
Sampai di halaman rumah Ken dan Vanya tak langsung turun dari mobil, dia memilih berdiam diri di dalam mobil sejenak. Ketika mereka berdua melihat ada dua mobil lagi yang terparkir dengan anggun di garasi. Satu milik Ken, dan satu lagi milik seseorang.
Setelah dua menit kemudian Ken membuka obrolan terlebih dahulu. Sepertinya Ken sudah bisa menebak siapa pemilik mobil itu." Van apakah kau yakin dengan keputusan yang kau ambil?"
"Keputusan yang manalagi, Ken?"
"Menikah denganku."
Vanya lebih memilih menganggukkan kepala daripada menjawab pertanyaan Ken.
"Yakin hubungan kalian sudah jadi mantan?" Ken bertanya seolah kedatangan mobil hitam di sebelah mobil merahnya sangat mengganggu.
"Jangan salah paham, Vano akrab sekali dengan Papa dan Mama. Pasti malam ini papa yang minta untuk menjemput di bandara."
"Oh,begitu ya, kok kamu nggak bilang kalau Papa dan Mama mau pulang, aku juga bisa menjemputnya, sekalian pendekatan sama camer."
Vanya tersenyum. "Andai aku tahu pasti sudah kulakukan, itulah Papa dan Mama kebiasaan kalau mau datang pasti bikin surprize. Parahnya lagi mereka nggak tau kalau hubunganku dengan Dr Vano sudah berakhir."
"Vano pasti masih sayang sama kamu."
"Nggak ada yang tersisa dari sebuah pengkhianatan Ken. Aku dan Vano sudah sepakat mengambil jalan ini."
"Kalau dia menyesal dan ingin kembali?" Ken terus bertanya.
Vanya menggelengkan kepalanya. "Enggak ada niatan."
Ken terlihat senang, dia menggenggam jemari Vanya sebentar, tak lupa segaris senyum sebagai hadiah untuk Vanya "Aku boleh ikut masuk sebentar?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" Vanya menoleh ke arah Ken yang sedang gelisah.
"Aku kok merasa jadi orang ketiga gini ya?" Ken merapikan rambutnya tak percaya diri.
"Orang ketiga bagaimana Ken? Aku dan Vano, kita sudah putus. Ngerti?! Kalau sekarang dia ada disini itu karena urusannya dengan Papa, nggak ada hubungannya sama aku." Vanya meyakinkan Ken lagi.
Ken terlihat menarik nafas panjang. Sebenarnya dia percaya dengan ucapan Vanya, tapi dia tak pernah menyangka dengan penampilannya yang sederhana seperti sekarang ini langsung bertemu dengan calon mertua. Tapi masih beruntung kali ini dia mengenakan hem panjang. Andaikan kaos lengan pendek pasti tato naga di lengannya akan terlihat.
"Mau kenal sama papa dan mama aku nggak?" Vanya langsung melepas sabuk pengaman dan langsung turun, sudah tak sabar ingin bertemu dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Mau tak mau Ken juga ikut turun bersama Vanya. Ken berulang kali menarik nafasnya mempersiapkan kata kata yang akan diucapkan pada mertuanya.
Mama dan papa rupanya masih diruang tamu menemani Vano, mereka terlihat lelah. papa sedang duduk dengan posisi bersandar dengan sofa, sedangkan Mama meniup teh hangat untuk diminum.
"Selamat malam, Mama, Papa!" Binar bahagia terlihat di wajah Vanya, begitu melihat kedua orang tuanya berkunjung.
"Malam, kenapa larut sekali pulangnya? Dan ini siapa?" Mama bertanya sambil menyipitkan sebelah matanya.
"Em, dia ... dia …." Vanya senyum senyum. "Kalian kenalan sendiri aja deh." Vanya menatap Ken, memberi isyarat pada kekasihnya untuk memperkenalkan diri.
"Van, kenapa kamu larut malam sekali pulangnya?" Vano terlihat bersimpati pada Vanya. Melirik ke arah Ken dengan memiringkan bibirnya. Ada aura tak suka yang timbul pada diri Vano.
"Tante, kenalkan saya Kendra. Tante bisa panggil saya Ken saja."
"Iya, Ken. Tante mau tanya kalian habis dari mana saja kok pulang selarut ini?"
"Tante, sepertinya Vanya berubah karena pria ini deh, dia ini mantan napi Tan, dia bisa keluar pasti karena Vanya yang membantu."
"Vano, kamu …." Vanya terlihat tak suka Vano menyebut Ken seperti itu di depan mama dan papanya.
"Benar begitu, Van? Kata Vano kalian sudah putus dan apa karena pria ini?"
"Sayang!"
"Cukup Vano, tidak usah cari muka baik di depan mama!"
"Van, kenapa kamu nggak sopan dengan Nak Vano, kamu sudah bentak bentak dia lho, kamu yang salah, sudah pulang selarut ini, nggak minta maaf malah marah marah." Mama terlihat tidak suka dengan tindakan Vanya. Sedangkan Papa terlihat masih mencari kebenaran dari apa yang dilihatnya.
"Mama, sekarang Vanya dan Vano sudah tak ada hubungan apa apa lagi, selain hubungan teman kerja."
"Sayang, apa yang kamu katakan? Aku belum pernah setuju putus sama kamu. Kata-kata putus itu baru keluar dari bibir kamu saja."
Papa yang sejak tadi melihat perdebatan anak dan ibu itu akhirnya angkat bicara juga. "Vano, Vanya sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian? Papa mau tau."
"Vano sudah selingkuh dengan Dokter Namira, Pa."
"Itu salah paham Om, Vanya terlalu pencemburu, dia tidak memberi kesempatan saya untuk menjelaskan."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu bisa jelaskan sekarang Vano," perintah Papa.
"Vanya melihat saya berdua dengan Namira di sebuah ruangan, dan dia langsung bilang aku selingkuh"
"Ngapain kamu dalam ruangan itu?" Vanya menyela.
"Nggak ngapa ngapain!" Vano terus membela diri.
"Yakin? Apa aku harus buka ulang rekaman kejadian itu?" Vanya berusaha membuat Vano tersudut dengan perbuatannya.
"Om, Vanya keras kepala, dia tak mau mengerti apa yang saya ucapkan."
"Vano, aku tahu bagaimana putriku, dia tidak akan keras kepala kalau tak ada bukti yang membenarkan ucapannya." Papa bersikap tegas.
"Jadi Om tidak percaya pada Vano lagi?" Tanya Vano kalah telak.
"Vanya lanjutkan apa yang ingin kamu katakan pada kami, Nak?" Papa mempersilahkan Vanya kembali bercerita.
"Daripada kita ungkit masalalu yang sudah tak ada gunanya lebih baik papa kenalan sama Ken, dia adalah kekasih Vanya, Pa. Tolong beri restu hubungan kami," ujar Vanya.
"Jadi sekarang pria ini pacar kamu?" Papa terlihat tak masalah dengan Ken, dia tampan, tubuhnya atletis, usianya juga tak jauh beda dengan Vano.
"Iya, Pa."Vanya tersenyum manja pada Papa.
Mama yang sejak tadi diam terlihat menarik nafas kecewa. Tadinya dia berharap Vano akan jadi menantunya, memiliki profesi yang sama, selain itu keluarganya juga sudah kenal baik, bahkan waktu kecil keluarga Vanya dan Vano berencana akan menjodohkan putra dan putri mereka, sampai memberi nama yang menurutnya sangat cocok untuk disatukan, Vanya dan Vano. tapi setelah dewasa, justru takdir berkehendak lain.
"Ken apa alasan kamu mau menikahi putriku?" tanya Mama pada Ken.
"Alasannya karena saya sudah sangat yakin dengan hubungan kita, Saya pantas untuk membahagiakan putri anda.
"Vanya, apa kamu yakin akan memilih dia?"
"iya, Ma. Ken dan Vanya kita teman sejak SMA. kita berdua yakin kalau dipertemukan kembali karena jodoh."
Vano terlihat mengeratkan giginya, ada api cemburu yang meletup-letup di dadanya.
Ken hanya menyambut amarah Vano dengan senyum tipis. Sebesar apapun ancaman dari Vano, sedikitpun Ken tak pernah gentar apalagi takut.
__ADS_1
"Kita bicara diluar." Dengan nada tegas Vano mengajak Ken keluar rumah.
Ken menurut, dia berjalan dibelakang Vano. sedangkan Mama dan Papa sedang berusaha mendengar menjelaskan dari putri semata wayangnya.