Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 296. Pertemuan Kembali.


__ADS_3

"Mommy, Adek bayinya apa sekarang sedang tidul?" Exel bertanya apapun yang terlintas di pikirannya. 


"Mommy apa Adek bayinya sudah minum susu?" Cello menambah satu pertanyaan lagi.


Andini mengangkat tubuh Exel dan mendudukkannya di sebelah  kiri, sedangkan Cello di sebelah kanan tubuhnya. 


"Sayang, Adek bayinya masih belum minum susu dan belum mau makan atau minum, apalagi tidur atau bermain seperti kalian. Adek bayinya masih sangat kecil, nanti kalau sudah berusia lima bulan lebih baru adek bayinya bisa dengar suara kakak yang ganteng-ganteng ini." Andini mencubit dagu putranya satu persatu. 


Sedangkan memandangi tiga makhluk di depannya yang sudah menjadi jantung hatinya itu. sambil melipat tangan di atas perutnya.


Usai menjelaskan pada putranya, Andini tersenyum pada Arsena. Arsena pun mendekat, mereka berempat tiduran sambil bercerita banyak hal. Setelah melewati banyak rintangan, nyawa menjadi taruhan, akhirnya badai dalam biduk rumah tangganya berlalu juga.


Lili sudah tenang di alam sana dan Ken juga sudah mendapat balasan dari perbuatannya. 


Andini dan Arsena kini sama sama tiduran dengan posisi miring, dengan dua putra di tengahnya. Cello dan Excel sedang antusias mendengar cerita fabel yang diceritakan oleh Arsena. 


Triing! triing!


Dering ponsel di atas nakas mengagetkan Andini dan Arsen. Andini membalikkan tubuh meraih ponsel di dekatnya? "Vanya Bie."


"Angkat saja." Arsena mengizinkan Andini berbicara dengan Vanya didepan anak-anak.


Andini segera menempelkan benda pipihnya setelah menggeser kursor hijau yang bergoyang di layar ponselnya. "Iya Van ada apa?" 


"Andini, aku sedang bahagia! Saking senangnya aku nggak sabar ingin berbagi cerita denganmu." 


"Iya Van, kabar gembira apa?" Andini terlihat tak sabar, menunggu kabar gembira dari Vanya. Dia sampai harus merubah posisinya, yang tadi sedang tiduran, kini menjadi duduk sambil bersandar.


Vanya ahirnya mengawali pembicaraannya. "Aku hamil, Ndin. Rara akan punya adik."


"Serius Van?" Vanya bertanya lagi pada Andini.


"Iya serius. Andini, aku hamil." Vanya mengulangi ucapannya. 


"Syukurlah Vanya, Rara akan punya adik, kamu dan Ken pastinya akan lebih bahagia lagi."ucap Andini. Sedangkan pria yang namanya disebut rupanya sedang ikut menguping dengan aura bahagia menghiasi wajahnya. 


"Iya Ndin. Ken ada disini, dia duduk di dekatku dengerin kita ngobrol." Vanya membelai rambut suaminya yang tidur di pangkuannya. 


"Iya, nggak papa, toh nggak ada yang rahasia, Arsena juga di dekatku, dia lagi belajar mendongeng untuk anak anak." Andini menatap Arsena sejenak. Pria itu pun melambaikan Tangannya dengan senyum manisnya.


"Wah, seru donk, jadi pengen ikutan dengerin, lucu kali suami kamu saat baca dongeng. apakah wajahnya tetap dingin dan Arogan Ndin."


"Nggak Van, Arsena sudah banyak berubah, dia tak lagi dingin sama siapapun, justru aku merasakan sekarang dia sangat hangat." Canda Andini. Arsena melebarkan bola matanya mendengar namanya disebut sebut.

__ADS_1


"Cie, Andini." Vanya sempat menggoda.


"Van, aku juga hamil. Mungkin usia kehamilan kita hanya selisih beberapa hari saja."


"Serius, Ndin?"


"Serius Van, kita bertiga malahan." Andini memberitahu Vanya kalau Arini juga hamil.


"Kok bisa barengan gini ya?"


"Memang sudah diatur begitu sama Allah Van. Kita sahabatan, suami kita juga sahabatan, hamilnya barengan, Ken pasti senang banget dengarnya."


Arsena terlihat ingin ngobrol sesuatu sama Andini dia menggunakan bahasa isyarat 


"Apa Bie?" Andini bertanya. 


"Besok kita dan keluarga Akan berkumpul, undang Vanya sekalian, aku mau menggelar acara syukuran kecil kecilan di mansion, Sayang."


Vanya yang mendengar langsung ucapan dari Arsena dia langsung setuju, Ken juga tak keberatan, dia malah bahagia bisa kembali berdiri diantara keluarga Atmaja. 


Usai Menghubungi Vanya, Andini langsung mengirim pesan pada Dara. Rupanya di seberang sana Miko yang paling dekat dengan ponsel Dara. Miko baru keluar dari kamar mandi langsung menyambar benda pipih yang terus bergetar. 


"Dara, kamu lagi ngapain Sayang? Gimana kabar Mida." Tanya Andini.


"Dara, Mbak hamil," Andini akhirnya tak bisa lagi menahan kabar gembira untuk Dara lebih lama lagi. 


"Selamat buat kamu Ndin. Semoga kehamilan kamu kali ini lancar sampai persalinan. Aku akan mendoakan kesehatan kamu dan bayimu selalu." Yang terdengar malah suara pria.


"Jadi yang angkat ponsel Dara, kamu Mik."


"Iya Ndin, aku juga bakal kasih tau Dara Kok."


"Ok. Tolong ya Mik." Pinta Andini sebelum panggilan mereka berakhir. 


"Pasti Ndin." 


Andini mengakhiri panggilannya terlebih dahulu.


*****


Mama dan Papa yang sedang liburan pun langsung pulang begitu mendapat kabar gembira ini dari Arsena


Setelah beberapa jam, dia tiba di mansion dengan banyak sekali oleh-oleh buat anak-anak, Andini dan juga Arini.

__ADS_1


 Andini dan Arsena segera menghambur pada keluarga yang baru datang dan menyambut dengan suka cita, Davit dan Arini juga tak kalah bahagia. Dia langsung memeluk Johan, sedangkan Andini di peluk mama Rena. Mama Mita mengelus punggung Andini.


" Arini, Davit, Arsena, Andini. kalian adalah kebanggaan Papa. Papa merasa hebat memiliki kalian semua." Johan bingung harus berkata apa untuk mengungkapkan rasa bahagia yang terlalu indah ini. 


"Andini kau hamil sayang, kenapa kau tak langsung kabari Mama. 


"Iya, Ma, maaf. Kami cuma tak mau menggagalkan acara liburan Mama dan Papa saja."


"Sayang kamu masih aja memikirkan liburan kami, jika sesungguhnya kebahagiaan terbesar itu datangnya dari kalian sendiri. Ars, kamu jangan sedih lagi ya, bayimu yang hilang pasca kecelakaan sudah diberi pengganzinya."


Setelah bersua dengan Andini Rena kini memberi selamat pada Arini dan davit. Johan memberi selamat pad Andini.


****


Malam ini keluarga Atmaja kembali mengundang kerabat dan kawan-kawan. Mereka mengadakan acara syukuran atas kesembuhan Andini dan Arsena sekaligus hadirnya dua bayi di rahim anak dan menantunya. 


Miko dan Dara sudah pasti datang, Vanya dan Ken sudah paling awal, dikarenakan Ken ikut membantu Arsena mempersiapkan semuanya. 


Dan yang paling mengejutkan adalah Mert dan Zara juga hadir bersama dua putra putrinya. Miko yang memberi kabar pada Mert, sudah sejak lama dia ingin datang, akan lebih menyenangkan jika bersama dengan moment bahagia seperti hati ini. 


Kebahagiaan Keluarga Atmaja kembali lengkap seperti dulu. Teringat kembali moment bersama saat dalam satu mansion dan bertemu ada beberapa yang pertemukan jodohnya dan disatukan di mansion ini. 


"Mbak Andini aku kangen kamu, Mbak." ungkapan Rindu Zara pada Andini.


"Zara, gimana kabarmu disana?" Andini pun tak kalah rindunya.


"Sangat baik Mbak."


"Sudah betah Kan disana?"


"Alhamdulilah betah kalau bersama suami dimanapun pasti akan betah."


Andini mengajak duduk Zara bersama yang lain sambil bertanya banyak hal. Mantan Asistennya itu terlihat makin cantik dan anggun dengan baju mewah yang melekat di tubuhnya. Amert rupanya begitu menjaga dan menyayangi wanitanya itu. 


"Zara kamu sangat bahagia dengan Amert?"


"Sangat Kak, aku bahagia bersama pria yang menjadi suamiku itu. Mertua disana juga sangat menyayangiku dan anak anak."


"Syukurlah, Amert ternyata benar benar menjalankan kewajibannya dengan baik, mengingat awal hubungan kalian yang buruk." Andini tersenyum bahagia. 


Mereka berdua menatap para suami mereka masing-masing yang ada di deretan kursi untuk para pria. Dari bibir Arsena terukir senyum yang tiada henti hentinya. Arsena tetap saja tak kehilangan ketampanan sedikitpun, meski tragedi na'as itu sempat akan merenggut nyawanya. 


*Pemberi dukungan hadiah atau Vote terbanyak akan mendapat hadiah pulsa sebagai ucapan terimakasih dari emak ya. sesuai yang pernah emak janjikan dulu

__ADS_1


 


__ADS_2