cepat maafin kesalahannya"
Iya Tante, Rara ikut Tante Vanya dulu ya, biar Tante bisa fokus urus Excel dan Cello. ujar Vanya mewakili Rara.
Vanya segera membawa Rara masuk ke mobil merah miliknya, kini Vanya yang mengemudi. Dan asisten rumah tangga nya yang menggendong Rara.
"Andini kita pulang dulu ya, jangan nangis, salam buat suami kamu." Vanya melambaikan tangannya.
"Iya, hati-hati." Andini membalas lambaikan tangan Vanya.
Mobil Vanya segera meninggalkan mansion Arsena. Menuju Perumahan Elit Citra land. Baru pertama kali melihat Rara, Vanya sudah jatuh hati. Vanya jadi penasaran sama rupa ayahnya. Walaupun Kendra asisten Arsena sejak lama, tetapi Vanya belum pernah bertemu dengannya.
Perjalanan Vanya menghabiskan waktu dua puluh menit dari mansion untuk sampai kerumahnya sendiri. Sampai di rumah bibi segera membawanya ke dalam kamar sekalian dengan koper sedangkan Vanya membawa tas kerjanya yang berisi berkas dan beberapa alat kesehatan yang dibutuhkan bila ada pasien yang membutuhkan pertolongan di rumah saja.
"Selamat datang Rara, semoga kamu betah disini. Tante sudah siapkan kamar bagus untukmu. Nanti malam kita tidur sekamar ya, kamu di box sini dan Tante di ranjang itu."
Vanya menunjuk kamarnya yang sudah di modifikasi menjadi kamar bayi. Entah kenapa Vanya langsung senang saat Andini akan menitipkan bayi asistennya itu. Berbagai mainan sudah ia siapkan ada yang bergelantungan dan banyak boneka lucu.
Rara hanya bisa senyum-senyum mengamati ruangan indah itu. Kamar yang tak jauh berbeda dengan yang ia tempati sebelumnya cuma bedanya kamar ini bernuansa merah muda sedangkan di rumah Arsena kamarnya bernuansa biru.
"Bibi tolong siapkan air hangat untuk mandi Rara."
" Iya Non."
" Bibi sekarang ada tugas tambahan buat bibi. Ajarin aku merawat bayi ini ya, itung itung bisa buat pengalaman kalau sudah nikah nanti.
" Siap Non. Bibi akan membantu merawat bayi cantik mungil ini."
__ADS_1
"Oh, iya aku lupa tadi nggak minta Andini nomor telepon ayahnya, kalau dia kangen kan bisa hubungi aku dan bicara sama anaknya."
" Iya gimana sih Non ini, belum sehari merawat bayi sudah jadi pelupa." Bibi menggoda Vanya.