Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 173. Kelinci imut sok galak.


__ADS_3

"Antarkan aku ke kantor Kakak Arsena."


" Siap Nona." Davit berkata sambil meringis menahan sakit.


Arini melirik kearah Davit yang kesakitan, sebenarnya kasian, tapi dia sebal Davit masih bisa tenang, padahal sudah diancam dipecat olehnya.


Arsena sedang fokus di depan laptop, jarinya sibuk mengetik tapi bibir dan telinganya fokus pada seseorang yang ada di rumah. Pria itu hampir satu jam sekali menelepon ke rumah. Sekedar menanyakan apa Cello sudah makan, apa Excel rewel, mereka lagi ngapain. Sungguh membuat Andini terkadang kesal olehnya.


Tiba-tiba sekretaris Vina mengetuk pintu.


"Iya Vin ada perlu apa?"


"Pak, adik dan sopir anda sedang menunggu di luar, apa dia boleh masuk." ujar Vina yang berdiri di dekat pintu.


"Davit dan Arini? Ya izinkan dia masuk." Arsena mengakhiri panggilan dengan Andini. Lalu dia menutup laptopnya sesaat. Merasa tumben saja Arini datang saat jam pagi.


Arini dan Davit menyembul dari balik pintu. Arini terlihat kesal dan Davit babak belur.


"Kak!"


"Tuan."


Arini dan Davit membuka suara hampir bersamaan. Namun Arsena lebih tertarik dengan Davit yang babak belur, seragam Hem putih dan celana hitam yang dikenakan juga kusut.


"Kalian duduk dulu, Davit kamu bicara duluan?" Arsena mengisyaratkan tangannya agar Davit bicara lebih dulu.


"Nggak bisa Kak, nanti dia ngarang cerita. Pokoknya Arini yang bicara duluan."


"Arini, duduk dan diam. Dengarkan Davit bicara dan tunggu giliran."


"Ishhh, awas kalo mengada ada." Arini melotot ke arah Davit.


"Ehem, begini tuan Nona Arini dia berpacaran dengan seorang pria yang menurut saya dia kurang cocok dengan Nona yang polos ini."


" Maksud kamu?" Arsena menarik kursinya sedikit lebih maju, membuat dadanya menempel ketat dengan meja.


"Iya, Pria itu terlihat pemarah dan pencemburu, dia mengeroyok saya hanya karena saya telah menolong Nona Arini pas terpeleset di depan kampus."


"Gila ... Kenapa dia bodoh sekali."


"Firasat saya pria yang terlalu berambisi mendekati wanita, biasanya dia memiliki rencana lain atau maksud tertentu. Cinta menurut saya tidak seperti itu, Tuan" ujar Davit panjang lebar.


" Iya, kamu ada benarnya." Arsena mengangguk anggukan kepala.


" Arini apa benar yang dikatakan oleh Davit." Arsena kini menatap Arini yang sejak tadi memelototi Davit. Takut pria di sebelahnya berkata bohong.


" Kak tapi Willy baik sama Arini. Arini nyaman jalan sama dia, Kak Davit belum tau siapa dia saja, makanya dia menjelekkan Willy seperti itu."


Arini bangkit dari duduknya sekarang posisinya disebelah Arsena dengan membungkukkan badannya agar sejajar dengan tubuh kakaknya. Arini menempelkan tangannya di punggung Arsena. Terlihat niat sekali sedang merayu. " Kak Arini suka sama Willy. Dia melakukan itu semua karena cemburu. Dia juga sayang sama Arini."

__ADS_1


"Arini kamu tau apa soal pria? Baiklah kamu tunggu diluar, mau ngapain terserah di ruang istirahat Kakak. Kakak masih ada perlu dengan Davit " Arsena mengacak rambut Arsena gemas. Tak percaya adik kecilnya sudah menginjak dewasa dan memiliki pacar.


"Kak Davitnya dipecat kan, Kak? Dia sudah buat Arini nggak kuliah hari ini. Kak Davit nyebelin."


Arsena tak menjawab dia hanya tersenyum. Tangannya mengisyaratkan agar dia segera pergi.


Arini segera menuju ruang istirahat Arsena di ruang itu Arini bisa melakukan apapun yang disukai. Ada kolam ada ayunan, ada juru masak yang siap menyajikan makanan yang diminta. Ruangan itu khusus digunakan saat keluarga berkunjung ke kantor dan ingin beristirahat lebih lama. Karyawan biasa tak diizinkan untuk masuk.


"Davit, kamu tau aku sangat menyayangi adikku itu. Aku tak ingin dia salah pilih kekasih. Bisakah kamu membantuku menyelidiki pria itu?"


"Tentu Tuan, aku akan bekerja untuk Anda."


"Bagus. Mulai sekarang kau bukan hanya sopir, tapi kau juga akan jadi body guard."


" Siap Tuan."


"Karena di sudah terlambat kuliah, antar dia pulang, kalaupun dia ingin jalan jalan, kamu tak boleh berjarak lebih dari lima meter darinya."


"Siap tuan." Davit menganggukkan kepalanya setiap kali dia menyetujui perintah Arsena.


Davit segera menelepon Arini yang sedang asyik merendam kakinya di kolam sambil teleponan dengan Willy.


Melihat di ponselnya ada panggilan lain, Arini segera memberi tahu Willy agar mematikan panggilannya dulu.


"Maaf Will, bentar ya aku angkat panggilan lainnya dulu."


" Siapa pasti sopir sialan itu ya?"


"Hallo ada apa?" Tanya Arini ketus.


"Kita pulang sekarang."


"Hebat ya sekarang bisa main perintah sama saya, kalau aku nggak mau kamu mau apa? Hah?"


'Makin ngelunjak dia, kenapa kak Arsena belum pecat kak Davit.'


"Sudah kukatakan Nona, tak ada pilihan untuk anda selain nurut sama saya. Atau Anda ingin bicara sama Kakak Anda? Bukankah setelah apa yang anda adukan dia tetap tidak memecat saya?" Suara Davit terdengar tenang.


"Ada ya orang menyebalkan seperti kamu. Semoga cuma kamu satu satunya di dunia ini," keluh Arini sambil menutup panggilannya.


Arini menaikkan kakinya dari kolam yang jernih. Setelah mengelap dengan handuk, dia segera memakai kembali tiptoe shoes yang selalu ia kenakan. Baginya sepatu hak tinggi menambah percaya dirinya karena tubuhnya yang cenderung sedikit mungil.


Arini keluar dari ruang istirahat Arsena, setelah meraih tas selempang dan ponsel dimeja yang tadi digunakan untuk makan semangkuk bakso plus kelontong baru saja.


Tanpa pamit dengan penjaga Arini segera menemui Davit yang menunggu di pintu lift.


"Kenapa sih, kakak sangat percaya pada kamu, pasti diam diam kamu sudah melakukan kecurangan."


"Seharusnya pertanyaan itu Anda tanyakan pada diri Nona. Kenapa anda membenci saya? yang jelas tak pernah melakukan kesalahan pada anda, apalagi menyakiti diri Nona.”

__ADS_1


Arini terdiam, sepertinya Davit benar. Namun Arini kembali mendapat jawaban untuk membenarkan dirinya " kesalahannya cuma satu, Kamu terlalu ikut campur urusan saya."


Davit menekan lift menuju lantai satu. Pintu lift terbuka dan Davit segera masuk.


" Anda tidak pulang Nona?" Tanya Davit yang melihat Arini tak kunjung ikut.


"Aku tak mau naik satu lift sama kamu," ketus Arini.


Karena Arini bandel, Davit segera menarik lengan Arini dengan satu sentakan dan menangkap tubuhnya.


Davit memeluk Arini untuk melindungi agar dia tak terbentur. " Nona sudah kubilang, perintah saya adalah perintah kakak anda. Apa mau dengar sendiri, untung aku sempat merekamnya tadi.


Kepala Arini menempel di dada Davit, dia hanya diam sambil melihat Davit berbicara, yang semakin hari terlihat tampan, hanya saja beberapa bulan terakhir dia jarang tersenyum.


Davit memutar kembali percakapan terakhir dengan Arsena, David menggunakan mandat itu untuk meluluhkan hati Arini yang keras kepala.


Arini mendengar sendiri kalau kakaknya mengalihkan tanggung jawab penuh kepada dirinya. Dunia Arini seakan semakin sesak. Kenapa harus sopir menyebalkan ini.


"Puaskan memeluk tubuh saya Nona, saya juga tak akan membuka pintunya, sebelum anda menjauh."


"Kamu gila, kan?" Arini langsung menjauhkan kepalanya dari Dada Davit sambil mencebik kesal. Arini tak menyadari kalau sudah tiba di lantai paling dasar.


Arini segera keluar tanpa permisi. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Davit hanya melihat tingkah Arini yang tak berdaya menolah perintahnya. Davit melakukan semua ini hanya demi melindungi Nona mudanya.


Sebelum masuk mobil Davit membeli dua es krim di kantin kantor. Dia meminta dua dua nya rasa cokelat.


"Tumben beli Dua, sama pacarnya ya Bang?"


"Enggak, sama majikan saya."


Oh, menerima dua es krim ditangannya. Dia bergegas membawa ke pada Arini. Arini pura pura melengos saat Davit datang.


"Mau? Coklat dipercaya bisa membuat stres berkurang."


"Nggak mau."


"Harus mau soalnya aku terlanjur beli dua." Davit mengulurkan ice cream kepada Arini yang sudah di dalam mobil.


"Rasanya enak. Aku paling suka sama rasa coklat."


"Emang ada yang tanya?" Arini berkata sambil menjulurkan lidahnya menikmati ice cream.


"Enggak ada, tapi aku cuma ingin kasih tau. Siapa tahu kita memiliki selera yang sama."


"Aku suka strawberry," ujar Arini tak berhenti menikmati ice creamnya.


"Masa sih ... Tapi Nona, aku lihat coklat juga suka"


"Sok tau."

__ADS_1


" Tau, itu ada buktinya." Davit dan Arini sama sama melihat pada ice cream Arini yang hampir habis.


__ADS_2