
Warning!! khusus 21+
Tanpa sadar Dara menggerakkan tangannya ke belakang tubuh Miko. meremas punggung lebar itu dengan kuat-kuat.
Miko semakin sibuk dengan aktifitasnya mengabsen pundak, leher dan kuping Dara. Sesekali menggigit kecil dan meninggalkan cupangan di sekitar leher.
Tubuh Dara sudah dikuasai oleh Miko, Tubuhnya yang sekarang serasa bukan dirinya yang sesungguhnya. Tak ada lagi Dara yang pemalu, Dara yang selalu menjaga tubuhnya dari sentuhan pria. Yang ada tinggal Dara yang menurut? Dara yang sudah terbuai oleh cinta sang suami.
Lama sekali bermain di dalam bathup, membuat tubuh Dara dan Miko terasa dingin.
"Little, apa kau juga merasakan air ini semakin Dingin?" Tanya Miko.
"Hu'um."Dibalas anggukan oleh Dara.
Miko segera turun dari bathup, menggendong tubuh Dara ala bridal style menuju air shower. Lengan berotot dan roti sobek itu terlihat tanpa pelindung selain kain kecil berbentuk segitiga. Sedangkan pakaian Dara masih melekat, hanya Hem saja yang sudah entah dimana keberadaannya.
Posisi berdiri di dekat dinding sangat mudah bagi Miko untuk kembali menikmati hidangan lezat yang sudah disuguhkan di depannya.
Miko mendorong tubuh Dara dan menempelkan pada Dinding. Menarik dagu Dara hingga kepalanya sedikit mendongak.
"Dara, aku ingin kita melakukan hari ini, tapi aku tak ingin memaksamu, kau bisa menghentikan permainan ini ketika kau mulai tak nyaman. Tapi percayalah, hubungan suami istri diantara kita, pasti akan terjadi juga, semakin cepat penyatuan ini terjadi, akan banyak orang yang bahagia."
Dara tak menjawab, hanya bibirnya saja yang bergetar. Dia merasakan dingin pada tubuhnya luar biasa. Namun, mata tetap saling bicara. Mata jernih Dara membalas tatapan Miko yang sayu. Seakan dia setuju dengan yang dikatakan Miko.
Mendapat lampu hijau dari sang istri Miko bahagia. Ia kembali menyesap bibir basah milik Dara yang bercampur dengan percikan air shower. Kembali memasuki ruang hangat dan menjelajah di dalamnya. Lidah Dara bergerak lembut sepertinya ciuman Miko mulai di sambut dengan baik, Dara lebih cepat menyerap materi hari ini, karena belajar langsung dari empunya terbikti bisa mendalami ilmu lebih baik.
Miko melepas pagutannya dan tersenyum nakal. Bibirnya yang casual terlihat semakin memikat.
"Anak pinter," Miko mengelus rambut Dara dan mengecup keningnya. Cup!
Miko mematikan shower, membuat alirannya seketika berhenti. Miko kini menyerahkan bathrobe pada Dara. Sebelum itu dilakukan, dia membantu Dara melepaskan baju basahnya dan menjatuhkan semuanya ke lantai. Dara yang malu hanya bisa menutup semua aset berharganya dengan kikuk.
"Tunggu aku diluar kamar, aku akan menyelesaikan mandiku." Perintah Miko setelah yakin Dara sudah bersih dengan mandinya hari ini.
Dara menurut, ini pertama kali Dara sangat malu, dan bibirnya terkunci rapat. Dara tak mampu perkata lagi. Dia malu karena Miko sudah melihat semua lekuk tubuhnya. Bahkan Miko tadi sudah memberinya sabun di setiap inci tubuhnya baik di bathup ataupun di bawah guyuran air shower.
Dara segera keluar. Dara memilih duduk di depan cermin dan mengeringkan rambutnya, karena malam sebentar lagi akan datang, dia tak mau rambutnya basah.
Ceklek!
Pintu kamar mandi besar terbuka. Dara tak menghentikan aktifitasnya. Dia terlalu malu menatap wajah suaminya. Selain karena kekonyolan dengan mandi bersama. Dara tak mau kembali tergoda oleh pria dengan kemesuman tingkat Dewa itu, pria itu keluar hanya dengan handuk kecil yang dililitkan di pinggang. Tubuhnya terlihat sangat seksi.
Tiba-tiba Miko sudah ada di dekatnya. Dia meminta gagang hair drier dari tangan Dara. Miko membantu Dara mengeringkan rambutnya.
"Sepertinya biarkan lembab seperti ini saja." Kata Miko sambil ******* ***** rambut dara yang hangat dan belum sepenuhnya kering.
__ADS_1
"Iya, sepertinya ini sudah lumayan kering."
Miko kini memeluk dara dari belakang, menempelkan tubuhnya di punggung Dara dengan ketat, benda keras itu belum juga tidur, bahkan Dara bisa merasakan junior itu masih menggembung di dalam handuk Miko.
Miko sedikit mengubah posisinya, ia membungkukkan badannya, hingga kepalanya berada di pundak Dara. Pria itu tak membiarkan Dara berhenti senam jantung. Ia berbisik lirih di dekat telinga Dara.
"Dara aku akan merubah aturan pernikahan kita, aku yang sudah berjanji tak menyentuhmu hingga beberapa semester ke depan, kini aku memikirkan permintaan Mama, aku tak mau dia kecewa denganku." Kata Miko didekat telinga Dara. Diakhir kata dia menghembuskan nafas hangatnya pada tengkuk Dara.
Seketika tubuh Dara seperti terkena aliran listrik dengan tegangan berjuta volt. bulu romanya berdiri "Ta-ta-pi Da-ra ...."
Tak mau dibantah lagi, Miko juga tak mau terus dikuasai oleh juniornya. Pria itu kini mengangkat tubuh Dara yang terlihat kecil ketika dalam dekapan Miko dan membawanya ke ranjang besar. Miko menurunkan tubuh Dara dengan sangat pelan pada ranjang dengan Size XXL itu.
"Little, kamu tak perlu bekerja keras, terima saja kenikmatan yang akan aku suguhkan untukmu."
Dara bukannya malah senang dia terlihat ketakutan." Apakah Kakak akan merenggut kesucian yang Dara Miliki."
"Little, kamu ini ... " Miko terlihat berdiri, ia tak lagi mencondongkan tubuhnya di atas Dara. Pria itu bingung bagaimana menjelaskannya.
"Little, bukan seperti itu lagi menyebutnya, jika kita suami istri. Ketika kita menikah itu adalah sebuah hak dan kewajiban yang harus kita lakukan" Miko mencoba menjadi tutor yang pengertian. Karena bingung dia akhirnya menuang air dari dalam teko ke dalam gelas, lalu menegaknya hingga sekali tandas.
"Dan jika istri menolak, itu akan menjadi dosa besar bagi sang istri." Imbuh Miko, sambil menaruh gelasnya kembali.
Mendengar penjelasan Miko, Dara terdiam sejenak. Ia mencerna kata-kata Miko.
Dalam situasi ini, Miko kembali mencari kesempatan. Miko mendekat dan mencondongkan tubuhnya kembali di atas Dara.
Dara terlihat mulai menikmati sentuhannya. Dia memejamkan mata saat Miko berulang kali mengecup keningnya dengan penuh kelembutan.
Miko mulai memberi kecupan pada pipi hidung dan mulai merambat menuju bibir.
Dara kini sedikit membuka bibirnya ketika lidah Miko mulai ingin menerobos memasuki ruang hangatnya. Miko mulai menyesap dan memutar serta melilit lidah Dara dengan kelembutan. Dara membalasnya dengan amatir sesuai pelajaran yang ia dapat hari ini.
Miko terus bermain di bagian atas hingga tubuh Dara menjadi rileks.
"Emph, emph." Suara erangan Dara ditengah tengah kesibukannya, sambil sesekali mencuri mengambil nafas. Dara sudah bisa melakukannya dengan rileks sambil bernafas.
Miko melepas bibirnya, memberi jeda untuk Dara agar bernafas dengan baik. Dia menurunkan bibirnya hingga merambat di area leher dan dada. Beberapa tanda kepemilikan sudah berhasil di cetak Miko dengan cepat.
Tangan Miko menarik tali bathrobe di pinggang Dara.dengan lembut ia menyibak bathrobe yang dikenakan Dara.
Miko melihat dua buah ranum dan kencang itu begitu indah. Miko tau benda bulat itu belum tumbuh dengan sempurna, namun Miko yakin jika dia rajin meremasnya dia akan tumbuh dengan sangat bagus.
Dara malu, dia ingin memiringkan tubuhnya hingga Miko tak bisa lagi melihat dengan jelas gunung kembarnya. Namun keinginan Dara dicegah oleh Miko. Dengan sigap Miko menautkan jemarinya pada kedua tangan Dara dan menempelkan di atas kasur. Dara kehabisan ruang gerak, tak ada yang bisa dilakukan selain kembali pasrah. kedua tangannya sudah di kunci oleh Miko.
Miko kini mulai bertingkah seperti bayi yang sedang kehausan, ia menyingkirkan bathdrope yang menjadi penghalang. Bayi raksasa terlihat tak sabar untuk segera menyesap bukit ranum yang lama ia damba itu.
__ADS_1
Dara mencengkeram kuat rambut Miko, dan satu tangannya melingkar di punggung suaminya, ketika tangan Miko tak lagi mengurungnya, karena kedua tangan itu sibuk meremas bukit Dara bergantian.
"Emph, Kak!" Tubuh Dara terasa panas, ia menggelinjang seperti cacing kepanasan. Dara baru tahu seperti inikah rasa ketika titik-titik sensitifnya mendapat sentuhan cinta.
Dara mulai merem melek, terdengar ******* lembut secara intens dari bibirnya yang terasa perih. Karena Miko berulang kali melahapnya tadi.
"Little, kamu bisa mendesah sesukamu, jangan ditahan lagi. Dunia sedang menjadi milik kita. Tak akan ada yang bisa mengganggu." Kata Miko saat bibirnya melepas pagutannya dan kedua tangannya meremas bukit yang sudah mencuat tinggi-tinggi dan mengeras.
Dara mengangguk samar, takut yang tadinya merajai pikirannya telah hilang berubah menjadi rasa nikmat, Dara menikmati setiap inci sentuhan Miko.
Tangan Miko merambat ke bawah. Menyusuri perut hingga sampai lembah. Miko tau Dara sudah tak memakai apapun.
Ya, Sehabis mandi tadi Dara belum sempat memakai kain kecil berbentuk segitiga itu. handuk kimono yang dipakai Dara benar-benar sudah meninggalkan tubuhnya, Dara kini polos seperti bayi baru lahir.
Miko menyentuh aset berharga milik Dara. Miko merasakan ada yang sudah basah di bawah sana. Miko mengusap-usap dengan jarinya. Bibirnya mengukir senyum, ternyata istrinya telah terbuai dengan kelembutan dan permainan yang ia perankan hari ini.
Miko membuka paha Dara. Bibirnya merambat turun hingga perut, Dara menahan kakinya dengan ketat, dia sangat malu, Dara belum siap jika Miko melihat semuanya.
"Little ayolah, please." Mohon Miko, Sang suami itu menatap wajah Dara penuh permohonan. Dara menggeleng kuat.
"Jangan, Kak." Dara kekeuh menolak membuka kakinya.
Miko tak kehabisan akal, dia kembali meng*lum dua bukit kembar secara bergantian dan sesekali meremasnya.
"Akhh ... Kak." Dara menggelinjang, nafasnya tersengal-sengal, tak mampu lagi menahan sentuhan yang terus saja datang seperti hujan. Membuat tubuhnya serasa terbang di awang-awang.
Miko segera membuka paha Dara lebar-lebar. Menenggelamkan kepalanya di antara dua paha Dara. Miko kini memainkan lidahnya dengan agresif.
"Akhhh Kak ..." Dara malu mengakui kalau ada sesuatu pada dirinya yang ingin segera menyembur keluar.
Dara mengejang menenggelamkan kepala Miko lebih dalam lagi, hingga Miko semakin bersemangat untuk memainkan lidahnya semakin dalam.
Miko tau Dara sudah melewati pelepasan pertamanya. Tubuhnya lunglai sementara waktu.
Miko tak mau melewati step berikutnya yang paling dinanti. Miko kembali naik ke atas, mengungkung tubuh Dara dan menciumi seluruh wajahnya.
Dara tersenyum, pipinya merona, ada rasa lega bercampur bahagia menghiasi wajah cantiknya. Dara tidak tahu kalau kewajiban yang sebenarnya belum terlaksana. Semua yang dirasakan tadi hanyalah permulaan saja.
Miko sebenarnya tak yakin apakah malam pertamanya akan langsung berhasil atau tidak. Mengingat milik Dara masih sangat kecil, sempit dan legit. Ada perasaan tak tega mulai menyelimuti hati Miko. Dia tak tega kalau Dara akan menjerit kesakitan dan menangis menerima hujaman kejam dari juniornya yang sudah tak bisa dikendalikan lagi.
Miko dilanda kegalauan. Antara lanjut dan berhenti. Namun, sampai kapan dia akan membiarkan istrinya tetap perawan.
Dengan tekat yang bulat akhirnya Miko mulai meyakinkan dirinya, kalau ini adalah waktu yang tepat.
Dara sudah merelakan dirinya untuk dimiliki sepenuhnya. Karena Miko tak melihat Dara ingin menghentikan permainan ini seperti yang telah disepakati sebelumnya.
__ADS_1
*happy reading