Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 140. Insecure.


__ADS_3

Davit menyerahkan makanan yang baru saja dibelinya kepada Bi Um. Wanita seumuran mama Rena itu segera menata di sebuah piring dan membaginya menjadi dua, satu piring ia letakkan di meja makan. Satu piring lagi ia antarkan ke kamar tuan mudanya.


Arsena masih sibuk dengan acara melukisnya yang alay bin lebay itu. Melukis istrinya ala Rose di film Titanic itu terpaksa harus batal, karena usai acara main kuda kuda'an Andini tak mau lagi memakai baju yang bikin tubuhnya semriwing, dia khawatir akan masuk angin dan urusannya pasti akan semakin rumit.


Andini tak lagi berpose duduk sendirian,melainkan duduk di pangkuan Arsena, lumayan susah melukisnya. Namun, berkat cermin besar di ruang kerjanya akhirnya berhasil di selesaikan sekitar dua jam.


Lukisan yang mungkin untuk orang lain itu biasa dan tak ada nilai istimewa, namun tidak bagi Arsena. Dengan bangga ia memesankan bingkai dan diletakkan tepat di dinding dekat meja yang ada di ruang kerjanya.


"Sayang sudah selesai?" Mama tiba-tiba masuk ruang kerja putra tercintanya dengan bantuan kursi rodanya.


"Mama? Kalau butuh sesuatu Mama bisa panggil Andini atau telepon, Andini pasti akan datang, Ma."


"Sayang, ini hari Minggu. Mama tahu Arsena pasti sangat ingin hanya dengan dirimu saja. Jadi mama tidak ingin ganggu kamu, Bi Um sudah lakukan tugasnya dengan baik," ujar Mama dengan bahagia.


Andini segera menurunkan bobot tubuhnya dari pengakuan suami. Serta melepas tangannya yang melingkar di tengkuknya.


"Ini- ini lukisan putraku? Wah bagus sekali. Jadi weekend ini kalian menghabiskan waktu dengan menggambar diri seperti ini." ujar Mama kagum dan senang.


"Ini karena Ars, yang meminta Ma, Andini menjadi objek dalam permainannya saja."


"Sayang, apa yang kau katakan! Kau bukan objek, kau pemeran yang sangat hebat, lihatlah ini." Arsena menyingkap krah dari t-shirt yang ia kenakan menunjukkan banyak cupangan merah hasil karya Andini baru saja." Arsena berkata sambil tersenyum nakal.


Andini yang berada disebelahnya langsung menutup kembali dengan tangannya dan menyingkirkan tangan Arsena. Wajahnya melotot sambil berkata lirih. " Ishh bikin malu."


"Ma, tadi ... He he he" Andini masih berusaha menutup leher suaminya, andai bisa ia ingin sekali memutar wajahnya ke belakang hingga tak nampak oleh mertuanya.


"Baiklah kalau begitu mama tadi cuma ingin antar sesuatu pada kalian. " Biii! Tolong bawa sini." Rena memanggil Bi Um sambil memberi isyarat menepuk tangannya.


"Iya, Nona."


"Taraa ... Siapa tadi yang mau makan ini?" Mama membuka penutup piring makanan yang diinginkan Andini. Dari tangan Bi Um."


"Waooooow banyak banget ... Andini segera meraih piringnya dari tangan Mama, ia memakan tiap tusuknya dengan lahap. Andini seperti anak kecil yang belum makan seharian."


"Ini, enak banget, Ma."


"Habiskan ya, makanannya. Cucuku rupanya sudah mulai meminta ini itu, ngidam yang banyak dan aneh-aneh, biar Arsena tau rasanya istri ngidam." Kata Mama sambil tertawa ke arah Arsena.


"Ars, kamu mau?" Andini menyodorkan satu tusuk untuk Arsena


Arsena menggeleng pelan. "Enggak, habiskan saja."


"Syukurlah kalau begitu."


Mama bahagia melihat Andini begitu lahap. Setidaknya dia tahu kalau cucunya sehat dan kehamilannya normal.


"Ya udah Mama tunggu kalian di bawah, karena satu jam lagi Miko dan dara akan datang. Kita akan sambut kepulangannya di halaman."

__ADS_1


Dibalas anggukan oleh Arsena " Oke, Ma. kami akan segera turun."


Bi Um kembali mendorong Rena menuju lantai satu melalui lift. Rena benar-benar sudah berubah drastis, bahkan dia rela mengantar makanan untuk Andini sendiri ketika kondisinya masih sakit.


Usai menghabiskan sepiring satai Andini merasakan kekenyangan, dia berulang kali mengelus perutnya. Dan menguap beberapa kali.


"Ars, aku ngantuk. hoaaaaaam."


"Tahan bentar, kita harus sambut kedatangan Dara dan Miko."


"Tapi mataku lengket, aku mau tidur, Ars."


Baru saja selesai berbicara Andini sudah menempelkan kepalanya di punggung Arsena dengan mata terpejam.


"Astaga, dia benar benar seperti anak kecil yang menggemaskan." Arsena menggelengkan kepalanya. Namun, tak mengurangi rasa bahagianya. Dia dengan telaten mengelap bibir Andini yang mengkilat dengan minyak lalu menidurkan di sofa yang sedari tadi ia duduki, Arsena tak lupa menarik meja dan mendekatkan di sofa. Khawatir kalau Andini menggeliat dia akan jatuh.


Sedikit waktu sebelum kepulangan Miko, Arsena memanfaatkan waktunya untuk membuka file-file yang baru saja dikirim Vina. Mengotak Atik mouse sebentar, sambil sesekali menatap istrinya yang tidur lelap.


---------


Davit mondar mandir di depan ruang pribadinya, menyibak tirai dan mengikatnya, berharap saat Zara pulang dia bisa segera bisa melihat kedatangan wanita pujaan hatinya.


Dia sekarang tau, siapa pria yang menjadi saingan dalam memenangkan hati Zara. Tuan Mert, putra tertua nomor tiga keluarga Atmaja.


Namun Davit percaya akan adanya jodoh, Pati dan Rezeki sudah ditentukan sejak lahir, Davit tak pernah takut apalagi mundur siapapun yang akan menjadi saingannya.


Mert terlihat begitu cepat membuka pintu dan segera berlari memutar membukakakan pintu untuk Zara. Zara turun sambil mengucap terima kasih dengan senyum malu-malu.


Pria berkemeja biru langit itu begitu terlihat bahagia. Ia menyerahkan kunci mobil pada Pak Karman, supaya memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Sedangkan dia memilih masuk rumah mengekor di belakang Zara.


"Zara, kok baru pulang? Kenapa sekarang malah bisa bareng Mert, tadi kan Davit yang sama kamu?" Tanya Mama Rena.


"Em, Nyonya tadi Zara ...."


"Tante, aku yang meminta Zara untuk pulang bersamaku saja, tadi ketemu di rumah makan aku sendirian, lebih enak kalau ada teman ngobrol." ujar Mert panjang lebar.


"Ya sudah kalau begitu, Zara. Em ... nona Andini siang ini belum minum susu, dan jangan lupa buatkan yogurt," ujar Rena mengingatkan.


"Iya, Nyonya."


"Permisi, Tuan Mert." Zara menoleh sambil menganggukkan kepalanya pada Mert.


Mert mengayunkan lengannya. Sambil melengkungkan bibirnya. "Silahkan."


Selanjutnya Mert terlihat berbincang bincang dengan Rena. Zara tidak lagi tau apa yang sedang Mereka obrolkan. Sepertinya Rena bisa mencium ada aroma kasmaran di wajah Mert.


Zara segera menuju dapur, siap-siap untuk membuatkan Andini yogurt seperti yang diminta Rena tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba Zara mendengar ponselnya berdering dari balik sakunya.


"Kak Davit!"


Zara menggeser krusor berwarna hijau, suara Davit segera terdengar dari benda pipih itu.


" Zara ... "


" Asalamualaikum, Kak Davit?"


"Waalaikum salam, Zara."


"Kak Davit, ada yang sangat penting? Tanya Zara?"


" Em, ada. Aku ingin bicara, bisakah kita bertemu sekarang di taman belakang."


Zara melihat ke taman belakang melalui jendela, taman belakang sedang sepi tak ada siapapun selain pria yang sedang berdiri di bawah pohon jambu mente, dengan posisi membelakangi dirinya.


Zara melihat Arloji yang ada di pergealangan tangannya, sekaligus melepasnya lalu memasukkan ke dalam saku. Rupanya masih ada waktu satu jam lagi untuk menyelesaikan membuat yogurd. Karena Andini biasanya memakan yogurd buatannya sehabis mandi sore.


"Baik, Kak. Zara akan kesana."


---------


"Kak Davit!"


"Zara"


"Maaf membuat Kakak menunggu." ujar Zara dengan wajah tertunduk.


"Zara." Davit membalikkan tubuhnya.


"Iya, Kak" Dara tengah menunggu pria di depannya mengucapkan sesuatu. Gadis itu sudah tau Davit pasti akan menanyakan kejadian yang sudah berlalu satu jam yang lalu.


"Apa yang harus kukatakan pada Zara, apa aku harus bilang kalau aku cemburu? Kalau aku ingin dia menjauhi tuan Mert. Bukankah itu tak mungkin. Tuan Mert adalah majikan kami."


"Kakak, ingin bicara sesuatu? Atau kakak membutuhkan bantuan Zara." Gadis itu menatap Davit dengan sorot mata penuh tanya, Zara berharap Davit melupakan kejadian tadi.


"Tidak Zara." Davit mengurungkan niatnya dan meraih pergelangan Zara. Davit lega melihat Zara tak memakai arloji pemberian Mert.


"Zara? Aku sudah tak sabar menunggu jawaban darimu. Aku tadinya bisa bersabar, tapi setelah kejadian tadi, aku takut jadi ingin lebih cepat mengetahui perasaan yang ada di hatimu untukku."


Davit berkata sambil memegang pucuk jemari Zara dari kedua tangannya. Menatap iris berwarna coklat itu dengan tatapan penuh pengharapan.


*Hai semuanya! selamat pagi!!!! selamat beraktifitas.


*jangan lupa dukung cerita ini ya, cuma minta Like, Vote dan komen bawelnya. biar lebih semangat lagi nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2