
"Bodoooh, kenapa bisa sampai lolos, kalian berempat menjaga dua orang saja tak becus."
"Maaf, kami sudah bekerja maksimal, saya curiga dia kabur karena pengkhianatan, pasti orang dalam yang membantunya, Bos." Ken berbicara di telepon dengan panik, dia takutnya nyawanya yang akan jadi taruhan.
Suara Arsena ditelepon saja sudah menakutkan, apalagi kalau bertemu dengannya langsung.
"Hah ... Aku tak mau tahu, aku sudah membayar kalian mahal untuk menjaga wanita ular itu, agar tak bisa mengganggu keluargaku, tapi kalian tak becus." Api amarah sudah membara menguasai pikiran Arsena. Pria itu berbicara sambil berjalan hilir mudik di balkon dengan suaranya yang berapi-api.
"Tuan, aku akan berusaha mencarinya. Aku pasti akan temukan Mereka lagi." Ken berkata, penuh percaya diri.
"Jangan membuat janji palsu, aku bukan anak kecil yang kau beri janji lalu senang."
"Aku akan bekerja dengan benar, Tuan."
" Aku menunggu kabar terbaiknya.
Arsena mematikan ponselnya tanpa memberi kode. Dia muak mendengar berita buruk hari ini. Kenapa Lili harus lolos disaat ia baru mereguk kebahagiaan.
Arsena melempar ponselnya di meja yang ada di balkon, dia tadinya ingin tidur, begitu menggeliat tak ada istri disampingnya membuat enggan meneruskan tidurnya lagi.
Saat kantuk belum benar benar terusir dari kepala, Arsena kembali dikejutkan oleh getar ponselnya hingga berulang kali.
Ken yang sedang panik segera memerintahkan ketiga kawannya untuk segera mencari Lili dan kakaknya. Ken mencurigai satu dari mereka telah bekerja sama dengan Lili dan Dev. Namun hingga kini Ken belum mendapatkan bukti siapa pria yang telah membantu lili keluar dari penjara bawah tanah.
Buktinya alat penyadap yang dipasang tiba-tiba kehilangan fungsi. Jika memang eror kenapa kebetulan sekali, sedangkan sebelumnya CCTV di ruang tahanan selalu berfungsi dengan baik.
Arsena duduk sendirian di balkon. Rasanya dia tak ingin memberi tahu kabar buruk ini kepada Andini.
Kabar ini pasti akan mengusik ketenangan sang calon ibu yang beberapa hari ini telah mengandung bayi kembar di rahimnya itu.
Bayangan rencana pemer*kosaan Devan saja belum sepenuhnya hilang dari ingatan Andini, itu terbukti Andini masih suka kaget saat Arsena menyentuhnya secara tiba-tiba.
Arsena tak sengaja melihat selulet tubuh wanita yang ia kenal. Wanita itu sedang terluka hatinya, Dia terlihat menangis terisak sendirian di gazebo yang paling pojok.
Mungkin Andini memilih tempat sedikit tersembunyi agar tak diketahui oleh siapapun saat sedang ingin menumpahkan semua isi hatinya.
"Sayang, lagi ngapain." Tanya Arsena yang kedatangannya justru mengejutkan Andini. Andini segera menghapus air matanya.
"Sedang menangis? Ada masalah apa? Ceritakan padaku, sekarang juga!" cecar Arsena.
"Tidak ada, aku sedang bahagia saja, ini tangis bahagia."
"Tidak mungkin, matamu bengkak dan merah, pasti ada yang sedang kau sembunyikan dariku?" Arsena tak percaya. Ia mendekati Andini, Andini yang tadinya duduk, ia segera berdiri dan menundukkan pandangannya di depan suami.
"Katakan cepat! siapa orang yang sudah berani membuat istriku menangis, atau aku akan cari tahu sendiri." Arsena terlihat kesal karena Andini hanya diam, dia sama sekali tak berkata walau sepatah kata, akankah kesalahpahaman ini ia biarkan melebar kemana-mana.
__ADS_1
Andini ingin yang tidak tahu biarlah tidak tahu. Ia juga tak yakin reaksi Arsena akan baik saja. Terlebih lagi di wajahnya sedang memendam beban berat.
"Tidak perlu, bukannya sudah ku beritahu kalau aku sedang bahagia." Andini memeluk tubuh suaminya, berakting sebisa mungkin untuk mengukir senyum di bibirnya yang merah.
Arsena mengecup puncak kepala Andini, dia tadi sebenarnya ingin memberi tahu kalau beberapa hari ini akan pergi menemui Ken dan mencari keberadaan Lili.
Kesedihan di mata Andini membuatnya urung mengatakan sesuatu. Arsena tau jika Andini sedang sedih namun ia berbohong. tak mungkin dia menambah lagi dengan kepergiannya dalam misi berbahaya ini.
Arsena mengajak Andini ke kamar, yang tak jauh dari keberadaannya sekarang. Memeluk istrinya dan membimbing agar berbaring di ranjang.
"Istirahatlah, kamu terlihat pucat, apa hari ini sudah minum susu?" Tanya Arsena
Andini menggeleng, pelan. Satu gelengan kepala Andini sudah membuat Arsena gegabah.
"Zara!!"
"Iya Tuan?" Zara yang baru saja terbangun dari tidur siangnya, segera membenarkan jilbabnya dan lari menghampiri Arsena yang berteriak memanggil namanya.
"Bagaimana Andini bisa belum minum susu, jam berapa ini?" Arsena melotot ke arah Zara.
"Maafkan aku, Ars, aku yang tak mau minum susu, aku mual saat mencium aromanya," terang Andini.
Satu kesalahan yang telah Andini buat, berhasil membuat dirinya seakan menjadi majikan kejam. Bagaimana tidak? Dengan penolakan Andini minum susu sudah berhasil membuat Zara harus diteriaki oleh Arsena.
"Kalau dia tak mau susu sapi murni, harusnya bisa kamu variasikan Zara, tambahkan sari buah di dalamnya atau dibuat cake yang bergizi."
"Ars, apa yang kau lakukan, kau membuatnya takut hari ini, lihatlah dengan sikapmu berlebihan seperti ini, si kecil di perut malah nggak ingin makan apa-apa!" Andini tiba-tiba merasa mual.
"Hoek! Hoek!" Andini berlari ke wastafel dan memuntahkan makanan puding yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Apa seperti ini setiap hari, wajar untuk ibu hamil. Aku bahkan melihat Andini lebih kurus dari biasanya. Makanan bergizi ternyata tak membuatnya berhenti muntah.
"Baiklah, istirahat dulu, nanti aku cari tahu caranya bagaimana mengatasi mual untuk ibu hamil." Arsena menggendong Andini menuju ranjang dan mengelus perut istrinya sebentar menciumnya." Jika Papa yang siapin kamu, pasti nanti makannya banyak. Papa ambil makanan dulu.
"Ars, disini saja." Andini mencegah Arsena dengan menggenggam lengannya dengan kedua tangan. Andini takut dibawah masih ada keributan soal kesalahpahaman tadi.
"Ada apa sebenarnya? Aku cuma ingin ke dapur sebentar saja."
"Aku sedang ingin berdua saja dengan kamu Ars." Andini merayu.
Membuat Arsena kembali mengecup kening Andini. " Sebentar saja." Arsena memaksa pergi.
Andini merelakan Arsena meninggalkan dirinya sendiri di kamar.
Arsena berinisiatif membuatkan Andini nasi goreng di dapur. Soalnya waktu pulang dari pernikahan ibu, Andini sempat melihat ke arah penjual nasi goreng hingga beberapa detik tanpa berkedip, setelah ditanya apa mau nasi goreng? Andini malah menolak, Sampai Arsena cemburu dibuatnya, hingga berfikir penjual nasi goreng itu jangan-jangan lebih tampan darinya.
__ADS_1
Dilantai bawah terlihat Miko dan Dara sedang menenteng koper besar, Davit segera meminta koper majikannya. Dara yang belum tau tujuan Miko mau kemana, ia terlihat masih menangis.
"Kak, aku minta maaf." Dara tak berhenti meminta maaf.
"Miko, ini bisa dibicarakan baik-baik, jangan main pergi seperti ini." Mita mencoba menghentikan Miko.
"Ada apa ini?" Arsena berjalan menuruni anak tangga. " Masuk ke rumahku baik baik kenapa keluar dengan cara seperti ini? Kamu mau pergi? Kamu nggak sayang Oma?"
"Iya, Kenapa Dara? Kamu sepertinya sejak tadi menangis, Oma pikir tadinya masalah kecil dan pribadi, jadi Oma nggak ikut campur. Tapi kalau masalahnya sampai pergi seperti ini, kalian berdua harus kasih penjelasan dulu ke kami." tutur Oma.
"Maaf untuk semuanya, ini memang rencananya mendadak, Miko baru saja punya rencananya satu jam yang lalu."
"Rencana apa? coba jelaskan pada kami!" Arsena sudah sampai di undakan paling bawah. Bahkan sekarang dia mulai berjalan mendekati Miko.
"Maaf semuanya, aku tak bisa tinggal disini, terutama Oma, karena aku dan Dara sudah memutuskan kita akan pergi honeymoon ke Istanbul. Sayang kalau hadiah pernikahan kami dari Kak Arsena, hangus begitu saja." Miko menelisik wajah Oma dan Arsena serta Mama Mita satu persatu. sambil mengambil dua pasport dari sakunya.
"Jika kalian semua ada yang keberatan, tidak apa-apa aku akan membiarkan tiket ini hangus."
"Benar begitu Dara?" Arsena meminta kejelasan dari Dara. Arsena mencurigai ada yang tidak beres. Jika diajak berbulan madu, kenapa wajahnya sembab. Tak jauh berbeda dengan Andini.
"I-i-ya Kak, kita akan berbulan madu." Dara asal ikut yang dikatakan Miko.
"Kuliah kamu?" Arsena belum puas bertanya lagi dan lagi.
"Kak Miko akan memintakan izin dari kampus, dan nanti materi pelajaran akan dikirim melalui Via email saja."
"Bagus kalau begitu, berangkatlah, aku tau Miko pasti sangat iri denganku, karena aku akan memiliki dua putra kembar sekaligus. iya Kan Oma?" Arsena menoleh ke arah Oma, dibalas senyuman dari Oma.
"Kau sangat pandai menilai, Kak. Tentu aku iri, oleh karena itu aku harus bekerja lebih keras lagi," ujar Miko jenaka.
Ruangan yang tadinya sempat dirundung sedih karena cemburu Dara yang berlebihan, kini berubah menjadi tawa dan bahagia.
"Oma, do'akan cucumu segera berhasil." Miko mencium telapak tangan Oma.
"Tentu cucuku yang suka usil, aku akan mendoakan, semoga rencananya sukses, jangan mau kalah sama kakakmu yang arogant ini," kata Oma saat Arsena memeluk Oma dan menempelkan dagunya di pundak.
" Kalau sedang memuji Miko, Oma jangan menjelekkan aku. Dia bisa makin besar kepala." ujar Arsena.
"Ars, adikmu akan pergi, dia harus dipuji, biar disana nanti ingat Oma. Iya kan, Mik?" Oma tersenyum
"Mana bisa ingat Oma, sedangkan dia disana nanti pasti sibuk bikin dedek bayi. Pagi,siang, malam, dunia serasa milik berdua. nggak akan sempat ingat Oma"
"Kak Arsena berlebihan deh, Kita disana nanti pasti akan jalan-jalan juga. Iya kan Kak Miko?" Dara menggamit lengan Miko. Dia sudah tak lagi sedih setelah mendengar kata bulan madu.
Dara mengubah keinginannya untuk tak memiliki putra dulu. Baginya sekarang, memiliki anak dari suami yang dicintai akan lebih indah.
__ADS_1
Dara berharap setelah memiliki satu putra, Miko akan fokus hanya untuk dirinya dan anaknya. Hinga tak ada lagi kesempatan untuk memikirkan wanita lain.
"Berangkatlah, jemput bahagia mu, kau berdua pantas mendapatkannya." Restu dari Oma menyertai mereka berdua. Oma memeluk Miko dan Dara bergantian.