
"Oma, kenapa Oma biarin Andini pergi! Harusnya Oma cegah dia" Arsena meremas rambutnya frustasi, berlari keluar berharap Andini masih belum jauh.
Melihat Andini sudah raib dari pandangan Arsena segera mencari kunci di gantungan.
"Percuma cari dia sekarang, Andini kecewa sama kamu Ars." Kata Oma.
"Aku tau. Tapi dia sedang hamil, Omaaa. Aku tak bisa biarkan dia sendirian diluar sana." Arsena berlari bolak balik ruang tengah membuat Rena menjadi heran, sudah dikhianati istrinya masih saja menunjukkan sayang dan perhatian.
"Ars, jika kamu mendengarkan kata kata Mama kamu, sudah pasti kamu dan Andini tak akan bersatu selamanya, Oma hanya ingatkan saja. Itu jika kamu masih anggap aku Oma." Oma berkata sambil melirik ke arah Rena dengan wajah kesal.
"Arsena terlalu sayang Andini ... Oma, begitu mendengar kata Andini telah selingkuh dengan Miko, akal sehat ini seperti kehilangan fungsi, Oma." Jelas Arsena dengan suara sendu
"Arsena harus cepat susul dia, Oma." Arsena berjalan cepat hendak keluar, tetapi Oma melarangnya.
"Tunggu. Emangnya kamu tau Andini ada dimana?" Tanya Oma lagi.
"Makanya Arsena mau cari, Oma." Arsena terlihat kesal.
Oma tertawa terkekeh," Ars,Ars, Menurutmu Andini mau pulang setelah kau meragukan kesetiaannya"
"Aku akan mencoba Oma, jika perlu aku akan memaksa menggendongnya."
"Jika kamu masih ragu dengan ketulusan Andini, mending cari kebenaran semuanya dulu, biar kamu yakin dan tak ada lagi kesalahpahaman."
"Baiklah Oma, kalau begitu Ars, lihat CCTV dulu. "Arsena berjalan menuju ruang kerjanya.
"Oma ikut, Oma juga ingin tahu." Oma mengekor di belakang Arsena.
Arsena segera duduk di depan sebuah benda berbentuk persegi yang sudah terhubung langsung dengan kamera pengintai di setiap ruangan. Oma juga ikut serius, ingin tahu bukti kebenarannya. Oma duduk di sebelah Arsena dengan tenang.
Arsena dan Oma nampak sangat antusias. Ia memutar ulang kejadian beberapa jam yang lalu.
Nampak Andini berjalan ke taman sambil membawa puding pemberian Miko. Andini terlihat mengelus perutnya dan mencoba perbicara dengan janin yang ada diperutnya. Arsena terharu mendengar obrolan Andini dengan si kembar.
Tak lama Miko menghampiri, dan terlihat Andini canggung dan ingin pergi mengambil minum, Arsena bisa membaca kalau Andini tak suka dengan kehadiran Miko. Namun ternyata ada banyak minuman kemasan gelas di meja kecil di sebelah Miko.
Disitu terlihat mereka kembali bicara, Andini merasa bersyukur dengan hubungannya dengan Arsena, Terlihat Miko mengeluarkan isi hatinya.
Miko yang salah disini, dia ingin menjaga Andini sedangkan jelas itu tugas Arsena. Lalu Dara datang dari arah belakang dan tiba tiba menangis sambil membuat kehebohan.
"Ars, sekarang jelas Kan? Andini itu tidak mungkin selingkuh, ini salah paham. Oma kecewa sama kamu Ars. Bisa bisanya meragukan karakter istri kamu seperti ini. Harusnya kamu langsung percaya sama penjelasan dia."
"Aku sayang Andini Oma, aku sangat takut kehilangan Dia." Kata Arsena dengan nada suara penyesalan. "Aku cemburu dengan masalalu Andini dan Miko."
"Itu salah siapa? Itu salah kamu Ars, coba aja dulu tidak kau sia-siakan Andini. Pasti Miko tidak memiliki kesempatan mendekatinya."
"Kok Oma tau ....?" Tanya Arsena heran.
"Oma tau semuanya." Jawab Oma dengan tatapannya yang teduh.
"Sekarang kalau sudah begini, nyesel kan kamu?" Kata Oma lagi.
"Iya Oma, Arsena harus menyusul Andini dan minta maaf," kata Arsena sebelum beranjak dari ruang kerja.
"Kamu sudah tau dia dimana?"
"Tau lah Oma, aku bisa mencarinya melalui benda pintar ini." Kata Arsena dengan memamerkan handpone canggihnya.
Rupanya diam-diam Arsena sudah menyadap ponsel Andini. Hingga ia bisa tahu kemanapun Andini pergi selama bersama ponsel pemberiannya dulu.
"Cepat jemput istrimu, dan bawa pulang. Atau kamu akan turun jabatan menjadi cleaning service jika tak berhasil membawa istrimu pulang.
"Baik Oma."
Arsena senang Andini tidak pulang ke rumah orang tuanya, Andini yang selalu bersikap bijak, tak mungkin menunjukkan pada keluarganya ketika sedang menghadapi masalah. Selain itu ibu Ana dan pak Doni pasti sedang hangat-hangatnya menikmati indahnya malam pertama.
"Zara, siapkan beberapa baju ganti Nona dan sesuatu yang mungkin akan dibutuhkan, aku akan menyusul Nona, kamu tolong ikut denganku." Kata Arsena ketika berpas-pasan dengan Zara di undakan tangga.
"Baik Tuan." Zara mengangguk patuh dan segera melaksanakan titah majikan lelakinya.
Arsena dan Zara segera berangkat menuju kontrakan Andini. Sebelum sampai Arsena membelikan banyak sekali hadiah untuk Andini. Dengan tujuan agar hatinya akan luluh.
__ADS_1
"Zara bantu aku memilih hadiah untuk Nona."
"Siap Tuan." Zara ikut turun saat pria bertubuh tegap, ideal dan selalu mengeluarkan aroma maskulin itu keluar mobil.
"Tuan bunga mawar sangat romantis." Kata Zara.
"Baiklah kita beli bunga mawar." Arsena dan Zara masuk ke toko bunga. Dia meminta penjual menunjukkan bunga paling bagus dan mahal. Arsena sekaligus meminta penjual merangkainya dengan rangkaian paling indah.
Setelah selesai ke toko bunga Arsena membelikan Andini baju hamil yang tentunya akan cantik saat dipakai istrinya. Buah buahan dan coklat batangan kualitas premium juga tak luput dari incarannya.
"Zara nanti kamu yang ketok pintu ya, kalau dia lihat aku duluan, khawatir dia nggak jadi buka pintu."
"Iya tuan." Dalam hati Zara terus saja mengagumi sosok yang sedang mengemudi, tuan penguasa yang angkuh dan dingin ternyata dia juga memiliki sisi takut kehilangan wanita biasa. Padahal dia bisa saja membawa Andini kembali walau dengan satu bahasa isyarat tangan.
"Tuan, apa Anda yakin? Nona tinggal disini?"
"Iya, sekarang turunlah dan ketuk pintu itu, aku akan membawa hadiahnya."
Zara berjalan lebih dulu dan Arsena berada di belakang.
Tok! tok! tok! Bunyi ketukan tangan Zara pada daun pintu.
"Zara!"
Andini terkejut Zara datang. Keterkejutan Andini berubah menjadi kesal ketika melihat siapa yang ada dibelakang Zara.
"Nona!" Zara segera memeluk Andini erat layaknya kakak. "Nona kenapa pergi dari rumah tanpa Zara? Apakah Nona sudah bosan dengan kehadiran Zara. Tolong jangan pecat Zara, Nona. Saya masih butuh pekerjaan ini" Zara pura-pura menangis, semua yang dilakukan Zara sudah sesuai instruksi dari Arsena.
"Zara siapa yang mau pecat kamu?"
"Tuan Arsena akan memecat saya kalau Nona tidak ada di rumah besar lagi."
"Benar Ars, kamu bicara begitu."
"Iya benar, kalau kamu pergi dari rumah, dia tidak punya tugas lagi."
"Sayang, jangan galak-galak, kasian anak kita dia pasti sedih melihat mama yang cantik ternyata suka menganiaya Papa mereka seperti ini."
"Karena kamu sudah keterlaluan. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku teriak kalau sudah sangat mengganggu di tempatku." Kata Andini. Masih dengan nada suara marah.
Sayang jangan marah-marah energinu nanti habis, ini aku belikan bunga sebagai perwujudan kalau aku minta maaf, dan ini coklat supaya kamu tak marah lagi.
"Iya terimakasih, tapi aku bisa beli semuanya dengan uangku sendiri, aku tak mau kau mengasihani ku lagi."
"Tolonglah, diterima please." Arsena memasang wajah memelas.
"Tidak mau, pulanglah sekarang. Andini menarik Zara masuk dan menutup pintu dengan cepat."
"Sayang buka pintunya, Zara boleh masuk kenapa aku tidak boleh."
"Pergilah! Aku tak membutuhkanmu disini!" Suara Andini dari balik pintu
" Sayang aku minta maaf, aku percaya kalau kamu tak melakukan apapun dengan Miko!!" Arsena menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Arsena terlihat seperti anak kecil yang merengek.
"Pergilah, aku masih marah, kamu pikir nggak sakit apa dituduh selingkuh!! Jangan pernah kesini lagi."
"Aku sudah minta maaf."
"Aku sudah memaafkan, puas kan? Sekarang cepat pergi."
"Benarkah kau sudah memaafkan ku? baiklah aku pergi."
Arsena kini meninggalkan kontrakan Andini. Andini yang mengintip dibalik kaca, sedih melihat suaminya pergi, dia tadinya berharap Arsena akan bersikeras meluluhkan hatinya, tapi ternyata dia tidak senekat itu.
Arsena kini menempati kontrakan yang ada disebelah Andini, dia berharap bisa memantau istrinya setiap hari tanpa sepengetahuan Andini.
Hingga pada tengah malam Arsena kembali mendatangi kontrakan Andini. Sebelumnya Arsena sudah meminta Zara untuk membukakan pintu ketika Andini sudah tidur.
__ADS_1
"Tuan!" Zara segera bangun dan menuju ruang tamu ketika melihat bayangan seorang pria membuka pintu.
"Ssttt." Arsena meminta Zara tak bersuara.
"Zara sekarang pergilah ke kontrakan sebelah, ini kuncinya." Arsena menyerahkan kunci pada Zara. Gadis itu segera meninggalkan mereka berdua dan tidur nyenyak di kontrakan Arsena.
Arsena segera mengunci pintu dan menuju kamar, Arsena tersenyum melihat istrinya tidur dengan pulas. Dia terlihat sangat nyenyak. "Andini kau wanita yang sangat hebat, kau bisa bertahan dari keegoisanku selama ini."
Arsena duduk sambil mengamati wajah tidur istrinya, ingin mengecup kening, mengecup bibirnya yang mengatup rapat. Namun ia takut akan mengusik tidur pulasnya.
Akhirnya Arsena memilih mematikan lampu ruang tamu dan kamar, demi misinya agar bisa tidur berdua dengan istrinya malam ini. semalam saja melewati hari tanpa Andini rasanya itu seperti mimpi buruk sepanjang hidupnya.
Di tengah malam Arsena tak sengaja memeluk erat dan melingkarkan tangannya di pinggang Andini. Membuat Andini terbangun dan heran.
"Zara!" Panggil Andini yang terkejut sambil menurunkan lengan yang dikiranya lengan Zara
Andini memaklumi, ia masih mengira Zara tak sengaja memeluknya. Akhirnya ia memilih melanjutkan tidurnya lagi.
Baru saja pulas sebentar, Andini merasakan lengan kokoh kembali memeluknya. Dan ia baru sadar kalau tangan itu bukan milik Zara, setelah merasakan tangan itu memiliki bulu halus khas seorang pria, dan ukurannya juga lebih besar.
Andini meraba wajah pria dan rambutnya. Dan benar sekali orang yang tidur disebelahnya berambut pendek.
"Siapa kau!? Pergi!!" Andini sontak berteriak dengan histeris dan meronta meminta dilepaskan.
"Sttt." Pria itu malah membekap bibir Andini dengan bibirnya dengan lembut.
"Jangan berteriak, nanti mengganggu tetangga kita." Suara tak asing ditelinga Andini terdengar begitu lembut.
"Ars, kenapa kau ada disini! Zara dimana." Andini panik tak melihat Zara.
"Sayang Zara ditempat yang aman, sekarang tidurlah lagi." Arsena menahan tubuh Andini yang hendak bangun.
"Tidak mau aku tak sudi tidur dengan pria tak punya pendirian sepertimu." berusaha memberontak.
"Sekarang tidak lagi, sekarang aku akan percaya seratus persen denganmu."
"Pasti sedang bohong."
"Enggak, janji." Kata Arsena dengan suara manja dan genit.
"Tu, kan enggak janji." Andini mengerucutkan bibirnya.
'"janji maksudnya. Andini aku Arsena, janji mulai hari ini akan percaya dengan ucapanmu." Arsena berkata sambil mengecup wajah Andini setiap ada kesempatan. Jarak sedekat ini membuat Andini bisa mencium aroma tubuh suaminya yang harum.
"Tidurlah lagi, sayang. Ini masih malam."
" Gara gara kehadiranmu mengagetkan, aku jadi nggak ngantuk."
"Kok bisa sama? Kalau gitu kita olahraga aja ya."
"Nggak mau."
"Kenapa? Nggak suka ya? Padahal aku lagi pengen mengunjungi si kembar. kamu sudah nggak sayang aku lagi ya?"
"Tu kan, sensi melulu. Iya iya aku mau, tapi ranjangnya sempit."
" Nggak apa-apa kan sudah pernah main di ranjang ini."
"Masa sih, kok aku lupa." Ucapan Andini membuat Arsena semakin gemas.
Tiba-tiba kamar gelap gulita itu seketika menjadi sunyi, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibir masing masing. bukan lagi bibir yang bicara, mereka saling berbicara dengan sentuhan lembut dan bahasa tubuh.
Arsena dan Andini kembali melanglang buana menjelajahi setiap bukit dan lembah yang penuh dengan keindahan duniawi. Mereka kembali meneguk manisnya surga dunia.
Suara sepi berubah menjadi ******* dan erangan. Peluh mulai membasahi punggung Arsena yang bekerja keras sebagai pemegang kendali.
Deritan ranjang terus menggema sepanjang olahraga malam berlangsung. Andaikan ada orang didekatnya, pasti akan bergidik ngeri membayangkan betapa panasnya permainan mereka berdua. Permainan segera berakhir ketika erangan panjang keluar dari bibir Arsena. Andini merasakan ada sesuatu hangat yang meledak di dalam tubuhnya.
"Terima kasih sayang." Kata Arsena sebelum ambruk di samping Andini.
" Iyah." Andini menjawab dengan nafas pendek karena tubuhnya terasa lelah dan lemas. Mereka akhirnya kembali lelap dalam alam mimpi, setelah olahraga malam yang mereka lewati telah usai.
__ADS_1
*happy reading*