
"Davit kita pulang sekarang."
"Siap Tuan." Seperti biasa Davit selalu senang saat namanya di panggil.
Arsena menghentikan langkahnya. "Tuan? Berapa kali aku harus bilang padamu, kenapa kau ulangi lagi dengan terus memanggilku seperti itu? Apa kau benar benar ingin aku memukul bokong mu."
"Tidak Tuan, Eh Kak." Davit terkekeh.
"Gondrong, botak jaga mereka berdua. Jangan sampai dia lolos. Jika Lili kesakitan panggilkan dokter untuknya."
" Tuan, kau sungguh baik, kau menghukumnya tapi kau juga memikirkan menyembuhkan penyakitnya."
" Aku tak mau menyiksa orang yang sakit, aku akan membuat hidupnya sakit saat dia sehat, itu akan lebih menyenangkan," gertak Arsena.
Ken terus saja memandang Davit yang bahagia bisa disamping Arsena. Masa itu telah berakhir baginya. Andaikan waktu bisa diputar, dia akan menghapus kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Dia berjanji jika ada kesempatan untuk bebas dari sini dia akan mencari Rara dan membawanya pergi. Cintanya untuk Lili sudah tak sebesar dulu. Keraguan mulai bermunculan seiring berjalannya waktu. Bahkan dua hari saja tak bersamanya wanita itu sudah bersama pria lain. Apa saja yang dilakukan tentu Ken tak tahu.
Arsena kembali pulang, berharap di rumah nanti kabar gembira sudah menantinya. Davit berlari membukakan pintu untuk Arsena. " Tidak perlu kau lakukan lagi, aku bisa sendiri. Berhentilah menjadi asisten ku. Aku ingin kau mulai membiasakan diri menjadi adikku."
"Maafkan saya, saya belum terbiasa. Memanggil anda dengan kakak, rasanya kurang sopan saja." ujar Davit.
" Kalau begitu, jangan menikah dengan adikku maka kau akan memanggilku Tuan untuk selamanya." Canda Arsena.
"Ya, Maafkan saya, saya tak akan lupa lagi, Kakak."
____
"Tolong ambilkan ponselku, ada disaku, aku ingin menelepon seseorang." Sambil berusaha merogoh dengan tangannya sendiri namun tak bisa.
Gondrong dan Botak hanya diam. Dia ingin sekali mengabaikan Ken sebagai hukuman tambahan yang membohonginya selama ini.
"Kau tuli ya?"Ken menjadi pias.
"Jaga bicaramu Ken, aku bukan bawahan lagi, dan kau sekarang bukan siapa-siapa lagi."
Gondrong mengabaikan Ken lalu pergi keluar, udara diluar yang sejuk, ditemani dengan kopi hangat pasti akan lebih menyenangkan daripada di dalam penjara yang pengap menatap dua insan yang duduk di kursi dengan tangan diborgol.
Gondrong bisa bekerja dari luar ruang tahanan, dengan memantau Ken yang ada di dalam melalui laptopnya. Sedangkan Botak sedang mencari makanan lezat usai mendapat bonus yang banyak dari Arsena.
"Biasanya susah senang kita jalani bertiga, berdua saja rasanya ada yang kurang, Gon," keluh Botak. Yang sedang menyesap rokoknya. Sambil menatap acara televisi kesukaannya.
" Iya benar, kenapa juga Ken harus berkhianat. Otaknya sudah berubah jadi otak-otak kali." ujar gondrong. "Udah mending nggak usah bahas dia. Mending kita makan gurami bakar lezat ini."
__ADS_1
Ketika Arsena dan Davit dalam perjalanan pulang.
"Vit apa kamu sudah punya banyak tabungan untuk biaya pernikahan? kamu sudah tau kan disini adatnya pengantin laki-laki yang harus membiayai semua kebutuhan pesta?" Tanya Arsena saat mereka sedang berada dalam perjalanan pulang.
" Ada kak, walaupun pestanya nanti jauh dari kata mewah. Tapi aku akan berusaha sebisa mungki tak membuat malu keluarga anda."
" Uang darimana? Jangan bilang kamu akan ngutang ya? Masa menantu keluarga Atmaja menikah dengan modal hutang?" Arsena mencoba menggali informasi keuangan Davit.
" Tidak Kak, akan aku usahakan pakai uang sendiri." Davit menoleh pada Arsena yang menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil.
"Baguslah kalau begitu. Tapi uang darimana?" Tanya Arsena santai, masih berada diposisi bersandar.
" Nenek di kampung mengizinkan saya menjual tanah persawahan peninggalan bapak. Daripada nggak ada yang nyangkul disana. Saya juga sudah bekerja di kota sekarang," ujar Davit
"Emmm, begitu ya." Arsena menatap ke arah samping. Sawah yang hijau luas membentang sepanjang perjalanan kebetulan sedang ia lalui sekarang.
"Sayang banget sawahnya, padahal itu peninggalan orang tua yang seharusnya di jaga." ujar Arsena menatap Davit sesaat.
"Kamu nggak sayang? Soalnya itu peninggalan orang tua kamu." Tanya Arsen lagi.
" Aku yakin Bapak di atas sana akan senang melihat saya menikah, apalagi sama adik tuan yang sangat cantik."
" Arini memang cantik, tapi yang lebih menonjol dia ke kanak-kanakan. Kadang juga ngambekan. Kamu pasti harus banyak sabar nantinya."
" Saya sudah tau, Kak. Tapi bagi saya dia wanita yang spesial, tak bisa aku lukiskan dengan kata kata pokoknya. Justru manja dan ngambekan yang ada pada dirinya itu menjadikan saya lebih berguna untuk melunakkan hatinya nanti." Davit tersenyum malu malu.
Arsena kemudian meminta berhenti di sebuah apotek untuk membeli tespect sebentar. "Berhenti sebentar."
"Oke, Biar aku belikan Kak," Davit menawarkan Diri.
Tidak terima kasih, biar aku sendiri. Arsena turun dari mobil. Dia membeli aneka macam tespeck dengan berbagai bentuk. Setelah mendapatkannya dia langsung kembali lagi ke mobil dan meminta Davit untuk mengemudikan mobil langsung pulang saja.
Sampai di halaman mansion, Arsena segera turun. Tak menghiraukan Arini yang sudah menyambut kedatangan Davit. Mengabaikan Miko yang sedang suap suapan dengan Dara di Gazebo, dan Zara yang lagi narik ulur layang layang dengan Mert.
Jenis kelamin bayi mereka kata dokter semua laki laki, tapi entah nanti saat launcing. Kadang hasil USG juga bisa salah.
"Andini, Sayang!" Panggil Arsena dari luar Kamar. Rupanya Vanya yang membukakan.
"Vanya, sudah lama kamu datang?"
" Lumayan, setelah kamu telepon tadi."
" Oh baguslah, Andini ada yang temani." ujar Arsena. Menyampaikan jaketnya di sandaran kursi.
Arsena segera menghampiri Andini mengusap keningnya yang hangat." Kok masih hangat, jangan-jangan benar ni ada dedek nya di perutnya. Excel dan Cello mau punya Adek lagi."
__ADS_1
Andini mengangguk sambil tersenyum "Semoga aja."
" Duh, kayak nanam jagung nie, cangkul tanam, petik, tanam lagi," ujar Vanya yang tengah berdiri di belakang Arsena. Arsena duduk di kursi kecil di samping wanitanya yang nampak lesu tak ada gairah.
"Sayang, aku belikan ini tadi, kamu coba dulu ya. Siapa tahu bener ada Adek bayinya." ujar Arsena merogoh saku celananya, menyerahkan kantong kresek berwarna hitam yang dijadikan bungkus alat test kehamilan itu.
Andini mencoba duduk dan menerimanya kantong pemberian Arsena. "Ars, tapi kalo nggak hamil gimana?"
"Nggak apa apa mungkin belum saatnya." Arsena menyudutkan bibirnya tersenyum kaku.
Andini masuk ke kamar mandi, Vanya dan Arsena menunggu di sofa. Mereka ngobrol sebentar seputar pekerjaan di rumah sakit, juga perihal Andini yang jarang datang karena sibuk dengan kedua putranya.
Lima menit kemudian Andini keluar, Aura wajahnya terlihat makin lesu daripada tadi.
Arsena segera mendekati Andini yang baru beberapa langkah keluar kamar mandi. Serentetan pertanyaan segera ia lontarkan. " Sayang gimana hasilnya? Pasti positif kan?"
Andini meyerahkan tiga alat berbentuk stik kurus dan gemuk serta kotak itu ke tangan Arsena. " Lihat sendiri."
"Setelah menyerahkan testpack ke tangan Arsena. Andini segera duduk di sofa di dekat Vanya.
"Hasilnya positif apa negatif?" Tanya Vanya dengan berbisik.
" Hasilnya negatif Van."
"Sabar, nanti kalau waktunya juga akan ada lagi. Lagian kalau jaraknya terlalu dekat juga kurang baik untuk kamu dan anak-anak." ujar Vanya sambil menggenggam tangan Andini.
"Kamu benar Van, aku harus fokus sama Excel dan Cello dulu. Kasian kan, kalau kecil harus punya adik lagi." Andini berusaha tersenyum. " Cuma Arsena pengen punya bayi perempuan cepat."
"Nggak kok sayang, siapa bilang." Arsena menyahut setelah memperhatikan ketiga tespeck di tangannya. Setelah aku ingat perjuangan kamu saat melahirkan Excel dan Cello aku jadi kasian, belum saatnya kamu harus merasakan sakit itu lagi. Sepertinya dua anak sudah cukup buat kita." Arsena melingkarkan tangannya di leher Andini dari belakang dan mengecup pipinya membuat Vanya harus memalingkan wajahnya sebentar.
'Duh, Arsena, kenapa sih harus cium Andini sekarang. Aku kan jadi nggak enak lihat kalian bermesraan begini.'
" Ndin aku pulang dulu ya, hasilnya kan sudah pasti, kamu nggak hamil. Itu artinya tubuh mu lelah, cuma butuh istirahat saja."
" Iya Van, mungkin karena aku terlalu takut hamil jadinya kebawa halu." Andini berdiri setelah Vanya juga berdiri. Sedangkan Arsena melepas dagunya yang menancap di pundak Andini.
" Besok kesini lagi ya Van."
" Kalau nggak lagi banyak pasien. Daaaaa aku pulang." Vanya berlari keluar kamar Andini menuju lift.
Setelah Vanya pergi Arsena dan Andini kembali duduk di sofa. " Sayang teman kamu betah banget ya jadi jomblo."
" Entahlah, dia sebenarnya naksir sama Vano, tapi ternyata Namira juga sayang Vano. jadi Vanya iklasin aja Vano buat Namira." ujar Andini.
"Mengikhlaskan orang yang kita sayangi bersama yang lain itu berat. tapi kalau itu membuat orang yang kita sayangi bahagia kenapa tidak. mungkin jodoh Vanya masih di jaga wanita lain." ujar Arsena yang kini malah menatap Andini dengan segenap rasa sayang. ingat betapa berat perjuangannya mendapat hati Andini yang dicintai adiknya.
__ADS_1
* happy reading.