
Senja pagi sudah tiba, ayam berkokok begitu nyaring. Burung-burung mulai bernyanyi dengan riang, titik titik embun membasahi rerumputan yang menghijau di halaman.
Zara sudah bangun, ia siap-siap kembali ke Surabaya. Zara terkejut melihat tubuhnya sudah kembali berada diatas ranjang. Dan Mert sudah ada di sebelahnya.
Zara segera duduk, menyingkirkan lengan Mert yang mendarat nyaman di pinggangnya. Dia mulai mengingat ingat kejadian semalam. Zara lega Mert tak menyentuhnya. Bahkan ia melihat mata pemilik tubuh atletis itu sedang tertutup rapat, itu artinya Mert tidur dengan nyenyak.
Zara segera turun dan sembahyang, setelah selesai ia langsung menuju dapur.
Usai membuat dua gelas kopi untuk Mert dan Bapak, Zara ingin membuatkan sarapan kesukaan Mert. Mert suka sekali kebab Turki. Zara ingin membuatkan kebab itu. Walaupun belum pernah membuat Zara berusaha browsing browsing dan akhirnya dia mencoba membuatnya.
Sambil memasak, Zara juga memanaskan air untuk mandi suaminya, Zara sudah tau kebiasaan Mert ketika di rumah Arsena.
Ibu sejak tadi sudah melihat aktivitas Zara dari ruang tengah. Melihat Zara ternyata memiliki tanggung jawab yang besar membuat ibu tersenyum senang.
"Zara, ibu harap kamu tidak lagi mengulangi kesalahanmu lagi, jangan pernah kau sakiti suami kamu yang begitu mencintai kamu Zara." Tutur ibu dengan tegas meskipun lirih. Sambil berjalan mendekati Zara.
"Tapi Zara tidak sengaja, Bu." Zara memasang wajah bersalah.
" Ibu meminta sama kamu Zara, jangan sakiti hati suamimu, patuhi dia melebihi segalanya yang ada di dunia ini, termasuk kepada ibu ini. Karena kau sekarang seorang istri, ibu sudah melepas tanggung jawab menjagamu, dan tugas itu sudah beralih pada istrimu."
"Iya Bu."
"Jangan cuma iya iya, besok sudah lupa. Ibu berkata semua ini demi kebaikan kamu," tegas ibu lagi.
"Lalu Zara harus menjawab apa, Bu."
"Ya sudah, sekarang ibu mau menyusul ayahmu dulu di kebun, sambil sekalian bawa sarapannya. Ibu juga nggak akan lama, ibu cuma lihat apakah jagungnya semalam dimakan tikus atau tidak."
"Iya, Bu."
Ibu sudah pergi sambil membawa rantang berisi sarapan untuk bapak.
Sedangkan Zara mulai menuang air panas ke dalam ember besar lalu menambahkan air dingin lebih banyak supaya hangat. Sesekali Zara mencelupkan jemarinya untuk mengukur suhu airnya.
Setelah semua siap, Zara bingung mau ngapain lagi, akhirnya Zara memutiskan melihat suaminya di kamar.
Ternyata Mert sudah bangun, dia sedang berdiri di depan jendela mengamati pemandangan sayur mayur yang hidup di samping rumah.
Zara membuka pintu sangat pelan hingga deritan pintu pun tak terdengar di telinga Mert.
Zara melangkahkan kakinya masuk, berhenti di dua langkah sejak melewati pintu tadi. Zara bingung, ucapan apa yang akan ia katakan untuk menyambut suaminya.
__ADS_1
"Saya sudah ...." Zara baru saja membuka mulutnya Mert sudah berbalik.
"Sejak kapan berdiri disitu." Mert menoleh kebelakang dengan kedua tangannya masuk di saku celana pendeknya.
"Baru saja, saya juga sudah siapkan air hangat untuk mandi. Sebaiknya lakukan sekarang sebelum airnya bertambah dingin."
Baiklah. Mert segera menuju kamar mandi, kasian pada Zara yang sudah susah menyiapkan air hangat untuknya, harus dibiarkan dingin tanpa guna.
Mert masuk ke karmar mandi, dia tak menemukan shower ataupun bathup, dia hanya menemukan bak mandi dan ada air hangat seember besar, penuh.
Mert mandi dengan fasilitas seadanya, ia terlalu semangat mandi karena yang menyiapkan semuanya sang istri. Hingga dia lupa kalau tak membawa handuk.
"Zara, apa kamu bisa antarkan handuk untukku? Maaf merepotkan, aku tadi lupa." Mert selalu menyelipkan kata maaf ketika merasa telah merepotkan istrinya itu.
Zara yang mendengar Mert meminta handuk, dia segera mengambilnya dari lemari, dan mengantarnya. Zara kini berdiri mematung di depan kamar mandi.
"Zara!" Panggil Mert yang mendengar langkah kaki Zara berhenti di depan pintu.
"Iya, Tuan." Zara menyahut panggilan Mert dengan cepat.
Mana handuknya? Mert membuka pintunya mendadak. Zara segera mengulurkan handuk pada Mert dengan mata terpejam.
"Kenapa harus memejamkan mata? Buka mata saja, aku nggak akan marah."
Padahal sebelum membuka pintu tadi Mert sudah memakai celana boxer nya. Zara saja yang terlalu excessive.
Mert sangat terhibur melihat istrinya kalang kabut. Zara memang sangat polos berbeda dengan gadis kota yang menjadi temannya.
Apalagi Anita, wanita yang tak memiliki urat malu lagi, ia melempar tubuhnya hanya untuk mendapatkan cinta pria yang tak pernah mencintainya.
Melihat tingkah Dara yang polos Mert tiba tiba ingat, Anita yang beberapa Minggu lalu pernah tidur dengannya. Semenjak kejadian itu, Anita tak pernah lagi menampakkan diri di depannya, entah malu atau dia sudah keluar dari perusahaan.
Usai melakukan perbuatan nista itu Mert tak melihat ada bercak di sofa ataupun selimut yang dipakai Anita. Mert yakin dirinya bukanlah satu satunya pria yang pernah mendaki gunung kembar dan turun lembah subur itu. Sebelumnya pasti di sudah sering melakukan dengan pria lain. Apalagi Mert tak hanya sekali dua kali melihat dia keluar diskotik bergandengan dengan pria-pria berjas mahal.
Mert segera memakai handuk putih yang dari aromanya masih baru. Handuk kecil itu hanya menutupi pinggang sampai paha saja. Sama sekali tak bisa menutupi dada sikpacknya.
Mert keluar dari kamar mandi. Zara sudah menyiapkan bajunya di atas ranjang.
Sedangkan dirinya sendiri masih mencari baju baru yang layak ia pakai saat mendampingi suami pervecknya.
Kamar mandi sudah kosong, Zara segera masuk ke kamar mandi, ia bisa mandi walaupun tanpa air hangat. Air sumur yang dingin bagi Zara lebih segar.
__ADS_1
Saat sedang asyik mengguyur tubuhnya tiba tiba ada hewan merambat di kakinya.
Aaaaaa tolong .... !
Aaaaaa tolong ....!
Zara segera berlari keluar kamar mandi hanya memakai handuk pula.
Mert yang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil di depan cermin segera terperanjat mendengar teriakkan Zara.
Mert dengan gugup berlari hendak menolong Zara. mereka sama sama berlari akhirnya bertabarakan di ruang tengah, kalau tak ada kelambu yang berkibar diterpa angin mungkin tabrakan itu tak akan terjadi.
"Auhhh." Zara merasakan sakit di keningnya, tubuhnya terpelanting ke belakang. Mert dengan sigap menangkap tubuh Zara
"Kenapa kau berteriak? Apa kau lihat hantu."
Mert melihat dada Zara naik turun, ia hendak menjawab, tapi tubuhnya masih gemetar, nafasnya terengah-engah. " Ke-ke-coak. Tuan."
Mert menahan tawanya. Ia khawatir Zara akan malu jika dia tertawa. Karena setelah menikah justru jarak diantara mereka semakin terlihat, selain pendiam Zara juga menjadi pemalu.
"Sudah, sudah, kecoak nya pasti laki laki. Saat aku mandi tadi dia tak mau datang.
Mert menarik tubuh Zara yang hanya terlilit handuk ke dalam dekapannya. Zara rupanya benar- benar takut, Mert bahkan bisa mendengar degub jantung Dara yang sedang memburu. Dada wanita itu naik turun
Mereka berpelukan lumayan lama, Mert menunggu hingga nafas Zara tenang. tanpa sadar junior yang dibawah sana sudah berdiri entah sejak kapan.
Mana kecoaknya? Apakah disini kecoak sangat menyeramkan? Jika iya aku juga ingin berlari," canda Mert pada Zara. Mert berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Oh-ti-ti- dak. Siapa yang takut kecoak, aku tadi cuma kaget. Mungkin hewan tadi lebih menyeramkan dari kecoak." Kata Zara berusaha meralat ucapannya. Ia sebenarnya sudah menahan malu sejak tadi. ia malu ketahuan takut sama kecoak.
Mert tersenyum "baiklah akan aku bunuh hewan menyeramkan itu," ucapnya sok berani. Padahal Selain cicak Mert juga takut sekali dengan kecoak.
Mert mengambil pentungan yang menggantung di belakang pintu. Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi.
Mert mengedarkan pandangannya menyisir setiap sudut kamar mandi. Ternyata tak ada hewan menyeramkan. Mert hanya melihat seekor kecoak yang sudah mati. Kecoak malang itu mungkin tak sengaja telah terinjak oleh Zara saat memakai handuk tadi.
"Tidak ada hewan menyeramkan? Em atau istriku sebenarnya sengaja ingin menggodaku."
" Tidak Tuan, sungguh. Aku tak ada niat menggoda Anda."
"Benarkah? Bagaimana ini, aku terlanjur tergoda." Mert pura pura gelisah."
__ADS_1
"Tolong Tuan, jangan lakukan itu sekarang." Wajah Zara memucat, dia benar benar takut Mert akan meminta haknya sekarang. Padahal Mert hanya menggodanya sedikit saja. Wajah Zara kembali seperti kepiting rebus.
*Happy reading.