Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 55. Menggapai Surga Cinta


__ADS_3

Warning!! Masih single skip aja


Andini segera membuka pintu, ketika mendengar pintu di ketuk berulang kali. Sejak Arsena pergi tadi hatinya kacau, ia sudah berfikir macam macam.


"Pak Doni apa yang terjadi dengan Arsena?" Andini terkejut dengan kehadiran Doni yang merangkul tubuh Arsena.


"Apa yang telah terjadi, Pak?" Tanya Andini.


"Nona, Den Arsena sedang dalam masalah besar. Dan sepertinya hanya Nona Andini yang bisa membantunya.


"Saya?" Andini menunjuk dirinya, dibalas anggukan oleh Doni.


Andini masih bingung, tapi tetap saja ia mempersilahkan Doni membawa Arsena ke dalam. Doni mendudukkan Arsena di ruang tamu.


Arsena berusaha membuka kaosnya sendiri, ia begitu kepanasan dengan reaksi obat yang diminumnya. Bulir keringat bercucuran dengan deras membasahi tubuhnya.


"Air, aku mau air." Teriaknya, Jantung Arsena berdetak dengan kencang. Obat yang masuk ke perutnya semakin menguasai dirinya. Ia berfikir dengan meminum banyak air panas ditubuhnya akan berkurang.


Andini segera masuk ke dalam, selang beberapa menit keluar lagi membawa teko berisi air yang hampir penuh dan satu gelas kosong.


Andini menuangkan air untuk Arsena. Dan mengulurkan ke arahnya.


Arsena meneguk habis air yang diberikan Andini. Namun panas di tubuhnya tak juga reda.


"Kenapa tak bisa hilang juga, Andini tolong aku." Pinta Arsena dengan wajahnya yang mulai sayu.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membawamu ke rumah sakit?" Tanya Andini lugu.


"Bukan itu maksudku." Imbuhnya lagi.


"Doni pulanglah sekarang." Arsena menginginkan Doni meninggalkan kontrakan Andini.


"Iya Den," Doni mengangguk patuh. Segera ia memundurkan tubuhnya dan berbalik ketika sudah dekat dengan pintu keluar.


Doni senang, tuan mudanya akan melakukan kewajiban nya hari ini, namun disisi lain Doni juga ada rasa khawatir. ia khawatir Arsena tidak


hati-hati.


"Andini, kunci pintunya." Perintahnya pada Andini. Setelah bayangan Doni hilang dari depan kontrakan.


Baiklah, Andini patuh. Ia segera mengunci pintu.


"Tirai nya juga." Imbuhnya lagi


Selesai menutup pintu dan tirai , Andini kembali mendekati Arsena lagi. "Jika sakit sebaiknya istirahatlah, aku akan membantumu masuk ke kamar, dan tidurlah sebentar siapa tau setelah kau istirahat tubuhmu akan lebih baik."


"Andini, bukan itu yang ku mau, kemarilah!"


Andini mendekat ia menuruti permintaan Arsena.


Ketika tubuh Andini sudah bisa di jangkau, Arsena segera menariknya ke pangkuan.


"Andini tolong aku." Pintanya pada sang istri


Arsena menatap Andini dengan tatapan memohon.


"Katakan bagaimana caranya aku bisa membantumu." ucap Andini. Membalas tatapan Arsena, lalu menundukkan pandangannya.


"Aku ingin kita melakukannya hari ini" kata Arsena yang sudah diliputi oleh nafsu, suaranya tercekat, nafasnya memburu.


"Tapi, Ars." Andini ragu. Ia merasa ini terlalu cepat. Andini masih belum sepenuhnya percaya dengan ketulusan Arsena.

__ADS_1


Sedangkan Arsena makin tak tahan lagi, juniornya bangkit dan menegang tanpa bisa dikendalikan lagi.


Arsena segera memeluk Andini erat, Andini bisa tau kalau Arsena juga tersiksa dengan semuanya. "Kamu tentu tak ingin aku melakukan dengan orang lain, Bukan? Apalagi yang kau ragukan? Aku sudah memilihmu tadi. Ayo Andini tolong aku." Arsena menggelitiki leher Andini dan menggigit kecil di kupingnya. Sambil terus mengucapkan kata kata rayuan untuk Andini.


Andini mengangguk setuju, ia lihat beberapa hari ini Arsena sudah banyak berubah. Mungkin sudah waktunya ia memberi kepercayaan untuk Arsena memiliki dirinya secara utuh. "Baiklah, aku akan membersihkan tubuhku dulu, saat kau pergi tadi aku memasak, mungkin sekarang tubuhku sudah bau." Kata Andini tak percaya diri. Ia mencium ketiak kanan dan kirinya.


Arsena mulai mengendus rambut, telinga dan leher Andini. "Siapa bilang ? Kau masih sangat wangi. Aku suka dengan aroma tubuhmu.


Arsena kini tidak seberapa pusing lagi, obat itu semakin lama membuatnya merasa sangat perkasa. Ia membopong tubuh Andini ala bridal style menuju kamar.


Arsena merebahkan tubuh Andini di ranjang busa yang sederhana. Arsena berharap Andini tak kecewa ia akan merenggut miliknya yang berharga di tempat yang begitu tak layak baginya.


Bibir Arsena kembali menelusuri setiap inci wajah Andini. Ia melakukannya dengan sangat lembut menciumi rambut telinga dan lehernya. Andini memegang pinggang Arsena, ia terlihat sangat tegang. Ia takut Arsena akan melakukannya dengan sangat sakit.


Arsena naik keatas ranjang, mengungkung tubuh Andini, Membanjiri wajah Andini dengan kecupan manis, meng*lum bibir bawahnya. Tak ada penolakan dari Andini, Arsena mulai menjelajah lebih ke dalam lagi. Arsena memainkan lidahnya di ruang hangat dan basah, ia bermain sangat lama, lama dan sangat eksotis.


Merasakan Andini membalas pagutannya. Arsena semakin bersemangat lagi menunjukkan keahliannya. Tangan Arsena menyentuh perut Andini. Andini memejamkan matanya. Tubuhnya sangat tegang.


Arsena memasukkan tangannya di balik kaos yang dipakai oleh Andini, tangan Arsena menelusup ke atas hingga menemukan dua gundukan membentuk bukit yang sudah lama menggodanya. Mimpi liar itu kini terwujud, Arsena benar-benar menyentuhnya dengan restu sang pemilik.


Arsena meremas kedua bukit kenyal bergantian. Hingga tubuh Andini terasa semakin menegang.


"Um ... emph ...." Andini sudah terbuai dengan sentuhan Arsena. Arsena semakin bersemangat lagi setelah mendengar rintihan pelan dari bibir Andini.


Arsena tak melepas pagutannya, tangannya masih sibuk dengan bukit kenyal yang semakin disentuh semakin keras dan mencuat menantang.


"Emph ... Ars." Satu tangan Andini meremas di pinggang Arsena. Satu tangannya lagi meremas rambut Arsena.


"Rileks, baby. Aku akan melakukannya sangat lembut." Kata Arsena di tengah kesibukannya.


Merasakan baju Andini menjadi penghalang terbesarnya, Arsena menghentikan Aktifitasnya sesaat.


Andini yang mengerti kesulitan Arsena, ia kembali duduk dan membuka kaosnya. Dikesempatan ini Arsena juga membuka ikat pinggang serta menurunkan celana panjangnya, melepas sendiri, lalu membuangnya ke lantai.


Arsena juga membantu Andini menarik kaos yang melilit lengannya, lalu melempar ke lantai pula.


Arsena tinggal menyisakan celana boxer mungil yang menutupi junior big size miliknya yang sudah menegang, menyiksa si pemilik sedari tadi.


Arsena kembali merebahkan tubuh Andini, hingga berbaring kembali seperti semula. Arsena mengungkunginya lagi, dan mengecup wajahnya, hingga Andini tak bisa mengelak dari serangan yang bertubi-tubi.


Menutup dua bukit kembarnya yang masih terlindungi oleh kacamata kuda dengan kedua lengannya. Andini malu, ini pertama kalinya dia melakukan sendiri membuka kaos di depan pria. B*a warna merah muda itu terlihat nyata di depan Arsena.


"Jangan malu aku suamimu," kata Arsena dengan suara tercekat. Ia kembali meng*lum bibir bawah Andini dan kembali menjelajahi rongga hangat dengan segala kelembutan. Menelusupkan tangannya ke punggung Andini, mencari pengait b*a merah muda yang masih menjadi pengganggu.


Tak !


Pengait Bra terlepas dari tempatnya. Membuat dada Andini terlepas dari kekangan.


Arsena menyingkirkan lengan Andini yang menutupi netranya memandang buah Cherry merah di puncak bukit. Andini menahan lengannya ia masih malu. Arsena menatap dengan tatapan sayu, melemparkan sebuah senyum manis.


Pertahanan Andini goyah tangannya melemah, tubuhnya menghangat, bahkan tubuh Andini dan Arsena kini telah sama-sama panas oleh gelora cinta.


Arsena berhasil menyingkirkan tangan Andini. Buah Cherry didepan mata sudah terlihat dengan sempurna.


Arsena tak mau mengulur lagi, ia segera melahap kedua cherry dengan bergantian. Panas ditubuhnya semakin menggelora, hingga kipas yang terus menggelengkan kepala di atas nakas, tak mampu lagi meredam panasnya.


"Emp ... auh ..." Andini tak tahan dengan perlakuan Arsena, tubuhnya menggelinjang seperti cacing kepanasan.


Arsena membuka paha Andini, wanita itu menahannya kuat-kuat, batin Andini masih berperang akankah pertahanan terakhirnya akan berakhir sudah


Arsena kembali mengul*m buah berry merah sesekali bergerak ke atas mengeksplore rongga bibir Andini. Tangannya bergerak kebawah menyentuh bagian inti, memainkan dengan sangat lembut. Andini menggelinjang, ada sesuatu yang telah keluar dari dalam tubuhnya, membuat miliknya semakin basah.

__ADS_1


Arsena tersenyum penuh kemenangan, mendapati Andini sudah mengalami puncak kenikmatan pertamanya.


Tubuh Andini melemah, nafasnya tersengal. Ia mengira semuanya telah berakhir. Namun terlihat Arsena belum berhenti memanjakan tubuhnya. Jari jarinya terus bergerak nakal, nafasnya memburu.


Sepertinya yang dilakukan Arsena bukan semata karena obat yang masuk ditubuhnya. Ia benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk memiliki Andini seutuhnya


Sentuhan Arsena yang lembut di sekujur tubuh kembali membakar gairah Andini. Ia kembali terbuai. Andini menyerah, ia pasrah.


Arsena menurunkan boxernya. Ingin segera melanjutkan step berikutnya dengan tak sabar. Arsena membuka paha Andini lebar-lebar, Andini masih menahannya.


"Kenapa? Apa kau tak ingin melakukannya denganku?" Tanya Arsena meminta persetujuan Andini.


"Aku malu ...." Andini menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak di dada.


Wajah Arsena begitu dekat di depannya Arsena, terus saja membelai, menyentuh dan meremas dengan intens. Arsena menindih tubuh Andini.


Andini kembali memejamkan matanya. Ia merasakan, torbedo ukuran besar beserta ribuan pasukannya yang sejak tadi menekan perutnya sebentar lagi akan membobol gawang pertahanannya.


"Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya, hanya dengan cara ini hubungan diantara kita akan semakin dekat, Andini."


Andini mengangguk bibirnya hanya bergetar, ia sudah tak mampu lagi bersuara.


Tangannya meremas rambut Arsena, seakan ia takut apa yang akan dilakukan akan sangat menyakitkan.


"aaaakh." Andini memekik. begitu torpedo mulai memasuki sebuah terowongan dengan dinding masih terkunci.


Arsena segera mengul*m bibir Andini dengan sigap.


"Ini belum berhasil sayang. tahan sedikit lagi." Bisik Arsena di telinga Andini.


Andini menitikkan airmata menahan sakit, Arsena kasihan, tapi semua ini harus segera berakhir. miliknya sudah ingin segera dipuaskan.


Arsena kembali melakukan sekali lagi, kali ini lebih kuat daripada sebelumnya. "Tahan sayang."


"aaakkkh ..." Andini memeluk tengkuk Arsena dengan kuat. Arsena sudah berhasil membobol gawang miliknya dengan ribuan pasukan tangguh.


Arsena terus berjuang, ia terus me maju mundurkan tubuhnya, memberikan pelayanan terbaik untuk Istrinya.


Tubuh Andini mulai bisa menerima, ada rasa perih bercampur nikmat mulai membaur menjadi satu.


Arsena dengan ribuan pasukannya sudah siap untuk memasuki tempat paling indah, perjalanannya hampir saja berakhir. Arsena tak perduli walau pasukannya nanti akan banyak yang mati, ia terus berjuang menyelesaikan semuanya.


keringat Arsena mulai berlomba keluar, tak sedikit yang menetes jatuh di tubuh Andini. Ranjang kecil dengan suara deritan khas masih terdengar, semua itu adalah simbol keperkasaan Arsena.


"Andini I Love you." Arsena tersenyum mendapati Istrinya masih perawan.


Andini membalas senyum Arsena dengan tatapan kelelahan. "Love you too."


30 menit berlalu


-


40 menit berlalu.


-


*happy reading


*Jangan lupa Vote kalian aku tunggu.


* Like dan komen bawelnya.

__ADS_1


__ADS_2