
"Akhirnya dapat juga kupu- kupu yang diinginkan Andini. Hah ... hah ...." Arsena tertawa sambil merosot di padang rumput. Mengelap keringatnya yang mengucur deras membasahi hem mahalnya. Arsena segera memasukkan hasil tangkapan ke dalam toples lalu menutupnya tak lupa ia juga melubangi tutupnya biar kupu itu bisa bernafas.
"Horeee dapat ...." Andini bertepuk tangan, kegirangan seperti bocah.
"Yang, ngidamnya jangan yang aneh-aneh donk. Masa harus nangkap kupu-kupu. Selain capek juga susah, mending yang berkelas dikit lah, jalan jalan ke Mall atau kemana kek, makan pizza, burger, jamur, apa kek ...." Kata Arsena sambil menyerahkan toples berisi kupu-kupu."
Oma dan Arini yang melihatnya juga ikut tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi tetap mereka tak berani menunjukkan tawanya secara terang terangan.
"Yang, habis berlari tubuhku sekarang berkeringat dan bau. Pulang, mandi yuk."
Andini memeluk toples berisi kupu kupu, berjalan santai menuju kamarnya. Andini berencana akan melepasnya lagi setelah bosan memandangi kupu kupu itu.
"Sekarang kalau sudah dapat mau diapain itu kupu kupu nya? Awas kalau besok minta capung."
"Kalau di goreng, mau nggak?" Canda Andini.
"Apa?! Nggak mau lah, kayak nggak ada ikan aja." Arsena tertawa, ia gemas dengan istrinya yang terlihat makin berisi dan cantik. Arsena mencubit hidung runcing Andini dengan gemas.
"Sakit tau, ini hidung masih dipakai. Asal cubit-cubit aja ...." Andini memonyongkan bibirnya sambil mengelus hidungnya.
"Ars, besok pernikahan Zara dan Mert kita harus beli hadiah. Mampir ke ibuk, ya?"
"Baiklah nanti kita beli hadiahnya,."
kalau nggak sibuk kita main ke rumah ibu tapi nggak bisa nanti, kita cari pas libur . Ibu juga pasti kangen kita, semenjak menikah dengan pak Doni kita belum kesana sama sekali." Kata Arsena sambil menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah.
"Sayang, misalnya kamu punya adik lagi gimana? Pak Doni menikah kan pasti pengen punya anak kandung."
"Apa?! Nggak ah, masa aku hamil ibu juga hamil. Udah besar masa harus punya Adek lagi"
"Menurutku sih mereka harusnya punya anak, Sayang. Biar pak Doni bahagia. Aku nggak masalah, aku nggak malu, kalau punya Adek lagi"
"Entahlah, terserah mereka saja." Andini sudah sampai di kamarnya dia menaruh toples berisi kupu didekat jendela. Sekarang ia mulai lelah, pagi habis nangis Bombay hingga siang, sore baru moodnya mulai membaik setelah mendapatkan seekor kupu kupu yang malang.
Andini merebahkan tubuhnya di sofa. Mengelus perutnya yang kian hari bertambah besar.
"Capek ya?" Tanya Arsena yang mondar mandir mengambil peralatan mandi dan mengisi air bathup.
"Hu'um, dedeknya mulai nendang nendang." Kata Andini mengelus perutnya.
"Dia pasti senang, sudah dapat kupu-kupu nya." ujar Arsena. Ia mendekat sambil meraba perut istrinya.
"Sayang, baik baik ya di perut mama, papa sebenarnya sudah pengen tengokin kalian lagi, tapi gara gara om Mert, bikin masalah jadi papa sekarang pegal-pegal." ujar Arsena sambil meregangkan otot kepalanya.
" Yang gebukin aja capek, apalagi yang dipukul sampai babak belur, lihat Mert biru- biru, aku jadi kasian, tapi aku juga lebih kasian lagi sama Zara."
"He'em. Cinta Zara untuk Davit, tapi Mert terlalu bodoh. Entahlah kenapa di keturunan Atmaja ada yang sebodoh dia," kesal Arsena.
" Kamu juga pernah bodoh."
"Kapan?" Arsena tak terima. ia mengernyitkan dahinya.
" Mengurungku di gudang. Lupa ya?"
"Maaf, itu masa lalu, sekarang aku akan mengurungmu lagi di dalam kamar ini bersamaku."Mengedipkan mata genit.
"Mulai deh genit-genit."
"Genit sama istri dapat pahala." Arsena merangkul pundak Andini membuat Andini merebahkan kepalanya di dada suaminya.
Berulang kali Arsena mengecup puncak kepala Andini. Ia suka sekali dengan aroma rambut Andini yang selalu wangi.
Ketika berada dalam masalah, Arsena seringkali menemukan solusi dengan memeluk istrinya, menempelkan kepalanya di pundaknya lalu memejamkan matanya.
" Airnya sudah penuh, kita mandi sekarang." Arsena mengulurkan tangannya, siap menggendong Andini.
" Kamu duluan!" Andini menyingkirkan lengan Arsena " aku nanti aja."
__ADS_1
"Bu mil nggak boleh malas mandi, nanti anaknya nggak cantik," bujuk Arsena.
"Ya udah mandi kalau gitu, tapi gendong." Arsena akhirnya menyerahkan punggungnya, membiarkan Andini naik dan melingkarkan lengan dilehernya baru dia berdiri pelan-pelan.
"Maaf ya, Ars."
"Untuk apa?"
"Kamu pegal tapi aku masih minta di gendong," ucap Andini manja.
Arsena membuka pintu kamar mandi dengan hati hati. Menurunkan tubuh Andini tepat di tepi bathup.
"Sekalian dibantuin nggak?" Arsena masih modus.
"Nggak sudah bisa sendiri."
Arsena akhirnya ikut membuka bajunya sendiri menyisakan celana boksernya. Masuk kedalam bathtub hampir bersamaan, membuat air meluber keluar karena dimasuki dua tubuh sekalian.
"Kalau kurang hangat, biar aku tambahin suhunya."
"Sudah, cukup." ujar Andini sibuk meremas sponge setelah memberinya sabun cair.
"Ars, mendekat sini biar aku bantu membersihkan bagian punggung."
" Baiklah." Arsena mendekat ke arah Andini, Andini dengan pelan menggosok punggung Arsena.
"Coba istri baik seperti ini setiap hari, mau mandi bareng, membantu menggosok punggung, habis itu sekalian kita main sebentar, pasti dunia ini sangat indah."
"Jangan ngelunjak, entar aku berubah pikiran, mau?"
" Nggak, nggak, iya ayo gosok lagi, enak banget, Sayang." Arsena memejamkan matanya merasakan tangan Andini menari nari di punggungnya
Arsena dan Andini sedang bermanja di dalam bathup, Capek yang sempat melanda tiba tiba hilang, semangatnya kembali naik sampai ke ubun-ubun hingga berakhir dengan pelepasan yang hangat.
Sedangkan di kamar lain ada Miko dan Dara yang melanjutkan bulan madunya.
Setiba di halaman ibu dan bapak segera menyongsong dan memeluk putrinya yang sudah lama merantau di Surabaya.
"Nak tumben pulang kok nggak kabari kita," tanya Ibu pada Zara.
"Maaf Buk, Zara mendadak pulangnya, karena ada sesuatu yang sangat penting."
Ibu segera menggandeng Zara masuk, Kini Zara dan kedua orang tuanya duduk di ruang tamu sederhana yang berukuran sekitar empat kali tiga meter itu. Di ruang tamu itu berjejer foto masa kecil Zara yang lucu lucu.
"Temannya kok nggak disuruh masuk."
"Masuk dulu Den, biar ibuk bikinin kopi atau teh dulu, habis perjalanan jauh masa langsung balik gitu aja," ujar wanita berusia sekitar setengah abad itu.
"Makasi buk, tapi Davit ...." Davit ingin menolak. Namun, ibunya Zara terlihat sangat memaksa membuat pria itu tak enak hati mengecewakan seorang ibu.
"Baiklah, tapi saya cuma bisa sebentar saja, soalnya takut nanti sampai rumah kemalaman, Buk"
"Iya ibu janji cuma sebentar, toh cuma minum teh saja, buat ngilangin dahaga." Ibu terlihat masuk ke dapur membuat teh hangat dengan gelas lumayan besar.
"Oh iya Zara, tadi katanya ada yang penting, Kok belum bilang ke ibuk?" Ibu kembali ingat dengan tujuan kepulangan putri semata wayangnya.
"Besok Zara akan menikah buk."
"Syukur kalau sudah mau menikah, ibu senang dengarnya, apa nak Davit ini calon mantu ibuk, Zara kamu pinter banget cari suami," ujar ibu bahagia.
"Nggak Bu, Kak Davit ini cuma seorang sopir di tempat tinggal calon suami Zara, namanya Tuan Mert.
" Oh, maaf ibu lancang Nak Davit. Jadi calon menantu ibuk bukan, Nak Davit." Ibu memasang wajah bersalah.
Sedangkan Davit terlihat sedang menahan sebuah rasa, rasa yang amat sakit.
__ADS_1
Davit segera menghabiskan teh buatan ibu. Walaupun sedikit kepanasan Davit memaksa menegak hingga semua tandas ke perutnya.
Panasnya teh buatan ibu, tak sebanding dengan panasnya gemuruh di dada Davit saat ini. Davit tak percaya Zara gadis yang sangat baik sekarang telah berubah. Kata katanya terdengar arogant dan merendahkan dirinya.
Davit segera mohon pamit, pada ibu dan bapak. Dia bahkan tak berpamitan pada Zara.
"Permisi ibu, bapak, saya harus balik ke Surabaya." Davit berdiri meninggalkan kursi yang baru ia duduki beberapa menit itu.
"Hati hati, Nak Davit," jawab ibu dan bapak serempak.
Ibu dan bapak mengantar hingga pekarangan rumah, sedangkan Zara berlari ke kamar. Ia melihat kepergian Davit dari jendela kaca yang ada di kamarnya. Kebetulan kamar Zara berada paling depan bersebelahan dengan ruang tamu.
Zara membuka tirai warna gold yang menutupi pandangannya kepada Davit. Zara bisa melihat raut wajah kecewa pada pria itu.
Zara tak ingin Davit membencinya, tapi ini yang terbaik, satu-satunya cara agar Davit melupakannya.
Airmata mengalir deras dari sudut netra Zara, ketika melihat Davit mengemudikan mobilnya meninggalkan rumahnya.
"Kak Davit .... hiks hiks hiks."
" Kaaak Daviiiiiiiit .... !! Maafkan Zara hiks hiks hiks."
Tubuh Zara merosot ke lantai. Ia meraih boneka yang ada didekatnya lalu memeluknya. Membayangkan boneka itu adalah Davit yang bisa mendengar tangisnya.
Kak Davit, aku mencintaimu, tapi takdir tak berpihak pada cinta kita, aku mencintaimu tulus dari hatiku yang terdalam, sama sekali aku tak mempermasalahkan apapun pekerjaanmu. Tapi kita tak mungkin bersama, kita tak bisa bersama, biarlah cinta ini akan menjadi kenangan diantara kita berdua.
Zara tenggelam di dalam kesedihannya. Ia lupa kalau sore sudah berganti dengan malam. Ibu dan Bapak berulang kali mengetuk pintu.
Karena Zara tak membukakan, ia menganggap Zara sedang tidur karena kecapaian.
Sedangkan Davit segera mengemudikan mobilnya menuju kota Surabaya. Davit melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan berhenti di sebuah jembatan panjang.
Davit tak kalah terpuruknya dengan Zara, setiap kenangan yang ia lalui dengan Zara kembali terbersit dalam ingatannya.
Davit berteriak memaki maki, menghadap ke aliran sungai yang deras. Seakan air itu penyebab mereka berpisah.
"Zara, kau kejam !"
"Kenapa ada wanita seperti dirimu di dunia ini !"
" Kau beri harapan yang membuat aku melambung tinggi lalu kau hempaskan aku dari ketinggian itu."
" Sakit Zara, ini sakiiiit !!" Davit memukul dadanya berulang kali.
Davit meremas rambutnya frustasi, berulang kali ia memaki pada air sungai yang tak mau berhenti walau sebentar, Bahkan suara gemericiknya seakan menertawakan dirinya.
" Sakit Zara, aku tak pernah merasakan sesakit ini." David limbung di bawah pagar tinggi.
Davit kembali sadar ketika ponselnya berdering.
"Davit kamu dimana?"
" Nona Dara. Kau sudah kembali rupanya. Maaf aku tak bisa menjemput."
"Nggak apa Davit, setelah sampai nanti, cari aku, aku sudah belikan oleh-oleh buat kamu."
"Terimakasih Nona. Salam buat tuan Muda."
"Iya sama-sama."
Davit segera menyadarkan dirinya, tak penting baginya berlarut dalam kesedihan untuk wanita matre seperti Zara. Benar, setahu Davit, Zara menikahi Mert karena mengincar harta.
Satu jam berlalu sejak di jembatan tadi, kini Davit sudah sampai mansion. Tubuhnya lunglai dan bajunya kusut.
Davit segera memasukkan mobilnya ke dalam garasi, berjajar dengan banyak mobil lainnya. Setelah itu ia segera mandi dan beristirahat.
Soal oleh-oleh Davit bisa bertemu kapan saja dengan majikan lamanya itu. untuk saat ini dia tak menginginkan oleh-oleh itu.
Davit membuka file yang ada di ponselnya. Ia menghapus semua foto Zara dari layar ponselnya.
__ADS_1
Zara dengan seperti ini kamu dan bayanganmu sekalipun tak bisa mengusikku. Kamu tak punya hak membuat aku menderita seperti ini.