
"Siapa?" Tanya Arsena.
Arsena turun dari ranjang, dengan hanya menggunakan celana bokser saja.
Andini mengendikkan bahunya, ia hanya takut salah.
Arsena mengambil alih ponsel dari tangan Andini dan menempelkan di telinganya sendiri.
Arsena tersenyum smirk. "Berani sekali dia menghubungiku, bukankah itu sama dengan cari mati?"
Arsena menutup teleponnya sebelum Lili selesai bicara. Telinganya gatal mendengar Lili yang terus menghina dan merendahkan Andini.
Arsena kini menghubungi Ken. Ken yang sibuk memantau gerak gerik Lili masuk disebuah hotel. Ia merasa sangat terganggu dengan dering telepon Arsena.
Ken segera menerima panggilan tuannya, begitu tau si layar ponselnya tertera nama Tuan Muda.
"Hallo, Tuan !"
"Lama sekali apa yang sedang kamu lakukan? lacak keberadaan nomer ponsel ini dan segera temukan orangnya."
Arsena mengscreenshot nomor handpone Lili dan mengirim pada Ken.
"Tuan, aku sudah menemukan mantan kekasih Tuan, dia sedang ada di hotel Xx. Sepertinya dia pake identitas palsu, karena nama Liliana tak ada dalam daftar cek in di hotel."
Sudah ku duga, dia pasti memiliki identitas ganda hingga keberadaannya sangat sulit untuk ditemukan. Dia sungguh wanita yang cerdik.
Arsena akhirnya menutup panggilannya dengan Ken.
Arsena kini melihat istrinya tersenyum memandangi dirinya. "Apa?"
"Apa ada yang lucu?"
"Kau bahkan sangat lucu lihatlah, dirimu hanya memakai kain segitiga itu dan berjalan mondar mandir di dalam kamar ini"
"Memangnya kenapa? Bukannya kau sudah melihat semua hmm ....?" Arsena semakin menggoda Andini dengan mendekatkan dirinya. Menempelkan tubuhnya pada Andini yang menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya. "Apa mau lagi."
"Jangan Ars, ampun aku tak sanggup jika kamu minta lagi sekarang." Andini memelas.
"Baiklah mandilah sekarang, nanti kita akan makan siang, koki sudah menyiapkan lobster yang pastinya sangat nikmat."
Andini menurut, ia mencari handuk kimono berwarna putih bersih yang terlipat rapi di dalam nakas. Lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sampai di dalam kamar mandi, Andini kembali dibuat takjub oleh isi kamar mandi yang lengkap dengan kebutuhan mandi wanita. Ada beraneka macam lulur mandi dan sabun kecantikan. Semuanya terlihat berpasangan.
"Ars, kau juga merancanakan ini semua. Kau sungguh penuh dengan kejutan." Andini terharu.
Andini mulai ritual mandi ia terlebih dulu mengisi bathup dengan suhu air yang sudah diatur terlebih dahulu.
Arsena membiarkan istrinya meditasi di dalam air hangat sementara ia kembali menghubungi Ken dengan urusan pribadinya.
Arsena sangat mencintai Andini, sebagai suami sudah kewajiban dia melindungi istrinya, bahkan anak-anaknya kelak, karena Andini sekarang adalah hidupnya.
Kejahatan Lili sudah melampui batas, ia menyiksa Andini disaat kondisinya lemah, dan berencana membuat video mesum dengan tujuan untuk melecehkan harga dirinya pada dunia. Dan percobaan pembunuhan pada Miko.
__ADS_1
"Ken, segera kumpulkan kawan-kawan yang lain, aku tak ingin mendengar kata gagal dalam hal ini. Musuh sudah di depan mata."
"Percayakan itu pada kami, Tuan"
Ken, salah satu body guard andalan yang bekerja pada keluarga Atmaja lima tahun belakangan ini. Untuk mengatasi kasus atau kekacauan yang ditimbulkan oleh pihak luar.
Selama mencari wanita itu, untuk sementara Ken harus melupakan dulu masalah membersihkan nama baik perusahaan yang sedang dalam gejolak besar. Penarikan prodak ilegal belum sepenuhnya terselesaikan.
Johan sudah tau semuanya, dia ingin membantu kesulitan putranya, tapi sisi lain mengingatkan, inilah pembentukan jati diri manusia. Dia akan lebih dewasa ketika dihadapkan dengan suatu cobaan. Johan ingin Arsena menjadi sosok yang tangguh dan mandiri dalam menyelesaikan masalah.
Andini sudah selesai mandi. Tubuhnya kini sudah segar kembali. Ia keluar dari kamar mandi.
Arsena mengambilkan Andini baju dari dalam lemari, baju santai dengan warna senada dengan miliknya.
"Kau belikan ini untukku? Kapan kenapa aku tak pernah tahu kau membelinya?" Tanya Andini dengan takjub melihat gaun panjang berbahan sutera dengan setelan Hem yang ukurannya tentu pas di badan suaminya.
"Mau tau?"
"Itupun kalau boleh tau." Dibalas anggukan oleh Andini.
Aku memesannya dari seorang desainer, karena keahliannya dalam merancang busana, hanya dengan mengirimkan foto dirimu dan aku maka baju ini sudah dapat diselesaikan dengan cepat.
"Ars," Andini kembali terharu oleh sosok suami yang berulang kali membuat kejutan tak terduga.
Kini giliran Arsena masuk ke dalam kamar mandi. Andini sudah membersihkan air sisa mandinya dan mengganti dengan air hangat yang baru.
Sambil menunggu Arsena berada di dalam kamar mandi menyelesaikan mandinya, Andini menghubungi Mita dengan menanyakan kabar Miko serta perkembangannya.
Mita juga meminta agar Andini tak terlalu mengisi hari-hari Miko ia khawatir Miko akan semakin depresi jika ingat kenyataannya yang sesungguhnya.
Arsena keluar dari kamar, pandangannya kini fokus pada Andini yang berdiri di depan cermin. Wanita itu terlihat sangat cantik hingga membuat Arsena mematung beberapa saat di depan pintu kamar mandi. Kesadarannya baru kembali saat suara lembut istrinya menyapa.
"Gimana? Apa aku cocok memakainya?" Tanya Andini. Gaun panjang dengan belahan dada sedikit terbuka, serta dihiasi manik dari permata itu sangat pas di tubuh Andini.
"Emm ... Sebentar." Arsena beranjak dari keterkejutannya dan mencari keberadaan ponsel.
Arsena mengambil beberapa gambar Andini. Lalu memeriksanya berulang kali, harusnya Andini bisa lebih cantik dan ceria dari saat ini. Lalu apa yang sedang terjadi?
"Andini, apa yang sudah terjadi?" Tanya Arsena berjalan mendekati Andini.
"Aku ingin pulang ..." Kata Andini mengucap dengan pelan. Lalu menjatuhkan dirinya di kursi kecil.
"Pulang!" Arsena terkejut.
"Ars, bagaimana kalau bulan madu ini kita tunda bulan depan?"
"Apa!? kamu bercanda?"
"Andini kita sudah lama menikah, dan kita sampai sekarang belum memiliki keturunan, kau tau papa setiap hari bertanya, Arsena apa istrimu sudah hamil? Apa dia sudah telat haid? Apa dia sudah ada tanda tanda ngidam? Dan kau ingin menundanya lagi?" Arsena kembali dikejutkan oleh keputusan mendadak Andini
__ADS_1
"Apa ingatanmu pada Miko yang menyebabkan kamu berubah mendadak seperti ini?" Tanya Arsena?
"Iya ..."
"Iya ...!"
"Aku tak bisa membiarkan Miko menderita, melawan antara hidup dan matinya, berjuang sendirian. Sedangkan demi siapa dia melakukan semua itu, itu demi kakaknya. Kamu, Aku!!"
Andini menekankan suaranya diakhir kalimat. Bulir kristal berlomba lomba meloncat dari sudut netranya tanpa bisa dibendung lagi.
Arsena pun terdiam, ia mulai mencerna setiap kalimat dari Andini. Arsena menyadari harusnya ia orang terdepan yang ikut andil dari kesembuhan Miko. Arsena terdiam seribu bahasa ia memilih duduk di ranjang.
Arsena segera menelepon Doni agar memutar balik kemudi kapal, untung perjalanan mereka belum terlampau jauh ke tengah lautan. Tempat tujuan pun masih sangat jauh.
"Sudah, jangan menangis." Arsena memberikan tisu. Lalu ia pergi lagi. ada gurat kecewa di wajahnya. Namun, disisi lain ia juga menyesali rencananya.
Arsena memakai baju lainnya. Bukan lagi baju couple yang disiapkan tadi. Ia langsung merebahkan dirinya di ranjang untuk tidur siang.
Andini menyeka air matanya, ada sebuah kelegaan di hatinya. Ia bahagia Arsena bersedia membatalkan rencananya. Bagi Andini Miko kini lebih dari seorang suami. Dia adalah saudara yang hubungannya tak akan pernah hilang. Kebahagiaan Miko akan menjadi prioritasnya sekarang.
Andini menyusul ia juga berencana untuk tidur siang. Setelah bangun berharap sudah sampai kembali di Tanjung Perak.
"Ars !"
"Hmm ..."
"Kok gitu jawabnya, pelit." Kata Andini sambil menekan nekan jempolnya di punggung Arsena. Arsena yang kesal sengaja tidur menghadap ke dinding.
"Habis, punya rencana suka dadakan ..."
"Udah Ah, jangan bahas lagi. Kita bobok aja." Andini kini merubah posisi tangannya. Ia mengeratkan tangannya di pinggang Arsena.
Tak lama akhirnya mereka benar-benar terlelap. posisi Arsena tetap membelakangi Andini.
Arsena sudah bangun ketika Doni menancapkan jangkar kapal ke tepi laut. Semakin cepat sampa di darat akan semakin baik baginya.
Mama Mita yang melihat Andini dan Arsena kembali ia juga terkejut bukan main.
"Lhoh, kalian nggak jadi berangkat?"
"Rencana kami batalkan Ma, kami ingin menunggu Miko disini hingga ia sembuh." Kata Arsena yang tak lagi memanggil Tante.
"Mama pasti lelah menjaga Miko sendirian, Mama bisa istirahat. Sekarang biar Andini dan Arsena yang menjaga Miko." lmbuh Andini.
Andini dan dan Arsena segera masuk keruangan Miko. Miko sangat senang Andini kembali.
"Hai selamat sore tuan Miko."
"Andini." Miko bangkit dari tidurnya. Miko melihat jarak Andini dan Arsena yang terlalu dekat membuat ia melayangkan tatapan tajam pada Arsena.
"Andini, bisa nggak bodi guard kamu jaraknya nggak deket-deket?"
__ADS_1
"Em, Ars ... Sebaiknya kamu tunggu di sofa saja ya. Biar aku tunggu Miko di kursi sini." Perintah Andini yang akhirnya dituruti oleh Arsena.