Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 179. Davit yang malang.


__ADS_3

"Syukurlah aku tidak terlambat, Nona. Jika terjadi sesuatu padamu aku tak akan pernah memaafkan diriku," ujar Davit memaksakan dirinya untuk tetap bicara saat Arini berada dalam lingkaran lengan kokohnya.


Arini bisa melihat Davit begitu tulus, dia rela terluka demikian rupa untuk melindungi dirinya. Jujur hati Arini yang tadinya sekeras batu kini mulai tersentuh oleh ketulusan seorang sopir muda yang kini tengah menggendongnya.


Andaikan Arini bisa berbicara atau sedikit bergerak saja, dia akan mengucap ribuan terima kasih untuk Davit sambil mengalungkan lengannya di tengkuk pria itu.


"Nona, bersabarlah. Aku akan membawa Nona kerumah sakit sekarang juga. Dokter pasti akan segera menyuntikkan penawar untuk racun yang ada di tubuh Nona."


Tubuh kekar Davit sudah berhasil membawanya keluar kamar yang menjadi tempat paling mengerikan bagi Arini.


"Akhh ...." pekik Davit tiba-tiba. Davit meraba punggungnya terasa sakit. Darah segar meleleh hingga mengenai tangannya.


Davit menoleh dengan susah payah. Ternyata Willy berdiri tepat dibelakangnya, dengan seringai licik sambil membawa belati di tangannya.


"Hahaha sudah kubilang! Kau tak akan mampu melawan ku seorang diri, kau bukanlah tandingan seorang Willy," ucapnya dengan pongah.


"Kau pengecut ... Pria sejati tak akan melawan musuhnya dari belakang. Akhh!!" Davit meringis kesakitan lututnya tiba-tiba terasa lemah.


"Kau ! Akhhh .... " Davit Ambruk begitu pula dengan Arini yang ada di gendongannya. Tubuh Davit menindih Arini yang makin terlihat ketakutan.


Willy terus saja tertawa, sedangkan Davit menatapnya dengan mata berkunang-kunang, tak lama tatapan Davit menjadi gelap.


*****


Sesaat ruangan itu menjadi mencekam, Arini menyaksikan dengan matanya sendiri kalau kekasihnya adalah seorang binatang. Tega menghalalkan segala cara asalkan tujuannya tercapai.


Tak lama, dari arah luar terdengar suara derap kaki, Willy segera bersembunyi di balik pintu.


Arsena baru datang dengan para pengawalnya, dia sadar betul kalau kedatangannya sangatlah terlambat.


" Cepat periksa seluruh ruangan." Titah Arsena.


" Siap bos." Ken dan kawan-kawan segera menyebar, menelisik setiap ruangan yang ada. Menendang bahkan menghancurkan barang-barang yang dicurigai untuk persembunyian Willy.


Arsena berharap Davit dan Arini masih ada di tempat laknat ini. Mobil mewahnya yang sudah mirip barang dari pasar loak masih ia lihat di depan tadi.


"Hei! Jangan lari ...." Teriak Arsena, ketika menemukan sekelebat bayangan pria berlari keluar.


Willy berhenti jauh di depan Arsena. Dia menoleh sesaat lalu kembali berlari tunggang langgang. Arsena segera mengejarnya, dia keluarkan kemahirannya di bidang lari. Arsena yang pernah mendapat medali dalam suatu perlombaan itu bisa menyusul Willy dengan mudah.


Arsena menarik kerah baju Willy dari belakang. Willy seketika tersungkur mencium kasarnya aspal jalanan. Arsena menendang tubuh Willy dengan membabi buta.

__ADS_1


Willy yang tadi hanya pura pura pingsan, sekarang benar-benar dilumpuhkan oleh Arsena. Wajahnya babak belur tulang belulangnya sama remuknya dengan Davit.


"Dimana kau sembunyikan Adikku? Ban*sat." Tanya Arsena dengan berapi api.


Willy hanya diam, tubuhnya bergetar hebat. Aura ingin membunuh begitu terlihat di wajah Arsena. Willy tau pria didepannya bukanlah sembarang manusia. Devan dan Lili sepupunya hampir mati di penjara bawah tanah, untung saja salah satu penjaga bisa diajak kerja sama dan membantunya.


"Aku tidak melakukan apapun, lepaskan aku." Willy masih berusaha mengelak. Arsena kembali memberi hadiah bogem di rahangnya. Beberapa giginya lepas dari gusinya. Willy kembali mengerang kesakitan.


Tiba-tiba sirine terdengar bersahutan, polisi segera turun dari mobil untuk menangkap Willy. Willy sedikit lega. Lebih baik di borgol seorang polisi daripada berada di tangan calon kakak ipar sadisnya itu.


Polisi yang lainnya segera mengejar komplotan Willy yang sudah terbirit-birit entah kemana. Dengan sedikit memberi siksaan pada pria bodoh itu. Willy sudah menunjukkan semua tempat persembunyian kawan kawannya.


Polisi segera membawa Willy dan di amankan di balik jeruji. Tidak senikmat itu dipenjara lalu dibiarkan saja. Setiap hari dia akan mendapat sarapan berupa cambukan, karena pemerkosa akan mendapatkan hukuman berat setiap harinya.


Sedangkan Davit yang ditemukan tergeletak bersama Arini. Segera dilarikan ke rumah sakit milik keluarga besar Atmaja.


Arsena terlihat panik melihat Davit yang terluka sangat parah. Sedangkan Arini masih berusaha melawan racun yang membelenggu tubuhnya.


"Maafkan kakak Arin, mungkin kakak terlalu sibuk dengan perusahaan milik papa, sampai sampai aku tak bisa lagi menjagamu," sesal Arsena. Sambil mengamati adiknya yang tergolek lemah di dekapannya.


Arsena telah teledor menjaga Arini. Bisa bisa dia membiarkan pria seperti Willy masuk ke dalam kehidupan adik satu satunya. Untung ada Davit yang rela berkorban nyawa untuk melindungi.


Arini berada di kursi penumpang. Sedangkan Davit ada di depan, agar tubuhnya tak roboh tubuh Davit dililit dengan sabuk pengaman. Sementara Ken yang mengganti mengemudikan mobilnya.


*****


"Dokter Vanya, cepat tempatkan Davit diruang VVIP." Perintah Arsena yang sedang menunggu adik dan sopirnya di ruang UGD. Davit dan Arini masih terbaring lemah, Arsena mondar mandir tak bisa tenang.


Tapi, dia seorang sopir. Apakah tidak akan memberatkan keluarga pasien nanti. Ruang VVIP akan menghabiskan biaya perawatan yang sangat besar.


"Dr.Vanya, kau tau siapa majikan dari sopir itu? Aku pemilik rumah sakit ini berapapun biayanya aku masih sanggup membayar." ujar Arsena suaranya terdengar lebih tinggi satu oktaf daripada tadi.


" Baik Ars." Vanya pun patuh.


Walaupun dia suami sahabatnya, namun Arsena terlihat tetap angkuh di depannya. "Lakukan penanganan untuk luka tusuknya sekarang."


"Baik Ars." Vanya segera membuat surat pernyataan untuk ditandatangani keluarga. Karena Davit cuma memiliki nenek. Maka Arsena memutuskan untuk menjadi keluarganya.


Vanya memerintahkan asistennya supaya segera memanggil Dr.Vano yang ada di ruangan lain.


Dr. Vanya dan

__ADS_1


Dr. Vano sudah siap melakukan operasi untuk Davit, sedangkan Arini sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Racun ditubuh Arini akan segera netral setelah dia diberi suntikan penawar. Namun efek penawarnya membuat dia akan tidur sangat pulas hingga beberapa jam ke belakang.


Arsena menunggu hasil operasi Davit. Sejak tadi dia hanya mondar mandir di ruang operasi.


"Ars,bagaimana kondisi mereka?" Tiba tiba seorang wanita yang amat dicintainya muncul dari pintu masuk.


"Sayang kenapa kau kesini? Anak anak sama siapa?" Arsena bukan menjawab tanya istrinya. justru khawatir anak anak ditinggal sendiri sama dua orang bermuka dua yang ada dirumahnya itu.


"Tenang Ars, anak anak mama bawa semua. Andini keras kepala, dia terlalu khawatir dengan Arini. Jadi mama tak bisa menahan lagi." ujar Rena yang juga ikut masuk.


"Tapi sekarang dimana Excel dan Cello?" Tanya Arsena lagi.


"Dia sama Bi Um di taman, Zara dan Dara juga ikut. Cuma dia nggak jadi masuk, merasa perutnya bergejolak setelah mencium aroma rumah sakit


" Mereka berdua memang sangat manja." Gerutu Arsena.


" Jangan gitu ah, Andini dulu waktu hamil tak kalah manja. Iya kan, Ndin."


Andini mengangguk setuju. " Iya, Arsena ini mendadak pikun aja. Oh iya, bagaimana kondisi mereka?"


"Sayang, Arini masih belum siuman."


" Aku ingin temui dia sekarang." Andini bergegas masuk ruang rawat khusus keluarga.


Andini segera membuka pintu. Andini segera memeluk tubuh Arini yang masih terlihat pulas.


Merasakan tubuhnya ada yang mendekap, Arini membuka matanya yang terasa sangat berat.


"Mbak, Arini takut." Arini memeluk Andini dan menumpahkan tangisnya yang tertahan sejak lama.


"Sayang, Mbak ada disini jangan takut lagi, para penjahat sudah diamankan oleh polisi." Andini menenangkan.


Arini masih ketakutan, bayangan Willy yang akan menodai dirinya masih terus berkelebatan di benaknya.


" Mbak, bagaimana kondisi Davit?"


"Davit masih belum sadar, dokter sudah mengupayakan kesembuhannya. Adikku lain kali jangan terlalu percaya dengan rayuan pria, lihatlah sekarang yang terjadi." Andini mengomel.


Mendapat wejangan dari kakaknya, Arini malah menangis histeris. Sungguh penyesalannya amat dalam. Andaikan dia tak keras kepala, Davit tak akan terluka demikian parah yang hampir meregangkan nyawanya.

__ADS_1


*happy reading.


__ADS_2