
"Arini, apa sih yang buat kamu cinta banget sama dia? Dia cuma sopir Arini, sopir! Seorang putri sepertimu layak mendapat seorang pangeran tampan."
"Ambil keputusan sebelum dia permainkan kamu terlalu jauh, tunjukan kalau kamu tidak lemah Arini. Belum menikah saja dia sudah berani seperti ini, apalagi kalau nanti sudah jadi suami kamu."
" Cukup Nathan biarkan aku berpikir dulu," Arini menjepit kepalanya menggunakan Kedua telapak tangannya.
Nathan mendesah kesal, sulit sekali membujuk Arini agar berpaling dari Davit. " Ya udah, tenangin aja diri Lo sekarang kita makan, Lo pasti butuh tenaga buat menangisi pria tak berguna itu."
"Jangan hina dia Nat," protes Arini.
"Maaf, Gue lupa, dia kan kesayangan kamu." Nathan mulai kesal dengan Arini yang sulit untuk di belokkan. Ia akhirnya mengambil cara lain untuk meluluhkan hari Arini.
" Rin, seumpama gue bisa menyayangi elo lebih dari Davit apa cintamu akan berpaling? Apa kau akan memilihku?"
"Em, aku nggak tahu, tolong jangan paksa aku untuk berfikir sesuatu yang berat, Nat."
Nathan tersenyum. " Aku tahu kamu bimbang kan Rin? Kamu terlalu cepat ambil keputusan nikahin dia."
Davit yang berada di nomor meja sebelah sudah tak sabar ingin menghajar Nathan, tapi David masih berusaha meredam emosinya, dia masih ingin tahu sebarapa besar Arini membelanya dan seberapa berani pria itu menghasut kekasihnya.
Nathan memesan jus alpukat dan ayam geprek kesukaan Arini.
Tak lama seorang waiters datang mengantar pesanan. Dua piring ayam geprek beserta sambal sudah berada di depan mata tinggal menunggu di santap saja.
Lalu waiters tersebut beralih ke nomor meja yang diduduki oleh Davit. "Mas, anda mau pesan makanan atau minuman?"
"Ya aku pesan makanan dan minuman yang sama dengan pesanan mereka." Davit melirik ke arah dua orang dari balik koran. Waitres pun mengangguk paham.
Davit melirik ke arah Arini, perempuan itu belum juga menyentuh makanannya.
"Tapi aku mau ditambah dengan satu cup black forest yang paling enak."
Davit masih menyembunyikan wajahnya di balik koran yang pura-pura ia baca, ia juga berbicara dengan suara lirih. Dia tak mau Arini mengetahui keberadaannya sekarang juga.
" Baiklah, Mas." waitres pergi untuk mengabulkan pesanan Davit.
Davit kecewa dengan Arini yang terhasut oleh Nathan, cintanya yang diduga sangat kuat seperti batu karang nyatanya rapuh hanya dengan satu deburan ombak kesalahpahaman. Davit tidak mau menjatuhkan harga dirinya lebih dalam lagi, jika Arini memang lebih percaya Nathan, maka keputusan terbaik akan ia pertanyakan pada gadisnya.
-
"Mas, pesanan sudah siap."
__ADS_1
"Iya Makasi, emm mbak tolong antarkan cup ini berikan pada wanita yang duduk bersama pria itu ya."
"Oh, mbak yang cantik itu?"
"Yap, berikan sekarang. Katakan dari saya."
Davit menyerahkan kembali kue lumer itu. Pada waitres, sebelumnya Ia lepas cincin ditangannya lalu ia sematkan di ujung cake.
Waitres sempat terkagum dengan cincin cantik itu, ia melirik ke arah Davit sesaat, merasa kalau pria didepannya pasti sangat romantis. Tetapi kenapa gadis yang ia yakini sebagai kekasihnya malah memilih pria yang terlihat emosional itu.
"Nona, ini Cake black forest dari Mas yang duduk disana, katanya spesial buat mbaknya yang cantik ini." Tutur lembut dan senyum manis dari waiters.
"Cake, siapa?" Arini menerima cake dari tangan waitress dengan kedua tangannya, namun netranya sibuk menjelajah ke arah yang di gunjuk oleh waitres tadi.
"Yakin buat saya?"
"Iya kalau nggak percaya tanya saja pada Mas ...." Waitres terkejut melihat tak ada siapapun di kursi yang di duduki Davit beberapa menit yang lalu.
" Mas nya sudah pergi mbak. Tapi aku ingat ciri cirinya. Tampan rambutnya disugar kebelakang, rambutnya hitam, tatapannya teduh senyumnya manis, tingginya lebih tinggi dari mas yang ini. Otot lengannya kekar, emm ... Yah pokoknya dia tampan, andaikan aku tak sedang sibuk bekerja aku pasti akan mengajak berkenalan dan meminta nomor teleponnya.
Arini kesal dengan waitres centil itu, bisa bisanya dia menyebutkan ciri Davit dengan bertele tele dan penuh kekaguman seperti itu.
"Anda yakin dia duduk di situ."
"Iya, Nona."
" Jadi dia dengar dong semua percakapan kita."
Kini Nathan terkejut, baru menyadari kalau David mendengar kata-kata bohongnya tadi. Nathan terlihat gelisah.
Sedangkan Arini segera mengambil cincin diatas cake dan membawanya lari keluar resto. Arini tahu kalau David sedang marah.
"Kak Davit ! Kak Davit! "
Arini berlari mengejar David yang sudah pergi dengan mobil kakaknya itu.
"Kak Davit, berhenti !"
Arini segera menyalakan ponselnya, Dia hendak menghubungi Davit. Saat ponsel menyala bukannya segera menelepon Davit, gadis itu terpaku dengan banyaknya panggilan David kepadanya. Serta puluhan pesan yang berisi untaian kalimat maaf.
Arini membaca satu persatu permintaan maaf Davit, dia juga mengatakan pagi sekali akan menjemputnya dan sarapan bersama sambil menjelaskan kisah masa lalunya dengan Zara.
__ADS_1
"Kak Davit!" Arini membaca pesan dari Davit dengan mata berkaca kaca. Sambil mengamati cincin indah yang ada ditangannya.
"Kak Davit, Arini tak bermaksud meragukan ketulusan kakak, tapi kenapa kakak hukum Arini seberat ini. Arini hanya butuh waktu untuk menghilangkan rasa cemburu ini, semua begitu mengejutkan bagiku."
"Nathan, ayo cepat kejar kak Davit, aku mau dia Nathan."
"Kejar kemana Arini, mobilnya sudah hilang. Sudahlah dia mau kemana? Nanti juga pulang lagi ke mansion."
Arini percaya ucapan Nathan dia yakin Davit pasti akan pulang, dia berjanji akan meminta maaf atas keegoisannya yang tak mau mendengarnya.
"Masuk lagi terusin sarapan, atau ke kampus?" Tanya Nathan.
"Ke kampus aja. Udah nggak mood."
"Ya udah, aku bayar dulu sarapannya" Nathan pamit masuk sebentar.
" Iya," jawab Arini asal, sambil terus mengamati cincin tunangan milik Davit di telapaknya.
Arini masuk ke mobil lebih dulu. Selang beberapa menit Nathan sudah keluar dari resto dan segera menempati posisi di depan kemudi, Arini duduk disebelahnya.
Melihat Davit mengembalikan cincin itu, hati Nathan bahagia, ia bahkan berdoa lebih jahat lagi yaitu semoga Davit membatalkan pertunangannya dan pergi jauh, jika demikian yang terjadi sudah pasti akan sejalan dengan keinginannya, tentu dirinyalah satu satunya yang berkesempatan emas untuk menikahi Arini.
Pulang dari kampus diantar Nathan lagi, Arini segera mencari mobil yang ada di garasi. Rupanya benar, Arini melihat mobil yang dikemudikan oleh David sudah berada di kandangnya.
Arini tak sabar ingin segera menemui Davit, ingin mengembalikan cincin tunangan yang sekarang ada bersamanya.
Arini segera berlari menuju tempat tinggal Davit. Ia ketuk-ketuk pintu yang telah tertutup rapat hingga berulang kali.
"Kak ! Buka pintunya. Aku tahu kakak marah. Arini berteriak minta maaf sambil jemari lentiknya terus mengetuk pintu hingga ia merasa lelah.
"Non, cari Mas Davit?" Tanya Bibi yang baru mulai menyiram bunga.
" Iya, sudah aku panggil dari tadi kok nggak keluar," Arini panik, bibi yang mengerti kepanikannya segera mendekat. Membantu mengetuk-ketuk dan memanggil hingga berulang kali.
"Non, sepertinya memang tak ada di rumah, mungkin dia ada urusan lain."
Mendengar ungkapan bibi baru saja, Arini langsung down. Dia tak bisa menerima kenyataan kalau Davit benar-benar pergi.
Arini segera berlari menuju Mension, bertanya pada kakaknya kemana Davit ditugaskan?Saat melewati ruang tamu dia melihat sebuah map berwarna kuning kecoklatan tergeletak di atas meja. Arini merasakan sebuah firasat buruk.
"Jangan-jangan map itu adalah?" Batin Arini. Gadis itu segera menghampiri keberadaan benda itu dan tak sabar ingin membuka isinya.
__ADS_1