Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 290. Sayang selamanya.


__ADS_3

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Arsena mengalami patah di kakinya, terpaksa dia tak bisa berjalan menggunakan kedua kakinya, dia harus berjalan menggunakan kursi roda sebelum pulih seperti sedia kala.


Satu Minggu telah berlalu, Andini dan Arsena sudah diizinkan pulang. Keluarga sangat senang melihat putranya masih diberi kesempatan untuk hidup setelah kejadian naas itu. 


Tapi Arsena terlihat murung, dia tak sebahagia sebelumnya, bukan hanya karena kondisinya yang cacat, tapi dia juga kehilangan calon bayinya.


 


Saat ini Andini dan Arsena berada di koridor, Arsena di kursi roda dan Andini duduk di sebelahnya, mereka sama sama menatap ke langit kosong. Setelah memberi sebuah hadiah kalung berlian mahal yang ia pesan khusus dan 5ak ada duanya.


"Sayang ini ulang tahun kamu, harusnya bisa merayakan bersama teman-teman, nggak apa-apa aku akan dirumah saja, kamu bisa ajak Vanya, Arini dan Dara jalan jalan, makan makan."


"Maksud kamu apa sih, Bie? Aku nggak ngerayain juga nggak apa apa. Dulu waktu aku muda aku nggak pernah rayain, nggak ada masalah tu." Andini menempelkan kepalanya di pundak suami. 


"Sekarang beda, Kamu dokter Andini, dokter bedah yang hebat, suami Arsena atmaja. Masa ulang tahun di rumah aja."


"Aku maunya cuma sama kamu, Hubby." Andini memainkan dagu suaminya yang terasa kasar. "Berdua denganmu, menemani seperti ini, ini menurutku hal paling berharga yang bisa aku lakukan.


Kesedihan masih begitu ketara di wajah Arsena. Semenjak ingat bayinya telah tiada, Arsena suka murung.


Sebenarnya Andini tak kalah sedih, tetapi dia tak mau menambah kesedihan suaminya, sudah cukup Arsena terpuruk dengan kondisi dirinya.


Bie sudah jangan melamun, kita masuk ke kamar yuk. "Andini mendorong kursi roda yang dinaiki Arsena masuk ke kamar  Sampai di dekat ranjang Arsena menggeser tubuhnya hati hati menaiki ranjang. 


"Aku sangat merepotkan sekali." Keluh Arsena kesal.


"Hubby kok ngomongnya gitu sih? Siapa yang merepotkan?" Andini membenarkan kaki Arsena lalu menyelimuti.


Andini duduk di sebelahnya sambil memeluk Arsena, saat sakit seperti ini sayang Andini semakin berlipat lipat. Arsena mengecup rambut Andini, lalu menghembuskan nafasnya pelan. 


"Sayang, aku sekarang sudah cacat. Aku nggak bisa buat kamu senang, maaf ya?"


"Nggak apa apa, kalau sudah sembuh pasti bisa lagi." Andini menjawab dengan enteng.


"Nggak ingin?" 


"Enggak. Nanti aja kalau sudah sembuh."


Arsena makin merasa bersalah. "Coba kalau dulu pilihnya Miko, pasti nggak akan ngerasain punya suami cacat seperti sekarang."


"Sttt, bisa diam nggak? Suamiku itu Kamu, kenapa harus disuruh pilih Miko."


"Miko sampai sekarang masih sayang lho, sayangnya Miko untukmu sepertinya seumur hidup."


"Nggak usah ngaco." Andini beranjak dari sebelah Arsena, dia hendak pergi ke kamar mandi untuk ganti baju tidur.


"Jika itu benar gimana, Ndin?"


"Nggak benar, Miko cintanya sama Dara." Andini mengelak, Andini memang tak pernah lagi mengingat masalalu itu. Baginya Arsen adalah hidup dan matinya.


"Enggak Ndin, waktu di rumah sakit aku merasa Miko itu bicaranya dari hati banget, nggak sekedar …." 


Cup!


"Diam." Andini mengecup bibir Arsena, pria itu langsung menghentikan pembicaraannya. Andini bahkan sengaja memperdalam ciumannya hingga Arsena memeluknya semakin erat. 


 


Tok! tok! tok!


"Masuk!" Andini dan Arsena gugup, pria itu segera mengusap bibirnya  yang basah, hal yang sama dilakukan oleh Andini Andini merapikan bajunya yang kusut.


"Kak, Dokter Mark menunggu di bawah." Arini memanggilnya 


"Dokter Mark?" Andini dan Arsena hampir berbicara serentak. 

__ADS_1


"Kamu ada janji?" Arsena bertanya pada Andini. 


Andini terlihat sedang mengingat ingat sesuatu. "Kayaknya enggak, mungkin ini ada hubungannya dengan sakitnya, Hubby." 


" Oke, temui dia, aku akan tunggu dikamar aja." 


"Yakin? Nggak ikut keluar?"


"Enggak, keluarlah dulu, temui dia, takut ada yang penting, sampai malam malam begini datang kesini."


Andini segera turun ke bawah, dia melihat Mark duduk sendirian di ruang tamu. Pria itu terlihat sedang menautkan jemarinya.


"Dokter Mark, apa kabar?" Nada badi Andini.


"Baik, bahkan sangat baik, Nona." Jawab Mark, sambil membenarkan duduknya. 


"Bagus sekali," kata Andini sbol duduk di sebuah kursi tunggal di dekat Mark.setelah itu dia meminta Bi Um membuatkan kopi latte yang biasa Mark minum. 


"Apakah ada hal yang penting, Dokter? Kenapa sampai repot repot kesini? Malam pula"


"Oh iya, ada. Ini hasil pemeriksaan Tuan Arsena, mengenai kondisi organ vital di tubuhnya semua aman. Karena dokter Andini seorang dokter, anda bisa pelajari semuanya." Mark menyerahkan beberapa surat. 


"Oh, makasi Dokter, anda sangat baik, apa masih ada lagi?" Andini berusaha tertawa riang tanpa memperlihatkan kesedihannya pada Dokter Mark. Yang sebentar lagi akan menjadi rekan kerjanya di rumah sakit. 


Andini menerima surat penting itu dan membacanya, semua tertulis dengan bahasa kedokteran yang rumit.


"Terimakasih Dokter, anda sudah bekerja sangat baik." Andini merasa senang. 


"Sudah tugas saya, Nona."Mark mengangguk.


"Nona, aku juga mau kasih sesuatu buat anda. Selamat ulang tahun!" Mark mengambil sebuah arloji cantik dari sebuah kotak kecil yang ada di sakunya, dan menunjukkan pada Andini. 


"Tuan Mark, anda terlalu repot sekali, dan bagaimana anda tau ini hari ulang tahunku!" Andini terkejut, dia bingung apa yang harus dilakukan. Menerima pemberian Mark atau menolaknya. 


Arsena yang bosan di kamar, dia akhirnya memilih untuk kembali naik kursi rodanya lagi dan berkeliling sekitar lantai atas. Tak sengaja dia melihat Andini menerima hadiah pemberian dari Mark. 


"Hadiah ini sangat cantik tuan Mark. Tapi saya tak bisa menerimanya?" Andini menyentuh benda itu sebentar lalu meletakkan lagi ditempat semula. Menyodorkan pada Mark.


"Oh sayang sekali Nona. Ini hadiah ulang tahun anda, sebentar lagi kita partner kerja. Dan ini hari bahagia anda, anda pantas menerima hadiah, dan semua orang pantas mendapat hadiah di ulang tahunnya."


"Terimakasih, Dokter Mark." Andini tak enak menolak lagi apalagi Mark orang yang sudah berjasa menjadi dokter khusus dalam menangani suaminya.


"Oke saya terima, semata karena kita adalah partner kerja."


"No, we're best friends, okay?" Mark menawar.


" Best friends, okay." Andini mengangguk dan tersenyum.


Kopi latte buatan bibi baru datang ,Bi Um dengan hati hati menaruh kopi di depan Dokter Mark. Pria berdarah Eropa dan Jawa itu sangat ramah.


Arsena terlihat tak suka dengan Mark yang memanfaatkan kondisinya yang lumpuh untuk selalu bertemu Andini, prasangka Arsena pasti pria itu ada perasaan dengan istrinya. 


Arsena akhirnya turun melalui lift, tak lama dia sudah sampai di ruang tamu bersama kursi rodanya. Dia mengamati Andini dan Mark dari kejauhan, melihat tatapan Arsena Andini mengerti sesuatu. 


"Dokter Mark diminum kopinya." Andini ramah tamah.


"Oke, thanks Dokter Andini." Mark meneguk kopi sambil memandang takjub dengan wanita tegar yang tengah duduk dengan anggun di depannya. Meski tak lupa memakai hijab, Aura kecantikan Andini tetap saja terlihat.


Setelah urusan selesai, Mark segera pamit pulang. Andini dan Arsena mengantarnya sampai halaman. Setelah mobil Mark tak terlihat Arsena segera masuk tanpa sepatah kata.


"Hai … Hubby kok belum tidur?" Tanya Andini.


"Anak-anak mana?" Arsena malah bertanya hal lain.


"Main sama Oma dan Opa mereka."

__ADS_1


"Ya sudah malam ini aku tidur di kamar mereka, kamu tidur aja di kamar kita." 


"Kok kita pake tidur terpisah, Bie? Ada apa ini?"


"Nggak ada apa apa, pikir aja sendiri." Arsena lalu pergi begitu saja. Andini hanya diam terpaku melihat emosional suaminya yang berubah ubah. 


"Aku bantu, Bie."


"Nggak perlu, aku bisa sendiri."


"Bie kenapa sih?" 


"Arsena tak menjawab, dia segera masuk kamar anak anaknya, dia ingin sendiri di dalam kamar yang ada dua box bayi yang sekarang tak terpakai lagi. 


'Kenapa gue makin sensitif dan pencemburu gini, harusnya gue tau, kalau Andini nggak mungkin macam macam dibelakang gue, kenapa aku harus lumpuh seperti ini, kenapa aku juga harus kehilangan bayi kami. Jika itu tak terjadi, Mark tak akan pernah datang dan memakai situasi ini' Arsena meratapi ketidakberdayaannya di kamar anak anak.


"Daddy buka pintunya!"


Arsena segera membuka kunci kamarnya setelah dua anak anaknya memanggil. Dua bocah kecil itu segera memeluk Arsena kanan dan kiri.


"Daddy, kapan Deddy sembuh?" Tanya Exel lebih dulu.


"Memangnya kalau Daddy sembuh dengan cepat, Exel dan Cello punya rencana apa?"


"Cello mau lihat baby Salk."


"Exel pengen lihat unta, dan naik di atas unta. Kita berempat naik di atas unta bersama, Oma dan opa yang foto kita. Yeeyy. Ideku lebih Kelen kan, Daddy" 


"Ideku juga Kelen, iya Kan Dad." Cello meminta pembelaan.


"Ide kalian berdua sama-sama keren." Arsena menciumi rambut wangi putranya bergantian. 


"Ngomong ngomong yang suruh kalian kesini siapa?"


"Mommy!" Kata anak-anak serempak.


" Mommy." Arsena menirukan sambil mengernyitkan keningnya.


"Ya Mommy kasih sulat ini pada Daddy."


Arsena membaca surat dari Andini yang berisi, dalam kondisi apapun, dia akan tetap mencintai suaminya seorang. Andini tak akan pernah sekalipun berpaling. Arsena tak perlu menaruh cemburu sedikitpun. Kalaupun ada rasa cemburu, boleh. Tapi harus menjadikan hubungan mereka semakin erat bukan malah saling menjauh yang akan jadi pemicu datangnya orang ketiga.


Arsena melipat surat dari Andini. Menciumnya sesaat. Kembali melamun. 


"Kenapa halus pake sulat Dad? Kan Mommy dekat, cuma di kamal sebelah."


"Mommy lagi kehabisan kuota, yuk kita ke kamar Mommy, kita gangguin mommy dulu.  


"Oke Dad."


"Exel dan Cello berjalan di depan sedangkan Arsena di belakangnya dengan hati-hati. 


Arsena segera mendekati Andini yang sedang membersihkan wajahnya di depan cermin, rupanya dia juga sudah ganti baju tidur yang seksi. 


 Anak anak segera berlarian naik ke atas ranjang dan memposisikan diri di tengah sedangkan dia memberi tempat kosong untuk mommy dan Daddynya di sebelah kanan dan kiri. 


Arsena dan Andini memeluk putranya satu satu sambil bercerita banyak hal tak lama mereka berdua tertidur. 


"Sayang kau sangat pencemburu."


"Karena kau cantik, dan banyak pria yang mencoba memanfaatkan kondisi lumpuh ini untuk mendekatimu."


"Kalau aku maunya cuma di deketin kamu gimana?" Andini bercanda. Membuat Arsena tak melepaskan belaiannya. 


"Aku mau dong deketin kamu terus, pasti cepat sembuh."

__ADS_1


Andini kini pindah posisi di dekat Arsena. Meski hanya berpelukan saja, tapi hati mereka sama sama tenang. Arsena memeluk Andini sampai tertidur pulas. Walaupun sudah beranak dua, tapi Andini masih sangat nyaman bergelung di dada suaminya. Rasa cinta mereka tak surut meski waktu terus bergulir.


__ADS_2