
"Aku akan membunuhmu sekarang juga!!"
"A-a-ku a-kan memberi tahukan dimana kekasihmu, jika ka-ka-u biarkan aku hidup. Aku tau semuanya . Aku berjanji." Securiti gadungan itu terus saja mengiba meminta dikasihani.
"Kata kata yang keluar dari mulut binatang seperti dirimu tentu tak dapat dipercaya, kau sekongkol dengan mereka, kau harus bertanggung jawab."
"Ampun tuan, aku hanya orang miskin, aku bekerja pada Willy karena aku butuh makan."
"Kau tahu! Betapa berharganya Nona kami. Sampai dia kenapa kenapa kau akan aku bunuh." Davit sekarang membenturkan kepala Securiti itu dengan lantai berpaving membuat dia mengerang kesakitan.
" Katakan cepaat!!"
" Dia tak ada di dalam. Mereka sudah membawa kekasih anda pergi. Pesta sudah berakhir dua puluh menit yang lalu," terangnya dengan suara tersengal.
"Iya, sumpah aku nggak bohong, cepat kejar dia sebelum Tuan Willy melakukan lebih jauh pada kekasih anda. Dia telah dibawa ke suatu tempat yang terletak di gang buntu, mereka telah menjadikan tempat itu markas.
"Arini ! Ariniiiii!" Teriak Davit prustasi.
Davit mengusap kasar darah yang mengalir di wajahnya. Dia berdiri dari tubuh Securiti yang entah kenapa kali ini dia percaya kata katanya.
Davit kembali berusaha menahan luka dan perih yang ada ditubuhnya, dia juga merasakan beberapa tulangnya ada yang patah. Namun, semua itu tak menghilangkan tekadnya untuk terus menemukan pujaannya dan membawanya kembali pulang.
Mobil berjalan dengan kecepatan tak tentu, beberapa orang akan mengira pengemudi nya sedang mabuk. Untung jalanan lagi lengang, karena malam ini bumi sedang diguyur hujan yang makin larut makin deras
"Arini kau tak boleh kenapa kenapa, aku yang bodoh harusnya aku tak terkecoh dengan akal licik mereka." Davit berulang kali memukul kemudi mobil melampiaskan kemarahannya.
Lima belas menit berlalu, Davit sudah sampai di depan bangunan sederhana. Namun, memiliki gerbang yang tinggi dan pagar yang kokoh. Davit yakin dia tak salah lagi, di depannya adalah markas yang sedang dicarinya. Keberadaannya sudah benar seperti yang dikatakan oleh security tadi berada di sebuah gang yang buntu.
Davit segera mendobrak pagar besi berulang kali deng menabrakkan mobilnya. Membuat dua orang yang menjaga diluar terganggu oleh kedatangan Davit.
Mereka segera membuka pintu gerbang, berharap Davit akan keluar mobil dan menghajarnya hingga mati sekalian.
"Keluar Lo, energi tinggal seujung kuku saja sok sok'an lawan kita kita,"katanya angkuh. Dua pria sudah menunggu di pintu mobil sebelah kanan dan kiri.
Dada Davit seketika terasa bergemuruh, emosinya naik hingga ubun ubun melawan dua orang sekaligus sudah tak mungkin akan menang.
Gerbang yang sudah tak terkunci dijadikan kesempatan emas untuk Davit agar bisa masuk. Dia segera menerobos pintu dengan kecepatan tak terkendali,membuat dua cecunguk tadi tertipu.
"Sial ... " umpatnya.
__ADS_1
Davit terus saja memainkan pedal gasnya. Mobil mahal itu meraung kesetanan. Tak perduli jika satu mobil hancur, yang penting Arini akan selamat. Davit menginjak pedal rem dan gas bergantian seperti orang kesetanan.
Dua pria di depannya kini hanya melongo seperti anjing ompong. Memperhatikan rencana apa yang akan dilakukan Davit selanjutnya.
Mobil melaju kearah dua penjaga gerbang itu dengan secepat kilat, kalau tak berhasil menghindar sudah pasti tubuhnya akan remuk.
"Aaaa!!!" Salah satu pria itu terlambat menyadari rencana Davit. Buru buru menghindari amukan mobil . Namun, nasib buruk telah menimpanya, satu kakinya terlindas ban mobil depan. Sudah bisa dipastikan kakinya akan remuk.
Davit tersenyum puas. Satu lawan sudah berhasil dilumpuhkan kini tinggal satu lagi.
Davit bergegas turun dari mobil dan menghampiri pria yang sedang menolong temannya. Begitu Davit datang dia langsung menyerang secara bertubi tubi. Tapi malang sekali, Davit sudah berubah menjadi monster yang sangat mengerikan.
Davit langsung mencekik lehernya setelah berhasil menghindari satu pukulan lawan yang dilakukan dengan membabi buta tadi.
"Akhh !! ampun, Aku tak bersalah apapun. Ampun lepaskan aku, Tuan," rengeknya.
"Biarkan aku pergi menyelamatkan kawanku," pintanya dengan wajah memelas, tubuhnya bergetar dahsyat.
Davitt mendorong hingga dia terjatuh dengan posisi terlentang. Davit menginjakkan kakinya tepat di tulang rusuknya.
"Ampun Tuan, Ampun. Jika kau ingin kekasihmu selamat lebih baik izinkan kami pergi dan segera masuk ke dalam. Atau kau akan menyesal. Telah mendapatinya sudah tak perawan.
Davit urung menyiksa lawannya, dengan langkah gegas masuk ke dalam markas yang ternyata pintunya sudah tak terkunci.
Davit segera membuka tiap ruangan dengan tergesa gesa. Bibirnya tak berhenti memanggil nama Arini.
'Aku ada disini Kak, tolong aku Kak. Selamatkan aku.' suara hati Arini.
Arini menutup matanya rapat rapat ketika Willy mulai membanjiri wajahnya dengan ciuman penuh nafsu. Tangannya dengan bringas menarik tali pada gaun biru yang dikenakan.
'Bajingan kau! jangan lakukan, aku mohon Willy. Aku tak sudi denganmu lagi, Jangan sentuh aku.'
'Kak Davit tolong aku! Tolong! Selamatkan aku!'
Batin Arini terus berteriak minta tolong, namun apalah daya, jeritan itu hanya sebatas di hati saja.
Willy mengusap air mata Arini yang terus menetes.
"Sayang, kenapa kau menangis. Aku akan memberi kenikmatan yang tiada tara untukmu, kau pasti akan sangat senang. Kau tahu Rosa saja sering kali datang padaku untuk meminta," ucap Willy penuh percaya Diri.
__ADS_1
"Kamu sih, sok jual mahal. Jadi aku hari ini akan sedikit memaksa. Tapi tenang sayang. Aku akan bertanggung jawab. Jika kau hamil anak kita, aku akan langsung menikahimu." Davit terus saja menjelajahi rambut dan leher Arini dengan dua jarinya.
"Sopir kamu itu pasti sudah mati di tangan anak buahku yang tak terkalahkan, dia akan membusuk tanpa ada yang menemukan mayatnya ... ha ... ha." Willy tersenyum devils.
Sekarang dia membuka seluruh baju miliknya sendiri hingga menyisakan celana kolor saja. Willy sudah siap akan merenggut mahkota Arini sekarang juga.
' jahanam, rupanya selama ini kau sudah sering melakukan dengan Rosa. Iblis kau. Kenapa aku tak percaya ucapan Kak Davit. Kak Davit ternyata benar, yang kulihat semuanya benar kau selingkuh.'
Air mata terus saja membanjiri bantal yang menjadi alas kepala Arini. Arini berusaha sekuat tenaga untuk bisa bergerak, tetapi tak mampu. Jangankan bergerak mengeluarkan sepatah kata saja dia tak sanggup. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat dan hanya Indra mata saja yang masih bekerja dengan normal.
Braaak!
Pintu didobrak oleh Davit, Willy yang sedang diliputi nafsu yang memburu sontak langsung menoleh ke arah suara.
Willy terkejut melihat pria dengan baju berlumur darah itu ternyata masih hidup.
"Kau !!"
" Bagaimana bisa kau masuk kesini? Besar juga nyalimu rupanya." Willy buru-buru memakai kaos. Namun, usahanya sia-sia. Davit sudah lebih dulu memberikan bogem mentah pada tulang tengkoraknya.
Willy hendak membalas pukulan Davit. Namun, sayang sekali kesempatan itu sama sekali tak ada. Davit sudah lebih dulu memberi pukulan lagi pada dada bidangnya. Pria bertelanjang dada itu seketika terjungkal pingsan.
Melihat Willy tak berdaya, Davit segera menghampiri Arini. Bibir Arini terlihat menampilkan segaris senyum
"Nona kau baik baik saja?" tanya Davit.
Arini menjawab dengan memutar bola matanya. Davit tak tau apa artinya. Tapi sudahlah itu tak penting. Yang diinginkan Davit sekarang bagaimana bisa segera pergi dari rumah itu.
Davit segera membenarkan tali gaun yang terlepas. Davit melakukannya dengan memejamkan mata. Dia merasa tak pantas melihat tubuh bagian atas milik nona mudanya yang begitu putih dan halus.
Usai membenarkan tali gaun, Davit mengangkat tubuh Arini. Arini terus saja menatap Davit yang memang tampan namun kondisinya mengenaskan. Luka terlihat di sekujur tubuhnya.
"Nona tenang saja, kita sudah aman," ujar Davit lemah lembut.
*mohon maaf hari ini mamak telat post bab. semoga besok bisa kembali siang hari.
* tetep jangan lupa ritualnya ya. kasih like komen dan Vote.
* mamak sayang kalian banyak banyak.
__ADS_1