Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 89. Istri kecil bikin pusing.


__ADS_3

Andini meninggalkan Miko, ia ingin Dokter Vanya yang melakukan pemeriksaan selanjutnya serta CT scan pada kepala Miko.


Andini, meninggalkan Miko dengan sebuah kesan kurang baik. Aura wajah tanpa sebuah senyum. Tak seperti saat dengan pasien lainnya.


Menjaga hati suami yang mencintainya adalah kewajiban istri. Jika Arsena tau Miko menggenggam jemarinya, pria itu bisa mengacaukan semua yang ada di ruang kerjanya. Untung Arsena belum kepikiran memasang alat penyadap di ruang kerja Andini.


"Dokter Andini, lalu apa namanya kalau kau tak sedang menghindar?"


Miko tertawa dalam kepedihan melihat Andini pergi meninggalkan dirinya sendiri.


Suara itu masih dapat di dengar samar oleh telinga Andini. Membuat Andini mempercepat jalannya dan berhenti di sebuah kursi panjang. Kursi yang biasa digunakan keluarga pasien untuk mencari udara segar di luar ruangan.


"Nona, sebaiknya minum dulu, aku lihat kondisi anda kembali kurang baik" Zara membukakan botol sedang berisi air mineral lalu menyodorkan pada Andini. Nafas Andini terdengar ngos-ngosan, ia yakin Miko belum mengingat seluruhnya, pasti ada bagian memori yang telah hilang dari ingatannya.


Andini meraih botol dan meneguknya. "Terima kasih Zara."


"Nona, apakah kau baik-baik saja? Apa aku harus menghubungi Tuan, Ars."


"Aku baik-baik saja Zara. Jangan ceritakan apapun. Suamiku sudah cukup berat dengan masalahnya di perusahaan. Sekarang bantu aku kembali pada Miko. Tak pantas aku meninggalkan dia seperti ini, sedangkan dia hari ini adalah pasienku."


"Baik, Nona."


Andini berdo'a dalam hati semoga ia bisa bekerja se profesional mungkin di depan pria yang pernah singgah dihatinya, walau hanya sebentar.


Andini kembali masuk di ruang praktek, ia mendapati Miko sudah bersama Dara. Terdengar obrolan yang begitu canggung antara suami dan istri di ruang kecil itu.


"Dara, kenapa kau kesini, bukannya harus kuliah." Kata Miko kembali dengan aura tak suka.


"Aku tadi kepikiran Kak Miko, disini sendiri. Jadi aku izin pulang aja." Kata Dara jujur. Dara sebenarnya tadi belum sampai kampus, mengingat Miko sendiri tak mau ditemani siapapun. Akhirnya ia memutuskan untuk meminta pak sopir putar balik, dan dia nekat bolos mata kuliah hari ini.


"Harusnya tak perlu kau lakukan. Dara!" Miko membentak Dara, Miko tak suka Dara tak serius belajar. Firasat Miko ternyata benar, Dara telah bolos kuliah.


Dara sudah ingin menangis tapi ia masih sanggup menahan. Miko tak peka, Dara melakukan semua karena khawatir dengan kondisinya.


Andini dan Zara kembali masuk. Masih seperti tadi Zara selalu mengekor di belakang Andini dengan berbagai alat medis di meja dorongnya.


"Dara bagus kamu datang, sebaiknya kita lanjutkan pemeriksaan pada suami kamu." Andini berusaha mengusir ketegangan antara Miko dan Dara.


"Iya, Kak. Dara khawatirkan Kak Miko"


Andini bangga pada Adiknya, diusianya yang masih Muda ia bisa menempatkan diri menjadi seorang Istri.


"Dara kamu harus ada di dekat suami kamu, kakak mau memeriksa kondisi kepalanya, kita berdo'a sama-sama. Semoga luka bekas peluru itu sudah bener-bener sembuh."


"Dan kalian bisa berangkat bulan madu."


"Ihhhhhhh ... Kakak ngomong apa'an sih. Bikin malu aja."


"Bulan madu itu tak akan terjadi, aku ingin Dara fokus dengan kuliahnya." Kata Miko melirik sekilas ke arah Dara, lalu kembali menatap Andini yang sibuk mengoperasikan alat CT scan, Andinu siap melakukan pemeriksaan selanjutnya untuk Miko.


Miko sudah selesai diperiksa, pria itu keluar lebih dulu ke mobil. Sedangkan Dara menunggu Andini memberikan resep dan laporan hasil pemeriksaan hari ini. Khusus untuk hasil foto CT Scan Dara bisa mengambilnya besok.


Andini menyerahkan semua hasil pemeriksaan Miko kepada adiknya, sebelum pulang Dara memeluk kakaknya lebih dulu.


"Dara, kamu tidak ingin katakan apapun pada, Kakak?"


"Apa yang harus Dara katakan? Dara baik-baik saja, Kak. Kak Miko juga sangat baik. Dara bahagia dengan pernikahan ini." ucap Dara pada Andini. Bibir kecilnya tersenyum membawa ketenangan untuk sang kakak.


"Syukurlah, jika kamu merasa memang semua baik saja, kakak turut bahagia." Kata Andini mengantarkan Dara hingga pintu.

__ADS_1


"Dara pulang dulu Kak, kak Miko sudah menunggu di Mobil." Dara mencium tangan kakaknya, berpamitan.


"Silahkan, hati hati Dara."


Dara mengangguk sambil tersenyum, gadis itu membalikkan tubuhnya lalu pergi dengan tergopoh. Sebegitu pengertiannya, dia bahkan tak mau Miko menunggunya walau sebentar


Andini menitikkan air mata, salut dengan ketegaran adiknya, gadis itu begitu tangguh, ia mengakhiri masa lajangnya hanya untuk balas budi dengan keluarga Atmaja.


"Kakak yakin Dara, dengan ketulusanmu maka hati Miko Atmaja akan tergugah, dia pasti akan mencintaimu."


"Dokter, saya pasien berikutnya." Kata seorang ibu.


"Oh, iya silakan masuk, Bu." Andini mempersilahkan dan kesibukan memeriksa pasien terjadi hingga jam istirahat siang.


 


Di dalam mobil terlihat Miko sudah duduk di kursi penumpang. Sedangkan paling depan ada David, sopir pribadinya.


"Dara dengan tergesa membuka pintu penumpang dan duduk disebelah Miko. Maaf Kak, membuat menunggu, Dara tadi harus ambil obat dulu di depo farmasi. Sekalian nunggu hasil pemeriksaan dari Kak Andini."


"Bagus, lalu apa hebatnya ..." Jawab Miko jutek.


"Vid jalankan mobilnya, cepat!." Baik tuan Muda.


Dara dan Miko hanya diam sepanjang perjalanan, tak ada satupun yang membuka suara, Miko menatap lurus kedepan mengamati jalanan yang padat kendaraan. Sama halnya dengan Dara.


"Vid tolong berhenti di depan toko bakeri itu ya, aku lihat beberapa keperluan Tuan Muda ada yang habis tadi, saat belanja di supermarket kemaren ada yang lupa." Jelas Dara panjang lebar. Gadis itu menunjuk toko bakeri yang sedang ramai pengunjung.


"Gimana sih, nggak teliti banget," Gerutu Miko. Tanpa menoleh ke arah Dara. ia hanya geleng kepala, kesal. cuaca sedang panas dan Dara minta berhenti seenaknya.


"Baik Nona." Dibalas Anggukan oleh David. David turun, berlari ke samping mobil membukakan pintu untuk Dara.


David adalah kenalan Miko, mereka pernah bertemu satu kali di suatu tempat, David sedang membutuhkan pekerjaan, akhirnya ia menghubungi Miko, karena David hanya lulusan SMA, Miko menawari menjadi sopir pribadi.


Dara segera turun, membeli beberapa bakeri yang paling disukai oleh Miko. Pria itu sudah terbiasa sarapan pagi dengan menu aneka bakeri.


"Mbak, tolong bungkus, Red velved cake dua dan cheseecake nya dua." Kata Dara begitu menemukan kue kesukaan Miko.


"Baik Nona." Karyawan toko segera membungkus kue pesanan Dara.


Dara segera kembali, terlihat David sudah berdiri di depan pintu. Setelah Dara masuk David segera menutup pintu untuk Nona mudanya.


"Apa tak ada yang dibutuhkan lagi, Nona?"


"Tidak, David. Kita langsung pulang saja." Kata Dara. Kembali duduk di sebelah Miko.


"Oke." David segera kembali melajukan mobil menuju apartement elit, tempat Miko tinggal.


Setengah jam telah terlewati di jalan, mereka sudah sampai di basement, Miko segera turun dan naik lift menuju lantai apartemennya tanpa menunggu Dara.


David membantu Dara yang kerepotan membawa banyak barang, karena ia juga membawa buku dan tas kuliahnya.


"Nona, aku akan membantu."


"Terima kasih, Vid."


David tersenyum. " Jangan selalu berterima kasih, ini sudah tugas saya melayani majikan saya, Nona.


"Panggil saya Dara saja, saya juga lebih muda dari kamu kan Vid." Dara berkata lugu.

__ADS_1


"Tidak mungkin, itu namanya nggak sopan. Nona."


"Kasian, dia gadis polos dan tulus, kenapa Tuan selalu mengacuhkannya. Sikapnya juga dingin sekali. " Batin David, yang sedang berjalan di belakang Dara.


"Em Vid, barangnya langsung kamu taruh di ruang tengah ya."


"Siap, Nona." Davit menjawab cepat dengan sedikit melawak, membuat Dara tertawa terhibur.


Dara segera menuju kamar Miko meninggalkan David sendiri. Dara melihat suaminya sudah duduk di ranjang dengan memangku laptopnya. Dara mendekat, ia hendak bertanya sesuatu.


Miko hanya melirik kedatangan Dara sekilas, tanpa mengulanginya lagi.


"Kakak mau disiapkan makan siang?" Tanya Dara.


"Menurutmu? Apa aku harus meminta dulu, baru ada makanan," jawab Miko ketus.


Makanya ini tanya, kadang sudah dimasakin susah- susah juga nggak di makan, kan jadi boros tenaga. Sayang juga makanannya dibuang-buang.


Dara segera beranjak dari kamar menuju dapur. Mengorek isi kulkas, akhirnya menemukan daging ikan salmon tanpa tulang.


Dara segera memasak sup ikan salmon dan perkedel kentang. Setelah semua beres Dara segera membawa makanan menuju meja makan.


Dara mondar mandir meja makan, dapur. membuat tubuhnya lelah, jam di dinding terus berjalan cepat membuat Dara gugup, dia ingin menyelesaikan masaknya sebelum jam dua belas siang.


Di jam dua belas siang Miko pasti akan keluar kamar, dan dia tak mau tau, masakan harus sudah siap dan semua beres.


 


Teng! teng! teng! Pukul dua belas siang.


Benar! Miko keluar, ia berjalan menuju meja yang jaraknya tak begitu jauh dari kamarnya.


Aroma sup ikan salmon memenuhi ruangan, cacing di perut Miko berdendang riang minta di beri asupan nutrisi.


"Kakak mau makan?"


" Dara, ini ruang makan, tempat untuk makan, apa mungkin aku mau olah raga disini, ya makanlah."


"Baik kak, Dara ambilkan atau ambil sendiri?"


"Tuhan, beri aku kesabaran memiliki istri bodoh, macam dia. Gerutu Miko.


"Pergi, mandi sana. kau memasak tapi keringatmu keluar sangat banyak, pasti ada yang jatuh ke sup ini juga."


"Nggak kok, Kak."


"Kamu yakin?"


"Yakin, Kak." kata Dara sambil mengangguk.


Miko mulai menuang sup ke dalam piring, tangannya mengisyaratkan agar Dara segera pergi.


Miko meraih gelas dan meneguk airnya sebelum makan, netranya memandangi punggung Dara yang pergi menjauh.


"Mama keterlaluan, dia menipuku saat aku lupa ingatan, gadis kecil macam dia, bisa apa? Mana bisa diajak bermain di ranjang.


Tuhan beri aku kekuatan menghadap beruang kutub macam dia. Andai aku tau sebelumnya, pasti aku langsung menolak menikah dengannya waktu itu, " batin Dara.


******

__ADS_1


*Happy reading.


* jangan lupa Like, komen, Vote dan favoritkan. biar ada notifikasi terbaru saat update.


__ADS_2