Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 291. Bersama keluarga.


__ADS_3

Davit dan Arini terpaksa harus tinggal di mansion. Arini masih ingin melihat kakaknya sembuh seperti sedia kala. Mansion yang besar tak membuat moment romantis mereka terganggu, mereka tetap bisa bermesraan dimanapun tanpa merasa risih. 


Pagi ini kebetulan hari Minggu, Arini sedang bermain main di dekat kolam, dia duduk sambil menikmati indahnya udara pagi. Tiba tiba saja lengan kekar melingkar di pinggangnya. 


"Hello, beib!" Davit mencium pipi istrinya dari belakang. "Umpph." Suara ciuman mereka begitu menggoda.


"Pasti belum mandi ya."


"Enak aja, udah Kak!" 


"Kok masih bau." Davit menggoda.


"Benarkah? Arini menciumi ketiak dan tubuhnya sendiri, nggak ada yang bau. Wangi. Kak Davit sengaja ya bikin Arini kesel."


"Nggak aku serius, tapi bo'ong." Davit berlari memutari kolam, Arini mengejarnya dengan gemas. Ingin sekali dia menggigit leher suaminya biar nggak selalu bikin kesal. 


"Kak Davit berhenti!!"


"Kejar aku beib. Kalau bisa aku kasih hadiah!"


"Hadiahnya bagus nggak?" 


"Pasti dong!" Mereka berbicara sambil bekejaran seperti anak kecil. 


Davit memang suka mengikuti gaya Arini yang masih kekanakan. Dia sendiri juga memang suka bercanda. Davit yang ceria sudah kembali, setelah lama dia tak pernah tersenyum ketika Zara menolaknya. 


"Ya Tuhan, kalian beldua, kenapa sepelti anak kecil" Cello berkacak pinggang di depan pintu. 


"Cello mau bantu Tante Arini tangkap Om Davit?" Arini membujuk Cello agar membantunya.


Davit terlihat menggelengkan kepala. Yang artinya jangan mau.


"Ada salatnya, Tante. Cello akan bantu tapi nanti ciangk bikinkan ice cleam pakai yogult tayak temalen ya." 


"Oci tuan muda." Arini menautkan ibu jari dan telunjuknya hingga mirip huruf O.


"Yes, kakak Exel kita bantu Tante Alini kejal om Davit  bial dapat ice cleam yang kaya kemalen.


"Selius?" 


" Iya, selius."


"Oke." Exel dan Cello ikut mengejar Davit, Arini hanya melihat dari kursi panjang. Terpaksa, Davit harus mengalah dengan anak-anak yang sudah berusaha mengejarnya. 


Davit memeluk Exel dan Cello yang sudah sangat wangi karena habis mandi. Menciumi dua bocah yang sedang lucu lucunya itu. 


Davit terlihat membuat rencana dengan dua bocah kecil itu. "Sttt sini merapat om bisikin, bagaimana kalau kasih kejutan buat Tante?"


"Kejutan apa, Om?" Exel dan Cello terlihat semangat.


Davit berkata bisik bisik biar tak di dengar Arini. "Gimana setuju."


"Oce." Dua bocah itu setuju dengan rencana Davit. Mereka tis sebentar lalu mencium pipi Davit kanan dan kiri. 

__ADS_1


Davit Excel dan Cello kini duduk di dekat Arini. Sambil senyum senyum. "Punya rencana apa kalian? Awas ya kalau bercandanya keterlaluan?"


Davit Exel dan Cello hanya senyum senyum tak jelas. 


"Serbu!!" Mereka serempak menggelitik Arini membuat Arini kelojotan menahan geli. 


"Ampun! ampun! Lepas akh! Kalian curang kalian, curang ini namanya!." Arini terus memohon ampun tak tahan geli hingga akhirnya dia menyerah. Nafas Arini ngos ngosan karena ulah suaminya.


Exel, Cello, sudah jangan ganggu Tante sama Om Davit  terus donk." Andini memperingatkan putra-putranya sambil membawa dua mangkuk bubur ayam untuk Exel dan Cello.


"Udah Mbak, biar aku aja yang suapin, Mbak Andini sarapan bareng Kak Arsen aja dulu."


"Davit, kalau kamu mau bubur ayam, Mbak Andini ambilin ya, biar disuapin Arini sekalian." Andini menawari sambil menggoda Arini.


"Boleh."


"Malas ah, suapin Kak Davit. Mending suapin Excello, anak pinter ini." Arini mencebikkan bibirnya. 


Exel dan Cello rupanya sudah tak sabar ingin menikmati bubur ayam buatan Andinj yang sudah sering dia makan.


Andini beranjak pergi, tak lama dia  segera mengambil empat mangkuk bubur lagi. 


Memberikan satu untuk Davit, satu untuk Arini dan dua lagi untuk Arsena dan dirinya, pagi hari sarapan di taman dekat kolam rasanya akan lebih santai dan nikmat. 


Sedangkan Papa dan Mama rena mengunjungi Mama Mita yang kurang enak badan. 


Arsena ikut bergabung dengan anak dan istrinya, dia sudah tak lagi larut dalam kesedihan seperti kemarin, Arsena mulai bisa menerima calon bayinya yang pergi, dia juga mulai bisa menerima kondisinya yang sementara masih tergantung dengan kursi roda.


"Hubby, mumpung ini Minggu, kita bisa sarapan bersama kayak gini." Andini berusaha mencairkan suasana.


Andini tanpa malu menunjukkan kemesraannya di depan Adiknya. Dia menyuapi Arsena, segera mengusap dengan tisu jika ada yang belepotan. 


Davit dan Arini sering kali saling pandang dengan berakhir senyum di bibirnya. 


Sedangkan Arsena menikmati tiap suapan sambil memeriksa setiap data yang dikirimkan oleh Vina di laptopnya. 


"Em kalau boleh tau, Kak Arsen, ada target nggak punya anak berapa gitu?" Davit membuka percakapan. 


"Banyak." Jawab Arsena.


"Empat!" Jawab Andini cepat.


"Kok berbeda, Mbak Andin maunya empat, Kak Arsena maunya banyak," ujar Davit bingung.


"Empat aja cukup." Andini menegaskan. 


"Aku maunya banyak, Sayang." Arsena membelai rambut Andini.


"Empat!" Andini tak mau kalah.


"Banyak!" Arsena lebih tak mau kalah lagi. 


"Sedikasihnya Tuhan saja. Vit." Kata Andini akhirnya. Dia mau berapapun anaknya nanti, asalkan itu bisa membuat pria yang dicintai lebih bahagia. "Kalau kamu? Kok Arini belum ada tanda-tanda hamil. Sudah periksa kesuburan kalian berdua apa belum?" 

__ADS_1


"Kami belum siap Mbak," jawab Arini.


"Why? Alasannya?" Andini terkejut.


"Arini masih kuliah Mbak. Takut nanti nggak fokus aja.


"Saran Kakak, mending kalian punya anak dulu lah,  satu atau dua dulu, soalnya keluarga kecil kalian akan semakin bahagia kalau ada buah hati."


"Mommy, Exel mau makan buah hati." 


"Exel buah hati itu nggak untuk dimakan, tapi untuk disayangi, seperti kamu ini." Andini mengecup pipi gembul putranya yang berusaha meraih tisu untuk mengelap bibirnya. Andini membantu putranya. Membersihkan bubur yang belepotan.


"Benar yang dikatakan Mbak Andini, Beib, kamu harus hamil dulu, nggak usah pake kontrasepsi segala lah, aku sudah pengen dengar kabar kamu hamil." Davit meraih jemari Arini dan menggenggamnya.


"Arini nurut sama suami, kelamaan pake kontrasepsi juga bisa bikin kandungan kering, kamu nyeselnya seumur hidup lho nantinya." Arsena sok tau.


"Iya deh Kak, Arini nggak akan minum lagi tuh pil nya, biar cepat hamil." Arini akhirnya mengambil keputusan juga setelah lama berfikir.


"Sayang, kamu juga jangan minum pil ya. Saat aku sudah lebih baik sedikit lagi, kita langsung bikin adek buat Exel dan Cello." Arsena merengkuh pinggang istrinya. 


"Ih, Mulut dah kebiasaan bar-bar." Andini membekap bibir Arsen. Pria itu malah menggigitnya. Andini tak ingin anak anak melihat kelakuan nakal Daddynya.


"Exel Cello. Kamu sana bermain jangan ganggu Kak Davit terus ya. Nanti kalau sudah pukul sembilan, kalian minta mandi sama tante Ratna, lalu siap siap belajar ya, nanti ada Bu guru, kesini mengajari kalian menulis dan menggambar."


"Iya Mommy. Exel akan belajar, tapi kapan Daddy bisa temani kita belajar, Daddy kenapa kakinya lama sembuhnya." 


"Anak pinter, kalau kalian pinter Daddy pasti lebih cepat sembuh."


"Exel dan Cello akan jadi anak pintel, janji Mommy." Bocah itu menunjukkan jari tengah dan telunjuknya. Terlihat iba melihat Daddynya yang sangat gagah dan tampan sekarang harus berjalan dengan kursi roda. 


Menurut dokter Mark, kaki Arsena akan cepat sembuh karena yang patah hanya tulang kecilnya saja, dan dijamin tak akan membuat dirinya kehilangan kadar ketampanannya saat bisa berjalan nanti. 


Arsena dan Andini kembali masuk, dia biarkan Davit dan Arini bermanja di bangku panjang dekat kolam yang kini menjadi sangat sepi. Kolam itu hanya dikunjungi oleh keluarga saja, Asisten akan masuk jika diperintahkan untuk membersihkan.


Arini terlihat duduk sambil membaca buku mata kuliahnya, sedangkan Davit tidur merebahkan kepalanya sambil bertingkah nakal, tangan jahilnya tak mau diam menggelitik Arini. Bahkan diam diam Davit memasukkan tangannya mencari kenyamanan di balik kaos putih milik istri. 


"Kak Davit lepas nggak." Arini risih dengan Davit yang suka sekali meremas dua buah jeruk yang sekarang terlihat lebih besar dan matang itu. 


"Enggak mau, ini milikku Kan."  Davit mengecupnya dari luar t-shirt yang dipakai Arini.


"Iya, tapi aku lagi belajar."


"Bentar aja please, tolong tenangin dia dulu." Davit menunjuk pada bawah perutnya yang sudah mengembung seperti botol air mineral di balik celana. 


"Tadi pagi sebelum subuh kan sudah Kak, masa iya mau lagi."


"Udah penuh, udah sesak." Davit mengelus torpedo dari luar celana, yang sudah siap meluncurkan pelurunya. 


"Please, Beib. Kita main di dalam kolam itu." Ide gila Davit.


"Arini dengan kesal menaruh bukunya di meja. Davit tanpa memberi komando langsung menyambar bibir merah sang istri. 


Setelah mengunci pintu masuk, Dengan agresif langsung membuka hem dan celananya hingga menyisakan boxer biru yang menutupi aset berharganya. Mereka bermain main sebentar di kursi panjang. 

__ADS_1


Arini terbuai oleh sentuhan suaminya, nafasnya kini tersengal sengal seperti ikan kehabisan air. Davit segera mengangkat tubuh mungil istrinya dan menggendongnya masuk ke kolam. 


Air kolam yang tadinya tenang kini mulai diterpa tsunami, airnya mulai bergejolak hingga meluber ke tepian. Tubuh Arini dan Davit terus berguncang guncang di dalamnya. Pasangan muda itu tak pernah lelah untuk menikmati hari hari indahnya sebagai pasangan baru. 


__ADS_2