
Tiga puluh menit berlalu.
"Kak, hentikan sekarang, sakit banget!" Arini mencengkeram tengkuk Davit hingga terpaksa Davit menyelesaikan permainannya dengan cepat. Jujur Davit juga merasakan juniornya sakit. Mungkin karena pertama kali jadi mereka belum berhasil merasakan nikmat sesungguhnya surga dunia yang begitu indah tiada Tara itu.
"Oke, aku akan selesaikan sekarang Beb." Usai berkata tubuh Davit sedikit cepat maju mundur dan akhirnya tubuhnya menegang bersamaan.
"Yeah akhhh." Pekik Davit tak dapat ditahan lagi.
Usai menyemburkan benih benih kecebong di rahim Arini Davit langsung Ambruk. Bagaimanapun persembahan malam pertama mereka, pastinya saling memaklumi. Davit melakukan ini yang pertama kalinya begitu juga Arini. Nafas mereka berdua ngos-ngosan seperti habis lari maraton
"Hiks! hiks !" Arini menangis sambil memeluk Davit yang ambruk di sampingnya. "Kak aku sudah nggak Virgin lagi," ungkapnya kemudian
"Emang kenapa kalau nggak virgin, kan kita sudah menikah, Sayang." Davit heran dengan Arini yang tiba-tiba menangis dan memeluk lengan Davit dan menyandarkan kepalanya.
"Kamu sudah memiliki aku, dan aku juga sudah menjadi milikmu. Kalau udah nikah, nggak mungkin dong aku biarin kamu Virgin terus. Kamu juga harus secepatnya punya anak, biar rumah yangga kita jadi makin kokoh.
" Jangan tinggalin Arini, Kak. Arini sudah lehilangan harta yang paling berharga yang aku miliki." Arini takut Davit akan mencampakkan dirinya.
"Apa yang kamu katakan, Sayang, Kamu kira aku main-main menikahi kamu." Davit mencoba mengerti ketakutan Arini. dia masih trauma beberapa kali diculik dan ingin dinodai oleh Willy waktu itu, dan Salsa yang ternoda oleh Nathan dan hingga saat ini pria itu belum mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Bersihkan dulu, setelah ini tidur yang nyenyak, maaf." Davit memperlihatkan segaris senyumnya yang manis, sambil membelai rambut Arini.
"Maaf untuk apa?" Arini bertanya dengan wajah kelelahan.
"Sudah bikin kamu nggak virgin tadi katanya."
"Em jangan bilang maaf, katakan yang lainnya saja."
"Okey, terimakasih, Baby. Istriku sayangku," Kata Davit sambil mencurahi Arini dengan kasih sayang. "Cupp!" Davit mendaratkan satu kecupan sayang di pipi mulus Arini.
Arini tersenyum dengan perlakuan manis suami yang selalu suka sekali mengecup area wajahnya. "I love you, honey," bisik Arini.
"Love you to." Davit membalas dengan berbisik pula.
"Sudah pukul berapa, kok nggak jadi ngantuk." Davit meraba-raba ponselnya yang ada diatas bantal. Membiarkan tubuh polos keduanya bersembunyi di bawah selimut. "Aduh dah malam banget Beb, Istirahat ya." Mengacak rambut Arini gemas. Menancapkan bibirnya di pipi Arini sesaat, lalu turun ke kamar mandi.
Davit ingin membersihkan sisa-sisa cinta mereka, sambil buang air. Tak bisa dibayangkan betapa bahagianya hati Davit saat dia berhasil menuaikan kewajibannya memberi nafkah batin.
Saat berjalan menuju kamar mandi ia masih sempat melihat Arini yang tergolek lemah, tak beranjak sama sekali saat Davit memerintahkan untuk membersihkan tubuhnya tadi.
"Sayang, ini pasti mau lagi kok nggak segera di bersihin,"
__ADS_1
"Ah." menggeliat.
"kak Davit Arini sakit banget."
"Oke kakak akan bantu." Davit mencari handuknya yang beberapa menit lalu ia campakkan dan kembali melilitkan benda persegi panjang itu ke pinggangnya.
Davit membuka selimut dan mengangkat tubuh polos suaminya. Arini tak meronta dia hanya bisa menyetujui apapun keinginan suami, dia melingkarkan pelukannya di tengkuk Davit.
Davit menyalakan air hangat di bathup, ia hanya mengisi seperempatnya saja, lalu mematikan lagi. Ia turunkan Arini berlahan. " Aku tinggal dulu ya menata sepreynya, tadi awut-awutan.
"Yah," jawab Arini singkat.
Davit keluar, dia sebenarnya ingin melihat noda yang ia tinggalkan, Davit sering kali mendengar akan ada bercak darah yang ia tinggalkan ketika malam pertama mereka telah berhasil dan tentunya istrinya ketika masih virgin.
Kalaupun Davit tak menemukan noda itu, dia berjanji akan tetap menyayangi Arini sepenuh hati.
Davit menyibak selimut tebal dan merapikan seprei, dan terjawab sudah tanda tanya besar di kepalanya, dia menemukan bercak darah segar dan basah mengotori seprei warna putih yang menjadi saksi pergulatan mereka malam ini.
" Terima kasih sayang, sudah mempersembahkan mahkota termahal untukku, mulai sekarang aku akan mebahagiakan dirimu, apapun yang terjadi." Gumam Davit lirih sambil mengganti seprei yang terdapat noda merah dengan yang baru, Lalu dia kembali ke kamar mandi menyusul Arini yang ia fikir pasti sangat kesakitan.
"Sudah selesai?" Tanya Davit menyembulkan kepalanya di pintu kamar mandi.
"Senyum dong, masa cemberut gitu."
"Sakit banget Kak, Arini nggak bisa jalan."
" Yah, Kan ada aku yang siap bantu istriku berjalan kemana aja " ujar Davit segera masuk dan mengangkat tubuh Arini kembali ke ranjang.
"Tidurlah! Sekarang sudah pagi, Davit menunjuk angka dua pada jam dinding. Namun kata katanya untuk menginginkan Arini istirahat itu sungguh dusta belaka, saat melihat tubuh istrinya yang polos tadi tongkat sakti Davit kembali bangkit dan kini dia gelisah ingin memakan istrinya lagi.
"Kak Davit kenapa?" Arini seolah tau kegelisahan
"Sudah tidurlah."
"Entahlah, Arini nggak bisa tidur."
"Sama donk." Davit memposisikan tubuhnya disebelah Arini dan memeluk pinggang ramping milik sang istri.
"Sayang apa kamu bahagia, menjadi istriku?"
"Apa itu penting untuk di jawab, kak Davit bisa lihat gimana tatapan mata Arini ke kak Davit, Arini bahagia banget kak."
__ADS_1
"Makasi, Davit mengeratkan pelukannya."
Arini terkejut ada yang besar menyentuh pahanya." Kak!"
"Hum, benarkah itu."
"Yah, gimana lagi, dia mau lagi. Tapi aku lihat kamu masih kesakitan."
Arini kini memiringkan tubuhnya, "Mau lagi?"
Davit mengangguk pelan, "Emang boleh?"
Arini pun mengangguk sambil tersenyum. "Bolehlah, Kak. Dosa kalau suami ingin aku nggak mau ngasih."
"Serius?"
" Hu'um."
Davit segera bangkit setelah mendapat lampu hijau dari Arini, dia segera merubah posisinya mengunkung tubuh mungil sang istri.
"Yakin?" Senyum mengembang dari bibir Davit. Arini lebih dulu menarik tengkuk Davit hingga posisi wajah mereka kembali bertautan dan ciuman panas tak terelakkan lagi.
Desah dan rintihan mulai terdengar kembali dari bibir Arini. Mendengar semua itu Davit sangat senang, ia ingin menunjukkan pada perempuannya kemahirannya untuk menyenangkan sang istri. Bahkan beberapa kali Arini menggigit bibir Davit saat dia merasakan sesuatu yang luar biasa.
Tak terasa permainan kedua berakhir tepat di jam tiga. Davit masih punya waktu tidur satu jam lagi sebelum menunaikan kewajibannya. Setelah itu dia joging di sekitar taman sebentar.
Sedangkan Arini si gadis manja, dia tak beranjak sama sekali dari ranjang cintanya.
"Kak Davit dari mana?" Tanyanya saat Davit masuk kamar dengan tubuh sudah berkeringat.
"Tadi joging sebentar, habis itu main barbel di Mess." Davit mengambil handuk kecil untuk mengusap keringatnya.
"Butuh sesuatu?" tanya Davit.
"Nggak, cuma ingin tidur lagi." Arini menutup wajahnya dengan selimut hingga tubuhnya kini mirip kepompong raksasa.
Davit menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan istrinya yang kelewat manja.
Namun, di sisi lain dia justru sangat senang.
ketika Arini manja justru dia merasa lebih berguna sebagai seorang pria.
__ADS_1