
Malam sudah larut, semua penghuni mansion sudah tidur, rumah besar bak istana yang sore tadi sempat ramai oleh keluarga karena kehadiran Oma, kini menjadi sepi.
Oma terlihat lelah, maklum saja usianya sudah tak muda lagi. Wanita tua itu harus berjalan keluar masuk bandara yang lumayan jauh. Untung saja saat di bandara tadi, Johan sang putra pertama sudah stanby di depan.
"Andini cepat tidur."Arsena mulai ngantuk. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Andini. Membantu membenarkan satu selimut yang dipakai berdua. Memeluk pinggang dan menopang kan satu kaki besarnya di atas kaki Andini merupakan posisi tidur paling uenak bagi Arsena. Dia sangat menyukai posisi seperti itu.
Setelah tidur sebentar tadi. Andini mulai sulit memejamkan mata, dia sedang mencari cara terindah, bagaimana ia besok akan menyampaikan sesuatu yang istimewa pada suami.
Dengkuran halus sudah terdengar di telinga Andini. Arsena mulai lelap. Disaat seperti ini Andini bisa mengamati wajah suaminya sepuasnya. "Kau tampan suamiku. Semoga nanti anak kita dia akan setampan dirimu."
Andini membelai lembut wajah suaminya menyentuh wajahnya pelan. Agar sang pemilik tak terusik. Namun Arsena sangat sensitif dengan setiap sentuhan istrinya.
"Kenapa belum tidur ? Apa kau sedang ingin? Maaf malam ini aku tak meminta hakku, aku lihat kamu tadi terus mual dan muntah." kata Arsena semakin mengeratkan pelukannya. Arsena sama sekali belum menyadari kalau istrinya terlihat sedikit pucat. layaknya wanita berbadan dua.
"Tidak, aku senang saat melihat kau tidur pulas seperti tadi."
"Kenapa? apa aku makin tampan?"
"GR amat sih, emang ada yang bilang begitu?"
"Ada?"
"Siapa dia?"
"Hatimu barusan." ujar Arsena,terukir senyum di bibirnya.
Arsena ikut terjaga, kamar yang tadinya sepi kini terdengar suara sayup sayup, Andini dan Arsena mulai berbincang. Arsena mengecup bibir Andini sebelum ingin menggapai mimpi kembali. Saat melakukannya kontak fisik sekecil itu, Darah Arsena mulai berdesir hangat. Namun, ia sudah berjanji malam ini ia akan membiarkan istrinya tidur nyenyak.
"Tidurlah, sayang. bangunkan aku pagi sekali. aku akan meeting."
-----------
Mentari pagi sudah bersinar, angin berembus sejuk dari arah laut. Kicau burung bersahutan, Mobil mewah dengan bermacam merk berjajar rapi memenuhi halaman mansion.
Seluruh keluarga besar wajib tinggal bersama selama Oma tinggal di Indonesia. Itu sudah aturan kesepakatan yang dibuat puluhan tahun yang lalu.
Andini mulai mempersiapkan perlengkapan kerja untuk suaminya, sedangkan hari ini dan beberapa minggu kedepan dirinya sendiri tak lagi bekerja, Karena kondisinya yang lemah dan harus hati-hati di usia kehamilan yang masih sangat muda.
Pagi ini Arsena mandi lebih dulu, sambil menunggu suami selesai mandi, Andini turun ke lantai bawah. Membantu para ART dan yang lainnya menata sarapan pagi.
"Sayang, kamu sudah baikan?" Tanya Mita. Wanita itu bangun sejak tadi dan mempersiapkan sarapan lebih dulu, rupanya semalam ia memilih tidur di kamar yang ada dilantai bawah, di sebelah kamar Rena.
"Udah. Andini tidak sakit, kok Ma." Kata Andini bahagia. Sambil membantu mengelap gelas.
"Syukurlah, kalau begitu, mama sempat khawatir," ujar Rena lagi.
Sedangkan Mama Rena terlihat masih di kamar, mungkin dia kecapean karena mulai tadi malam Papa Johan tidur bersamanya. Pasangan tua itu tak kalah hangatnya dengan yang muda. Memiliki dua istri dan setiap bulan harus pindah kamar dari istri tua ke istri muda.
Dara dan Miko juga baru keluar kamar. Rambut mereka berdua terlihat basah. Pemandangan itu menarik untuk beberapa orang yang sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Ehm, pengantin baru basah-basah melulu. Papa nggak sabar menunggu kabar baiknya," ujar Johan, kata-kata yang keluar dari mulut papa menarik perhatian beberapa orang. Mereka serempak menoleh ke arah Dara.
Dara terlihat memakai hiasan pita di lehernya. Mama Mita dan Andini yang melihat pita itu nyangkut disana hanya tersenyum, dan saling pandang sesaat.
__ADS_1
Walaupun ditutupi sedemikian rupa semua orang juga tau kalau itu bekas kiss mark dari Miko semalam.
"Siap, Pa." Kata Miko yang mulai mengikuti gaya Papa membaca koran. Miko dan Johan duduk bersebelahan dengan kaki yang satu diangkat menopang kaki yang lainnya.
Dara yang tak mau hamil terlebih dulu di semester satu, seketika kaget mendengar suaminya mengiyakan ucapan papa begitu saja. Namun tak ingin semua orang tau keberatannya, Dara kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Aku tidak melihat Oma?" Tanya Andini.
"Oma? aku lihat tadi lagi joging." kata Dara menanggapi pertanyaan kakaknya.
Andini mencari keberadaan Oma, rupanya semalam belum puas bertemu dengan wanita tua menyenangkan itu.
Andini menemukan sosok Oma sedang lari kecil di sekitar taman. Gadis berhati lembut dan penyayang itu membawakan jus alpukat untuk Oma.
Andini menyusul Oma, Oma menyambut Andini dengan pelukan hangat. "Gimana Andini, apa sudah dicoba pakai testpeck semalam? Oma nggak sabar pengen tahu hasilnya?"
Oma ternyata lebih tak sabar dari dirinya sendiri, terpaksa Andini memberitahu lebih awal."
"Oma Andini hamil, dan ini sangat mengejutkan setelah beberapa dokter mengatakan Andini divonis mandul."
"Terima kasih, Tuhan." Oma sangat bahagia, wanita tua itu kembali memeluk Andini.
"Selamat sayang, selamat, cucuku akan memiliki putra, dan aku akan jadi Oma buyut."
"iya , Oma. Andini senang, Andini tak mandul Oma."
"Sepertinya aku ingin memberi hukuman pada Dokter itu, beraninya dia membuat cucuku yang cantik ini berfikir tak bisa memiliki keturunan. Selama ini, kamu dan Ars pasti sangat sedih," canda Oma.
"Iya , Oma. Dan Andini ingin memberi tahu pada Ars, sebagai surprise saat dia pulang kerja nanti."
"Iya, Oma." Andini mengangguk mengerti, yang Oma katakan memang benar. Suaminya memang memiliki banyak musuh dan tak sedikit wanita pengagumnya diluar sana.
Ars yang cuek membuat wanita lebih tertantang untuk memilikinya. Andaikan Arsena mau, tak sedikit dari mereka yang rela menghabiskan malamnya hanya bisa menikmati sentuhan hangat tubuh pria ideal itu.
"Ndin, ternyata sama Oma disini? Aku mencarimu ke setiap sudut rumah sejak tadi." Arsena mendekati istri yang duduk disebelah Oma, ia ikut duduk pula di sebelah Andini, segera mendaratkan tangannya di punggung sang istri. Dan tangan satunya meraih jemari-jemari Andini.
"Ars, Andini semalam sudah bersamamu, beberapa menit saja disampingku Kau sudah ingin merebutnya dariku." Kata Oma ketika cucu tersayangnya mendekat. Arsena sudah rapi dengan baju kerjanya.
Andini mendekat, membenarkan dasi suami yang sedikit kurang rapi.
"Oma, dia memang cucu yang paling menyebalkan, dia tak pernah membiarkanku bernafas." Kata Andini menggoda suami tampannya.
"Itulah ketulusan cinta, Andini. Dia mengkhawatirkan dirimu lebih dari nyawanya sendiri. Dia ini cucuku yang memiliki begitu besar kesetiaan, daripada yang lainnya." Kata Oma membanggakan Arsena.
"Bagus Oma, kau mendukungku, aku cinta padamu Oma, i love you !!!" Arsena berdiri mendekati Oma, lalu mencium pipinya dengan gemas.
Arsena kini mengangkat tubuh Oma, dan memutarnya beberapa putaran.
"Turunkan! turunkan! Oma bisa sakit kepala, dasar cucu nakal ! Oma berteriak takut. Kakinya meronta tangannya memukul dada Arsena.
Andini yang melihatnya tertawa kencang sekali. Hingga perutnya terasa kram. Andini memegangi perutnya. Seketika membuat tubuhnya menghangat, menyadarkan dirinya berada di tengah tengah orang yang menyayangi dirinya dengan tulus.
Miko yang sedang mengamati pemandangan luar dari balik jendela, matanya menyerobok ke arah suara tawa yang begitu tak asing di telinga. Yah, suara Andini yang pernah menggetarkan hatinya.
__ADS_1
Miko mengamati Andini yang tertawa bahagia bersama Oma dan suaminya.
Mereka terlihat sebagai pasangan yang serasi. Sungguh membuat siapapun yang melihat akan merasa iri.
Andini, bodoh sekali aku selama ini. Aku mengejar dirimu mati matian, sedangkan kau sudah memilih Arsena dihatimu. Kenapa aku bodoh sekali waktu itu. Bersedia mencintai tanpa dicintai. Sedangkan dunia terasa begitu indah jika cinta kita pada orang yang kita cintai terbalas." Miko menyesal telah mencoba merebut Andini dari kakaknya.
"Kak, lihatin apa, kok bengong? " Dara tiba-tiba sudah di belakang Miko, dia berjalan mendekati Miko yang masih berdiri didekat jendela.
"Kakak lihatin mereka? Kakak masih cinta ... sama Kak Andini?" Dara mengucapkan kata katanya dengan ragu. Takut Miko akan tersinggung.
"Kakak, emang pernah sayang sama Andini, tapi itu dulu, Dara, apa masih pantas menyimpan rasa itu, jika sudah memiliki wanita baik dan pengertian seperti kamu Dara."
"Sekarang ini, cuma Dara yang Kakak sayangi." Miko menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya tubuhnya harus sedikit membungkuk agar wajah mereka saling dekat. Miko menatap iris coklat milik Dara dengan tatapan penuh cinta. " Apakah kamu keberatan?"
"Ti-tidak Kak, Dara tidak keberatan, Dara senang jika Kak Miko bisa mencintai Dara dengan tulus." Dara terharu, ia menenggelamkan tubuh di dada bidang suaminya. Dara memejamkan mata saat kepalannya menyentuh dada suaminya.
"Ayo kita sarapan aku sudah lapar." Miko membuyarkan adegan melow dengan sang istri pagi ini.
Mert yang sejak tadi menjadi fotografer pasangan romantis itu berhasil mencetak adegan romantis Andini dan Arsena, tanpa izin lebih dulu.
"Hai, Mert.apa yang telah kau lakukan?" Ketika Andini memergoki Mert sedang mengambil gambarnya.
"Aku hanya mengambil beberapa gambar kalian saja, aku akan membuat kenang-kenangan saat di Turki nanti," jelas Mert.
"Berani sekali kau, coba aku lihat?"
"Jangan, aku mengambil gambar kalian bertiga. Sumpah ...!" Mert mengangkat dua jarinya tanda damai. Sedangkan Arsena masih geram dengan tindakan Mert yang dianggap tak sopan.
-------
Pukul sembilan pagi Arsena sudah siap untuk meeting. Direktur personalia, direktur pemasaran, direktur operasional dan keuangan sudah berkumpul. Orang- orang penting sengaja dikumpulkan sebulan untuk membahas perkembangan perusahaan. Secara keseluruhan.
Mengingat hari ini sangat sibuk, Arsena menghubungi Andini, kalau dia mungkin akan pulang hingga larut malam.
Sudah lama sekali dia tidak memeriksa sendiri kondisi saham dan perkembangan produk di pasar. Mengingat persaingan bisnis semakin hari semakin panas, Arsena harus bisa bertahan dan berdiri kokoh untuk orang tercintanya dan nasib para karyawan.
Andini nampak sedih, padahal tadi suaminya telah berjanji akan pulang tak sampai jam dua belas siang. Andini sudah menyiapkan surprise yang akan mengejutkannya di rumah,
Namun rencana itu membuat harapan Andini yang sudah melambung tinggi menjadi pupus.
Karena rencana awal gagal, Oma segera memberi Andini solusi, rencana kedua dari Oma rupanya tak kalah menarik.
Saat situasi sedang konsentrasi, karena direktur pemasaran. Sedang melakukan presentasi. Tiba tiba Arsena kehilangan konsentrasi, karena Doni yang statusnya sebagai sopir telah datang menemuinya.
Berulang kali sekretaris Arsena mencegah Doni masuk, namun Doni tetap bersikeras. Karena dia menerima amanah dari Andini.
"Den ada sebuah kiriman hadiah dari Nona." ucap Doni saat diizinkan masuk oleh Arsena sendiri. Doni segera menyerahkan bingkisan kecil berbentuk seperti kado dengan warna gold itu.
Setelah amanah dari Andini tersampaikan Doni segera meminta undur diri, Doni pergi dengan sopan di depan para direktur perusahaan.
"Maaf, dia sopirku, sekaligus orang kepercayaan istriku." Kata Arsena mengurangi ketegangan ruang meeting.
__ADS_1
Arsena kini tak fokus lagi, setelah hadiah di kemas dengan cantik itu berada ditangannya. "Mohon diulangi lagi, sampai dimana pembicaraan kita?"