Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 163. Kaulah Bintang yang Kunanti.


__ADS_3

"Tuan, rupanya anda disini, dokter Namira mencari anda supaya segera mengambil pil dan vitamin. Anda sudah ditunggu." seorang pasien menyapa Miko.


"Buat apa? Kamu sakit Mik?" Arsena terkejut.


"Enggak, aku hanya pusing sedikit saja," kata Miko berbohong. Lalu keluar ruangan untuk memenuhi panggilan Namira.


Namun Arsena tak percaya begitu saja, Miko terlihat baik dan sehat . Kenapa dia bilang sakit dan pusing?


"Suster!"


"Iya. Tuan, memanggil saya?"


" Kenapa Miko harus keruangan Namira?" Apa suster tau sesuatu?" Selidik Arsena.


" Iya tuan, Tuan Miko yang sudah menyelamatkan istri anda, Dia datang bagaikan dewa penolong. Dia yang sudah menyumbangkan darahnya disaat kami kehabisan stok golongan darah O. Dr Andini sangat membutuhkan.


"Miko?! Kenapa bisa dia?!"


Arsena terlihat kecewa. Begitu pula Andini yang terkejut, Kenapa harus selalu Miko? kenapa dia selalu ada disaat kondisi Andini sedang membutuhkan bantuan?


Bukankah seharusnya Arsena yang melakukan semua ini, golongan darah mereka sama.


Arsena segera mengejar Miko, Miko harus memberi penjelasan sekarang juga. Kenapa bisa dia yang menyumbangkan darah itu.


"Berhenti!!" panggil Arsena.


Miko membalikkan tubuh seketika berucap datar. "Ada yang penting?"


"Kenapa kau selalu hadir diantara kami? Andini tanggung jawabku sepenuhnya. Miko, aku mohon biarkan aku berharga dimata istriku, kau harusnya bisa mencari ku dan aku akan mendonorkan darahku untuknya."


"Maaf, aku terlalu takut Andini pergi untuk selamanya, kondisinya tak seremeh yang kau bayangkan. Jika kau memang keberatan aku melakukan apapun untuk keluarga kecilmu, akan aku kabulkan. Mulai detik ini, kaulah satu satunya milik mereka, hanya kau. Tak ada aku, yang selalu ikut campur"


Miko berlalu pergi. Dia berharap kedepannya Andini tak menemui kemalangan dan bahaya lagi, sudah saatnya dia fokus untuk kebahagiaan keluarganya sendiri. Untuk wanita yang sangat mencintainya. Dara onlyone.


 


Andini sudah diizinkan pulang oleh Dr.Namira. keadaannya sudah membaik, tiga hari di rumah sakit membuat dirinya akrab dengan dokter cantik, kawan lama suaminya itu.


"Makasi ya Dr.Mira, sudah membantu masa parsalinanku, sebagai hadiah dan rasa terima kas yang besar dariku, aku beri cincin ini sebagai rasa terima kasihku padamu." Andini mengambil sebuah cincin cantik pemberian Arsena saat menghadiri launcing sebuah perhiasan, kebetulan Arsena membeli banyak untuk keluarga juga.


"Terima kasih kembali, Dr. Andini aku terima hadiahnya, aku langsung memakainya. Tapi aku juga ingin memberikan sebuah hadiah ini untukmu, sebagai ucapan selamat atas kelahiran bayi kembar kalian." Namira menyodorkan sebuah kotak yang entah apa isinya.

__ADS_1


"Terima kasih, hadiahnya aku terima."


 


Andini sudah kembali ke Mansion. Hari-hari yang mereka lalui hanyalah bahagia. Kebahagiaan semakin sempurna setelah dua putranya lahir tanpa cacat. Hanya saja bobot tubuhnya yang dibawah normal, bukan karena makanan yang dimakan tak bergizi, tetapi usia dikandungan yang tak sampai sembilan bulan membuat bayinya lebih kecil.


"Pa, kira kira mau dikasih nama siapa ya, cucu kita nanti? " tanya Rena pada Johan yang sibuk membawa cucunya di gendongan. Dua manusia setengah abad itu lebih sering menghabiskan waktu hanya untuk cucu mereka saja. Seperti pagi ini, ketika matahari baru terik, Rena dan Johan membawanya di taman bunga yang luasnya memutari Mansion.


"Sebenarnya aku sudah siapkan nama untuk mereka, tapi Arsena dan Andini, apakah dia akan setuju, ya?" Johan terlihat berfikir. Sambil duduk di kursi yang diterpa sinar pagi yang diyakini mengandung banyak vitamin E.


"Emang mau Papa kasih nama siapa?" Rena penasaran.


"Rahasia donk, Ma. kalau mama kasih tahu duluan nanti nggak surprise donk." Johan menggoda istrinya.


"Ih papa, pakai rahasia." Rena mencubit pinggang suaminya dibarengi dengan senyumnya. Dia hari ini terlihat cantik. Semenjak Rena baikan sama Andini, Johan melihat istri pertamanya begitu cantik. Mungkin benar, kecantikan itu semakin sempurna ketika di imbangi dengan sebuah kecantikan hati, serta jiwa yang tenang.


"Iya, Donk." Johan mulai membaringkan kedua cucunya di kereta bayi. Mendorongnya pelan. Rena kini berjalan berdampingan dengan suaminya.


"Oeek ...." Bayi pertama mulai menangis.


"Oeek ...." Bayi kedua ikut menangis.


"Pa haus," sepertinya kita harus kembalikan dia pada Mamanya. sejak bangun tidur kita sudah menculik dari orang tua kandungnya," ujar Rena tertawa terkekeh.


Bayi kecil itu sementara hanya minum Asi dari Andini dulu. Jika usianya bertambah dan Andini kuwalahan, rencananya asupan nutrisinya akan ditambah dengan susu formula.


Sang Papa, sibuk menyiapkan kamar bayi. Desain kamar bayi di dominasi dengan nuansa warna biru, dinding dihias dengan tokoh kartun karakter anak laki laki.


Semuanya bisa selesai dalam sekejap karena Davit. Asisten tampan itu, ikut andil besar dalam merenovasi. Pria itu pula yang memilih dan berbelanja bahan yang dibutuhkan, setelah itu dengan cekatan dia mulai memanfaatkan keahliannya dalam mendekor ruangan.


Para wanita sibuk di dapur. Mereka memasak banyak sekali, koki pin dihadirkan untuk mengobrak Abrik dapur Arsena.


Karena acara syukuran akan dilakukan secara besar-besaran. Mereka bekerja sama memasak empat kambing sekaligus untuk aqiqah Si kembar, sekaligus acara pemotongan rambut dan pemberian nama.


Siang siap menjemput, hiruk pikuk di rumah semakin terasa, usai mandi si kembar kembali tidur dalam box masing masing dalam kama. Mereka berdua nampak pulas. Mereka berdua lebih cepat kenyang karena dua duanya sudah jago ketika nen sang Mama.


Para tamu mulai berdatangan mereka ingin memberi selamat atas kelahiran bayi Arsena. Walau sudah dirahasiakan. Namun kelahiran si kembar tetap menjadi topik utama di perusahaan. Dan kalangan sanak famili.


Gilang dan Giska datang paling awal.mereka berdua minta maaf tak bisa menjenguk di rumah sakit, semuanya karena Arsena yang meminta untuk tetap stay di kantor. Dan yang lebih parahnya dia juga mewakili banyak pertemuan dengan clien penting.


Tamu kedua adalah Ana dan Doni, ana membawakan banyak sekali hadiah untuk cucu kembarnya, dari baju serba kembar dan mainan yang aman untuk bayi.

__ADS_1


"Andini, ibuk bersyukur kamu sehat, Nak. Ibu tidak ada disaat kamu kembali membuka mata, ibu sock berat dan dibawa pulang oleh Bapak Doni." ujar Ana saat berbicara dengan Andini di ruang keluarga.


"Ibuk, Andini harus kuat demi dua bayiku. Aku tak bisa meninggalkan Arsena. Kita sudah berjanji akan merawat bayi kita berdua, hingga tua nanti," kata Andini penuh syukur.


"Alhamdulilah. Sekarang semua sudah baik-baik saja. Ibuk mau tengokin cucu ibuk dulu." Ana dan Doni segera melangkahkan kakinya menuju kamar bayi. Melihat Si Kecil pulas Ana tak ingin mengganggunya. Dia sudah cukup bahagia mengamati dari atas box.


"Bun, dia tampan sekali, keduanya mirip papanya. Hanya sebagian kecil saja mirip Andini," kata Doni sambil mengukir senyum di wajahnya.


"Besok aku yakin anak kita juga akan mirip denganku."


"Ih, Aa. Suka sok tau, mirip siapapun kita bersyukur. Yang penting mirip kita berdua. he he."


"Iya Bunda" Doni merengkuh pundak sang istri.


Ana mentowel pipi cucunya dengan gemas. Andaikan saja tak sedang tidur pasti pipi gembul itu sudah berulang kali diciumnya.


"Eh, rupanya ada besan," sapa Rena dari arah pintu. Ana membalikkan tubuhnya, dilihat wanita cantik memiliki rambut sebahu itu menyambut kedatangannya, Ana segera memeluk besannya dengan hangat.


Andini bahagia mertuanya benar benar berubah, selain menyayangi dirinya, Rena juga baik dengan ibunya.


Rena menggandeng Ana, mengajak berbincang bincang di ruang tamu mereka membicarakan cucu kembarnya yang lucu. Setelah itu obrolan mereka melebar menanyakan kondisi diri masing masing diselingi canda dan tawa.


Johan dan Doni rupanya ada di selasar depan. Mereka berkumpul dengan para tamu, mereka juga berasal dari para petinggi perusahaan dan kolega Johan.


"Serapat apapun kau menyembunyikan kelahiran putramu, aku tetap mendengar, ujarnya. Direktur pemasaran sedang berbicara pada Arsena.


"Selamat berbahagia buat keluarga Arsena, aku turut mendoakan kebahagiaan kalian." Ujar sahabat lainnya.


"Terima kasih, semuanya. Putraku, yang ku nantikan telah lahir dengan selamat, dia juga sangat sehat. Dialah bintangku, cahayanya akan menerangi setiap tarikan nafasku. Aku dan istriku sangat bahagia. Putraku ku beri nama Excello. Excel yang berarti kesejahteraan dan Cello memiliki arti yang tak kalah bagusnya yaitu Surga. Aku suka nama itu, tak apalah dari bahasa asing. Asalkan kami tetap cinta pada negara kita. Bukan begitu kawan-kawan?"


"Yups, setuju. Excel dan Cello si kembar yang akan menjadi penerus PT Wilmar Group. Semoga Tuhan akan senantiasa melindunginya," ujar Miko. Lalu mereka semua bersulang sambil menikmati jamuan lainnya.


"Ngomong-ngomong, aku juga pengen tahu hasil karya tuan muda kita ini?" Manager pemasaran ikut membuka suara, dia celingukan mengamati sekeliling. tak ada sosok bayi yang dicarinya.


"Tentu kau akan melihat putraku saat prosesi pemotongan rambut nanti, sekarang mereka masih nyenyak dalam dekapan istriku," ujar Arsena, dan mereka kembali bersulang.


Jarang mereka semua berkumpul dalam keadaan santai seperti ini, yang sering hanyalah berkumpul ketika membahas peliknya soal pekerjaan.


Excel dan Cello sudah dalam gendongan Johan. Prosesi pemotongan rambut akan segera dimulai.


Banyak mereka yang berdo'a dalam hatinya. Semoga cepat diberi momongan, setampan bayi mungil yang sebentar lagi akan semakin lucu karena kepalanya gundul.

__ADS_1


Terutama Miko. Dia sudah berharap istri kecilnya cepat mengandung buah cintanya. Biar Arsena tak pernah menyimpan cemburu lagi.


*Happy reading.


__ADS_2